Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 2, Chapter 10: Han's Past, Part 3


__ADS_3

Han tidak sampai disitu saja, dia juga beberapa kali mengikuti lomba ping-pong sehingga dia dijuluki ‘The Lefty Swordsman’, menjadi pemain Baseball sekolah, dan juga mengisi slot Winger Kiri di tim sepak bola sekolah. Guru-guru sekolah itu sangat terkagum-kagum dengan talenta olahraga dan pendidikannya di atas rata-rata. Wakil kepala sekolah itu merenung dengan melihat rapot bagus dari Han.


“Sungguh! Untung saja saya tidak memberikan skorsing kepadanya pada saat itu! Sekolah ini hujan profit dari lomba-lomba yang dia ikuti saat ini!”


Namun di dalam sektor pendidikan, Han hanya kalah oleh satu orang.


Ketua Dewan Sekolah Tirani, Haruki. Perempuan itu adalah perempuan yang cukup dingin di luar karena dia menolak perasaan banyak laki-laki yang ingin mendekatinya dan kabarnya dia susah ditaklukan.


Ketika Haruki sedang membawa berkas-berkas dewan sekolah untuk festival-festival berikutnya, dia berlari sedikit cepat dan dia tersandung. Pada saat itu Han yang berjalan sambil melihat pemandangan di luar itu tertabrak oleh Haruki. Berkas-berkas itu menghantam badan Han dan Han juga ikut terjatuh.


“Awww! Kenapa aku bisa tersandung sih!”


Han yang sebal itu mulai mengutarakan nada kekesalannya. Namun ketika dia menyadari itu adalah Haruki


“Aduh, aduh, aduh! Kamu kenapa sih? Ha-Haruki, si Ketua Dewan Sekolah Tirani???!!!! Maafkan aku!”


Haruki yang mendengarkan itu pun mulai mengerutkan wajahnya kepada Han, Haruki tidak ingin dipanggil seperti itu oleh orang-orang.


“H-Hentikan! Aku tidak mau dipanggil Putri Tirani atau apa itu! Aku tidak pernah membuat festival yang memihak juga, apakah kauuuu tidak menghargai apa yang aku lakukan?”


“M-Maaf, aku tidak mengetahui itu.”


Han lalu mengambil berkas-berkas yang dibawa oleh Haruki dan membawanya pergi. Haruki tidak ingin ditinggal, dia lalu berlari mengejar Han yang sudah pergi itu.


“T-Tunggu!!!! Itu kan tugasku!”


Ketika Haruki sudah berada di dekat Han, dia lalu menarik satu berkas yang berada di pegangan Han. Han yang melihat itu pun mengeratkan pegangannya dan berusaha menahan. Haruki merasa kesal dan dia mulai mengoceh dengan keras.


“Ayolah! Ini berkasku! Seharusnya aku yang membawanya!”


Han yang melihat Haruki mulai mengoceh dengan menarik berkasnya mulai membalas ocehan Haruki dengan omelan yang cukup berperasaan. Han mencoba untuk menjadi laki-laki yang dapat diandalkan di depan Haruki.


“Kamu perempuan! Jangan membebani dirimu sebanyak ini! Mintalah tolong kepada temanmu lain kali. Aku, aku merasa kasihan melihatmu tadi.”


Ucapan dari Han membuat Haruki tersipu malu, dia memalingkan wajahnya dan mulai berbisik.


“Aku… Aku ambil satu saja bagaimana?”


Han yang mendengarkan itu pun menyerahkan satu berkas itu kepada Haruki, dan mereka berdua berjalan menuju ruang wakil kepala sekolah untuk menyerahkan berkasnya. Ketika mereka berdua sedang berjalan bersama, Han bertanya kepada Haruki mengapa dia dipanggil ‘Ketua Dewan Sekolah Tirani’ dengan wajah yang bingung, sesuatu yang Haruki sendiri tidak mengerti darimana asal mula sebutan itu.


“Hey, kamu kenapa disebut sebagai ‘Ketua Dewan Sekolah Tirani?”


“A-Aku sendiri tidak tau mengapa. Entah darimana sebutan itu muncul, aku merasa sedih ketika mereka menyebutkanku seperti itu. Apa salahku sampai mereka menjulukiku dengan kasar seperti itu? Apakah kamu tau mengapa, Han?”


“Aku tidak mengetahui apa-apa. Tapi, aku mendengar itu dari orang banyak juga, banyak dari mereka yang membicarakanmu dari belakang. Apakah anggota Dewan Sekolah juga berpikiran seperti itu?”


