Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 2: The Fateful Night, Part 3


__ADS_3

Han yang melihat kejadian itu, kakinya bergerak sendiri dengan cepat meluncur ke arah perempuan tersebut. Beberapa orang-orang yang berjalan pun berteriak histeris karena perempuan itu dapat tertabrak dan meninggal di tempat. Suasana pun kacau, malam yang semakin suram di mata mereka. Bintang-bintang di langit pun tertutup oleh awan, semuanya sangat gelap.


“HATI-HATI!”


Han yang berteriak dari luar hatinya sedang berlari menuju perempuan itu. Walaupun di dalam hatinya dia sangat takut, dia harus menyelamatkan perempuan itu dari mobil yang melaju dengan sangat cepat.


“Aku ga mau mati, tapi aku juga ga mau melihat orang lain mati di depan mataku. Tolong! Berikan aku waktu! Aku harus menyelamatkan perempuan itu! OH DEWI LANGIT! JANGAN CABUT NYAWANYA!!!!!!”


Ketika perempuan itu hanya memiliki waktu 1 detik untuk bisa bertahan dari tabrakan mobil itu, Han berhasil mendorong serta memeluk bagian perut dari perempuan itu. Han berpikir bahwa mereka selamat, tapi di tepi jalan itu ada besi yang terputus dari awal sehingga itu lubang. Tangan kanan Han tersobek dengan besi itu, dan mereka berdua


Jatuh


Jatuh ke dalam jurang


Jurang yang sangat dalam.


Jurang itu memiliki kedalaman 3 meter.


Han yang putus asa, berusaha membalikkan badannya di langit sebelum berbenturan dengan tanah. Menempatkan perempuan itu di atas badan Han menurutnya adalah cara teraman untuk menyalamatkan perempuan. Han pun berteriak dengan kencang.


“OH DEWI LANGIT! JANGAN KAU CABUT NYAWA KITA BERDUA! AKU MASIH MAU BERPACARAN BRENGSEK!!!!!!!! AKU! AKU! AKU! AKU AKAN MELAWAN TAKDIR KEJI INI!”


Perempuan itu sudah pingsan, dia tidak dapat merespon apapun yang Han katakan. Akhirnya, punggung Han membentur tanah jurang tersebut.


*BRAKKKKKK*


Di permukaan, tepatnya di tempat emperan tersebut mereka berempat pun berdiri dari meja dan keluar dari tempat emperan tersebut. Mereka berempat pun bertanya mengapa semua orang histeris disitu.


“Hey, what’s happening at here? Why it’s so noisy?”


Alex yang mulai bertanya, disumpah serapah oleh Jun yang masih kaget.


“What the Hell man! No one knows what language are you speaking!”


Leonne yang ada disana bertanya-tanya dengan orang-orang sekitar, ada apa yang sedang terjadi.


“Hey, ada apa ini?”


“Seorang laki-laki, dengan jaket, celana pendek, dan sandal jepit menyelamatkan seorang perempuan yang cantik dari tabrakan maut.”


Leonne tiba-tiba tersungkur, berlutut, dan matanya mengeluarkan air mata. Dia kaget dengan apa yang diceritakan oleh orang-orang sekitar. Dia pun menduga-duga dan Jun tiba-tiba mengatakan


“Apakah laki-laki yang dimaksud mereka, adalah…. Han?? Apakah dunia ini sudah gila? Kenapa takdir mengatakan ini?”


Maylene pun berteriak histeris, Tobe yang ada disana pun memeluk Meilin yang sedang histeris. Berusaha menenangkan Meilin, Tobe pun juga berteriak histeris. Teman-teman perempuan itu pun tersungkur dan menangis, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Mereka menganggap bahwa ini semua kesalahan mereka.


Di sisi lain, Ryuu yang berada di jalan tersebut berteriak dengan frustasi.


“KENAPA TIDAK TERJADI TABRAKAN?!!!!!! BRENGSEKKKKK!!!!!!!!!”


….


“Apakah aku akan dikirim ke Dunia RPG? Ini sangat gelap. Aku sudah pergi bertemu seorang dewi? Aku tidak mau bertemu dewi berambut biru yang bodoh itu jika aku mati.”


“Oh, aku masih belum membanggakan orang tuaku, dunia ini sungguh kejam sudah mencabut nyawaku. Aku tidak tahu aku harus kemana lagi sekarang.”


Perempuan yang dia selamatkan itu, terbangun secara tiba-tiba. Ada sekitar 30 menit perempuan itu pingsan. Dia lalu sadar dan menangis sangat keras, dengan segala frustasi yang dia keluarkan!


“MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA ADA ORANG YANG HARUS MATI DI DEPANKU?!!!!!”

__ADS_1


“HEI, KAMU MASIH HIDUP KAN? JAWABLAH AKU! TOLONGLAH! AKU MOHON PADAMU! BANGUNLAH!”


Perempuan itu dengan air mata yang mengucur dari matanya, wajahnya pun memerah dan dia mulai menjambak rambutnya karena frustasi. Giginya pun bergemetar, dan dia mulai mengingat bahwa dia bisa melakukan CPR untuk menyelamatkan seseorang.


“AKU HARUS MELAKUKAN CPR! AKU GA MAU ORANG LAIN MATI!”


Tetapi dia malu untuk melakukan CPR tersebut, karena dia tidak mengenal orang itu dan dia tidak pernah berciuman. Dia lalu mengingat kata papanya pada saat dia kecil.


“Ingat Yoru, ketika ada orang yang tidak sadar, tamparlah pipinya.”


Perempuan itu menamparkan pipi Han dengan keras sambil menangis. Air matanya membahasi kaos Han yang sangat kusut. Dia terus menampar pipi Han dengan nada frustasi. Dia menangis dan membenturkan kepalanya pada badan Han sebanyak 3 kali. Dia mulai berteriak


“HIDUPLAH! HIDUPLAH! HIDUPLAH! DEWA TOLONG DENGARKAN AKU!”


“Oh, kalau ini jalan terakhir yang harus kutempuh. Aku mau mengingat semua kejadian baik teman-temanku. Teman-temanku, saudaraku, orang tuaku, mereka sangat berjasa dalam hidupku. Aku bersyukur aku berada di keluargaku yang seru, teman-teman yang suka membullyku, Ryuu yang selalu ada di sampingku, selamat ti-. Oi, sakit tahu, apa-apaan ini. Kenapa aku bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa di wajahku. Kenapa aku bisa merasakan adanya tetesan air mata??”


Tidak lama kemudian Han sadar, dia bangun dan berteriak dengan keras kepada cewek tersebut.


“SAKIT TAHU! ADUH WAJAHKU MEMAR SEMUA! BADAN DAN KAKIKU SAKIT! APAAN INI! ADUH! TANGANKU SOBEK!”


Han yang mencoba untuk duduk, punggungnya kesakitan dan dia berteriak seketika.


“AHHHHHHHH!!!!!!!!!!!”


Perempuan itu pun tersungkur dan menangis bersyukur.


“Terima kasih Dewa, terima kasih! Dia hidup!”


Han yang bingung mulai bertanya, apa yang sebenarnya terjadi.


“Hei, kamu. Apa yang terjadi pada kita berdua?”


“AKU TIDAK KENAL KAMU, TAPI MENGAPA KAMU MAU MENYELAMATKANKU?!”


Han pun baru ingat, kalau dia sedang berjalan menuju teman-temannya. Dia lalu melihat perempuan itu yang hampir tertabrak, dia pun menyelamatkan perempuan itu.


“Hei, apakah aku menyelamatkanmu?”


“IYA! KAU MENYELAMATKANKU!”


Perempuan itu masih menangis histeris, dia sudah putus asa, mukanya memerah dan bajunya berlumuran darah.


“Hmm, begini. Aku tidak mau melihat orang lain mati. Karena apa? Asuransi itu uang masuknya lama, dan tidak bisa asal klaim asuransi. Kalau kamu meninggal, Papamu hanya mendapatkan uang awal yang dikalikan 13 tahun lamanya dengan bunga 4%. Papamu pasti frustasi karena kehilangan kamu dan cuma dibayar dengan uang.”


Dengan nada yang cukup datar, Han mengatakan hal seperti itu kepada perempuan itu. Seketika perempuan itu berhenti menangis, wajahnya pun mulai datar dan mengatakan bahwa Han sangat sinting dapat memikirkan hal itu di saat dia baru sadar.


“Kau sinting? Kau bisa berbicara sesantai itu saat situasi seperti ini? Apakah kamu seorang idiot?”


Perempuan itu pun tertawa terbahak-bahak karena Han. Lalu dia mengenalkan namanya kepada Han. Dengan wajah yang masih menyisahkan air mata, dia tersenyum dengan manis.


“Namaku Yoru, terima kasih telah menyelamatkanku!”


Han pun matanya sangat terbinar-binar, dia melihat sebuah senyuman yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Sangat terang di bawah langit malam.


