Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 3, Chapter 17; (C-A-S-H)-I-N-O Time, Part 4


__ADS_3

“D-Double King?! King Sekop dan Keriting?! Ti-Tidak mungkin!”


Han pun seperti orang yang tidur, dia benar-benar tidak mempedulikan apa yang dilakukan Tuan Campbell atas kartunya. Dia menguap dan meminta segelas teh yang disediakan secara gratis.


“T-Tapi ini kan cuma ‘kartu lemah’, kita buka ‘kartu kuat’nya. Ga mungkin aku bisa kalah disini!”


Tuan Campbell membuka ‘kartu kuat’nya, kartu pertama adalah ‘A’ Hati.


“Oh, ‘A’ Hati.”


Melanjutkan pembukaan kartu Han, Tuan Campbell mulai membuka kartu keduanya. Kartu kedua dari Han adalah ‘King’ Hati.


“Kartu keduanya ‘King’ Hati! Sepertinya bocah ini tidak memiliki Pair atau Three of a Kind!”


“Lanjutkan Pak! Bukalah kartu ketigaku.”


Han yang memancing emosi Tuan Campbell itu memaksanya untuk membuka kartu ketiga-nya. Kartu ketiga dari Han adalah ‘Queen’ Hati.


“Ha! ‘Queen’ Hati! Kamu tidak mungkin bisa menang dari Aku! Tidak ada Four of a Kind maupun Full House! Aku akan menang! Caramu untuk mengalahkanku adalah dengan Royal Flush, bocah! Namun peluang itu hanya 0.0015%! AKU MENANG! AKU MENANG!”


Tuan Campbell yang sangat percaya diri itu mulai menyombongkan dirinya kepada Han, namun Han tetap tenang saja disana. Semua penonton tiba-tiba detak jantungnya meningkat ketakutan, karena permainan poker ini mereka bisa merinding.


Terutama Maylene, jika Han kalah maka Maylene akan dijual.


“Aduh! Ini Han akan kalah! Gimana ini! Aku belum berpamitan kepada keluargaku! Aku tidak mau bersama paman-paman itu!”


Tobe pun masih dengan wajah yang cukup tenang dan tersenyum kepada Maylene. Tobe pun bertanya apakah Tobe lebih baik daripada Tuan Campbell atau tidak.


“Tenang May! Kamu belum tau dua kartu lainnya yang belum dibuka. Tapi, apakah itu berarti aku lebih baik daripada paman itu?”


Tiba-tiba tatapan Maylene kosong ketika mendengarkan Tobe yang berkata itu. Lalu dia menjawab dengan wajah yang kosong itu.


“Lebih baik aku mati saja.”


Kembali ke meja, Tuan Campbell yang sudah menghina-hina Han dengan wajah yang sungguh bahagia itu memprovokasi Han lagi dan lagi. Dia menatap Han dengan wajah yang sungguh mengerikan, seperti Chen menatap Tobe dulu. Tapi Han tetap saja menutup matanya dan tersenyum.


“Hahahaha, kekalahanmu di depan mata. Apakah kamu ada kata-kata terakhir untuk mereka?”


“Oh, jelas. Aku mau mengatakan kepada mereka bahwa kata-kata terakhirku adalah mereka tidak akan menjadi milikmu!”


Tuan Campbell tiba-tiba marah, dia tersulut lagi dengan hinaan Han yang memprovokasinya itu dengan mata yang melotot ke arah Han itu mulai membisikkan kepada Han.


“Kamu tidak mungkin mendapatkan Five of a Kind, Full House, ataupun Four of a Kind. Menyerahlah, bocah.”


“Pak, silahkan buka kartu keempat dan kelima itu secara bersamaan.”


Han masih saja dengan wajah yang penuh konfidensi itu membuat Tuan Campbell semakin murka. Dia lalu membalikkan kedua kartu itu dengan menatap Han.


“BERANINYA KAU MENYULUT ORANG TUA! DIMANA AKHLAKMU, WAHAI ANAK KECIL!”


