
“WE ALL SHOULD LEARN ABOUT FATE! FATE! FATE! FATE! FATE! FATE! FATE IS THE KEY TO BECOME HAPPY!”
Suara yang sangat keras itu terdengar oleh mereka berempat. Suara yang sangat familiar di distrik Chinatown. Orang itu mengenakkan jubah hitam dan berada di episentrum distrik itu.
“Jangan-jangan!”
Ryuu sudah bergemetar ketika dia mendengarkan suara itu. Dia begitu trauma dengan orang itu, orang yang langsung menerjang mereka saat ada di Storm Cup coffee kemarin. Matanya pucat dan giginya bergetar, dia lalu bertanya kepada Han apakah orang itu adalah ‘orang itu’.
“H-H-H-H-Han, a-a-apak-kah orang itu a-adalah di-dia?”
Han yang juga sedikit merinding itu merasakan aura-aura yang tidak ingin dia rasakan sama sekali untuk hari ini. Dia tidak ingin percaya bahwa ‘orang itu’ adalah orang yang sudah dia temui 3 kali.
“Aku tidak berharap dia datang! Jangan sampai dia datang ke negeri ini!”
Tiba-tiba, ada seseorang yang cukup tua, terlihat kumuh dan lusuh. Bajunya berlubang dan dia benar-benar seperti orang miskin. Orang itu sungguh kasihan dan malang di depan episentrum Chinatown, dan dia pergi ke arah orang itu sambil mendesah dan menangis.
“H-Help M-Me! I-I-I beg you! I haven’t eaten for two days.”
* Umm\, maaf. Jika kalian tidak mengerti maka akan aku terjemahkan dan kita akan memakai Bahasa yang dapat kita mengerti saja. *
“To-To-Tolong A-Aku! A-A-Aku memohonmu! Aku belum makan selama dua hari.”
Tapi ‘orang itu’ hanya terdiam dan meneteskan air matanya, dia melihat orang itu dan iba dengannya. Lalu ‘orang itu’ menghampirinya dan memegangkan tangannya ke pundak orang yang membutuhkan itu.
“Oh, malang sekali nasib anda! Kenapa takdir begitu jahat kepadamu? Apakah karma-mu buruk di kehidupanmu yang sebelumnya?”
Tobe yang melihat ‘orang itu’ matanya terbinar-binar sendiri, di saat ketiga temannya melihat ‘orang itu’ begitu ketakutan. Tobe sangat menantikan ‘orang itu’ sejak bertemu di Stormcup Coffee, dia melihatnya dengan penuh kebahagiaan.
“ORANG PINTAR ITU!!!!!”
“HA?!!!!!! WOI! KAU MASIH SEHAT KAN?!”
“Siapa orang yang dimaksud Tobe itu, Han?”
Han dan Ryuu yang berteriak itu memperingatkan Tobe agar tidak berbuat aneh-aneh terlebih dahulu pun menyaksikan sesuatu yang tidak terduga.
__ADS_1
Lanjut dengan kejadian yang ada di episentrum itu, ‘orang itu’ memancing dan mempersuasif semua orang yang sedang makan disana dengan nada yang penuh dengan drama dan intonasi yang sangat fluid.
“Ahh, kasihan orang ini, dia sudah tidak makan selama beberapa hari. Apakah kalian tidak memiliki hati? Ketika kalian tidak memberikan sedekah kalian, maka takdir tidak bersama anda!”
Semua orang yang makan akhirnya tergerakkan hatinya, mereka tiba-tiba memberikan uang yang berada di kotak penyumbangan uang itu. Semua uang yang terkumpul disana hampir ada $ 500. Uang yang sangat cukup untuk dibuat makan selama 16-17 hari lamanya.
Orang yang belum makan itu tiba-tiba sujud syukur kepada ‘Orang itu’ karena sudah dibantu untuk mendapatkan uang. Dia menangis terharu atas bantuannya yang begitu cepat datang.
“Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih yang besar untukmu karena aku dapat makan! Aku terharu denganmu anak muda!”
“Oh, tidak apa-apa Pak. Sebentar, saya ambil kotaknya.”
