
Setelah Han dan Maylene berbincang di dalam ruang pertemuan itu, mereka akhirnya keluar.
“Hoho, bagaimana pembicaraan kalian? Apakah kalian udah resmi pacaran?”
Ryuu yang bertanya itu di depan umum dengan wajah yang tersenyum jahat kepada Han. Di luar ‘Three Trees Yacht’, banyak orang yang berlalu-lalang mengitari hotel itu. Jun yang baru saja keluar dari lift pun melihat Han dan Maylene yang keluar bersama-sama itu.
“Ohoho, lihat sekarang, Han udah punya perempuan sekarang. Kau jangan merengek lagi seperti anak kecil lagi di depanku!”
Han yang mendengarkan tanggapan temannya hanya memasang wajah yang datar untuk menutupi perasaan aslinya.
Jelas Han sangat tidak ingin bersama dengan Maylene, namun sayang sekali Han juga berulang kali menolong Maylene. Han sendiri juga sudah memiliki hatinya untuk Yoru, namun mereka juga belum berpacaran.
“Ya”
Sebenarnya, suasana hati Han sungguh kelam dan tidak ingin menjawab teman-temannya.
“KAU PIKIR AKU MAU PACARAN DENGAN PEREMPUAN SEPERTI INI! AKU LEBIH BAIK TIDAK BERSAMA PEREMPUAN INI! BRENGSEK!!!!”
Maylene tiba-tiba mencela mereka berdua, wajahnya yang merengek dan tersenyum itu dengan mata yang disipitkan mulai melipat kedua tangannya.
“Mou!!!! Itu kan hanya suruhan Papa Han. Lagipula siapa yang mau bersama dengannya? Laki-laki yang tidak punya perasaan sama sekali.”
“Oh, apakah itu kau yang tidak punya perasaan? Kau sendiri, udah bikin kacau di café negara orang, masih pakai lempar bando segala. Apakah Kau sadar diri kenapa!”
Han yang terpancing oleh Maylene itu mulai membalas Maylene dengan wajah yang tenang namun nadanya penuh dengan sindiran. Maylene yang terpancing oleh ucapan Han itu mulai menaikkan nadanya dan mulai mengomel panjang kepada Han.
“HA??? KAU ITU YANG SADAR DIRI KENAPA! KAU ITU SUDAH MENJEBAKKU KE CASINO, LALU BERWACANA UNTUK MENJUALKU KEPADA ORANG PARUH BAYA YANG MEMILIKI MATA KERANJANG SEPERTI ITU! KAU TAU AKU KAN! AKU INI PUTRI! PUTRI! PUTRI! PUTRI! KAU HARUSNYA MEMUJIKU! KAU HARUSNYA MEMANJAKANKU, PERTAMA KALINYA AKU BERTEMU DENGANMU DI PEGUNUNGAN ITU, AKU PIKIR KAMU ADALAH LAKI-LAKI YANG BAIK! TAPI KENYATAANNYA SETELAH KITA PERNAH PERGI BERSAMA, APA YANG KAMU LAKUKAN HA? HAMPIR MEMBIARKANKU BERSAMA DENGAN OM-OM YANG BAHKAN AKU TIDAK KENAL?!”
Han yang diomeli seperti hanya mengerutkan wajahnya dan mengeluarkan nada yang nyaring dari mulutnya. Matanya benar-benar melihat Maylene seperti orang yang sangat kasihan, orang yang membutuhkan afeksi dari orang tuanya sendiri bahkan.
“Dasar perempuan manja! Kamu bayar sendiri itu kamarnya, aku mau ke resepsionis.”
Tiba-tiba ekspresi Maylene berubah 180 derajat, awalnya yang benar-benar menjual mahal harga dirinya pun mulai merengek dan menarik baju milik Han ketika Han ingin pergi ke resepsionis yang berada di depannya itu.
“Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku Han! Aku tidak akan bertindak seperti putri lagi! Kumohon, jangan pergi ke resepsionis.”
Jun dan Ryuu yang melihat mereka berdua itu hanya memberikan wajah yang datar dan penuh dengan rasa kasihan.
“Ahh, mereka sebenarnya tidak cocok kan.”
“Yaa, bagaimana lagi. Keputusan Papa Han tidak bisa diganggu gugat.”
__ADS_1
Han baru saja menyadari, bahwa salah satu temannya sudah tidak ada di tempat itu. Han mulai bertanya dengan wajah yang bingung kepada Ryuu yang sedang berdiri dan meminum air putih.
“Ryuu, Tobe kemana?”
“Hmm? Tobe? Dia bilang kalau dia mau pergi ke pameran mobil… sepertinya.”
“Sepertinya? Kita tidak pergi bersama ini?!”
