
Semua orang berteriak histeris karena Yoru sudah mendapatkan pacar,
“WOW! Qing! Anak anda sudah besar ya rupanya! Aku bangga!”
“Selamat Yoru! Yoru yang labil sudah mendapatkan pacar!”
“Yoru sudah 14 tahun tanpa laki-laki akhirnya dia sudah punya! Aku sangat senang melihatnya!”
Yoru yang melihat ke arah saudara-saudaranya itu hanya tersenyum dan membukakan kedua telapak tangannya ke arah depan dan berbicara dengan malu-malu.
“U-Um, tidak kok tante! Aku se-sendiri senang kok.”
Namun ada beberapa mereka yang tidak mau percaya. Ada satu orang, berusia sekitar 16 tahun berjalan ke bawah ruang tamu dengan wajah yang sedikit sombong melihat ke arah Han. Tatapannya yang tajam itu benar-benar membuat banyak orang takut, namun Han sendiri tidak merasakan apa-apa darinya.
Anak itu memang terlihat cukup cakap dan stylish, karena dia anak yang benar-benar maniak dengan fashion dan dia memiliki tinggi sekitar 169 cm. Dia lalu menyindir Han dengan suara yang sarkas
“Ahh, sayangnya cece-ku sudah mendapatkan pacar. Tapi pacarnya sendiri berpakaian lusuh! Tidak elegan sama sekali!
Anak itu berjalan menuju ke tempat mereka berdua berdiri. Han dan Yoru yang ingin mengambil kue bulan dan minuman itu dikejutkan dengan anak itu. Han yang terpancing itu mulai mengomelinya dengan wajah yang serius, dia merasa jengkel karena bajunya dikatakan lusuh.
“Hey! Ini baju masih baru tau! Jangan pernah menghina baju ini, ini baju-.”
“Berapa harganya?!”
Anak itu benar-benar memancing emosi dari Han dan Yoru. Yoru pun tiba-tiba bersikap lembut dengan anak itu. Dia menghampiri anak itu dan menegurnya dengan kasih sayang.
“Shun, jangan kau hina dia. Orang tidak salah apa-apa kok kamu hina?”
Nama anak itu adalah Shun Sun. Dari namanya, dia sudah jelas merupakan adik kecil dari Yoru. Usia mereka terpaut 4 tahun dan tata cara berpakaian mereka itu sudah sangat kental. Anak itu tidak dapat menerima laki-laki lain yang memiliki harga pakaian yang lebih rendah daripada dirinya.
“Jawab aku! Berapa harga bajumu!”
Anak itu membentak ke arah Han, namun Han sendiri menanggapi anak itu dengan penuh tawa. Dengan nada yang penuh sinis, dia mengomentari adik Yoru yang sudah berbuat tidak pantas kepada Han.
“Oh, kamu mau tau harganya? Harganya tidak semahal jas-mu yang norak itu. Ngapain kamu pakai jas di acara Festival Lunar? Harga baju ini hanya $ 20 dan $ 30 untuk celananya. Tapi itu tidak penting, karena baju sendiri esensinya adalah untuk dipakai. Ngapain pamer di depan orang yang tidak kamu kenal? Kamu masih umur berapa untuk pamer seperti itu.”
“Apakah memakai baju bagus menandakan dirimu orang kaya? Apakah dengan baju yang rapi menandakan kamu adalah orang yang berwibawa? Kamu masih kecil untuk mengetahui hal-hal ini. Lihat cecemu, dia sendiri punya jaket bekas sobekanku di kamarnya. Berarti kalau kamu mengatakan diriku ini tidak berwibawa, apa kata-kata yang pas untuk cecemu ini?”
Namun Yoru tetap saja diam di tempat dan menahan tawa, wajahnya yang memerah itu terlihat senang ketika Han mulai berbicara kata-kata sarkasnya.
__ADS_1
“Hahahahaha.”
Papa Yoru pun terkejut dengan reaksi Yoru yang tertawa itu, dia tidak habis pikir dengan apa yang Yoru tertawakan ketika dia mendengarkan Han yang mulai mengatai adiknya sendiri saat ini.
“Oi Yor! Hentikan pacarmu itu! Cepat! Hentikan dia sebelum dia nangis!”
“Pa… tapi ini lucu! Aku rela bayar $ 1,000 buat Han berkomedi di acara kita.”
Adik Yoru yang diceramahi oleh Han itu tiba-tiba menggenggam kedua tangannya dan meneteskan air matanya. Dia terlihat cukup bahagia ketika Han mengatakan hal-hal seperti itu di depannya. Shun sendiri sudah lelah dengan berpakaian rapi selama ini, karena tradisi orang tuanya itu membuat Shun dijauhi oleh teman-teman sepantarannya.
Ucapan-ucapan Han saat ini benar-benar sakit dan menghantam perasaan mereka yang masih tidak mau berubah dari pola berpikir mereka yang bisa menyiksa mental anak-anak mereka. Namun ini adalah realitanya, Han seolah-olah telah memberikan sebuah ajaran baru kepada keluarga Sun.
“Te-Terima kasih, GURU! Tapi aku masih tidak mau menerimamu sebagai pacar dari ceceku!”
