
Tiba-tiba saja, ada orang yang memakai jubah serba hitam dan berjalan kaki mengelilingi gerbong-gerbong itu. Dia berteriak-teriak histeris dan suaranya terdengar oleh mereka berdua. Han yang sudah mendapatkan perasaan yang cukup buruk itu tiba-tiba mengucapkan beberapa kata penuh kegelisahan.
“Sepertinya ini buruk! Aku sepertinya mengenal orang ini!”
Yoru yang melihat reaksi Han tiba-tiba juga merinding, dia bertanya kepada Han apa yang membuatnya takut saat ini.
“H-Han, si-siapa ini?”
“Kamu bawa headphone kan? Sekarang tutuplah telingamu! Cepat! Cepat!”
Yoru menutup telinganya dengan headphone dan orang itu sudah sampai di depan mereka berdua. Teriakannya sudah semakin menjadi-jadi dan benar-benar membuat takut orang-orang yang berada di sana. Untung saja tidak ada orang disitu, hanya ada Han dan Yoru saja.
“Ahhh, perasaan cinta. CINTA, CINTA, CINTA, CINTA, CINTA!!!! OTAKKU BERGETARRRR!!!!!!”
Han mengenal orang ini, dia bertanya kepadanya. Tapi Yoru menarik tangannya karena dia merasa ketakutan, Han yang melihat Yoru lupa memasang Headphone-nya ke handphonenya membuat Han bergerak cepat. Dia memasangkan headphone-nya ke handphone-nya dengan suara yang cukup kencang. Dengan nada yang sedikit optimis, dia memanggil namanya.
“Chen!”
Chen lalu membuka jubahnya dan menyapa mereka berdua, namun Yoru tidak mendengarkannya sama sekali.
“Namaku Chen, seorang pencari takdir yang selalu berkelana.”
“Woi! Kenapa kau bisa disini! Ini proyek rahasia, bodoh!”
Han yang geram terhadap Chen itu membuat Chen bercerita alasannya mengapa dia berada di kereta itu.
“Sebenarnya, aku sedang berkelana dan melihat sebuah palang ‘sedang dalam proyek’. Aku awalnya menghiraukannya, namun aku jatuh di lubang proyek itu dan aku sudah berada di depan kereta ini. Aku akhirnya masuk ke kereta ini dan tidak mengerti jalan keluarnya.”
Han yang mendengarkan cerita Chen itu akhirnya menghela nafasnya dan memaafkan Chen atas kebodohan pekerja-pekerja kereta itu.
“Kamu jatuh dimana?”
“Daerah selatan, kurasa.”
Lalu Chen mulai berteriak-teriak lagi seperti biasanya setelah melihat Yoru yang bersandar di sebelah Han sambil mendengarkan lagu yang diputar oleh Han.
“APAKAH INI REAKSIMU UNTUK ORANG YANG MENGAJAKMU BERBICARA! TAKDIR! TAKDIR! TAKDIR! TAKDIR! OHH TAKDIR!”
Chen lalu memegang headphone dari Yoru dan ingin membukakannya, namun mata Yoru tiba-tiba sudah sangat dingin. Matanya melirik tajam kepada Chen dan meremas tangan Chen yang ingin melepaskan headphone-nya itu.
“Apakah kamu tidak bisa berhenti mengganggu kita selama 1 detik saja?”
Chen pun merinding, lalu dia melepaskan tangannya itu dari Yoru. Han yang melihat betapa dinginnya Yoru saat itu pun merenung sendiri.
“Sesuai namanya pada hari ini, malam yang dingin.”
Lalu Han melihat Chen yang masih ingin berteriak-teriak lagi, Chen membuka saku yang ada di jubahnya dan mulai menunjukkan buku yang dia tulis sendiri.
“Lihatlah! Ini bukuku! Buku yang aku tulis! Judulnya adalah ‘Angel of Presence’. Silahkan kau cari di toko buku nanti untuk seri berikutnya, yang ini aku kasih ke kamu!”
Han yang melihat buku itu dan menerimanya secara ikhlas.
“I-Iya, a-akan kubaca.”
Lalu stasiun sudah sampai di West Schoolyard, dan Chen ingin mengatakan selamat tinggal kepada mereka berdua. Namun Chen tidak memiliki akses kartu untuk keluar dari stasiun itu. Han yang melihat Chen yang kebingungan itu mulai bertanya kepada Chen.
“Kau takut tidak bisa keluar?”
“I-Iya.”
Han membuka kantongnya dan mengambil kartu akses kereta bawah tanah itu. Lalu dia memberikan kartu itu kepada Chen yang kebingungan itu.
