
Keesokan harinya, setelah festival Lunar itu, adalah pertandingan final antar kota yang sangat bergengsi di kota Eiyuu, tepatnya di Kibou Arena. Naoto yang sudah sampai di tempat pertandingan final itu melihat teman-temannya yang sudah sampai.
“Naoto!!! Pastikan kau menang!”
Teman-temannya yang memberikan dukungan itu membuat Naoto senang, tiba-tiba ada Han bersama satu orang lagi yang berada di sampingnya. Naoto tiba-tiba pergi ke arah Han dan bertanya siapa orang yang bersama dengannya.
“Han, siapa orang itu?”
Han yang melihat Naoto tampak kebingungan itu menjawab dengan nada yang ceria.
“Oh, dia adalah saudara sepupuku. Namanya Nagi, dan dia ada di tim yang akan kita lawan nanti.”
“Salam kenal.”
“Salam kenal.”
Nagi yang melihat mereka berdua itu mulai berpisah menuju ke tim-nya. Ketika Nagi pergi, Naoto bertanya kepada Han dengan nada yang sedikit optimis.
“Han, kalau dia adalah saudaramu… berarti satu keluargamu akan datang?”
“Iya, mereka akan datang habis ini. Lebih tepatnya adalah 1 keluarga besar.”
“Oh, begitukah? Bahagianya kau ini, keluargaku juga datang menonton hehehe.”
Mereka berdua lalu dipanggil oleh kaptennya untuk bersiap-siap, sedangkan semua teman-temannya pergi ke tribun. Haruki yang terlambat itu menyusul Han masuk ke dalam ruang ganti tim basket itu.
“Ahh, aku terlambat!!”
Haruki tiba-tiba menabrak Han dari belakang. Namun Han tidak terjatuh seperti saat itu. Han yang merasa ada tabrakan di belakangnya itu tiba-tiba berbalik ke belakang dan melihat Haruki. Han pun kaget karena orang yang menabraknya adalah Haruki.
“H-Haruki?? Kenapa kamu disini?”
“M-Maafkan aku, aku tidak tau dimana tribun penonton itu.”
Han yang mendengarkan Haruki itu pun menunjuk ke arah pintu khusus yang dapat mengantarkan Haruki ke tribun penonton.
__ADS_1
“Tribun penonton itu lewat situ Haruki. Kamu jalan aja kesana dan cari jalan sendiri.”
“O-Oh, terima kasih.”
Ketika Haruki ingin pergi kesana, Haruki tiba-tiba berbalik dan memanggil Han. Wajahnya itu memerah dan dia berbicara dengan malu-malu di depan Han.
“M-Menanglah.”
Han yang melihat itu hanya tersenyum dan menjawab Haruki dengan nada yang pelan.
“Terima kasih.”
Akhirnya mereka berdua berpisah, dan dimulainya pertandingan final itu!
Mengapa turnamen kota ini adalah turnamen yang paling bergengsi? Karena dari turnamen ini, pemenang turnamen ini akan tampil di kejuaraan nasional.
Han yang sudah sampai di ruang ganti itu matanya sudah sangat fokus dan wajah yang tersenyum. Han sangat terlambat karena pembahasan strategi yang dilakukan Mr. Kibe telah selesai. Mr. Kibe yang melihat Han tersenyum dan tatapan yang fokus itu tidak banyak berkomentar.
“Kau terlambat, tapi mata dan wajahmu sudah menunjukkan kamu sudah fokus dengan pertandingan ini. Kita akan memenangkan pertandingan ini!”
Semua pemain yang berada di ruang ganti itu mulai berteriak dengan keras.
Lapangan itu sudah dimasuki oleh kedua tim yang bertanding, Han yang melihat Nagi yang berada di bangku cadangan itu membuatnya sedikit terhina, karena Han sangat bersemangat bertanding dengan Nagi. Han yang melirik ke arah Nagi mulai berbicara dalam hatinya.
“Nagi, akan kupaksakan kau bermain secepat mungkin!”
Naoto yang melihat ekspresi Han yang begitu tajam melihat Nagi itu mulai bertanya kepada Han dengan wajah yang santai.
“Han, apakah kau mau bermain melawannya? Ini bukan saatnya kamu memilih lawan.”