“Siapa juga yang minta restumu, bocah! Yang berhak merestui itu Papamu!”
Papa Yoru pun terkesima dengan ucapan Han saat itu, matanya mulai berkaca-kaca ketika Han mulai memujinya mengingat beberapa waktu yang lalu Han menghabisi Papa Yoru dengan tanpa ampun di depan putrinya sendiri. Dia mulai menepuk tangannya dan mengajak Han untuk mengambil makanannya.
“Nak, Nak! Ayo makan. Ambil-ambil ini makanan.”
Han yang bingung dengan perlakuan Papa Yoru itu juga ikut senang dan pergi dengannya.
Yoru yang sudah tertawa itu menghampiri adiknya yang di depannya itu, dengan suara yang hangat dia menasihati adiknya yang mengakui kekalahannya itu. Suara Shun masih tersedu-sedu karena dia benar-benar dibuka matanya oleh Han.
Kesombongan dan harga diri tidak ada harganya di depan Han, karena Han jauh lebih besar dari mereka.
“Shun, dia mungkin orang yang sarkas, tapi sebenarnya dia itu laki-laki yang baik.”
“Ke-Kenapa Ce-ce bisa suk-a sa-ma o-rang i-tu?”
“Hmm, kenapa yaa? Karena dia menyelamatkan cece dari kematian. Dia itu orang yang perhatian, kalau kamu lihat dia itu mulutnya pedas, namun dia itu orang yang sangat perhatian. Yang pasti, cece sangat mencintai dia!”
Shun yang melihat mata cecenya berkaca-kaca bahagia itu membuat Shun lega. Dia pergi bersama saudara-saudara lainnya, sedangkan Yoru menyusul ke arah Han yang sedang mengambil makanan itu.
Saat Yoru berada di sebelah Han yang sedang mengambil kue, Han berbisik kepada Yoru dan memalingkan wajahnya ke arah Yoru yang juga mengambil kue.
“Yor, maafkan aku. Aku menghabisi adikmu itu di acara keluargamu.”
Yoru yang mendengarkan permintaan maaf Han itu hanya tertawa kecil. Yoru tidak memiliki masalah tentang itu, karena menurutnya seseorang itu tidak diukur dengan gaya berpakaiannya.
__ADS_1
“Hahaha, tak apa-apa kok, Han. Kamu sendiri juga membuka mataku saat itu.”
“Tapi, aku bersyukur aku diundang olehmu ke rumahmu. Aku suka suasananya, makanannya, dan aku juga bisa melihatmu tersenyum seperti itu. Terima kasih, Yor!”
Han yang melihat Yoru dengan tersenyum itu membuat Yoru memalingkan wajahnya. Wajahnya yang memerah itu benar-benar malu dengan Han yang tersenyum tulus itu.
“B-Bodoh! Ini bu-bukan apa-apa.”
Mereka menghabiskan waktu bersama selama satu jam, sebelum Han pulang untuk menghadiri acara keluarganya sendiri.
Waktu sudah menunjukkan jam enam malam, langit sudah mulai gelap dan penuh dengan bintang-bintang. Yoru yang menemani Han keluar dari rumahnya itu berdiri dan tersenyum manis kepada Han.
“Han, terima kasih udah datang!”
Han yang melihat itu hanya tersenyum kembali, dia membungkukan badannya dan membalas Yoru.
“Terima kasih, Yor!”
Lalu Han menyetir mobilnya dan pergi menuju rumah Maylene untuk menjemput perempuan itu. Beruntung, rumah antara Yoru dan Maylene tidak teralu jauh sehingga Han bisa menyetir lebih santai.
Sesampainya di rumah Maylene, Maylene pun keluar dan dia memakai Chinese Dress berwarna putih yang dihiasi oleh bunga teratai. Maylene benar-benar berdandan, dengan model rambut Chun Li dan make up di mata-nya itu membuat Han terlihat sebal itu memukul dengan keras setirnya, menghantamkan kepalanya di atas setirnya itu dan mulai berteriak di dalam mobil.
“Dasar perempuan bodoh!!!! Aku bilang apa tadi oi!”
Maylene yang masuk ke dalam mobil Han itu pun tersenyum dengan percaya diri. Dia ingin Han memuji dirinya yang sudah rela berdandan hanya untuk acara keluarga Han. dengan nada yang begitu tinggi, dia memegang dada bagian tengahnya dengan menggunakan tangan kirinya dan menutup matanya.
“Haha! Bagaimana menurutmu, Han? Aku sudah berdandan selama satu jam hanya untuk acaramu.”
Han yang melihat Maylene itu hanya melihatnya dengan wajah yang sedih, dia sudah tidak dapat berkata apa-apa kepada Maylene.
“Oi, baju ganti-mu mana?”
Maylene pun membalas Han dengan wajah yang polos.
“Tidak bawa.”
“Ah ya udah! Buang aja itu handphone-mu. Ayo kita pergi ke rumahku.”
Han lalu menyetir mobilnya bersama Maylene untuk pergi ke rumah Han.
__ADS_1
Apakah Festival Lunar akan baik-baik saja untuk mereka berdua?