
Satu bulan telah berlalu, dan ujian pun telah usai. Ujian yang sangat susah karena dosen-nya banyak yang berhalangan hadir dan ada juga yang suka absen tanpa sebab, membuat semua suasana ujian semakin runyam. Mayoritas kelas pun merasa depresi karena apa yang mereka pelajari pun sia-sia.
Ya, kalian tidak salah baca. Dosen-nya banyak yang berhalangan hadir
Beberapa dari mereka mencoba untuk melakukan drifting di parkiran kampus, ada juga yang menyobek rangkuman yang mereka kerjakan karena sia-sia. Namun ada satu orang yang sangat masa bodoh dengan ujian tersebut, dia seolah-olah tidak peduli dengan ujiannya.
“Ayolah, cuma ujian biasa. Kan masih ada kesempatan banyak nanti.”
Ya, itu Han yang berbicara. Dia sedang berbicara dengan sekumpulan manusia-manusia yang sedang patah arang. Lalu ada beberapa temannya yang berteriak, karena rasa frustasinya yang sangat tinggi dan tidak dapat dibendung. Mukanya memerah dan matanya pun melotot tajam.
“CUMA UJIAN BIASA?! LU KALAU PUNYA NILAI HANCUR URUSANMU SENDIRI!”
Han pun langsung takut seketika, dia pun ingin bergegas pulang saja dan tidur. Dia tidak ingin memperkeruh suasana yang sangat panas di kampus tersebut. Ketika Han sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Tobe menelpon Han. Nadanya pun juga sedikit lemas.
“Han, kau kosong?”
“Oi, kau kenapa. Aku kosong sih, mau pergi?”
“Ayo, aku tunggu di cafétian. Aku butuh teman untuk mengobrol. Aku sedang frustasi.”
“Oh begitu, ajak saja pacarmu kan bisa. Gunanya pacar buat apa?”
Tobe yang sedang putus asa, merasa dipanas-panasi oleh Han, hatinya semakin panas juga ketika dia mendengar kata ‘pacar’ di saat dia tidak butuh saran dari pacarnya. Dia pun langsung mengancam Han
“Sini!”
Han pun yang merasa terintimidasi, nada berbicaranya pun menciut seketika, tanpa basa-basi seperti biasanya dia pun mengiyakan ajakannya dengan nada bersalah.
“Iya.”
Karena Han sendiri merasa terancam, dia pun mengajak Ryuu di tengah perjalanan.
“Oi, kau kosong kan. Ayo pergi ke cafétian. Temanmu depresi disana.”
“Siapa? Siapa yang depresi?”
Ryuu dengan nada yang sedikit sinis pun menanyakan hal tersebut. Han, yang tadinya berbicara dengan nada yang sangat datar menjadi ceria lagi.
“Oh itu si Tobe brengsek, dia depresi itu di cafétian. Udah kau pergi aja ikut aku.”
“Aku mau kembalikan mobil ke rumah dulu. Kau jemput aku di rumahku.”
“Hehhhh???? Ngapain? Buat apa aku jemput kau? Jangan buang bensinku, dasar sialan!”
“Mobilnya mau dipakai. Udah jemput aja!”
“Yaa.”
Akhirnya Han pun menjemput Ryuu di rumahnya, Ryuu pun masuk ke mobilnya dan mereka mulai perjalanan menuju cafétian. Sesampainya di depan pintu, mereka berdua melihat Tobe memancarkan aura yang sangat gelap membuat mereka berdua berpikir untuk pergi dari sana.
“Ryuu.”
“Aku paham, ayo.”
Mereka berdua mulai berbalik badan bersama dan siap beranjak keluar dari cafétian, tiba-tiba Tobe lari keluar dari cafétian dan menggebrak pintu café tersebut.
“WOI BRENGSEK!”
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua masuk ke café tersebut dan melihat Tobe yang sedang memiliki tatapan kosong. Tobe pun memulai pembicaraan yang cukup absurd mengingat suasana yang terjadi pada mereka bertiga.
“Kalian mau pesan apa?”
Han dan Ryuu yang baru saja makan di kampus, menolak untuk memesan makanan karena mereka masih kenyang.
“Aku ga pesan makanan.”
“Aku juga.”
Tobe pun yang merasa sendiri, pun memulai memancing mereka berdua untuk memesan agar Tobe tidak merasa sendirian.
“Ayo aku tra-.”
Lalu Ryuu langsung mengangkat tangannya, seolah-olah memanggil pelayan café tersebut. Tobe pun langsung bereaksi, mukanya pun mengekspresikan dia tidak bisa berkata-kata lebih jauh.
“Pak, Kopi Vietnam satu, Teh Lohan satu.”
Lalu Ryuu menatap Tobe dengan senyuman licik. Dia lalu mengatakan kepada Tobe.
“Kau yang bayar kan?”
Tobe pun langsung memalingkan wajahnya, karena Ryuu tahu apa yang ingin Tobe katakan. Han pun yang bingung dan menanyakan kepada Ryuu mengapa dia memesan 2 minuman. Dengan nada yang mengeluh, Han pun menanyakan kepada Ryuu.
“Oi Ryuu, Teh Lohan itu buat siapa?”
“Buat kau.”
“Aku kan ga pesan juga.”
