Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 3: Bad Luck, Part 2


__ADS_3

Ketika mereka melakukan perjalanan pergi ke rumahnya Han, Jun dan Ryuu saja yang tidak tertidur. Han yang habis dari rumah sakit sedang tidur dengan pulas.


Di depan rumah Han, ada 30 bendera Inggris yang berkibar. Mereka berdua pun bingung maksud bender aitu, Jun pun mulai bertanya kepada Ryuu dengan nada yang cukup tinggi dan penuh rasa ingin tahu.


“Ryuu, itu bendera apa? Kenapa ada banyak bendera Inggris?”


“Bodoh, itu bukan bendera Inggris. Itu bendera yang melambangkan orang yang baru saja meninggal.”


Mereka pun masuk ke dalam rumah Han, dan melihat banyak sekali karangan bunga yang betuliskan belasungkawa atas kematian Han. Mereka berdua yang melihat itu, sebenarnya tertawa di dalam hatinya. Tetapi, mereka berdua tidak dapat tertawa keras-keras karena itu dapat membangunkan Han. Mereka berdua pun sudah parkir di tempat parkiran yang ada, disana banyak mobil yang sedang parkir juga sehingga tidak ada tempat parkir yang sangat bebas. Ryuu pun ingin turun ke rumah Han


“Jun?”


“Aku paham, ayo kita lakukan.”


Mereka berdua turun dari mobil, menutup pintu mobil itu dari dalam supaya tidak membangunkan Han. Mereka bedua pun berjalan ke pintu rumah Han sambil berpura-pura menangis. Tiba-tiba, Papa Han ada disana menyambut mereka yang berduka dengan wajah yang sedih.


“Ryuu, Jun, silahkan masuk.”


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah, dan rumah tersebut dipenuhi oleh relatif-relatif keluarga besar Han. Mereka semua sedang berduka cita


15 menit telah berlalu, Han pun bangun dan dia tidak sadar kalau dia sudah di rumahnya. Han pun bingung, kemanakah Jun dan Ryuu pergi. Dengan nada yang sedikit mengantuk dia pun mencari-cari mereka berdua.


“Junn?? Ryuuu??”


Han tidak perhatian kepada karangan bunga maupun bendera putih yang berkumandang, yang dia lihat adalah pintu depan rumahnya. Dia pun mulai mengetuk pintu tersebut, dan ketika ada suara pintu yang terbuka, dia mulai mengatakan.


“Aku pulang.”


Penampakan Han di rumah tersebut membuat banyak orang berteriak histeris, tidak terkecuali orang tua Han yang berteriak kencang menjerit ketakutan.


“AHHHH!!!!!! IBLIS!!! IBLIS!!!!!!!!”


Di saat itu juga, Ryuu dan Jun yang pada awalnya melihat Han dan kegaduhan yang sedang terjadi, mereka untuk pura-pura tidak melihat Han dan mulai menangis sedih. Dalam hati mereka, mereka pun bekata


“Untung dia sudah bangun. Kami tidak mau berdiam disini selama 4 jam melihat semua keanehan yang terjadi.”


Itu bukan sebuah gurauan, ekspresi mereka sangat natural dan ketakutan mereka itu asli. Tiba-tiba saja ada 2 petugas keamanan yang membawa stun gun dan bat ping-pong. Petugas yang membawa stun gun menusuk perutnya, sedangkan yang membawa bat ping-pong memukul ke arah pelipis Han. Han mulai kehilangan kesadaran dan bertanya dalam dirinya sendiri.


“Apa… apa yang sedang terjadi?”


30 menit telah berlalu, Han berada di ruang perlengkapan rumahnya dengan kondisi diikat di kursinya. Han tidak dapat bergerak sama sekali, bahkan tangannya pun tidak dapat menjangkau talinya. Di depan Han, ada Jun, Ryuu, Papa dan Mama Han, serta dua exorcist yang sudah menunggunya. Papa Han pun memulai percakapan dengan Han yang bingung.


“Sudah bangunkah anda, iblis?”


