
Siang hari, di ruang pertemuan ‘Three Trees Yacht’ Bay. Ada 3 Pria yang sudah berumur dan 5 anak remaja yang terdiri dari 4 laki-laki dan 1 perempuan duduk di dalam. Situasi yang begitu tegang dan canggung ada di dalam itu, walau sebenarnya mereka semua tidak mengerti apa yang akan mereka bahas pada awalnya. Sebuah meja bundar yang di-isi oleh Papa Han, Papa Maylene, dan Papa Tobe, di kursi tepi ruangan itu diduduki oleh Maylene, Tobe, Jun, Han, dan Ryuu secara berurutan.
“Woi, Han! Pertemuan apa-apaan ini! Kita ke Lions Pore bukan buat lihat tiga orang yang sedang duduk.”
Jun yang mulai berkomentar dengan nada yang bisik-bisik itu membuat Maylene dan Tobe kompak untuk memperingati Jun. Mereka berdua menyuruh Jun untuk diam sejenak.
“Jun, diam sebentar!”
“Jangan banyak bicara Jun!”
Di sisi lain, Ryuu bertanya kepada Han yang duduk di sebelahnya dan berbisik. Ryuu dengan wajah yang heran itu melihat Han yang sedang gugup dan ketakutan.
“Terjadi lagi?”
“Iya, terjadi lagi.”
“Siapa yang kau hampir jual kemarin?”
“Maylene.”
…
Lalu suara pertama muncul dari ruang pertemuan itu. Suara yang sangat dalam dan ramah
“Selamat datang, Tuan Zhou dan Tuan Wu. Terima kasih telah ikut hadir dalam pertemuan kali ini.”
Papa Han yang memberikan kata sambutan di dalam pertemuan itu membuat Papa Maylene merasa terpesona.
“Terima kasih Tuan Lin atas sambutan yang hangat dan keramah-tamahan anda, Perkenalkan, nama saya Wu Lei, Papa dari Maylene.”
Lalu Papa Maylene melirik ke arah Pria yang duduk di sebelahnya. Dia mulai bertanya kepada Tuan Zhou dengan nada yang hangat.
“Permisi, apakah anda Tuan Zhou Xin? Pemilik dari perusahaan spare part alat industri terbesar di negara ini?”
“Iya, itu saya, Tuan Wu Lei, saya adalah Papa dari Tobe.”
Tiba-tiba, Papa Maylene diam sejenak. Dia berpikir terlebih dahulu untuk 5 detik, lalu Papa Maylene berteriak dengan nada yang penuh kecaman kepada Papa Tobe.
“WOI! ANAKMU UDAH BIKIN ANAKKU NANGIS! KAU TAU BETAPA BERISIKNYA ANAKKU KALAU MENANGIS?! RUMAHKU HAMPIR DIRAJAM BATU!”
Namun Papa Tobe hanya tenang saja, dia membela anaknya sendiri dan mengatakan kata-kata yang sungguh bijak.
“Oh, maafkan saya, Tuan Zhou. Namun di umur ini, sudah sewajarnya ada cinta yang bertepuk sebelah tangan, bukan cinta yang realistik. Tidak ada dongeng, tidak ada fantasi.”
__ADS_1
“Anda benar juga, Tuan Zhou. Maafkan saya yang sudah berteriak ini. Saya begitu tidak sopan di hadapanmu.”
“Tidak masalah, pelanggan saya jika mesin pabriknya rusak selalu berteriak dan mengecam saya. Jadi saya sudah kebal.
Saat percakapan di antara kedua Pria itu, di sisi tepi ruangan Maylene yang senyum sendiri melihat Tobe yang begitu ketakutan.
“Hmm, Tobe, sepertinya setelah keluar dari ruangan ini mungkin kamu akan ‘diremas’ hatimu.”
“Di-Diremas? Maksudmu?”
“Hmm, mungkin tinggal nama?”
Maylene pun mulai tertawa terbahak-bahak, namun pembicaraan itu dipotong oleh Papa Han. Papa Han berdiri dan pergi ke daerah yang kosong. Papa Han mulai menghadap Papa Maylene dan
Bersujud secara mendadak.
“MAAFKAN SAYA! MAAFKAN SAYA! MAAFKAN SAYA! MAAFKAN SAYA! ANAK SAYA! ANAK SAYA! ANAK SA-.”
Han yang di tepi ruangan itu tiba-tiba menaikkan kakinya di atas meja dan menundukkan kepalanya. Wajahnya sangat ketakutan dan pucat itu mulai menjambak rambutnya sendiri.
“MATI! MATI! MATI! MATI! MATI! PAPAKU SAMPAI SUJUD MEMINTA MAAF! SEDANGKAN AKU HANYA SENANG-SENANG DI TEMPAT JUDI! MAAFKAN AKU, PAPA!”
