
Sudah 2 minggu sejak mengambil kuliah, Han menjalani kehidupan kampus yang sangat normal, dia tidak merasa kesulitan karena Jun ada disana dan banyak membantu Han ketika Han tidak paham dengan pelajarannya. Jun juga menjadi teman nongkrong Han seusai kelas pada sore hari.
“Han, enaknya hari ini kemana?”
“Hmm, sesekali kita ke Mall buat santai-santai?”
“Boleh, ide yang bagus.”
Sebenarnya ada Mall yang cukup dekat dengan kampus Namanya Xingxi Mall, jaraknya hanya 10 menit perjalanan dan Jun berharap kita pergi kesana. Namun pada saat perjalanan…
“Oi, kau mau pergi kemana?”
“Guanghui Mall.”
“Terus jam berapa kamu mau pulangin aku ke Kampus dan bawa mobilku pulang ke rumah?”
Jun merasa kebingungan, karena Guanghui Mall berada di tepi barat kota dan Xingxi Mall berada di timur kota. Dengan singkatnya, kampus kami berada di timur kota. Rumah Jun pun juga berada di timur kota dan perjalanan menuju Guanghui Mall ditempuh selama 1 Jam, itupun kalau tidak macet. Kalau macet bisa sampai 2 jam.
“Oh, ga perlu kamu bawa pulang mobilmu, kamu tidur aja di jalanan. Besok kalau udah mau masuk telpon aku saja.”
“Han, bateraiku cuma 40 persen dan uang yang aku bawa cuma $ 50. Kau pikir aku bisa cari hotel kalau kau melantarkanku? Aku ini anak orang woi! Sadar diri yang kau bawa ini bukan adikmu, pacarmu, atau saudaramu!”
“Haduh, ya gampang lah kamu pulang nanti. Aku turunkan kamu di depan gerbang kampus terus kamu manjat gerbangnya. Habis kamu manjat gerbangnya, jalan ke mobilmu. Kamu sudah masuk mobil, tabrak itu gerbangnya. Masalah selesai kan?”
“Terserah kau lah, ga tau udah aku sama kamu.”
Tapi Jun masih tetap di mobil, dia tidak mau keluar dari mobil walau Han sudah memberikan gurauan dengan nada yang cukup serius. Lalu Jun pun menyalakan handphone dan mengetik beberapa angka, dia menelpon seseorang dan lagu di dalam mobil yang Han putar sedang dikeraskan olehnya.
“AYOLAH! AKU MAU NELPON!”
“Oh, maaf-maaf. Hahahahaha.”
Han pun tertawa karena dia berhasil mengerjai temannya itu. Lalu suara di handphone dari Jun pun sudah terhubung dengan lawan bicaranya.
“Ma, aku kayaknya menginap di rumahnya Han.”
“Oh kenapa?”
“Tugas sekolah.”
“Oh ya sudah, besok pulang kan?”
“Iya, besok pulang kok. Udah tidak ada tugas lagi kok.”
“Oke Jun, hati-hati yaa.”
Akhirnya Jun menutup telponnya dan dengan nada pasrahnya dia sebenarnya sudah kehabisan kata-kata.
“Aku nginap, pastikan kamu ada kamar lagi.”
“Oke, itu sih gampang.”
__ADS_1
1 jam telah berlalu, akhirnya mereka berdua sudah sampai di Guanghui Mall. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 6 malam dan saatnya mereka mencari makan. Han pun bertanya kepada Jun mereka mau makan dimana. Suasana di Mall saat itu sangat ramai dan bergemilap.
“Kau mau di food court atau restoran?”
“Dua-dua boleh, terserah kamu. Aku ikut kamu aja, ga pusing-pusing juga.”
Akhirnya karena melihat 1 restoran di Mall itu ramai, akhirnya Han mengajak Jun pergi ke Lobby. Setelah pergi dari lobby, Han mengatakan di luar situ ada tempat yang jualan mie. Tapi, karena gelap juga suasananya mereka berdua berhati-hati menyebrang jalan yang ramai. Sesampainya mereka berdua di tempat makan tersebut, mereka bedua memesan makanan.