“Ini, kartu untuk buka gerbangnya. Ambil aja tak apa, tapi kamu baru bisa pakai lagi Febuari. Kalau kamu datang lagi, aku tak tau kamu bisa ditahan atau bagaimana.”
Yoru tiba-tiba melepaskan headphonenya dan mulai kebingungan, dia lalu menarik baju Han dan melihatnya dengan wajah yang tidak rela. Han yang melihat itu hanya melihatnya dengan wajah senyuman.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Tenanglah.”
Chen yang melihat kebaikan Han itu mengambil kartu itu dan mengucapkan kata-kata perpisahan yang selalu dia katakana.
“Namaku Chen, aku sedang melihat takdir baik di depanku. Semoga takdir ba-.”
Han yang melihat gerbang kereta yang mau ditutup itu tiba-tiba berdiri dan mendorong Chen keluar. Han lalu berteriak kepadanya dengan nada yang cukup sebal.
“Kau berhenti sana mengucapkan permohonanmu itu! Pintu sudah mau ditutup dan kau masih basa-basi disini! Aku tidak butuh permohonanmu! Selamat tinggal!”
Pintu itu tertutup, Chen tiba-tiba sujud di depan Han dan perwujudan itu membuat Yoru sedikit jijik melihatnya. Dia tidak mengetahui bahwa Han bisa sebaik itu di depan orang yang mengerikan. Dengan nada yang sedikit naik, dia bertanya dengan Han.
“Ka-Kau bisa sebaik ini dengan orang yang men-menjijikan itu! Apa-apakah kau mencintainya??! Kau juga memberikan kartu khusus itu, apa kau gila?!”
Han yang mendengarkan Yoru itu mulai membalikkan pertanyaannya.
“Iya, Iya, ini sisi tsundere yang selalu melekat di dirimu. Tenang saja, bukan berarti aku menolongnya atau bagaimana.”
“T-T-T-Tapi?!!!”
Yoru melihat ke jendela di saat Chen mau keluar dari gerbang otomatis itu, tiba-tiba saja Yoru tertawa terbahak-bahak dan air matanya keluar dari matanya.
“HAHAHAHAHAHA! KENAPA DIA TIDAK BISA KELUAR COBA! BODOH SEKALI DIA!”
Han yang melihat Yoru tertawa itu mulai menjawab Yoru, dia hanya memejamkan matanya dan berbicara kepada Yoru.
“Sebenarnya, kartuku sudah habis tadi. Jadi aku berikan saja kartunya kepadanya, biar terkesan aku baik kepadanya. Lagipula, dialah dalang dibalik Maylene menangis dulu.”
Yoru yang mendengarkan itu tiba-tiba terkejut dan dia mulai heran dan bertanya sekali lagi ke Han.
“Dia yang membuat Tobe memutuskan Maylene?”
“Iya, dia orangnya.”
Akhirnya situasi itu hening, dan Yoru mengajak Han untuk pergi mencari makan. Yoru mungkin mengetahui isi perut Han yang kosong saat Yoru memeluknya tadi.
“Enaknya dimana?”
“Ikuti aku, habis ini ktia turun, bagaimana?”
…
Mereka akhirnya turun di stasiun Night Market dan mereka makan di jalanan. Night Market adalah 1 distrik dimana hanya ada tempat makanan yang murah-murah dan banyak pilihan. Night Market konon hanya buka dari jam 6 sore hingga 1 pagi, dan Night Market adalah destinasi para-para turis karena tidak hanya ada makanan saja, namun tempat-tempat yang dapat menjadi spot foto.
Han yang melihat Yoru dengan bahagia itu di malam Natal juga terlihat bahagia, seolah-olah ketakutan yang menghantui Han sebelumnya. Yoru yang terlihat tersenyum itu telah menghapus kesedihan Han sebelumnya.
“Han, kau mau makan Yakisoba?”
Yoru yang tersenyum itu membuat Han tersenyum juga, dia akhirnya ikut makan ke tempat yang diberitahu Yoru sebelumnya. Ada Pohon Natal yang sangat besar dan bergemerlap, karena hari itu adalah hari Natal membuat Yoru cukup senang karena ini adalah pertama kalinya makan bersama Han sebanyak dua kali.
“Han, apakah kamu tau? Jika seseorang mengungkapkan perasaannya disini, mereka akan bahagia kapanpun yang mereka inginkan.”
Han kembali seperti Han yang ditemuinya di tebing itu, dengan alasan yang logis dia membantah Yoru dengan senyuman.
“Ayolah, tidak ada yang namanya bahagia setiap saat. Semua ada senang dan sedih, kamu tidak bisa berekspetasi semua orang bisa bahagia setiap saat.”