“Oi, kau sekarang lebih menyeramkan daripada Chen.”
Ryuu yang memperingati Han seperti itu tidak dapat didengar oleh Han sendiri. Jun yang bingung melihat tingkah laku Han itu mulai bertanya kepada Ryuu dengan wajah yang bingung.
“Kemarin, Han ke casino.”
“Permasalahannya?”
“Kamu ga baca berita hari ini?! Han itu sekarang yang punya klub sepak bola ‘The Red Devils’! Dia punya saham yang bernilai sebesar 52% dari total kekayaan perusahaan itu yang sebesar $ 4,677,982,568.9 tanpa mengeluarkan uang!”
“Gila, terus apa masalahnya?”
“Alat taruhan Han, kemungkinan besar adalah Maylene dan Tobe.”
Jun tiba-tiba terdiam, wajahnya seperti tidak dapat menduga itu datang. Tiba-tiba dia berteriak dengan kencang dan bertanya sekali lagi kepada Ryuu.
“HAAAAAAA!!!!!! KAU SERIUS?!”
“Iya, aku hampir dijual sama Han. Dia dengan percaya dirinya bilang kalo ‘Aku akan menang, percayalah!’, begitu.”
Maylene yang membalas itu dengan wajah yang penuh dengan senyuman itu membuat Jun melihat ke arah Han yang ketakutan itu dan merenungkan saat melihat Han.
__ADS_1
“Otakmu dimana, bodoh!”
…
Kembali ke Papa Han yang sujud memohon maaf itu kepada Papa Maylene membuat Papa Maylene panik. Papa Maylene tiba-tiba jongkok dan memegang bahu Papa Han dan memintanya untuk berdiri.
“Tuan Lin! Berdirilah! Kenapa anda harus meminta maaf?”
“Karena anakku hampir menjual anakmu!”
“GWAK!!!!”
Papa Maylene tiba-tiba terkejut, tapi tetap meminta Papa Han untuk berdiri dan kembali ke tempat duduknya.
“Tuan Lin, kembalilah ke tempat duduk, saya merasa terhormat karena saya dapat bertemu dengan anda.”
Lalu, Papa Han kembali ke tempat duduk dan memulai topik pembicaraan yang begitu berat di telinga kelima anak remaja itu… mungkin hanya telinga Jun dan Maylene yang berat.
“Pertama-tama, Tuan Zhou dan Tuan Wu sudah mengetahui bahwa anak saya telah mengakusisi klub sepak bola ‘The Red Devils’. Namun, sebenarnya, saya yang mengakusisi klub itu. Anak saya, Han, berhasil mendapatkan saham klub sepak bola itu hanya dari berjudi dengan pemegang saham sebelumnya, si Alan Campbell.”
“Dengan mempertaruhkan anak saya?”
Papa Maylene yang bertanya dengan wajah yang datar itu membuat Papa Han tertunduk lemas dan menjawabnya dengan nada yang pelan.
“I-Iya, benar sekali.”
Papa Tobe tiba-tiba bersuara, dengan suara yang lantang dan siap untuk melakukan negosiasi itu bertanya kepada Papa Han.
“Tuan Lin, klub sepak bola ‘The Red Devils’ adalah salah satu klub sepak bola paling ‘cantik’. Saham dari tim sepak bola ini ternilai tinggi dan memiliki prospek yang bagus. Namun, apakah Tuan Lin adalah penggila bola?”
“Saya hanya mengikuti piala dunia. Tidak yang lain.”
Papa Maylene lalu menyela ucapan Papa Han yang menjawab Papa Tobe sebelumnya.
“Apakah Tuan Lin mengetahui siapa pemilik saham lainnya dari klub sepak bola ini?”
Papa Han membuka berkasnya, lalu menyerahkan berkas itu kepada Papa Maylene dan Papa Tobe.
“Sebenarnya, saham yang ada di bursa adalah sebanyak 10%, 52% adalah milik saya, dan 38% saham adalah milik Pangeran Salomo.”
“Pa-Pangeran Salomo?! ‘Pangeran dari Negeri Minyak Bumi’?! Sepengatuhan saya, dia adalah fanatik sepak bola.”
Papa Maylene yang terkejut itu membuat Papa Han mengangguk kepalanya. Namun Papa Tobe yang ada disana hanya mengeluh dan mulai bertanya kepada Papa Han.
__ADS_1
“Sebenarnya, ada apa kita dipanggil kesini?”
Tiba-tiba, Jun pun berteriak dengan keras karena dia merasa bosan. Teman-temannya yang melihat Jun itu hanya terkejut dan wajahnya memutih.