
Di trotoar dekat hotel dan stasiun MRT, penuh dengan orang yang menyebrang dan tempat yang sangat hijau karena penuh dengan tumbuhan itu begitu sejuk.
Jun yang khawatir dengan Han yang akan banyak konflik dengan Maylene itu bertanya kepada Ryuu dengan wajah yang begitu pesimis. Namun Ryuu di sisi lain hanya tertawa saja ketika mendengarkan pertanyaan Jun.
“Apakah itu akan berhasil?”
“Hahahaha, tenang aja Jun, mereka berdua harus mendapatkan kekompakkannya agar sandiwara itu akan berhasil!”
“Maksudmu apa Ryuu? Apalagi dengan festival Lunar yang selalu dibicarakan oleh Papa dari Han?”
Jun yang bertanya kepada Ryuu itu mulai menceritakan tentang cerita Han yang selalu dibully keluarganya saat festival Lunar. Wajahnya yang senang itu ditampilkan Ryuu, namun tidak selaras dengan suaranya.
“Kamu tau, setiap kali ada festival Lunar, Han selalu dibully keluarga besarnya, saudara sepupunya sendiri, bahkan kakeknya. Karena apa? Seluruh sepupunya sudah punya pacar dan selalu dibawa ke acara keluarganya dan memamerkan kemesraan, namun tidak dengan Han yang selalu sendirian. Ini juga udah ke-4 kalinya Han dibully berturut-turut, mangkanya Papa Han ingin memblokir akses bully-an dari saudara-saudaranya.”
“T-Tapi itu kan kelihatan bohong nanti! Apa Papa Han tidak memiliki perasaan? Apa Han mau hidup di dalam kebohongan?! Jangan bercanda! Kamu kan temannya!”
Jun yang berteriak dengan penuh emosi membuat Ryuu tertawa saja di sana. Dia mulai tertawa terbahak-bahak karena Jun begitu mendalami perasaan Han saat ini. Tiba-tiba dia memasang wajah yang begitu tidak peduli dengan omelan Jun.
“HAHAHAHAHAHA! Aku senang kamu memperhatikan perasaannya, tapi setelah festival Lunar mereka juga bisa memutuskan hubungan kan? Tidak mungkin juga Maylene akan jatuh cinta kepada laki-laki seperti Han.”
“Tapi kalau Maylene sampai jatuh cinta?”
Ryuu pun terdiam sebentar, lalu dengan nada yang bingung dia mulai menggelengkan kepala dan mengangkat kedua tangannya ke atas dan memberikan gestur ketidak-tahuan.
“Uhh, itu masalah besar sih.”
Mereka terdiam sebentar sebelum masuk ke dalam stasiun kereta, lalu tertawa terbahak-bahak sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
…
“Hei, jawab aku! Kau selalu menghiraukanku! Kenapa kau tidak mau bercerita sama aku!”
“---.”
Seperti itulah situasi Han dan Maylene saat ini. Mereka berdua benar-benar canggung di dalam kereta menuju ke pulau sebelah. Pulau yang penuh dengan hiburan dan kesenangan, terdapat pantai yang indah, cablecar, hingga beberapa wahana permainan dan akuarium yang besar.
Itulah pulau Gao Xing, pulau yang hanya berjarak 7-kilometer dari Bay park, pulau itu tidak ada penghuni ataupun perumahan dikarenakan tempat itu sudah dikhususkan oleh pemerintah hanya untuk bertamasya saja.
“Ceritakan sekarang Han bodoh!”
__ADS_1
Maylene yang sebal itu benar-benar muak dengan sikap Han yang begitu dingin dan menghiraukannya. Tiba-tiba Han menjawab Maylene dengan wajah yang begitu tenang dan nada yang cukup menyedihkan dengan menatap Maylene yang berada di sebelahnya.
“Kita lagi di kereta, sadar tempat kenapa kau perempuan! Kalau kita cerita-cerita disini, mereka semua akan dengar kau tau. Bersyukurlah, kamu perempuan pertama yang aku akan ceritakan aibku!”
“Ha?! Kenapa aku harus bersyukur untuk mendengarkan aibmu?!”
Maylene yang masih memberontak itu menaikkan nada bicaranya, lalu banyak orang melihat Maylene tiba-tiba. Seperti Maylene mencari perhatian kepada banyak orang.
“Ma-Maaf.”
Maylene mengecilkan nadanya dan tidak berbicara lagi, Han yang melihat Maylene dilihat oleh banyak orang di kereta itu hanya tertawa kecil dan tersenyum melihatnya.