“Pak, Mie Ayam Bakwan 1, Teh Tawar hangat 1.”
“Pak, Mie Pangsit 1, Teh Tawar 1.”
Jun semakin kesal, mukanya benar-benar mengekspresikan kekesalan yang luar biasa. Dia sudah kehabisan kata-kata karena sudah dikerjai oleh Han dari sejak perjalanan.
“Oi Han, kau jauh-jauh parkir mobil di Mall itu.”
“Iya, kenapa.”
“Terus kita keluar dari Mall itu, dan kau milih makan di emperan?”
“Ho oh.”
“WOI! OTAK KAU DIMANA! UDAH BAWA AKU JAUH-JAUH KE BARAT CUMA BUAT MAKAN EMPERAN! PARKIR DI MALL DAN KAU PERGI KELUAR MENCARI MAKANAN EMPERAN!”
Jun yang sudah terlihat kesal dan kepalanya ingin pecah. Jun bukanlah orang yang dapat dengan mudahnya marah, dia hanya kesal dengan apa yang dilakukan Han selama ini. Apakah Han ini memiliki kewarasan dalam memilih tempat untuk makan atau tidak. Lalu Han pun menjawab.
“Jun, kamu kan pintar. Coba kamu hitung biaya makan di dalam Mall berapa? Paling murah $ 4, belum lagi minumnya harga berapa? $ 2 itu sudah paling murah. Kita makan emperan ini, makanan aja sudah hemat $ 3, minuman juga 50 Cent. Habis kita makan disini, kita baru cari coffeeshop di Mall.”
“Faktor keamanan.”
“Faktor keamanan, hmm faktor keamanan. JANGAN BERCANDA KAU INI!”
Makanan pun tiba, mie yang tersusun secara rapi dan halus pun tiba. Semuanya pun hangat dan hanya 10 menit proses memasak. Akhirnya mereka berdua makan.
“Rupanya tidak seburuk yang aku pikirkan.”
“Oi Jun, jangan nangis terharu kau. Ini cuma makanan biasa.”
Setelah makan, mereka kembali ke Mall. Pada saat mereka ke Mall, ada mobil yang ugal-ugalan lewat di depan. Banyak mobil pun juga menyalakan klakson panjang karena mobil tersebut adalah sebuah ancaman buat mereka. Lalu Han bertanya kepada Jun tentang mobil itu.
“Jun, itu mobil kenapa yaa?”
“Mungkin dia dari klub malam, di daerah ini banyak klub malam juga soalnya.”
Ketika mereka berdua sedang mengobrol tentang mobil itu, tiba-tiba ada suara yang keras berbunyi di malam yang damai.
DUARRRRRRRR!!!!!!!!!
Suara itu berasal dari jalan, dimana mobil yang ugal tersebut berhasil membuat 2 mobil lainnya saling menabrak. Mobil yang berada di kiri jalan mencoba untuk ke arah tengah karena mobil yang tengah mabuk tersebut dengan maksud memberikan jalan kepada mobil yang ugal tersebut. Tetapi mobil yang ingin memebrikan jalan tersebut tidak sadar bahwa ada mobil lain dari jalur tengah.
Pada saat mobil yang memberikan jalan tersebut pindah haluan, mobil yang di belakang tersebut tidak sempat untuk berhenti dan akhirnya tabrakan. Mobil ugal tersebut berhasil kabur dengan selamat.
__ADS_1
Jun pun menyayangkan nasib yang terjadi di lokasi kejadian,
“Kenapa yang ugal itu bisa selamat?!”
“Karena takdir bersamanya. Mau bagaimana lagi Jun, masih untung bukan kita yang ketabrak. Ini sih bisa-bisa pulang larut malam.”
Tidak lama kemudian Han menyalakan telepon dan mulai menelpon seseorang.
“Ma, kayaknya aku bakal pulang malam. Ada mobil tabrakan di jalan.”
“Oh ya udah Han, kira-kira jam 9 udah sampai??”
“Mungkin.”
“Oke, hati-hati di jalan yaa.”
“Iyaa.”