Namun semua orang yang melihat kartu Han itu terdiam dan mendadak menjadi bisu. Banyak yang tidak mempercayai kartu itu, beberapa orang yang menyaksikan itu tertunduk lemas dan memanggil Tuan Campbell.


“Tu-Tuan! Lihatlah kartu itu…”


“Memangnya kenapa, bocah ini kan sudah ka-.”


“GWAK!!!!!”


Tiba-tiba, Tuan Campbell itu wajahnya memutih dan membeku, dia tidak dapat bereaksi sama sekali ketika melihat kartu yang dimiliki Han, suhu tubuhnya mendingin, dan Tuan Campbell tiba-tiba pingsan dengan mulut terbuka dan penuh dengan busa.


“Sudah kubilang kan, aku yang menang.”


Han yang menatap keji dan tersenyum jahat saat melihat Tuan Campbell pingsan mendadak itu membuat seisi ruangan casino itu berkeringat dingin. Apa yang membuat Tuan Campbell begitu merinding dan pingsan sesaat?


“Jawabannya ada di dua kartu terakhir Han, ‘Jack’ Hati dan ‘10’ Hati. Dua kartu itu menunjukkan bahwa Han berhasil mendapatkan Royal Flush.”


“R-Royal Flush?”


Tobe yang menjawab Maylene yang sedang kebingungan itu tiba-tiba memberikan tisu kepada Maylene untuk mengusap air matanya.

__ADS_1


“Royal Flush, adalah susunan kartu kedua tertinggi di bawah ‘Five of a Kind’. Karena bandar itu tidak menggunakan ‘Joker’ sebagai kartu truf, maka susunan kartu Han adalah kartu tertinggi di meja ini. Jika lambang kartu Han adalah ‘sekop’, maka kartunya lebih kuat lagi.”


Han akhirnya berdiri dan mulai mengacak-acak kartu dari Tuan Campbell. Dengan wajah yang begitu bahagia dia mulai membuka kartu dari Tuan Campbell.


“Hmm, Full House ‘9’ di ‘kartu kuat’ dan ‘Jack’ di ‘kartu lemah’. Yah, pada intinya Tuan salah memilih lawan.”


Bandar itu juga kaget karena tidak menyangka dia memberikan ‘Royal Flush’ kepada Han secara cuma-cuma, Han yang menatap bandar itu dengan tajam mengatakan dengan baik-baik kepadanya dengan wajah yang tersenyum.


“Pak, deklarasikan bahwa tidak ada kecurangan selama ini.”


“Pe-Pemenangnya adalah, Han! Maka, sesuai kontrak perjanjian, Han mendapatkan hak-nya untuk mendapatkan saham ‘The Red Devils’ sebesar 52%, seluruh aset bangunan Tuan Campbell di Claudifornia, dan uang tunai sebesar $ 50,000.”


Maylene yang mendengarkan itu tiba-tiba bahagia dan memeluk Tobe dengan reflek-nya. Dia begitu bahagia karena dia tidak jadi dijual oleh Han, wajahnya diusapkan di baju Tobe.


“Yay! Kita, kita, kita, kita, kita tidak jadi dijual! Aku sena-.”


Tobe yang biasa saja ketika Maylene memeluknya itu tiba-tiba dipukul oleh Maylene. Maylene mendorongnya hingga jatuh dan ekspresinya begitu jijik ketika melihat Tobe.


“Ma-Maksudmu apa?!”


“Hmph! Aku tidak sudi memelukmu! Aku mau mandi! Aku mau mandi! Dasar manusia menjijikan!”


Tiba-tiba, Tuan Campbell bangun dan menunjuk ke arah Han. Suara penuh amarah dan kebencian itu dikeluarkan dan dia benar-benar stress karena Han telah memenangkan poker itu dengan kartu tertutup. Dia menghentakkan kakinya ke lantai karena tidak dapat menerima kekalahan memalukan itu. Yang membuat kekalahan itu lebih memalukan adalah Han tidak membuka atau mengintip kartunya sama sekali.


“KAU! KAU! KAU! KAU! KAU ANAK KECIL PENUH KELICIKAN! KAU CURANG KAN! JANGAN BERBOHONG!”