“Hahahaha, kamu lucu!”
Maylene yang melihat Han tertawa itu pun raut wajahnya kesal dan memalingkan wajahnya lagi dari Han yang tertawa.
“Hmph!”
Sesampainya di luar stasiun, Han mulai menjawab Maylene tentang apa yang terjadi di keluarga Han selama festival Lunar. Wajahnya yang tersenyum itu mengeluarkan nada-nada yang menyedihkan. Tatapannya benar-benar gelap.
“Sebenarnya, tahun lalu adalah tahun ke-empatku dibully oleh satu keluarga.”
“K-Kan dia yang bertaruh. Bertaruh dan merampok itu berbeda, May!”
“Ya, Ya, Ya, Ya, Ya, teserah kamu. Lanjutkan! Aku penasaran sama ceritamu itu.”
“Sebenarnya, semua saudaraku sudah punya pacar. Hanya aku sendiri yang tidak punya dan mereka memamerkannya di depan keluarga besarku. Bahkan adikku yang kamu temui di rumah, Yuki juga sudah punya pacar.”
“Ha??! Yuki itu udah punya pacar?!”
Maylene yang kaget mendengarkan itu membuat Han tertawa kecil. Tangannya yang menggaruk bagian bawah hidungnya dengan mata yang sipit mulai bercerita lagi.
“Hahahaha, iya. Kamu tidak salah dengar. Alasan itu yang membuat aku dibully oleh satu keluarga. Keluargaku selalu melihat kemesraan di-antara saudara-saudaraku. Mereka bahkan menyuapi makanan satu sama lain.”
“A-Aku tidak mau disuap oleh kamu!”
“Siapa juga yang mau menyuapimu! Tobe sendiri aja tidak pernah menyuapimu makan!”
“---”
Maylene yang memberontak itu hanya terdiam, dan Han mulai melanjutkan ceritanya lagi.
__ADS_1
“Aku selalu dikatakan oleh kakekku, ‘kapan kamu bawa perempuan cantik ke rumah ini!’, saudara-saudaraku juga selalu mengatakan hal yang sama. Aku sendiri tidak pernah makan di atas meja sejak empat tahun yang lalu untuk acara itu.”
“Karena?”
Maylene yang bertanya seperti itu di saat mereka berdua masuk ke dalam Sekai Studio dan mulai menyerahkan tiket mereka berdua ke pintu masuk.
“Karena semua meja telah diambil oleh saudara-saudaraku yang sudah punya pacar. Aku selalu makan di tangga rumahku atau di taman dengan Akaichi.”
“Oh, begitu, tap ikan sebenarnya kamu bisa mengajak Yoru ke rumah.”
“Kalau Papaku tidak bertemu denganmu, mungkin aku akan membawa Yoru ke rumah. Tapi…”
“Tapi?”
“Namanya nasib, kamu yang ditunjuk personal. Hahahahaha. Aku bisa apa sekarang?”
Wajah Han yang tertawa itu seolah-olah menutup kesedihannya, namun Maylene dapat merasakan sesuatu yang disembunyikan dari Han. Namun Maylene tidak bertanya hal itu kepada Han, May tidak ingin melihat Han yang sedih lagi karena hari ini saatnya untuk bahagia.
“Masa lalu, hmm? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”
Maylene langsung tersenyum dan berjalan mendahului Han. Dia melihat Han dengan wajah yang manis, sebuah wajah yang tidak pernah dia tampilkan sebelum-sebelumnya.
Wajahnya seperti seorang malaikat yang turun dari langit, memang dari awal dia adalah perempuan yang anggun. Tapi di suatu saat, dia bisa menjadi perempuan yang sangat manis.
Dengan wajah yang manis itu, dia berbicara kepada Han dengan nada yang sangat lembut. Tidak seperti biasanya yang begitu kasar dan selalu memberontak.
“Ayo kita latihan! Sebelum festival itu, kita harus mempererat hubungan kita, Han! Jangan bersedih terus kamu!”
“Pertama-tama, aku tidak sedih sama sekali. Kedua, aku tidak mau mempererat hubunganku denganmu! Kita harus belajar…”
“Be-la-jar?”
“Iya, belajar bersandiwara!”
“HUEK!!!!!!!!!”
Maylene tiba-tiba tersedak mendengarkan Han dan mulai memberikan gestur mencekik-kan lehernya. Han yang melihat itu hanya merasa jijik melihat Maylene yang mengejek Han.
“K-Kamu!!!!!!”
“AHAHAHAHAHA, aku juga tidak akan jatuh cinta padamu!”
__ADS_1