
Pada pagi yang sejuk, diiringi dengan pohon yang bergoyang-goyang di depan rumah Han, merupakan suasana yang sangat ditunggu-tunggu oleh Han selama ini. Namun, untuk pagi ini…
“WOI DEWI! AKU MAU TIDUR NYENYAK DI PAGI!!”
Hujan deras dan diiringi oleh suara petir di kota Eiyuu! Pagi yang sangat tidak enak dipandang untuk semua warga yang tinggal disana, karena pada bulan-bulan ini sangat dingin karena musim hujan.
Han yang matanya sangat hitam seperti panda itu akhirnya terpaksa bangun dengan penuh emosi. Dia membawa selimutnya keluar dari kamar dan menuju ke arah bawah. Dia melihat kedua orang tuanya bersama dengan Yuki yang berada di ruang keluarga itu.
“Pa, kenapa hari ini hujan deras?”
Han yang juga masih setengah tidur itu hanya menanyakan itu dengan raut wajah yang sedikit marah. Papa Han yang melihat Han seperti itu hanya membalas dengan wajah yang sangat santai sambil meminum teh hangat.
“Kenapa? Ga bisa tidur? Salahmu sendiri.”
“Ya, harusnya hari ini kan ga hujan! Kenapa sudah hujan deras tadi pagi!”
Mama Han tiba-tiba membalas Han dengan wajah yang sangat santai. Mama Han memegang koran dan memberikannya kepada Han yang emosi dan mengantuk itu. Lalu Han mengambil korannya dan membacanya.
“HARI INI ADA HUJAN DERAS! PERKIRAAN AKAN SELESAI JAM 10!”
Itu adalah headline dari koran tersebut, Han yang sudah membaca hanya meletakkan koran itu. Yuki yang melihat Han hanya bertanya kepadanya dengan wajah yang bingung.
“Ko, kamu ga ada rencana nanti?”
“Ga ada. Kenapa?”
Yuki: “Yakin?”
“Yakin.”
“Ya udah, aku mau pergi nanti.”
Han yang tidak menjawab itu pun berpikir dengan keras, sepertinya ada yang janggal dari pertanyaan adiknya itu. Biasanya, Yuki tidak pernah menggunakan kata ‘yakin’ untuk meyakinkannya. Han lalu merenung tentang itu, apa ada yang salah dengan Yuki, ataukah ada sesuatu yang dirahasiakan darinya.
“Hmm, aneh. Ini pertama kalinya Yuki menggunakan kata ‘yakin’. Apa yang dia sembunyikan? Yah, tapi aku juga tidak mau tau kenapa.”
Yuki pun pergi ke kamarnya untuk mandi dan siap-siap pergi dengan teman-temannya.
Papa Han tiba-tiba mendapatkan telpon dari seseorang yang kemungkinan adalah orang yang berada di lingkaran bisnisnya.
__ADS_1
“Halo?”
“A-Apa?! Dia telat membayar uang lagi?! Berapa sekarang yang dia telat bayar?!”
“$ 2,000,000? GILA! BOSNYA DIMANA?!”
“LOUND DOUN?! MATI AKU!!!!! YA SUDAH, KERJAKAN YANG MASIH BISA DIKERJAKAN. OKE?!”
Lalu Papa Han menutup telponnya, yang kemungkinan itu adalah orang marketing dari perusahaan Papa Han.
“Lound Doun? Sepertinya aku mengingat ada seseorang yang pergi ke sana. Tapi siapa yaa?”
Papa Han lalu menceramahi Han di ruang makan itu dengan wajah yang sedikit kesal, tangannya bergetar, dan Papa Han sedikit pucat. Namun Papa Han berhasil menghembuskan nafas kelegaannya untuk merilekskan tubuhnya yang tegang.
“Han, dengarkan Papa. Kalau kamu jadi bos nanti, jadilah orang yang kompeten. Jangan seperti orang ini, udah bisnis proyek besar tapi uangnya belum dibayar! Bos macam apa itu? Sekarang malah liburan ke Lound Doun, kalau Papa bisa pergi kesana, udah pergi Papa hari ini buat nagih dia.”
“I-Iya, aku mengerti.”
Mama Han hanya melihat Papa Han yang memiliki tekanan itu untuk melegakan nafas dan menghibur Papa Han dengan senyuman yang hangat.