Akhirnya Han pun menutup telponnya, dan tidak lama kemudian mereka mulai masuk ke Mall. Sebelum masuk ke Mall, Han menoleh ke belakang dan melihat pemandangan yang samar-samar. Seseorang yang sangat dia kenal, apakah Han salah melihat atau bagaimana dia sendiri tidak tahu. Han lalu mengatakan.
“Jun, itu… itu… itu Ryuu?”
“Han, mana kelihatan aku. Orang tabrakannya jauh disana.”
Akhirnya Han dan Jun pun masuk dan mencari coffeeshop untuk melanjutkan tugas kuliahnya bersama Jun. Dengan kopi yang dingin, mereka berdua masih membayangkan tentang kejadian tabrakan yang mereka saksikan dengan mata sendiri. Tidak lama kemudian, muncul juga beritanya di Instugrum mereka berdua. Tapi yang berada di kolom like dan komentar sangatlah sedikit, jauh dari angka 10 karena siapa yang ingin membaca berita kota?
“Jun, ini beritanya sudah masuk di Instugrum lho.”
“Tapi siapa juga yang mau baca berita kota? Basi ah buat mereka itu.”
Akhirnya mereka berdua menunggu waktu yang pas untuk pulang, waktu sudah sampai di angka 10, Han dari coffeeshop pun turun ke lobby Mall untuk melihat apakah sudah selesai atau belum. Pada saat Han sudah berada di lobby, dia mengintip dan melihat bahwa kondisi di jalan tersebut sudah kosong dan sepi. Akhirnya Han pun memutuskan untuk pulang.
Perjalanan pulang pun ditempuh dengan cepat, sekitar 30 menit karena rumah Han berada di tengah kota. Ketika sesampai di rumah Han, Jun pun terlihat kaget.
“Han, ini rumahmu?”
“Enggak, ini rumah orang yang aku ga kenal. YA JELAS INI RUMAHKU! NGAPAIN JUGA AKU PERGI KE RUMAH ORANG LAIN!”
Jun pun tertawa sedikit, lalu mereka berhasil dibukakan pintu karena Han lupa membawa kunci rumahnya. Rumahnya sendiri ada 4 lantai, dengan luas 1750 m^2. Terdapat meja ping pong dan lapangan dalam rumah, ditambah ornamen-ornamen yang terlihat mewah membuat Jun kaget.
“Oi, kamu punya kemewahan ini.”
“Iya, terus?”
“Kenapa kau pakai mobil $ 9,000?! Terus selalu mengeluh karena ga dapat pacar, Brengsek kau! Kau bisa dapat cewek-cewek impianmu dimana-mana, mereka pasti datang! Terus kau ngapain juga selalu pakai kaos, celana pendek, dan sandal jepit?! Lebih bergaya dikit kenapa!”
“Ayolah, esensi mobil itu apa? Memindahkan orang dari posisi A ke posisi B. Ngapain juga pakai mobil mahal-mahal? Asuransi mahal, servis mobil di bengkel juga mahal, belum lagi spare part yang ga kunjung datang. Terus kalau di kampus, selama peraturan mengizinkan demikian ya tidak apa-apa kan?”
Jun pun kehabisan kata-kata karena logika dari Han ini terdengar benar walaupun sekarang anak-anak muda sudah sangat-sangat stylish, mulai dari rambut hingga kaki-nya kalau ditotal bisa menghabiskan uang $ 500. Sedangkan Han, orang yang sedang dilihat oleh Jun sekarang hanyalah manusia yang berdandan cukup minimalis, hanya sepuluh persen dari biaya anak-anak zaman sekarang. Sekarang Jun pun paham, masalah terdalam dari Han mengapa dia tidak akan mendapatkan perempuan.
Tidak lama kemudian, ada seseorang yang baru sampai juga di depan pintu rumahnya, sama seperti Han dan Jun. orang tersebut memakai baju yang sangat rapi layaknya seorang pembisnis kondang. Mobilnya pun terlihat mahal, dari segala sisi ditempatkan di garasi yang sangat steril dan sangat berbeda dengan mobil dari Han yang ditempatkan persis di depan pintu rumahnya.
__ADS_1
Bersambung di Part 2