Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 2, Chapter 14: It's Painful!, Part 1


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian reuni itu, Haruki terus-menerus mendekam di rumah. Wajahnya yang masih mengantuk dan rambutnya masih acak-acakan tiba-tiba berteriak di kamarnya itu.


“Nooooo!!!!! Ngapain aku kembali ke sini kalau aku tidak pergi-pergi!”


Haruki lalu memegang kepalanya dan berggumam sendiri, dia ingin pergi jalan-jalan dengan teman-temannya, tapi di sisi lain teman-temannya hanya ada ketika dia memprovokasi Han. Haruki ingin disambut oleh teman-temannya ketika dia pulang, namun dia tidak mengetahui bahwa dia tidak memiliki siapapun.


Haruki lalu pergi ke luar rumahnya dengan sendirinya. Karena dia tidak memiliki supir, maka dia pergi sendiri mengelilingi kota yang sudah berubah itu. Dia sangat ingin pergi ke ‘Perfect House’, sebuah landmark yang sangat legendaris di kota dan dekat dengan pantai.



Sementara itu, di sisi lain, suasana yang gelap di kamar dan Han masih saja tertidur tiba-tiba dibangungkan oleh suara telpon. Han yang masih mengantuk itu mengangkat telponnya. Matanya yang benar-benar mengantuk itu tidak membaca nama orang yang menelponnya, walau di saat itu sudah menunjukkan jam siang.


“HAN!!!!! AYO PERGI!”


Han yang mendengar itu langsung menutup telponnya. Dia melemparkan handphone-nya ke lantai dan kembali tidur lagi. Setelah Han berusaha untuk tidur, ada seseorang yang masuk ke kamar Han dan mengayunkan pintu yang cukup keras. Orang itu cukup tinggi dan rambutnya sudah rapi serta berpakaian yang sangat millennial dan mahal.


“Ko, ada temanmu! Cepat bangun! Dia udah nunggu di bawah.”


Han yang mendengar gertakan adiknya itu tiba-tiba meliriknya. Nadanya masih pelan karena mengantuk itu bertanya kepada adiknya.


“Siiiaaaaapppaaaaa ti?”


“Kalau namanya ga salah tadi, Maylene?”


Han langsung terbangun, dia kaget dan menoleh 90 derajat ke arah adiknya. Tangannya bergetar tanpa henti dan keluar keringat dingin.


“Si-Si-Siapa? Ti, ulangi lagi?!”


“Maylene Ko. Pacarmu? Kok hebat kamu Ko sudah dapat pacar?”


“Jangan menyimpulkan seenakmu! Dia bukan pacarku.”


“Cepat sana ke bawah!”


Han akhirnya keluar dari ranjangnya dan mulai turun ke bawah dengan kaos tidur dan celana pendeknya itu, pada saat turun ke bawah dia menguap dan Maylene melihatnya.


“Hehh?? Begitukah sang raja menyambut permaisurinya?”


Han yang mengantuk itu hanya melihat Maylene yang berdiri di depannya dengan sombong itu. Nadanya sangat sinis sekali ketika dia mengatakan itu kepada Han. Han yang melihat Maylene dengan sedikit buram itu menghiraukan Maylene dan pergi ke dapur untuk membuat teh.


“H-Hey! Ja-Jangan menghiraukan aku, bodoh!”


Maylene mengejar Han dengan cukup kesal. Setibanya Maylene sampai di dapur dari Han, dia melihat banyak sekali koleksi daun teh dari Han. Mulai dari teh yang paling mahal, Darjeeling hingga teh yang biasa-biasa saja.

__ADS_1


“Hmm, koleksi teh-mu cukup banyak yaa.”


“Kamu mau yang mana?”


“Lychee aja gapapa.”


Han membuatkan teh hangat untuk mereka berdua di dalam poci teh. Lalu membawa poci itu ke ruang tamu untuk dihidangkan. Han yang masih saja heran itu bertanya kepada Maylene dengan wajah yang bingung.


“May, sejak kapan kau tau alamatku dimana?”


“Tobe memberitahuku.”


“Yang kedua, Yoru apa tidak bersamamu sekarang?”


“Oh, kamu tidak diberitau sama dia? Kupikir dia pacarmu, dia sekarang pergi ke luar negeri.”


“Aku tidak tau.”


Han membuka pesan dari Yoru, penuh dengan panggilan tidak terjawab dan pesan yang dapat didengar oleh Han.


“HANN!!!!! AKU PERGI DULU KE LOUND DOUN!”


“HAN?! HAN?! HAN?!”