Han yang melihat Ryuu tersenyum itu tiba-tiba memberikan Han sesuatu. Dua lembar kertas kecil yang meyerupai tiket, namun tiket itu berwarna-warni dan terdapat gambar bumi dan bercahaya.
“Ano, apa ini?”
“Yaa, kebetulan aja tadi ada yang kasih dua tiket ke kita berdua. Jadi… kita menyerahkan tiket itu kepadamu.”
Ryuu yang tersenyum itu memberikan tiketnya pada Han. Han yang bingung itu melihat ke arah Maylene yang lagi sebal-sebalnya dengan Han. Tiba-tiba dia memasang wajah yang cemburut dan menutup mata-nya.
“Siapa juga yang mau pergi denganmu! Jangan salah tingkah kamu!”
“Hmph!”
Han yang melihat aksi menyebalkan Maylene itu hanya melihatnya dengan penuh amarah, namun dia hanya berkata di dalam hati untuk saat itu.
Jun yang melihat Maylene yang begitu sebalnya mulai berkata dengan kata-kata yang sungguh menyedihkan. Perasaannya tiba-tiba iba melihat Han yang seperti ditolak itu.
“May, orang yang memberikan tiket itu akan sedih melihat penolakanmu. Apa kamu mau melihat orang itu sedih?”
Maylene yang melihat Jun itu tiba-tiba berteriak dan merampas tiket itu dari Han yang memegangnya.
“MOOO! YA UDAH! KITA PERGI!”
“I-Iya…”
Maylene lalu bertanya kepada Jun dan Ryuu, kemanakah mereka akan pergi setelah ini. Apakah mereka akan menyusul mereka berdua atau pergi sendiri, itu tidak diketahui Maylene.
Maylene sendiri tidak dapat membaca pikiran kedua orang itu, dan itu benar-benar lumrah. Pikiran laki-laki tidak akan sampai ke Maylene untuk saat ini.
“Kalian kemana memangnya?”
“Oh, kita mau ke Pirchard.”
“Ryuu minta seperti itu, aku hanya ikut dan tidak mau menganggu kalian. Selamat berjuang, kalian berdua.”
__ADS_1
Han yang mendengarkan itu hanya memasang wajah yang penuh dengan kecut. Wajahnya seperti orang yang minum jeruk nipis tanpa ada gula. Han benar-benar, benar-benar, tidak ingin pergi dengan Maylene.
“---”
Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Han dan Maylene yang masih di depan ruang pertemuan itu.
…
Sebelumnya, saat mereka keluar dari ruang pertemuan.
“Kalian temannya Maylene kan?”
Papa Maylene yang melihat ke arah Jun dan Ryuu yang baru saja keluar dari ruang pertemuan itu hanya bingung melihat Papa Maylene yang bertanya itu.
“I-Iya.”
“Om mau minta tolong. Ini Om ada tiket ke Sekai Studio yang ada di pulau sebelah. Bisa kamu kasih ke May tidak?”
Mereka berdua yang melihat Papa Maylene yang wajahnya tersenyum lebar itu membuat Jun dan Ryuu semakin sungkan untuk mengambil tiket itu.
Pada saat itu juga, Papa Maylene dikejar waktu karena ingin pergi makan bersama dengan Papa Han dan Papa Tobe. Papa Han di depan hotel sudah meminta supirnya untuk menjemputnya di lobby hotel dan Papa Tobe pergi ke toilet.
“Ano, Om. Aku tidak yakin mereka berdua bisa serasi.”
“Iya Om, mereka itu benar-benar… meresahkan. Han sendiri selalu menahan Maylene agar tidak bertindak senonoh.”
Papa Maylene yang mendengarkan itu hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya. Papa Maylene hanya memiliki satu tujuan.
Menyenangkan keluarga Lin karena telah diberikan uang banyak secara gratis.
“Oh, begitu. Mungkin anakku masih trauma dengan mantannya. Anggap saja baginya adalah latihan sebelum festival Lunar.”
Rasa ingin balas budi dari Papa Maylene begitu tinggi, raut wajahnya yang tersenyum dan juga sedih itu membuat Ryuu merasa sungkan dan meminta tiket dari Papa Maylene.
“Om! Saya akan berjuang untuk memberikan tiketnya kepada Han! Tenang saja Om! Percayakan kepadaku!”
Tiba-tiba raut wajah dari Papa Maylene bahagia seperti melihat seorang malaikat yang menolong dirinya. Dia juga tidak menyangka, bahwa Maylene dapat berteman baik dengan laki-laki.
“Om sangat bahagia! Om sangat, sangat, sangat, sangat, sangat bahagia terhadap kalian! Semoga kalian bisa memancingnya.”
Papa Maylene itu mulai menepukkan tangannya di pundak Ryuu dan Jun, lalu menyusul ke arah Papa Han dan Papa Tobe yang sudah menunggu itu.
__ADS_1