‘Orang itu’ mengambil kotaknya dan meninggalkan orang yang kelaparan itu. Orang yang kelaparan itu hanya terkejut dan tidak dapat bergerak, matanya penuh air mata dan dia menangis lagi. ‘Orang itu’ yang melihat dia menangis pun membalas tangisan orang itu.
“Anak muda! Aku mohon! Aku sudah tidak makan selama berhari-hari! Aku sangat kelaparan sekarang! Aku akan membayar kebaikan anda! Kumohon!!”
“Maaf Pak, ini kan usahaku. Mangkanya, berusahalah untuk mendapatkan uang.”
Han yang melihat tingkah laku itu pun marah, dia berdiri dan ingin menerjang ‘orang itu’ dan merobek jubahnya dengan pisau makanan yang ada di mejanya.
Jun yang melihat ekspresi marah dari Han memintanya untuk bersabar, dengan wajahnya yang kalem itu meminta Han untuk menenangkan dirinya.
“Han, tenangkan dirimu! Kita di negeri orang!”
“Ha?! Terus itu maling juga ada di negeri orang! Aku muak melihat orang seperti itu disini!”
Han langsung berlari dan menerjang ‘orang itu’ dan merobek jubahnya dengan pisau. Pisau itu disayatkan di kain dekat lehernya dan Han merobek kain yang melindungi lehernya itu. Dia melihat wajah orang yang sangat tidak asing di matanya. Dia adalah
Chen, si pembawa takdir baik.
“C-Chen! K-Kenapa kau ada disini!”
Chen yang melihat Han yang sangat marah itu hanya berteriak dengan kencang. Dia sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat, sangat….
Senang sekali, terakhir kalinya mereka bertemu adalah di kereta itu, ketika Han bersama Yoru menghabiskan malam bersama.
__ADS_1
“Halo, wahai pengikut takdir! Apakah anda merindukanku?”
Han menghiraukan Chen yang sedang berbicara kepadanya, dia lalu menghampiri orang tua itu yang sebatang kara tanpa makanan dan uang. Tidak nanggung-nanggung, Han mengeluarkan uang $ 110 untuk menolong orang itu.
“Pak, ini uang untuk anda. Cepat cari kerja biar bisa makan yaa. Jadi tukang sampah pun tidak ada salahnya.”
Ryuu yang mendengarkan Han berkata seperti itu hanya memasang wajah kosong. Dia tidak menduga Han akan mengeluarkan uang banyak sekaligus mengatakan sesuatu yang begitu memilukan di depan orang yang tidak dikenalinya.
“Gila ini anak! Udah bantu sih baik, tapi sampai dikatain juga itu lho. Luar biasa kamu ini.”
Jun yang melihat dari kejauhan itu hanya melanjutkan makannya, dia tidak mempedulikan apa yang terjadi disana.
“Aku di luar negeri! Aku harusnya menikmati, bukan ikut konflik.”
Sedangkan Tobe langsung bergegas untuk bertemu orang pintar itu dengan wajah yang sangat bahagia.
“Di-Di-Dia orang pintar itu!”
Han yang masih ada di depan Chen itu tiba-tiba merampas uang yang ada di dalam kotak itu dengan keras dan uang yang dirampasnya itu diberikan kepada orang yang malang itu. Dengan wajah yang tersenyum itu, uang sebanyak $ 175 telah diberikan.
“Ini pak, uang tambahan untuk anda.”
Namun, pencuri itu sepertinya tidak mengenal rasa terima kasih. Dengan wajah yang marah dia langsung menghujat Han dengan sebutan pencuri biadab.
“DASAR PENCURI! PENCURI! PENCURI! PENCURI BIADAB! AKU TIDAK MAU PAKAI UANG CURIAN-MU! ENYAHLAH DI DEPAN DEWI!”
Han dan Ryuu yang melihat itu kaget dan wajahnya kosong.
“Gwakkk”
Chen pun mulai berteriak-teriak dengan wajah yang histeris dan penuh emosi, seperti yang dia lakukan selama ini di Kota Eiyuu.
“AHH, OTAKKU BERGETAR, BERGETAR, BERGETAR, BERGETAR, BERGEMETARRRRRRR!!!!!! KAU! KAU! KAU! KAU! KAU AKAN TERKUTUK OLEH DEWI! PENCURI BIADAB! TAKDIR BAIK TIDAK AKAN BERSAMAMU!”
__ADS_1