“Ayolah, jangan stress begitu. Semua akan baik-baik saja.”
“Oh, bersabar? Kamu juga bersabar menunggu uang belanja dan makan-makanmu yaa. Bagaimana?”
Mama Han langsung terkejut dan emosinya berubah total. Mama Han tiba-tiba mengutuk orang yang menjadi partner bisnis Papa Han itu dengan seruan dan makian di ruang makan itu.
“WOI! CEPAT BAYAR BRENGSEK! KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB! ITU UANG BESAR BUKAN MAIN! AKU CARI KAU YA!”
Han yang melihat Mama-nya itu hanya merinding dan merenung kosong di dalam, dia tidak menduga dengan satu kalimat dari Papa-nya dapat merubah suasana di ruang makan itu.
“Tadi bilang bersabar, diancam sedikit sama uang belanja sudah berapi-api. Memang begitu ya, sangat susah ditebak Mamaku ini.”
Akhirnya sudah jam sepuluh, dan hujan pun sudah reda. Papa Han pun akhirnya pergi dari rumah, disusul oleh Nagi. Menyisakan Mama Han dan Han sendiri di rumah. Namun tiba-tiba, Moku terbang dengan liar dan menghantam meja makan dengan cukup keras dengan kakinya. Kaca di meja makan itu hampir retak karena Moku dan dia mulai mematuk kotak makanan yang berisikan roti. Han yang diserang itu kaget seketika dan cangkir teh yang berada di genggamannya pun terjatuh dan pecah. Namun reaksi Mama Han hanya santai di ruangan sambil bermain handphone.
“MOKU! Kaget aku! Kau kenapa?!”
“Han, sejak kapan kamu jadi idiot? Hewan tidak akan mengetahui apa yang kau bicarakan.”
“Oh, iya Ma, aku baru sadar.”
__ADS_1
Moku hanya menatap Han dengan tajam dan mematuk kotak makanan itu terus menerus. Han yang melihat itu tiba-tiba menatap tajam ke arah Mama Han dan bertanya dengan nada yang sedikit bingung.
“Ma, Yuki udah kasih makan ke burung hantu-nya?”
“Belum, kenapa?”
“Udah berapa hari?”
“Seharian mungkin?”
Han hanya terdiam sesaat, tiba-tiba dia berteriak kencang penuh emosi karena adiknya lupa memberikan makan kepada burung hantunya itu.
“TERUS MAMA GA BILANG KE YUKI BUAT KASIH MAKAN?!”
“Mama pikir burung hantu-nya udah makan tikus kemarin malam.”
“Mati!”
Han langsung memberikan makanan kepada Moku yang kelaparan itu, sekaligus mendamaikan suasana hati hewan itu. Ketika Han melihat Moku yang sedang makan itu, tiba-tiba saja ada mobil yang datang dan melaju dengan cepat. Mobil itu akhirnya parkir dan ada 3 orang yang turun dari mobil itu. Han yang masih merawat Moku dikejutkan dengan ketiga orang itu.
“HAN!!!!!! Kita mau menjemputmu!!”
“Ha?! Ngapain Jun?! Terus kenapa ada Tobe dan Ryuu?!”
“Oh, iya. Kita kemarin sudah bertemu dan ngomong-ngomong.”
“Misi Tante, kita pinjam Han dulu yaa.”
“Oh, iya Ryuu. Tante juga udah siapkan semuanya kok.”
“Me-Menyiapkan se-semua? Apa maksudnya Ma?”
Han menoleh ke arah Mama Han dengan wajah yang kosong, mulutnya terbuka, dan mata yang sedikit putus asa. Han bertanya kepada Mama Han apa yang Mama Han selama ini rencanakan dengan mereka ini. Mama Han di sisi lain hanya tersenyum dan mengambil Black Card milik Han dan menukarkannya dengan kartu kredit biasa.
Mengapa Mama Han bisa menukarkan kartu itu? Karena dompet Han selalu ditaruh sembarangan dan selalu diambil oleh Mama Han.
Mama Han menyerahkan Passport, dompet, dan tiket yang berupa lembaran kertas itu ke Han dengan tersenyum
“Ma! Jangan-jangan…”
__ADS_1