Tiba-tiba kembang api pun meluncur dengan keras dan memencar sangat cantik di langit yang bersinar penuh dengan bintang. Yoru menggoda Han dengan tersenyum lebar membuat Han sedikit tergoda. Yoru lalu mendekatkan kepalanya kepada Han, dengan suara halusnya dia bertanya kepada Han.
“Nee, apakah kau juga memiliki perasaan yang sama denganku?”
Han tidak ingin menjawab pernyataan Yoru, setidaknya untuk saat ini karena apa yang dialami Han sebelumnya.
“Se-Sepertinya aku akan menjawabmu di lain waktu, bagaimana? Ini teralu terburu-buru, kau tau?”
Yoru pun menganggukan kepalanya, walau Han terlihat sedikit berdosa karena menggantung Yoru. Namun Han sebenarnya ada perasaan kepada Yoru.
__ADS_1
Ketika yakisoba itu sudah habis, Han mengajak Yoru untuk pergi ke karaoke. Han ingin bernyanyi dan waktu juga masih belum teralu malam. Di sisi lain, Yoru juga tidak keberatan untuk pergi bersamanya. Karena mereka berdua berada di Night Market, ada tempat yang selalu menjadi tempat langganan Han.
“Yor, apakah kamu ingin bernyanyi?”
“Iya! Ayo kita ke karaoke!”
Mereka berdua akhirnya ke karaoke, dan Han memesan 1 ruangan untuk mereka berdua. Setelah mendapatkan ruangan karaoke itu, Yoru mulai memilih lagu untuk dinyanyikan.
“Kau yang tak tersenyum di hari yang bising ini
Pasti akan melihat esok yang menyilaukan
Sebelum malam berubah menjadi pagi hari
Genggamlah tanganku ini”
(Yoru ni Kakeru, Yoasobi)
Setelah Yoru selesai bernyanyi, dia lalu berbalik ke arah Han dan bertanya kepadanya dengan penuh senyuman.
“Gimana Han? Enak kan?”
Han yang mendengarkan Yoru bernyanyi itu memuji Yoru dengan bertepuk tangan dan wajah yang terpukau.
“Wah, Yoru! Aku tak menyangka kamu bisa bernyanyi seindah ini!”
Yoru hanya tersipu malu, lalu menyerahkan microphone-nya ke arah Han. Yoru dengan wajah yang optimis yakin bahwa Han dapat bernyanyi dengan indah.
“Aku juga mau kamu bernyanyi! Bagaimana?”
Han lalu mengambil microphone itu dan mulai bernyanyi.
“Tidak baik, tidak, ti---dak baik.
Mencintaimu, ku sungguh mencintaimu.
Tak peduli seberapa kuat minumannya,
Ingatan itu, talk pernah kabur; Bodoh sekali.”
(Baka Mitai, Takaya Kuroda)
Setelah Han selesai bernyanyi, dia mulai mengucapkan beberapa kata-kata yang membuatnya sedikit sombong.
“Bagaimana suara-.”
Han melihat sesuatu, sesuatu yang tidak ingin dia lihat, sebenarnya
Yoru terkapar, dia terkapar, berbaring di lantai. Lalu Yoru berdiri dan memarahi Han dengan suaranya yang sedikit keras itu.
“Kau! Kau! Kau! Tidak kusangka kau memiliki suara seburuk ini! Suaramu seperti UFO yang memberikan sinyal ke bumi!”
“Artinya, suaraku hanya dapat dideteksi oleh satelit?”
“BUKAN BODOH! SUARAMU ITU BENAR-BENAR BURUK! KALAU BUKAN AKU YANG MENDENGARKAN ITU, MUNGKIN DIA SUDAH MENINGGAL DI SINI! TERUS KENAPA KAU BISA BERLANGGANAN DI KARAOKE INI?!”
Han yang melihat Yoru sangat panas dan marah-marah sendiri menjawab Yoru dengan lemas dan wajah yang lesu.
“A-Aku selalu bernyanyi sendiri, ke-ketika aku sedang stress.”
Yoru yang mendengarkan itu hanya terdiam dan mengurungkan niatnya untuk marah-marah lebih lanjut. Dia lalu pergi ke toilet dan muntah.
Malam Natal yang tidak dapat dilupakan Yoru, kebahagiaan dan kesakitan di hari yang sama. Perutnya itu mulai mual karena kelaparan itu mengajak Han untuk pergi ke luar lagi untuk mencari makanan.
Itu adalah malam Natal yang sangat spesial bagi Yoru, namun apa yang terjadi di sisi satunya? Di acara reuni itu?
__ADS_1