Para penonton itu terpancing oleh kata-kata dari Tuan Campbell. Mereka mulai menyoraki Han tanpa henti dari tempat bertaruh.


“CURANG!”


“DASAR BOCAH TUKANG CURANG!”


“MATI AJA KAU BOCAH BIADAB!”


Semua penonton semakin ricuh, tiba-tiba ada tayangan sebelum mereka berdua bermain dari kamera pengawas di casino itu. Tuan Campbell sebelumnya memberikan dek miliknya kepada bandar itu, lalu dia menyegel kartu itu dengan plastik sehingga terlihat bahwa kartu itu baru.


Penonton-penonton yang menyaksikan tayangan itu tiba-tiba menghujani hujatan kepada Tuan Campbell. Tuan Campbell yang ketahuan itu hanya terdiam, lalu Han menatapnya dan mentertawakannya.


“---”


“Ini semua akan kuambil yaa.”


“---”


“Tuan, apakah anda bisu? Tolong jawab saya! Saya berbicara kepada anda!”


“Kau, Kau, Kau! Kau merenggut seluruhnya! Apa kau masih memiliki hati?! Kau senang melihat orang tua tersiksa disini! Dimana akhlakmu!”


Tuan Campbell itu mulai marah dan matanya melotot ke arah Han, memang Tuan Campbell adalah orang yang tidak dapat menerima kekalahan itu. Tiba-tiba semua orang yang bertaruh kepada Tuan Campbell itu menerjang Tuan Campbell dan ingin menggotongnya keluar casino secara paksa dengan wajah yang penuh kekesalan.


“WOI PAK TUA! KAU SUDAH CURANG, MASIH KALAH SAMA BOCAH! KEMBALIKAN UANG KAMI!”


“BRENGSEK! GARA-GARA KAU! KITA SEMUA KALAH BERTARUH DENGAN BOCAH! DASAR ORANG TUA YANG BODOH!”


Mereka membawa Tuan Campbell keluar dan terjadilah kerusuhan di luar hotel. Namun situasi di dalam casino hotel sangat tenang dan damai karena orang-orang yang ingin melakukan tindakan kerusuhan itu sudah pergi semua.


Di sisi lain, Tobe pergi menuju ke arah bandar yang memberikan taruhan sebelumnya. Tobe mengulurkan tangannya dan tersenyum jahat melihat bandar itu.


“$ 90,000. Serahkan!”


Bandar itu hanya lemas dan menyerahkan uang sebesar $ 90,000 kepada Tobe, lalu Tobe kembali ke tempat Han dan Maylene yang berada di sana.


“Sudah berakhir kah, Han?”


“Iya, sudah berakhir. Kamu tidak jadi dijual.”


Wajah Han yang tersenyum itu tiba-tiba ditampar oleh Maylene. Maylene sepertinya masih kesal karena Han menggunakannya sebagai alat perjudian, wajahnya meneteskan air mata dan dia mulai menangis lagi. Perasaannya campur aduk, dia senang karena dia tidak jadi dijual, namun dia juga marah dan sedih karena dia dijadikan alat jual dari Han.


“BODOH! BODOH! BODOH! BODOH! AKU TIDAK PERNAH MENYEPAKATIMU YANG MENJADIKANKU ALAT TUKAR! KAMU KENAPA NEKAT MENGIYAKAN ORANG ITU! APA KAMU GILA! KITA BARU BERTEMU 5 BULAN YANG LALU DAN KAMU SUDAH MAU MENJUALKU! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU! TIDAK! TIDAK! TIDAK! TIDAK! KEJAMNYA KAMU SAMA PEREMPUAN! BIADAB!”

__ADS_1


Han yang mendengarkan Maylene menangis itu hanya terdiam, dia lalu memberikan tisu lagi kepada Maylene dan mengatakan dengan nada yang baik.


“Aku bertaruh karena kalian teman berhargaku dan aku harus memenangkannya agar kalian tidak ada yang bersama dengan orang itu.”


