Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 4: Results, Part 1


__ADS_3

Setelah apa yang terjadi pada Han pada kemarin, Han, yang memiliki banyak bekas luka karena apa yang terjadi selama 2 hari sudah tidak memiliki apa-apa di kamarnya. Tidak ada handphone, tidak ada komputer, pakaiannya sudah hilang setengah, dan yang lebih parah lagi dia tidur di atas matras yang memilki ketebalan lebih tipis daripada buku paket. Hanya ada bantal dan selimut yang sudah sobek dimana-mana yang dapat menemaninya sekarang. Selama 2 malam, Mama Han sudah menjual semua barang yang ada di kamar Han.


Han yang sudah tidak tahan dengan penderitaan-nya itu turun ke kamar Papa Han untuk meminta selimut yang layak untuk malam hari. Sesampainya di depan kamar Papa Han, dia mau mengetuk pintu depan kamarnya. Tapi sudah ada tulisan di depan kamar Papa Han yang membuat dia mengurungkan niat untuk meminta selimut.


*Barang-barang yang ada di kamarmu akan kembali dalam waktu 1 minggu. Jadi tolong siap menderita selama 1 minggu\, ini melatih mentalmu untuk menjadi pribadi yang mandiri*


Han yang membaca tulisan itu pun kembali ke kamarnya, dia pun mulai menjambak-jambak rambutnya, matanya pun memerah dan ingin meneteskan air mata, giginya pun bergetar kencang, dan kakinya sedang menginjak-injak lantai kamar tersebut. Han sudah selayaknya orang yang sedang memiliki gangguan jiwa pun mulai berteriak di kamarnya.


“Hidupku mengapa seperti ini! aku… aku… aku sudah divonis mati oleh keluargaku, dianiaya keluarga sendiri, sekarang semua barangku sudah tiada! ini semua salah si pencari apa lah itu! terkutuk kau!!!!!!”


Sebenarnya dia bisa saja pindah kamar ke kamar adiknya, namun kunci kamar adiknya sudah dibawa olehnya ke luar negeri. Adik Han sedang bersekolah di luar negeri, dan tidak ada kunci cadangan yang ada di rumah.


Akhirnya Han pun melalui malam itu dengan penuh penderitaan, matanya yang sangat hitam karena dia yang tidak bisa tidur dengan bahagia seperti biasanya membuat kedua orang tua Han khawatir atas kesehatan Han. Mama Han yang menghampirinya pun dengan wajah yang khawatir.


“Han, kamu baik-baik saja kan??”


Han yang sudah seperti orang sakit, menjawab dengan lemas pertanyaan dari Mama Han.


“Ma, siapa yang menghabisi semua barang-barangku di kamar?”


Papa Han, yang sedang minum teh di pagi hari pun menyela Mama Han. Dengan wajah datarnya dia mengatakan


“Mama Han yang menjual barang-barangmu ke teman-temannya.”


Mama Han pun langsung membantah ucapan Papa Han, Mama Han pun menceritakan yang sebenarnya.

__ADS_1


“Sebenarnya bukan dijual sih, tapi Mama kasih ke teman-temannya Mama.”


Mata dari Papa Han pun langsung melirik tajam, Han yang sedang kosong pun menatap Mama Han yang dengan santainya mengatakan seperti itu. Han pun masih dengan nada pasrahnya mengatakan


“Ma, dalam 2 hari, suruh mereka semua kembalikan barang-barangku. Aku ga mau tau apa ini melanggar kode etik atau tidak. Tapi kalau Mama tidak mau melihat anakmu kabur di hari ke-6, kembalikan semua barang-barang yang ada di kamarku.”


Papa Han pun membalas Mama Han dengan nada yang santai.


“Kan sudah aku bilang, jangan dijual semua itu barang-barangnya. Eh malah kamu giveaway ke teman-temanmu.”


Mama Han langsung lemas, dengan wajah yang murung dan mukanya ditundukkan.


“Iya.”


