
Satu jam berlalu, Haruki tiba-tiba terbangun. Han yang melihat Haruki itu cukup bahagia karena Haruki sudah sadar.
“Haruki! Syukurlah! Apa yang terjadi padamu pagi ini?”
Haruki yang masih lemas itu mulai duduk dan bercerita kepada Han dengan nada yang cukup sedih. Dia tidak dapat menyembunyikan ekspresinya lagi.
“Ba-Ba-Ba-Banyak surat yang masuk ke lokerku.”
“Aku juga mendapatkan itu. Tobe, Ryuu, dan Naoto juga mendapatkannya.”
“Tu-Tu-Tulisan itu bertuliskan untukku mun-mundur dari Ketua Dewan Seko-Sekolah.”
Han yang bingung itu mengambil surat yang berada di ranjang medis itu. Haruki semakin pucat dan ketakutan. Ketika Han membaca tulisan itu, tulisannya betuliskan seperti ini:
“Putri Tirani Ketua Dewan Sekolah! Ini saatnya kau mundur! Dasar sampah! Kau tidak berhasil menjadi Ketua Dewan Sekolah!”
Han yang melihat itu pun bergemetar, dia tiba-tiba menyobek surat itu dan menepuk pundak Haruki dengan wajah yang cukup optimis.
“Haruki! Jangan pedulikan surat-surat itu! Kita harus kuat, dan ini tidak akan berlangsung lama. Aku akan berusaha untuk menyelesaikan ini!”
“I-Iya.”
Tiba-tiba, wakil kepala sekolah itu membuka ruang medis sekolah dan melihat mereka berdua.
“O-Oh, kalian sedang bermesraan ya. Maafkan saya.”
Han dan Haruki tiba-tiba berteriak menegur wakil kepala sekolah itu untuk memanggilnya kembali.
“Mister! Jika penting diskusikan disini! Kemarilah!”
Akhirnya wakil kepala sekolah itu datang kembali dan memanggil Han untuk pergi bersamanya.
“Han, sepertinya kita harus berbicara.”
Han akhirnya meninggalkan ruang medis itu dan ikut pergi ke kantor wakil kepala sekolah itu. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang masuk ke dalam ruang medis dan berbicara kepada Haruki.
“Bencilah Han, maka namamu bersih! Buanglah perasaan cintamu itu! Kamu tidak layak untuk bersamanya!”
Orang itu meninggalkan Haruki di ruangan medis sekolah itu, dan Haruki pun cukup merinding. Dia tidak dapat membendung kebencian yang didapat kepadanya, namun dia juga memiliki perasaan kepada Han.
Jabatan atau Perasaan.
Itu yang membuat Haruki berada di posisi terendahnya pada hari itu.
“Apa yang harus aku pilih? Apakah aku harus membuang jabatanku atau aku akan tetap di jabatanku! Apa, apa, apa, apa yang harus aku perbuat?? Tidak, tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau membencinya! Tapi jika aku tidak membencinya…”
“Aku akan menderita terus menerus.”
__ADS_1
Sementara itu, di kantor wakil kepala sekolah, wakil kepala sekolah itu mulai berbicara kepada Han tentang apa yang terjadi kemarin. Wakil kepala sekolah itu sambil memegang surat dan menunjukkannya kepada Han.
“Pertandingan final kemarin, kamu sepertinya tidak bermain secara penuh. Apakah saya salah? Tolong ceritakan apa yang terjadi kemarin?”
“Tidak Mister, saya tidak bermain penuh. Kemarin penuh dengan kerusuhan, Mama dan saudara saya terkena imbasnya akibat pertandingan kemarin.”
“Oh, begitu. Berarti sesuai dengan apa yang tertulis disini. Apakah kamu ingin membacanya?”
Wakil kepala sekolah itu menyerahkan suratnya kepada Han dan Han mulai membaca tulisan yang diberikan di dalam surat itu.