Han tidak menjawab ucapan Naoto, dia benar-benar terfokuskan pada pertandingan itu. Di sisi lain, Haruki sudah bergabung dengan teman-teman sekelasnya yang berada di bangku teratas tribun. Kibou Arena sangatlah ramai saat itu karena tribun penuh diisi oleh kedua belah pihak sekolah yang bertanding di lapangan dan penonton-penonton netral. Di tempat khusus sudah ada seluruh keluarga Lin yang hadir menonton pertandingan itu, tempat itu sudah dikhususkan untuk mereka.
Jump ball, Start!
Han yang mendapatkan bola dari tengah lapangan itu mulai menyiapkan kuda-kudanya, lalu Han menembakkan poin dari tengah lapangan dan masuk! Penonton tiba-tiba hening, tim lawan tidak dapat bergerak ketika melihat Han yang menembak dari jarak sejauh itu.
__ADS_1
“Sekarang kita bertahan, Han!”
Naoto yang memukul pundak Han itu membuat Han bergerak ke belakang untuk bertahan. Dalam waktu 5 menit, skor sudah menunjukkan 21-3! Kerjasama yang bagus diantara Han dan Naoto lagi yang membuat mereka unggul jauh di babak pertama. Pertandingan final ini sangat tidak terasa di awalnya, penonton sekolah Nagi mulai menghina-hina tim basket sekolah Han karena bermain basket yang sangat curang. Karena friksi verbal itu, kedua pendukung itu mulai saling mengolok-olok satu sama lain.
“CHEATER!!!!!”
“35-3, PULANG SAJA!!!”
Babak pertama disudahi, dan skor di babak pertama adalah 35-3. Karena regulasi, Han dan Naoto tidak boleh bermain di babak kedua. Namun Nagi mulai bermain di babak berdua, hal inilah yang membuat Han ingin bermain melawannya selama babak pertama.
Babak kedua dimulai, sudah 5 menit berlalu Nagi tidak memiliki dampak yang cukup signifikan kepada timnya dan skor tidak berubah sama sekali. Naoto mulai bertanya kepada Han, apa yang spesial dari Nagi sehingga Han sangat ingin melawannya.
“Han, apa yang membuatmu ingin melawan Nagi? Semenarik apakah Nagi di matamu?”
“Sebentar lagi, lihatlah.”
Han yang tersenyum itu membuat Naoto merinding. Nagi yang sedang membawa bola itu melihat temannya dijaga semua oleh tim Han. Nagi mulai melakukan dribble bola dan dia berhasil masuk ke dalam pertahanan tim Han. Ketika kedua teman Han mulai membantu pertahanan, Nagi memutar badannya dan melakukan back pass kepada temannya yang berada di dalam paint area.
Terciptalah peluang bagi sekolah Nagi, skor menjadi 35-5.
Naoto yang melihat aksi Nagi itu mulai merinding, dan Mr. Kibe melakukan subsitusi dan memasukkan Han ke dalam lapangan. Han yang sangat bahagia itu melihat Nagi dan saling melempar ucapan.
“Hey, maaf sudah membuatmu menunggu.”
“Mari kita bersenang-senang disini, Nagi!”
Jelas, Han lebih superior daripada Nagi. Dalam waktu 3 menit, Han berhasil mencetak 7 poin dan Nagi berhasil mencetak 2 poin. Skor bertambah menjadi 42-7, dan waktu menyisahkan 1 menit.
Ketika teman Han tidak berhasil menguasai bola, bola itu dicuri oleh Nagi. Nagi yang berlari menuju ring dari tim Han itu mulai melakukan lay-up. Tiba-tiba, teman Nagi mendorong Nagi hingga Nagi terbentur bantalan ring basket yang berada di dekat lantai dan
Tulang Betisnya patah menjadi 2, Nagi tidak dapat berdiri dan meringis kesakitan.
“ADUH!!! SAKIT!!!! SAKIT!!!!!!”
Ketika Nagi melihat ke arah kakinya, dia mulai berteriak histeris ketakutan. Han yang menyaksikan kesengajaan itu tiba-tiba berlutut, matanya kosong, mulutnya terbuka, dan tubuhnya bergemetar. Dia sangat ketakutan melihat permainan horror yang dilakukan oleh teman-teman Nagi kepada temannya sendiri. Dia lalu berdiri dan melihat Nagi yang penuh tangisan, lalu menggendongnya menuju ke arah tenaga medis yang membawa ranjang.
__ADS_1