“Pa, Ma, aku ini Han! Bukan iblis! Aku masih hidup!”


Mama Han yang ketakutan pun menyela Han dengan nada marah.


“JANGAN PERDAYAI AKU IBLIS! AKU BUKAN MAMAMU! IBLIS TIDAK PUNYA ORANG TUA!”


Han yang bingung pun melihat Jun dan Ryuu yang sedang bersandiwara itu. Han memohon kepada mereka berdua dengan nada putus asa.


“Ryuu, Junn, jelaskan kepada orang tuaku kalau aku masih hidup!!!”


Mereka berdua pun memperkeruh suasana itu. Dengan sandiwara yang hebat mereka membuat Han semakin panik.


“Aduh temanku Han. Dia sudah mati di jurang itu. Malang nasibnya sekarang tubuhnya diambil alih oleh iblis.”


“Ryuu, aku takut iblis itu akan mengambil alih tubuhku.”


Han yang semakin pasrah dengan keadaan pun sudah menyerah. Matanya kosong ketakutan, keringat dimana-mana, dan giginya pun bergemetar. Papa Han pun menyela mereka dan menyerukan sesuatu kepada Han.


“BAIKLAH IBLIS, JAWAB PERTANYAAN KAMI!”


“Nama” // “Zhang Lin, Mei Lin”


“Mobil” // “Toyota Aqua”


‘Pacar” // “Tidak punya”


“Anime Favorit Orang Tua?” // “Dragon Ball, Detektif Conan”


“Patung” // “Zhuge Liang”

__ADS_1


“Peliharaan dan Namanya” // “Panda Merah, Akaichi”


Ketika pertanyaan itu sudah ditanyakan oleh Papa Han kepada Han, mereka berdua malah menangis. Mama Han pun berteriak histeris dan memeluk Papa Han. Dengan nada frustasi dan ketakutan, Mama Han pun berkata


“SEJAUH APA IBLIS INI BERGERAK? DIA PUN MENGAMBIL ALIH INGATAN HAN.”


Papa Han yang tidak ingin berlama-lama di tempat penyimpanan itu, memerintahkan kedua exorcist untuk memulai ritual.


“Tolong lakukan ritual. Bagaimana caraku tahu kalau dia iblis atau bukan.”


“Siap Pak, biasanya dengan mengucapkan nama Dewi Langit, iblis itu sudah berteriak histeris.”


Kedua exorcist itu memulai ritualnya.


“Oh dewi langit, tolong berkati kedua orang tua ini yang ketakutan. Jangan kau biarkan iblis merasuki anaknya. Biarkanlah anak itu hidup dengan tenang di surga tanpa memikirkan tubuhnya yang diperdaya oleh iblis. Dewi langit, tolong usirlah iblis ini dari tubuh anak malang yang berada di depan kami.”


Setelah membaca mantra pengangkatan roh, tidak terjadi apa-apa. Han yang masih tetap tenang walau ada rasa keputus asa-an membuat orang tua Han semakin takut. Papa Han pun memarahi kedua exorcist itu.


“KALIAN PAYAH! SAYA BAYAR INI UNTUK MEMBEBASKAN ROHNYA, KALIAN JANGAN MENJAHILI SAYA!”


“Pak, tapi tidak terjadi apa-apa.”


Mama Han pun mengusir mereka berdua dari ruangan itu, dan mereka berdua dipesankan untuk enyah dari dunia ini. Mama Han pun baru sadar.


“Ryuu, pergilah ke kamar Han dan ambilah Panda itu yang ada di kandangnya.”


“Siap Tante.”


Ryuu yang keluar pun ingin menahan tawa, dalam hatinya dia pun merenungkan dan meminta maaf kepada Han.


“Han maafkan aku, kapan lagi aku melihat ekspresi orang-orang sekonyol ini. Tolong jangan mengkhianatiku nanti.”


5 menit kemudian, Panda itu sudah berada di ruang penyimpanan. Papa Han pun langsung menyerukan kepada Han.


“Kau menulis ulang memori tentang panda ini kan, iblis?”