“E-Entahlah. Kita sudah sampai di kantor wakil kepala sekolah.”


Mereka berdua pun masuk ke ruangan wakil kepala sekolah. Haruki melihat wakil kepala sekolah yang menatap rapot Han dengan sangat detail, matanya yang melotot ke arah rapot Han itu membuat Haruki takut dan bertanya kepada Han.

__ADS_1


“H-Han, mengapa wakil kepala sekolah itu terobsesi dengan rapotmu? Aku cukup takut…”


“Aku merasa aku memiliki penguntit sekarang. Haruki, siapkan telponmu! Kita telpon rumah sakit terdekat bagaimana?”


Wakil kepala sekolah itu melihat mereka berdua dan bertanya kepada mereka berdua dengan menghampiri mereka berdua.


“Kalian, sejak kapan kalian berpacaran?”


Haruki yang bingung itu pun membentak wakil kepala sekolah itu dengan nada yang cukup mengherankan.


“Haa???!!!! Mister! Jangan bercanda! Kita tidak ada hubungan sama sekali!”


Han yang diam saja melihat tingkah laku wakil kepala sekolah itu yang semakin menjadi-jadi. Dia melihat piala-piala turnamen olahraga yang dimenangkan oleh Han dalam waktu 3 bulan saja.


“Oh, lihatlah ini Haruki. Piala-piala ini sungguh indah bukan? Saya setuju jika kamu seandainya berpacaran dengan Han.”


“Mister, Mister bukanlah orang tua saya! Anda tidak berhak menjodohkan saya dengannya.”


Wakil kepala sekolah itu melihat Han, dia mulai berjalan ke arahnya dan merangkul Han. wakil kepala sekolah itu bertanya kepada Han apakah dia mau berpacaran dengan Haruki atau tidak.


“Han, lihatlah prestasimu ini. Terus lihatlah perempuan cantik itu di depanmu, kamu bisa saja kan memacarinya?”


Han yang terdiam itu membuat Haruki mengeluh kepada wakil kepala sekolah itu. Nadanya yang penuh dengan kekesalan itu meminta wakil kepala sekolah itu untuk diam. Setelah Haruki menyerahkan berkasnya, dia membawa Han pergi keluar karena kelas mau dimulai.


“Mister ngomong apa saja sih? Jangan melantur! Ini berkas untuk festival Lunar, sudah saya siapkan semua. Han, ayo pergi dari sini!”


Akhirnya mereka berdua keluar dari kantor itu. Pada saat mereka berada di luar kantor itu, Han tiba-tiba mengulurkan tangannya kepada Haruki. Haruki yang bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh Han, namun Han langsung menjawab.


“H-Han, mengapa kau mengulurkan tanganmu?”


“Haruki, aku mau menjadi temanmu! Aku mau melihat Haruki yang asli, bukan yang diceritakan orang banyak! Aku tidak melihat Ketua Dewan Sekolah Tirani di dirimu, aku hanya melihatmu sebagai Haruki!”


Haruki yang mendengarkan Han itu mulai tersenyum, air matanya menetes, dan dia mulai menggengam tangan Han. Haruki tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, dia merasa dirinya tidak memiliki teman selama ini.


“A-Aku bahagia! Ini pertama kalinya seseorang mengajakku untuk menjadi temanku!”


Mereka akhirnya kembali ke kelas bersama-sama.



Han dan Haruki pun mulai menjalin hubungan pertemanan setelah kejadian itu. Mereka selalu bertukar pesan di Lane dan kadang-kadang mereka berdua saling bercerita satu sama lain. Mereka sudah seperti layaknya seorang pasangan yang serasi, seperti apa yang pernah dikatakan oleh wakil kepala sekolah.


“H-Hey, apakah kita ini terlihat seperti pasangan?”


“Mereka kan selalu begitu. Sudah, tenang saja.”


Festival Lunar sudah tiba, Ryuu dan Tobe bertanya-tanya kepada Han apa yang ingin dia lakukan di festival ini. Festival Lunar adalah festival yang paling meriah di sekolahnya karena festival itu dilaksanakan dari sore hari hingga malam hari dan menurut legenda, siapapun yang menembak seseorang yang dia sukai dapat berpacaran hingga menikah.


“Han, apa yang mau kamu lakukan saat ini?”

__ADS_1


“Hmm, sepertinya aku mau menyatakan cintaku kepada Haruki.”


Tobe yang kaget itu pun bertanya kepada Han. Nadanya yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya itu semakin curiga kepada Han.


“HAAA???? H-Han, apa-apakah kau serius mau menembaknya? K-Kamu tau kan dia adalah Putri Tirani?”