Han yang melihat Yoru dengan bajunya yang terdapat sobekan dan berlumuran darah, memakaikan jaketnya untuk menutupi Yoru. Walau lengan kanannya sudah robek total, dia tetap memberikan jaketnya kepada Yoru.


“Kau kedinginan bukan? Pakailah jaket ini. Jangan mengekspos kulitmu.”


Yoru pun mengiyakan, dan matanya berbinar-binar.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, ada tim pencari datang dan mulai mengevakuasi mereka berdua. Sayang 3 orang petugas hanya bisa mengevakuasi 1 orang.


“Halo, kami dari tim evakuasi ingin mengevakuasi korban. Tapi kita hanya bisa mengevakuasi satu orang saja. Kau mau menunggu selama 30 menit lagi?”


“Evakuasi perempuannya dulu. Pikirkan aku nanti.”


Yoru pun sudah dievakuasi. Han yang masih tinggal disitu melihat jepit bulan yang patah. Dia menduga itu milik Yoru, dia mengambil jepit itu dan mengantonginya. Yoru yang dievakuasi memeluk dirinya sendiri dan mengatakan sesuatu di hatinya.


“Hangatnya”


Han yang masih menunggu evakuasi, tiba-tiba ada tali sepanjang 4-meter jatuh di kepalanya. Han dengan refleknya menoleh ke atas, melihat 4 orang asing disana.


“WOI GEMBEL, KAU DENGAR KITA KAN?”


“OH TOBE! AKU DENGAR KALIAN!”


Lalu Han bertanya, buat apa tali tersebut. Han pun bingung ketika melihat tali itu.


“TALINYA DIBUAT APA?”


Tiba-tiba Ryuu berteriak dengan keras, memberikan arahan yang cukup ekstrim kepada Han.


“KAU IKAT MATI YA ITU TALI, JANGAN SAMPAI LEPAS! IKATKAN ITU DI TANGANMU!”


Han sudah melakukan prosedurnya dengan baik, lalu Han bertanya apa yang akan dilakukan dengan tali tersebut.


“Hey, aku sudah mengikatkan talinya, apa yang harus aku lakukan berikutnya?”


Leonne pun menyahut kepada Jun


“Jun, dia sudah siap!”


Lalu suara gas mobil pun keluar, Han pun tertarik menuju ke atas. Wajahnya hancur berlumuran darah karena bergesekan dengan tebing jurang tersebut. Han pun akhirnya sampai di atas dan dia mulai marah-marah.


“Woi, aku tahu niat kalian ingin menyelamatkanku, tapi apa yang kalian lakukan?! Brengsek! Kau bermain nyawa denganku? HA?!”


Jun pun menjelaskan prinsipnya.


“Han, aku sudah berkorban. Mobilku rodanya ada kemungkinan tidak bisa dipakai lagi karena bisa tipis. Belum lagi bagian rodaku yang tersumbat tali. Kau sudah diselamatkan masih marah? Kau sinting!”


“Hei, kau jangan bilang?”


Han melihat roda di mobil Jun, rodanya sudah terikat dengan tali. Han lalu berpikir bahwa dia tidak ingin diselamatkan oleh Jun lagi.


“Makasih sudah bawa aku ke atas, tapi tidak ada cara lain apa?”


“I HAVEN’T THOUGHT ABOUT IT! BE GRATEFUL, YOU DUMB!”


Alex yang dengan konfidensi yang tinggi, mencairkan suasana itu. Mereka semua pun tertawa terbahak-bahak dan memutuskan untuk kembali ke cottage.


Han, tidak menyadari bahwa handphone-nya sudah terbelah menjadi 2. Yang pasti dia tidak dapat membuka sosial media sama sekali.


Di sisi lain, Yoru pun baru ingat bahwa dia lupa menanyakan nama orang yang menyelamatkannya.


“Siapa namanya? Kenapa aku lupa bertanya kepadanya!”


Teman-temannya pun menghampiri Yoru dan menangis. Mereka menyesal meminta dan meminta maaf kepada Yoru karena usulan mereka sudah mencelakakan Yoru. Yoru pun menangis bersama dengan mereka.


Namun dari itu semua, terdapat satu orang yang berhasil merekam kejadian Han menyelamatkan Yoru. Dia dari tempat emperan itu berteriak dengan bahagia.

__ADS_1


“NAMAKU, CHEN, TELAH MELIHAT MUJIZAT TAKDIR BAIK! OH DEWA LANGIT! BETAPA BAIKNYA DIRIMU! INI KEJADIAN YANG SUSAH TERJADI LAGI!”


__ADS_2