Han yang bingung dengan pertanyaan orang tuanya pun menggelak.


“IBLIS! JANGAN BERANINYA KAU MENGUNGKAPKAN MEMORI! AKAICHI SELALU MENGINGAT TUANNYA, KALAU DIA TIDAK MENGHAMPIRIMU MAKA KAMU ADALAH IBLIS!”


Han pun putus asa, dia pun berharap Akaichi itu menghampirinya. Ketika dilepaskan, panda itu pergi ke tempat Akaichi, melompat, dan panda itu memeluk Han.


Kedua orang tuanya itu yang melihat reaksi panda itu pun berlari dan memeluk Han dengan erat. Sambil menangis mereka mengungkapkan isi hati mereka.


“HANNNN, KAU MASIH HIDUP! PAPA DAN MAMA SANGAT MENGKHAWATIRKANMU!!!!”


Han yang awalnya putus asa pun terlihat sedikit jengkel dengan perlakuan orang tuanya. Dia merasa dia tidak dipercaya, bahkan oleh orang tuanya sendiri.


“Pa, Ma, kenapa kalian lebih percaya sama panda daripada anakmu? Tapi aku pun lega kalau Papa dan Mama mengkhawatirkanku, maafkan aku tidak mengabari kalian.”


“Panda itu kan teman bermainmu sejak kecil, jadi kita menyerahkan kepercayaan kami ke panda itu. Papa sudah mencoba menelponmu 1 hari non-stop, tapi tidak ada reaksi.”


Tiba-tiba, handphone milik Han jatuh, dengan kondisi yang sangat memilukan itu berhasil dilihat oleh orang tuanya. Wajah kedua orang tua Han pun tiba-tiba kosong.


“Oh jadi begitu.”


Han tiba-tiba melihat Jun dan Ryuu yang memalingkan wajah mereka. Dia mulai bertanya dengan nada yang sedikit marah.


“Kalian… Kalian mengikuti seluruh alur di rumah ini?”


“I-I-Iya…. Percuma juga kita bercerita, tidak ada yang akan percaya.”


Han pun dilepaskan dari ikatan itu, pelipisnya diperban lagi oleh Mama Han. Han tiba-tiba bertanya kepada Papanya.


“Pa, kenapa Papa menyimpulkan kalau aku sudah mati?”


“Dari sini Han.”


Papa Han pun menunjukkan sebuah video di depan mereka bertiga. Mereka bertiga pun kaget dengan isi video tersebut, karena video itu memang asli dan mereka bertiga ada di tempat kejadian. Han yang kaget, mulai bertanya kepada Papa Han mengenai video itu dan darimana dia mendapatkan video itu.


“S-S-S-Sebentar Pa. Video itu darimana Papa dapatkan?”


“Itu asli kan? Papa dapat dari grup keluarga besar Lin.”

__ADS_1


“Terus, orang yang merekam video itu nasibnya?”


“Papa penjarakan.”


Han merasa dia salah mendengar, menanyakan ulang.


“Pa, ulangi sekali lagi?”


“Papa penjarakan. Ada di belakang rumah.”


Akhirnya mereka semua keluar dari ruang penyimpanan itu, kedua orang tua Han mengklarifikasi bahwa yang datang tadi itu bukanlah iblis. Mereka mengembalikan semua uang sumbangan yang telah diberikan, semua karangan bunga yang itu dibersihkan dari rumahnya, dan bendera putih itu dicabut dari rumahnya.


Han yang pergi ke belakang rumahnya, menemukan satu orang yang bergumam pada dirinya sendiri. Orang itu menyerukan sesuatu yang aneh.


“Oh takdir, kenapa anda mempertemukanku dengan Mafia di jalan itu? Oh takdir, berbelas asih-lah kepadaku.”


Han yang bingung, menaikkan wajahnya dan tersenyum aneh.


“Hai???”


5 menit telah berlalu, Han pun memberikan teh hangat kepada orang itu. Dia bertanya-tanya, mengapa orang aneh itu bisa masuk di penjara keluarga Han.