Tobe yang sampai itu hanya memegang pundak Maylene yang menangis itu. Wajahnya yang sangat sabar itu berkata kepada Maylene.


“Pertama kalinya?”


Maylene berhenti menangis sejenak, dia lalu bertanya kepada Tobe dan Han dengan apa yang dimaksud dengan “Pertama kalinya?”


“Ha?”


“Ya, May. Kamu tau? Aku sama Ryuu juga pernah jadi alat taruhan-nya Han. Mangkanya aku tenang sekali.”


“H-Han, j-jadi kamu sudah pernah ingin menjual temanmu?”


“Mungkin sudah 4 kali. Kenapa?”


“DASAR LAKI-LAKI GILA! AKU TIDAK AKAN MAU MENJADI ALAT BARTERMU LAGI! TIDAK! TIDAK! TIDAK!”


Tobe dan Han hanya tertawa melihat reaksi Maylene yang mengomel itu. Lalu Han mengambil uang yang ada dan surat kontrak yang ada, dan berita itu menyebar dengan luas jika Han berhasil mengakusisi klub sepak bola ‘The Red Devils’. Orang-orang berita juga tau mengenai keluarga Han, mengakibatkan harga valuasi tim sepak bola itu meningkat dengan tajam.


“Oh ya, May, ini kunci sisa-nya. Kamu pastikan mengunci pintu di sebelah tempat tidurmu yaa.”


“Iya, terima kasih, Han!”


Maylene yang tersenyum itu membuat Han cukup lega. Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, mereka ingin tidur sesegera mungkin. Tobe berada di kamar yang sama dengan Han, lalu Maylene berada di kamar paling ujung.


“Han.”


“Iya?”


“Aku mau bertanya, dua hal.”


“Mengapa?”


“Pertama, dimanakah kita menaruh uang sebanyak ini? Kedua, kita bisa diperiksa aparat polisi Lions Pore gara-gara kita membawa uang sebanyak ini!”


“Yah, kita pikirkan esok hari saja.”



Di belahan dunia, Yoru telah sampai di kota Vanchester, markas utama tim sepak bola ‘The Red Devils’. Yoru yang ingin makan malam bersama keluarganya itu pergi ke sebuah restoran mewah yang berada di tengah kota Vanchester itu. Papa Yoru mengambil koran sebelum makanan yang disajikan datang.


Ketika Papa Yoru melihat koran edaran terbaru itu, dia melihat berita utama yang menampilkan foto laki-laki remaja, diedit dengan kacamata hitam dan rokok di mulutnya.


“SWAG! A NEW OWNER HAS ARRIVED FOR ‘THE RED DEVILS’, ONE OF THE RICHEST AND MOST VALUABLE CLUB IN THE WORLD!”


Papa Yoru yang melihat koran itu kagum dengan headline itu, dia lalu menceritakan berita utama koran itu kepada Yoru yang sedang bermain handphone.


“Wow, Yor! Lihat ini! Anak se-usiamu sudah mengakusisi klub bola paling berharga di dunia!”


“Ha? Benarkah?”


“Iya.”


Ketika Yoru membaca koran itu, dia melihat foto Han yang terpampang besar di koran. Wajahnya tiba-tiba tanpa ekspresi dan matanya pucat, genggaman koran di tangannya tiba-tiba jatuh ke pahanya, seolah-olah Yoru tidak habis pikir dengan isi koran itu.


“Ke-Kenapa Han ada di koran negara ini?!”


Papa Yoru tiba-tiba khawatir dengan ekspresi Yoru, dia lalu bertanya kepada Yoru apakah dia baik-baik saja atau tidak.


“Yo-Yoru, apakah kau baik-baik saja?”


“Tidak apa-apa, Pa. Aku hanya terkejut aja. Ke-Keren ya orang ini!”


Yoru menutup korannya, lalu dia merenungkan di dalam hatinya tanpa mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia.


“A-Apa maksudnya ini?! Mengapa Han bisa memiliki klub sepak bola! Aku harus mencari tau!”

__ADS_1


 


 


__ADS_2