Han yang tidak terima Haruki dijuluki seperti itu mulai mengatakan kepada Tobe, semua yang pernah diderita Haruki saat dia menjadi murid di sekolah ini.


“Tobe, apakah kamu tau Haruki hampir menangis setiap hari ketika dia diberikan julukan ‘Tirani’? Dia melakukan tugasnya dengan baik, aku sih kasihan sebenarnya sama dia.”


Ryuu pun membalas Han dengan pernyataan yang tidak diketahui orang-orang. Ryuu mencurigai adanya oknum yang membuat Haruki sangat merana pada saat dia menjadi Ketua Dewan Sekolah.


“Han, Tobe, apakah kalian tidak merasakan sesuatu yang aneh? Haruki tidak pernah dijuluki seperti itu sampai dia menjadi Ketua Dewan Sekolah. Aku tidak ingin menuduh siapa-siapa, tapi aku sendiri tidak tau darimana julukan itu muncul.”


Han dan Tobe pun bingung, karena mereka juga tidak pernah mendengarkan Haruki disebut sebagai ‘Putri Tirani’ sebelumnya. Ini sangat membuat Han cukup curiga, namun saat ini hanyalah Han yang berhasil berteman dengan Haruki. Berkat Han juga, teman-teman sekelasnya ingin berbaur dengan Haruki.


Ketika malam tiba, Han mengajak Haruki untuk foto bersama di photobooth. Han yang berpakaian rapi pada saat itu membuat Haruki terkesima dan tidak menolak ajakan Han.


“Haruki, maukah kita foto bersama?”


“Ayo! Aku tidak keberatan juga.”


Fotografer yang bertugas untuk mengambil foto itu mulai menggoda dua orang itu. Dia menyebutkan bahwa mereka sangat terlihat seperti pasangan.


“Hihihi, kalian terlihat seperti pasangan. Kurang rapat, ayo dirangkul!”


Baik Han ataupun Haruki mengabaikan ucapannya, ketika sesi foto telah selesai, Han menatap Haruki dengan serius. Haruki yang tidak siap itu wajahnya tiba-tiba memerah. Han mulai menariknya pergi dan pergi ke atap sekolah. Atap sekolah itu memiliki banyak lampion-lampion yang menggantung di sekeliling atap sekolah itu, cahaya lilin yang menerangi malam yang penuh dengan bintang itu membuat malam Festival Lunar itu sangat melegenda di sekolah itu.


Sesampainya mereka di atap sekolah, Han mulai menghadap Haruki. Dia membawa bunga matahari dan menyatakan perasaannya kepada Haruki. Matanya tidaklah berbohong, Han benar-benar ingin menyatakan perasaannya dengan serius, Han berharap perasaannya sampai ke hati Haruki.


“Haruki! Semenjak kita bertemu untuk pertama kalinya, aku benar-benar jatuh cinta kepadamu! JADILAH PACARKU!”


Haruki yang tiba-tiba menerima pernyataan cinta itu ingin membalas pernyataan cinta dari Han. Namun, jawaban Haruki sudah sangat bulat. Haruki menutup matanya dan menghembuskan nafasnya, lalu Haruki mengucapkan balasan dari Han.


“A-Aku akan menjadi pacarmu, j-jika, kamu bisa memenangkan turnamen dalam kota besok! Aku juga pemandu sorak utama tim-mu, aku-lah yang menjadi pendukung utamamu! Jangan menyatakan perasaanmu jika kamu memiliki ‘bisnis’ yang belum selesai! Aku tidak ingin itu mengganggumu, Han!”


Sebelum Festival Lunar itu, Han disibukkan dengan turnamen dalam kota yang paling bergensi. Siapa yang bermain sangat bagus, mereka dapat terpilih menjadi perwakilan kota untuk bermain di level nasional. Haruki sangat mengetahui kesibukkan Han selama ini, sehingga dia menahan perasaannya maupun pengakuan dari Han.


Han yang mendengarkan Haruki itu pun tersenyum, dia menggengam tangan kirinya dan mengulurkannya kepada Haruki. Haruki yang melihat itu hanya tersenyum, lalu dia membuka genggaman tangan Han dan melipat tangan kanannya di tangan kiri Han. Haruki lalu mengatakan kepada Han dengan senyuman yang indah, sesuatu yang tidak dapat dilupakan oleh Han.


“Aku pegang janjimu! Jangan sampai kalah besok!”


“Mmm, percayalah!”


Namun, apa yang terjadi pada Han? Mengapa Haruki sangat membenci Han saat ini?


 


 

__ADS_1


__ADS_2