Setelah itu Papa Han pergi dari rumah, tiba-tiba mobil Han pun kembali ke rumahnya. Ada pegawai dari pabrik Papa Han yang keluar dari mobil dengan gagahnya berada di depan Han, dia langsung menunduk dengan segala hormat dan mulai meminta maaf.


Han yang suasana hatinya tiba-tiba sudah sangat gembira karena mobilnya sudah kembali, mempertanyakan pegawai itu.


“Sudah Pak, jangan menunduk lagi. Jangan menyalahkan semuanya kepada anda, anda tidak ada salah kok. Buat apa anda meminta maaf sambil menundukkan kepala anda? Tegak Pak, tegakkan kepala anda.”


Pegawai tersebut pun mengegakkan kepalanya, lalu membungkukan kepalanya lagi untuk mengucapkan rasa terima kasih yang begitu mendalam. Lalu pegawai itu pergi dari rumah Han.


“Terima Kasih Tuan Han! Kebaikan anda selalu saya kenang!”


Han pun yang lagi senang dengan mobilnya kembali, mulai membuka pintu mobil tersebut. Mobil itu sungguh pengap, ada bau alkohol yang cukup keras yang membuatnya harus menahan nafas terlebih dahulu. Ketika dia menyalakan mobilnya, bensinnya pun sudah habis. Han yang awalnya bahagia seketika langsung murung dan mulai merenung, ekspresinya berputar secepat membalikkan telapak tangan.

__ADS_1


“Kenapa aku harus menjalani nasib seperti ini? Ini sudah kelewatan, mobilku sudah bau, bensinnya pun sudah habis. Aku bahkan sudah mengampuninya cuma-cuma tanpa meminta uang bensinnya. Tolonglah dewi langit, jangan memperkeruh suasana ini.”


Han pun akhirnya pergi dari rumah dan dia memulai perjalanannya dengan mengisi bensin terlebih dahulu, sehingga dapat membuat uangnya terkuras. Ada pom bensin yang dekat dengan rumahnya, kira-kira hanya 2 menit perjalanan. Ketika dia sampai di pom bensin hendak mengisi tangki mobilnya, petugas pom bensin itu tiba-tiba berkeringat dingin dan mulai mencurigai mobil itu.


“P..P…Pak, ini mo-mo-mo-mobil a-ada o-o orangnya kan?”


“Lah, saya ini siapa?”


Tiba-tiba petugas pom bensin itu berteriak ketakutan, orang itu mau kabur dari mobil tersebut dan memanggil teman-temannya. Han yang melihat itu langsung tanggap dan menghentikan aksi petugas itu.


“IBLIS!!!!! ADA IBL-.”


“PAK! SAYA HIDUP PAK! SAYA MASIH PUNYA HATI!”


Akhirnya petugas itu berhasil ditenangkan, dia pun meminta maaf atas perbuatannya tersebut. Han yang bingung dengan situasi itu mulai bertanya kepadanya, mengapa dia bisa tahu status Han yang dikabarkan sudah meninggal. Alasan Han menanyakan ini karena dia masih tidak memiliki handphone.


“Permisi pak, kenapa kok bapak mengatakan saya ini iblis?”


“Oh, dari sini.”


Petugas itu menunjukkan video yang menyebar dari Instugrum. Han yang melihat itu pun tidak menyangka karena satu video itu bisa membuat banyak orang percaya atas apa yang terjadi pada Han. Dengan nada datar dan wajah yang lemas, Han pun berkata,


“Pak, sekarang bapak melihat saya hidup dengan ekspresi kan? Jadi tolong bilang ke teman-teman bapak yang ada di pom bensin bahwa saya bukanlah iblis yang mengambil alih tubuh manusia.”


Akhirnya Han pergi dari pom bensin, lalu dia pergi ke bank untuk membuat rekening bank yang telah ditutup rekeningnya. Ketika dia sampai di bank itu, banyak orang yang melihat Han dengan wajah yang ketakutan. Han, orang yang sudah mengetahui alasan mereka melihatnya seperti itu memasang wajah masa bodoh, dia sudah tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang Han.

__ADS_1


 


 


__ADS_2