Han lalu bertanya kepada Maylene dengan wajah yang sedikit kesal, dia lalu mengomel kepada Maylene.


“May, jangan bilang kalau dia baru pergi?”


“Iya, dia baru pergi sih. Aku disuruh dia ke rumahmu.”


“Oh, begitu.”


Han langsung pasrah setelah mendengar Maylene yang menjawab dengan santai itu. Ketika mereka meminum teh yang dibuatkan oleh Han, Maylene merasa tersentuh dengan rasa teh itu.


“Teh-nya sungguh enak. Kamu belajar darimana meracik teh ini?”


“Aku tidak belajar, aku hanya menyeduhkannya.”


Maylene yang masih terhanyut dalam rasa teh itu tersenyum. Tiba-tiba Han bertanya kepada Maylene dan mengajaknya pergi.


“Hey, aku tidak mungkin menyuruhmu pulang kan. Kamu mau kemana enaknya?”


“Aku mau ke Perfect House! Kamu mau?”

__ADS_1


“Tunggu dulu. Aku mau siap-siap dulu kalau begitu.”


Han lalu melihat Maylene yang memakai jepit berwarna hijau bamboo. Tangannya tiba-tiba menyentuh rambut Maylene dan dia siap melepas jepit itu.


“H-Han! A-Aku tidak mencintaimu. Nanti Yo-Yoru bisa ma-marah kepadaku!”


Maylene yang malu-malu itu tiba-tiba menjerit kesakitan karena rambutnya juga ikut terjambak ketika Han melepaskan jepit rambutnya. Wajahnya marah dan tangannya reflek memukul Han yang berhasil melepaskan jepit rambut itu.


“SAKIT! SAKIT! SAKIT! SAKIT! HAN KAU BODOH! KALAU MAU MINTA DICABUT ITU BILANG BODOH!”


“Ma-Maaf, tapi aku harus mengambilnya dulu. Nanti di mobil aku kembalikan.”


Han akhirnya pergi dengan jepit rambutnya Maylene dan pergi ke kamarnya untuk mandi. Maylene yang masih tidak terima itu tiba-tiba dihampiri oleh adik Han dan mengambil teh itu di termosnya.


“Hey Yuki! koko-mu biadab banget! Dia menarik jepit rambutku tiba-tiba!”


“Oh, begitu? Jepit rambutmu warna apa Ce?”


“Hi-Hijau.”


“Pantas aja. Berterima kasihlah pada koko-ku. Cece mau tau mengapa?”


Yuki pergi mengambil wig perempuan dan mengambil kain berwarna hijau. Dia letakkan itu di dekat sofa dan Maylene yang melihat itu cukup bingung dengan apa yang dilakukan oleh Yuki.


“Yu-Yuki, apa yang terjadi memangnya.”


“Lihatlah sebentar lagi, sabar Ce, ancaman itu akan datang.”


Sosok panda merah akhirnya nampak di ruang tamu itu, berjalan dengan santai seperti binatang yang mengobservasi mangsanya. Lalu Akaichi melihat rambut itu yang terdapat kain berwarna hijau membuatnya bersiap-siap untuk menerjang rambut palsu itu. Akaichi itu mencakar-cakar rambut itu, mencabik-cabik, lalu menggigit kain hijau itu sebelum ditarik oleh Yuki sendiri.


Maylene yang menyaksikan sirkus kecil-kecilan itu hanya terkesima dan sedikit takut pula. Yuki yang melihat reaksi Maylene yang sedikit terkejut itu hanya melihatnya dengan wajah yang penuh dengan sindiran dan mulai berbicara kepada Maylene.


“Cece, apakah kauuu melihat surat larangan di depan pintu masuk??”


“A-Aku tidak melihatnya. Kenapa panda merah lucu ini beringas sekali?”


Maylene meraba panda merah itu, dan panda itu cukup senang dengan rabaan dari Maylene dan menggendong panda itu. Yuki yang mendengarkan pertanyaan Maylene itu mulai menjawabnya dengan wajah yang cukup kesal, dia menghembuskan nafasnya dan mulai duduk di sofa.


“Ce, alasan kenapa tidak boleh ada barang hijau itu adalah eksistensi panda ini sendiri. Panda ini maniak bamboo dari sejak Koko masih kecil, sehingga itu di taman terdapat bamboo.”


Tiba-tiba, ada burung hantu yang lucu terbang ke arah Yuki. Maylene yang melihat burung hantu itu cukup takut.


“YUKI, AWAS!”

__ADS_1


__ADS_2