“Saya, Kepala Sekolah dari SMA yang bertanding melawan Sekolah anda sepertinya banyak melakukan tindakan kriminal. Maka sekolah kami akan melakukan tindakan yang cukup tegas yaitu mengeluarkan dua orang yang dianggap membahayakan nyawa keluarga bagi murid Han.”
Wakil kepala sekolah itu memberikan surat kedua, surat itu berasal dari pihak penyelenggara lomba. Mereka memutuskan untuk tidak mengambil perwakilan dari kota mereka, dan sekolah lawan Han dilarang untuk mengikuti lomba apapun selama satu tahun.
Wakil kepala sekolah itu melihat Han yang pucat itu dan mengatakan dengan nada yang cukup bersahabat.
“Semua, baik-baik saja kok. Kamu tidak perlu khawatir.”
Akhirnya Han kembali ke kelas tanpa mempedulikan siapa-siapa lagi saat itu. Saat mereka ada di lorong, dia melihat Haruki yang raut wajahnya sudah seperti membenci Han, wajah itu tidak dapat berbohong sama sekali. Han yang melihat perubahan sikap Haruki yang sangat mendadak itu pun kaget, mental Han langsung jatuh seketika.
“Kita akhiri saja! Aku membencimu, benci, benci, benci, benci, benci!”
Han yang melihat kepada Haruki itu tiba-tiba pucat, Han berusaha untuk bertanya baik-baik kepada Haruki, apa yang terjadi padanya.
“H-Haruki, apa yang terjadi padamu? Ceritalah padaku!”
“Ada apa yang terjadi pada Haruki? Kalian tau ga?”
Keesokan harinya, sudah banyak berita beredar, surat-surat bersarang di loker dan mejanya, dan Han yang melihat itu juga semakin ketakutan. Wajahnya pucat dan tangannya bergemetar, dia seolah-olah menyimpan suatu dendam tersendiri kepada mereka semua.
“Han suka bermain dengan perempuan-perempuan!”
“Han adalah laki-laki yang tidak segan-segan mempermainkan perasaan perempuan! Dasar laki-laki biadab!”
Han yang melihat seluruh kabar burung itu tiba-tiba berlutut di kelas, dia sudah menyerah dengan keadaan yang dia terima. Ketika dia melihat teman-teman Haruki yang dia ajak chat kemarin, wajah teman-temannya tersenyum jahat bersama Haruki.
Han yang tidak menduga hal seperti itu hanya geram ke arah mereka, namun Han tidak dapat bertindak lebih jauh lagi. Jika Han bertindak gegabah, maka seisi sekolah akan menciptakan rumor baru yang sangat memilukan kepada Han.
“Ka-Kalian! Kalian mengkhianatiku! Kupikir, kalian tidak akan bertindak sejauh ini!”
Teman-teman Haruki itu tertawa dan penuh dengan suara-suara yang jahat. Mereka melihat Han yang berada di kondisi yang mengenaskan itu pun mulai menjawab.
“Apakah kamu bodoh? Haruki tidak mencintaimu sama sekali!”
“Kenapa kamu mencintai seseorang yang bahkan membencimu dalam sekejap? Hatinya sudah tertutup untuk laki-laki sepertimu!”
Haruki yang hanya tertawa itu tiba-tiba diam, dia lalu memalingkan wajahnya dan tidak mempedulikan Han lagi. Lalu Haruki memanggil teman-temannya untuk pergi dari Han dengan suara yang cukup dingin.
__ADS_1
“Sudahlah, biarkan dia menyerah disini. Ayo kita pergi dari sini.”
Mereka akhirnya pergi meninggalkan Han yang pucat itu.
Di sisi lain, Tobe, Naoto, dan Ryuu juga mendapatkan perlakuan yang sama, namun mereka tidak mendapatkan perlakuan yang lebih keji daripada Han selama di sekolah.
Satu bulan telah berlalu, Han tetap saja mendapatkan semua tulisan-tulisan terror itu, dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat Barou dan bertanya kepadanya baik-baik. Namun, ekspresi Han yang sangat gelap itu membuat Barou ikut ke dalam emosi Han, dia juga ikut marah karena Han.