Lalu Han pun berdiri, mengangkat tangannya dan pelayan tersebut cepat tanggap. Pelayan itu dengan antusiasnya pergi menuju Han dan siap menulis.
“Pak, Bakso satu dengan Nasi, Roti Panggang Malaka kaya mentega satu, sama Teh Tawar sa-”
Tobe pun langsung mencela dengan nada yang tinggi, tangannya yang awalnya berada di bawah meja pun naik dan sedikit memukul meja makan tersebut.
“WOI! CUKUP WOI! JANGAN PESAN BANYAK-BANYAK! KAU GA TAHU DIRI JADI ORANG!”
Han tidak jadi memesan bakwan dan nasi tersebut. Setelah memesan, suasana pun sudah tidak mulai kaku seperti di awal-awal. Makanan pun datang dan Tobe mulai bercerita masalahnya.
“Jadi begini, a-”
Han pun menyela Tobe, dengan matanya yang tertutup dia sudah memprediksi apa yang ingin dikatakan Tobe.
“Jangan mengatakan selanjutnya, kami tahu masalahmu. Ulangan juga kan?”
“Kau dukun?”
Ryuu pun menyela mereka berdua, dengan nada yang datar dan sedikit menghembuskan nafasnya dia mulai mengatakan
“Ayolah, di kelasku juga begitu. Semuanya pun mendadak terkena penyakit siput gila.”
Han pun membalas Ryuu, matanya yang sudah terbuka lagi karena menikmati roti panggangnya.
“Kau pikir Spongeboy? Hahahahahahaha.”
Akhirnya mereka bertiga pun tertawa bersama, terbahak-bahak sampai ada orang tua yang masih muda sedang makan di sebrang meja pun berusaha untuk melindungi anaknya. Mereka pun mulai menutup kuping anaknya dengan tangannya mereka sendiri.
__ADS_1
“Nak tutup kupingmu.”
Tobe pun berbisik kepada mereka berdua, dengan matanya yang melirik orang tua yang menutupi kuping anaknya dia mengatakan
“Itu orang tua lagi melawak atau gimana? Menyuruh anaknya menutup kupingnya tapi yang menutup kupingnya ya orang tuanya sendiri. Gendeng.”
Mereka berdua pun tertawa bisik-bisik, sebenarnya mereka mau menahan tawa mereka namun Han yang sedang mencoba untuk minum Teh Lohan miliknya pun juga menyembur dari mulutnya. Teh yang masih panas tersebut membasahi celana Han dan tenggorokannya mulai sakit.
Ryuu yang berada di sebelahnya Han pun juga berdiri, dia yang kaget pun berbicara dengan lantang.
“BODOH!!!!! Bodoh Han asli kau ini!”
Karena berbuat kerusuhan di café tersebut, mereka bertiga cepat-cepat keluar dan membayar tagihannya.
Pada saat perjalanan pulang, Han dan Ryuu merencanakan untuk pergi ke pegunungan. Mereka menilai bahwa mereka bisa bosan di dalam kota selama satu minggu liburan setelah ujian.
“Ryuu, kau mau ke kota sebelah ta? Bosan tau di kota ini terus.”
“Ga salah, mau ajak siapa?”
“Kita umbar saja di grup kampus gimana. Aku pokoknya telpon Jun.”
“Ya sudah kita umbar dulu. Kalau 2 menit tidak ada respon, aku telpon Leonne.”
Akhirnya 2 menit tersebut, mereka berdua berhasil meyakinkan Leonne dan Jun. Ketika sudah dekat dengan rumah Ryuu, tiba-tiba ada yang menelpon Ryuu. Ryuu pun yang merasa tidak mengenal kontak tersebut bertanya kepada Han.
“Han, ini siapa?”
“Oh itu Alex, kau tahu? Teman kita yang dari Jerman itu.”
“Oh dia. Aku pikir siapa coba. Namanya Bahasa Jerman pula, aku tidak bisa baca sama sekali.”
“Kau pernah coba fitur ‘edit name’?”
Ryuu yang dibuat bingung seketika oleh Han pun menjawab dengan tangan yang gemetar.
“Ga… kau tahu kan ini handphone? Sudah retak dimana-mana, LCD-nya pun sudah pecah, terus gimana caranya aku mau ‘edit name’ kalau setiap kali aku ketik bisa membuat jariku berdarah?”
Akhirnya Ryuu mengangkat telpon dari Alex. Ryuu sudah sangat siap dengan aksen-aksen tentara karena hanya aksen itu yang dia pahami.
“Hello Ryuu, can I-”
“Join? 8 o’clock go to WacDonul near the campus. After that we will depart from there. Reminder, please pack your clothes because we will stay for 2 nights.”
“Okay, roger that.”
Alex pun menutup telpon, Han pun kaget dengan Ryuu yang lancar berbahasa Inggris. Selama ini pandangannya salah, dia salah menilai Ryuu yang tidak dapat berbicara dengan bahasa Inggris.
“Kau lancar juga ya. Aku sampai terharu.”
“Gamer beda bos. Kau belum tahu pula cara mengumpat pakai Bahasa lokal mereka. Kau masih baru Han.”
Ryuu pun sampai ke rumahnya, dan Han mulai perjalanan pulang ke rumahnya.
Bersambung di Part 2
__ADS_1