“Pertama-tama, kenapa kamu ditangkap? Apakah mafia tersebut memberitahukan alasannya.”


Orang itu tiba-tiba dengan nada yang tinggi memperkenalkan dirinya.


“AKU, CHEN, ADALAH PENCARI TAKDIR BAIK! AKU DISINI DITANGKAP KARENA AKU MENYEBARKAN VIDEO KEBAIKAN TAKDIR! MANUSIA MERANGKAI TAKDIRNYA SENDIRI. APA YANG MENJADI TAKDIRNYA BISA JADI ADALAH BALASAN PERBUATANNYA DI MASA LALU!”


Han yang bingung menanyakan kepadanya, mengenai video tersebut dan dimana dia menyebarkannya.


“Anu… kamu dapat video itu darimana dan dimana kamu menyebarkannya?”


“SUNGGUH BIJAK KAU BERTANYA SEPERTI ITU! AKU ADA DISANA DAN MELIHAT SEMUANYA! DAN AKU PUNYA AKUN INSTUGRUM YANG NAMANYA @GOODFATE, ADA 50 RIBU PENGIKUT TAKDIR BAIK YANG BERASAL DARI KOTA INI!”


Han yang mendengar itu pun membuka mulutnya lebar-lebar dan kaget seketika. Chen menunjukkan akun-nya yang memiliki banyak pengikut, serta pendapatannya di Instugrum itu mencapai $ 500.


“T-t-tunggu, kamu tahu kan… Kalau ini tersebar dampaknya bagaimana? Aku akan dicap sebagai iblis oleh orang-orang.”


“Insight dan profit lebih penting daripada konten. Aku tidak peduli pada saat itu.”


“Sekarang kau klarifikasi di sini. Toh kamu juga dapat uang kan dari video klarifikasi?”


Akhirnya Chen pun mengikuti ucapan dari Han, dia membuat video klarifikasi dan dia unggah ke Instugrum miliknya. Dalam waktu 15 menit, kolom komentar pun penuh dengan hujatan. Sang penyebar Takdir Kebaikan pun dibela oleh warga dunia maya dan mengutuk Han.


“SANG PEMBAWA TAKDIR BAIK KITA TELAH DIPERDAYA OLEH IBLIS! ENYAHLAH IBLIS!”


Komentar seperti itu pun sangat banyak, Han yang menyaksikan dengan matanya sendiri pun melihat itu sangat terpukul.


“Kenapa aku dicap iblis? Padahal aku belum mati.”


Setelah membuat video tersebut, Han membebaskan Chen dari penjara rumahnya dan meminta pegawai rumahnya untuk mengantarkannya pulang.


“Pak, tolong antarkan dia ke rumahnya dan tolong anda jangan bunuh dia di tengah perjalanan.”


“Baik, perintahmu adalah mutlak, Tuan Han.”


Chen yang dibebaskan secara cuma-cuma itu mengungkapkan rasa terima kasihnya.


“Namaku Chen, telah melihat takdir baik dari seorang yang dermawan benama Han. Semoga takdir baik selalu melindungi keluarga anda”


Akhirnya Chen pun pulang, dan Han mulai kembali ke rumahnya. Dia melihat mobilnya telah tiada, sehingga membuat Han pun bertanya kepada Papa Han.


“Pa, mobilku dimana?”


“Oh, karena Papa mengira kamu sudah meninggal, mobilnya Papa serahkan ke pegawai Papa di pabrik. Terus, rekening bank-mu Papa juga sudah blokir. Oh ya, ini uang buat beli handphone baru.”


Papa Han pun menelpon pegawainya untuk mengembalikan mobilnya, Han yang lesu pun kembali ke kamarnya dan merenung.


“Aku pulang dari liburan, ditindas oleh keluarga sendiri dan dicap iblis. Lalu aku bertemu dengan maniak takdir yang membuat diriku semakin terkenal di mata banyak orang. Lalu semua barangku telah habis ditelan bumi. Apanya dengan takdir baik? INI SANGATLAH KEJAM, BRENGSEK!!!!!!!!!!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2