“Barou, apakah kamu yang menyebarkan semua teror ini?”
“MAKSUDMU APA? KAU MENUDUHKU? BRENGSEK! AKU BAHKAN SUDAH MALAS UNTUK MEMBICARAKANMU!”
Han yang melihat Barou yang mataya penuh dengan kebohongan itu membuatnya merobek lengan baju Barou dan meninggalkannya. Tidak lama kemudian kabar burung itu tersebar lagi dan Han benar-benar terpojokkan saat ini.
Selama 4 bulan, Han mengalami keputusasaan yang cukup membara. Dia sudah tidak ingin mendengarkan ucapan-ucapan dari mereka semua. Dia selalu memakai penutup telinga dan hanya melepaskannya ketika dia ada di kelas, dia ditendang dari seluruh tim olahraga sekolahnya. Tidak ada yang ingin mengingat jasa-jasa baik yang telah dilakukan oleh Han di tim mereka.
Ketika Han berada di rumah, Han selalu merasa frustasi dan menjambak dirinya sendiri. Dia sudah menyerah dengan apa yang menjadi ciri khasnya, menjadi manusia yang sangat bahagia dan baik hati. Dia tidak mau mempercayai seluruh teman-temannya lagi kecuali ketiga orang itu.
“SEHARUSNYA BUKAN AKU! SEHARUSNYA BUKAN AKU! SEHARUSNYA BUKAN AKU! INI KEJI! INI KEJI! INI KEJI!”
Haruki di sisi lain juga beberapa kali mendapatkan surat-surat yang penuh penghinaan, Haruki juga mengalami stress yang luar biasa, namun surat-surat yang beredar itu tidak separah Han dan jabatannya sebagai Ketua Dewan Sekolah juga masih aman-aman saja. Tahun-tahun SMA Haruki juga diikuti oleh hasil yang cukup pahit juga di akhirnya.
Haruki akhirnya memanggil Han di lorong dan mengungkapkan seluruh kekesalannya. Wajahnya penuh dengan amarah itu berteriak kepada Han
“KAMU TAU? AKU MENDERITA KARENA DIRIMU! PERGILAH JAUH KESANA! AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCIMU! AKU MEMBENCIMU! SEHARUSNYA AKU TIDAK BERTEMU DENGANMU SAAT ITU! CUKUP DENGAN INI SEMUA!”
Han yang mendengarkan ucapan itu keluar dari Haruki pun putus asa, matanya hanya dapat melihat warna hitam putih saja, dan dia tidak menjadi orang yang bahagia lagi. Dia sudah mengunci perasaannya, namun tidak menutup kemungkinan untuk mencari perempuan lain.
Han pergi ke gedung paling atas, dimana dia merenung dan duduk di hembusan angin-angin yang cukup kencang.
“Apakah semua ini karena insiden turnamen itu? Kenapa ini semua terjadi padaku? Dewi Langit! Jawablah aku! Apakah Kau ada di dunia ini?! MENGAPA? MENGAPA? MENGAPA KAU MEMBUATKU MENDERITA!”
“Aku sudah cukup dengan ini semua.”
Han yang benar-benar depresi itu sudah putus asa, matanya tidak dapat membedakan warna lagi, indra perasanya sudah mati dan tidak dapat merasakan apa-apa lagi, apa yang enak dan apa yang tidak enak. Tiba-tiba ada siswa yang menghampiri Han yang sudah sedih. Dia datang dengan wajah yang sangat datar dan terlihat cukup ramah di mata Han.
“Oh, kau Han kan? Kenapa kau bersedih?”
“Kau pasti Mika, si wakil ketua dewan sekolah.”
“Sebuah kehormatan untukku dikenal oleh murid yang paling dibanggakan oleh wakil kepala sekolah.”
Dari situ, Han mengenal Mika dengan baik. Ryuu pun mulai mencurigai sesuatu yang sangat busuk pada kejadian itu.
“Apakah semua ini memang kebetulan? Atau ada seseorang yang bermain di balik itu?”
__ADS_1