
Satu jam berlalu, mereka sudah tiba ke suatu tempat dimana Tobe dan teman-teman Han tidak aka nada disana. Mereka sekarang berada di ‘Dame Sports Hill’. Dame Sports Hill adalah tempat yang menawarkan seluruh olahraga ke dalam suatu permainan layaknya olahraga, namun dengan skala yang lebih kecil. Tempat itu berada di barat kota, dimana barat kota selalu memiliki cuaca yang lebih sejuk daripada timur kota.
“Hey Han, kamu ga buruk juga main disini.”
“Lah kamu pikir aku ga bisa main Baseball?”
Permainan yang mereka lagi main saat itu adalah Batting. Batting adalah permainan Baseball yang dimainkan dengan skala yang lebih kecil, dimana hanya ada mesin penembak bola dan pemain akan memukul bolanya. Yoru yang sedang melihat Han bermain, juga memberanikan diri untuk bermain batting. Dia mengambil posisi di sebelah Han dan siap memukul bola, walau ini pertama kalinya dia bermain. Han yang melihat Yoru di sebelahnya pun melihat kalau Yoru tetap cantik saat bermain baseball, cuma dia harus fokus. Han pun berbicara kepada Yoru, membangkitkan konfidensi dari Yoru.
“Yoru, kamu bisa kan??”
“Bisa kok!”
Bola pun datang ke Yoru, Yoru yang sudah berancang-ancang siap memukul bola itu. Matanya sudah tertuju dan ketika dia memukul bolanya…
Bolanya tidak mengenai bat dari Yoru, Yoru rupanya sedang menutup matanya dan ketika dia membuka matanya, bat itu sudah hilang, bat-nya mengenai lengan kanan Han. Lengannya pun memerah dan Han sedikit takut.
“Yo-Yo-Yoru… apakah kamu pernah bermain Baseball sebelumnya?”
“Belum…”
Yoru pun sedih, namun Han berusaha untuk menghiburnya. Han mengajari Yoru bagaimana cara bermain Batting. Dia berada di dekat Yoru dan memegang tangannya untuk memberikan arahan posisi badannya dalam bermain Baseball. Yoru tiba-tiba memerah, karena baru pertama kali dia merasakan seorang laki-laki yang mendekatinya dan memegang tangannya.
“Dengar Yoru, cara bermain Baseball ini hanya memukul bolanya. Itu semua tergantung timing-mu, timing-mu. Kamu harus sedikit menundukkan kakimu, buatlah kuda-kuda, bat-mu harus berada di belakang leher, ketika bola itu sudah mendekat kamu harus mengayunkan bat-mu itu. Aku yakin kamu bisa kok!”
Yoru tersenyum manis, tiba-tiba saja konfidensinya naik, dan dia mencoba ulang berulang kali, namun dia selalu gagal.
Han yang sudah tidak dapat bermain dengan tangan kanannya itu mencoba bermain futsal, yang hanya menendang bola saja. Namun dia cukup bosan dengan futsal itu sehingga dia memutuskan untuk kembali ke tempat batting itu. Tiba-tiba Yoru berhasil memukul bola itu, bola yang dipukul oleh Yoru sangatlah keras sehingga bola itu memantul lagi ke arahnya. Namun Han yang melihat itu pun belari dan menangkap bola muntahan itu. Dia melihat Yoru dengan wajah yang tersenyum.
“Kerja bagus, Yoru!”
Yoru yang melihat Han seperti itu, melihat kembali kondisi lengan dari Han. Dia menggunakan lengan kanannya, yang memiliki bekas luka akibat ayunan bat dari Yoru. Yoru yang tiba-tiba memurungkan wajahnya sambil melihat Han. Han melihat Yoru yang sedang murung pun menanyakan ada apa dengannya.
“Yoru… ada apa?”
“Tanganmu, bukannya masih sakit?”
“O-O-Oh tidak kok. Tanganku tidak apa-apa.”
Maylene yang melihat Han yang bertindak seperti itu pun bertanya kepada Han dengan wajah yang tersenyum-senyum.
“Tanganmu kan masih sakit. Apa kau mau terlihat jantan di depan perempuan? Hmm??”
__ADS_1
Han pun meninggalkan mereka berdua dan sedang mencari kompres untuk mendinginkan tangannya yang sedang sakit itu. Dia pun meringis kesakitan ketika mendekatkannya pada kompres itu. Yoru yang melihat Han pada saat mencari minuman pun menghampiri Han.
“Ma-Maafkan aku, aku tadi tidak sengaja sama sekali. Aku perban tanganmu yaa.”
“Kan namanya olahraga, tidak apa-apa. Ini cepat sembuh kok.”
Yoru yang mau memerban tangannya melihat bekas luka yang berasal dari pegunungan itu. Lukanya yang sangat panjang pun membuatnya terkejut awalnya, tapi dia tetap memerban tangannya.
“I-ini bekas luka yang dari pegunungan itu kan? Kenapa aku tidak menoleh ke samping saat itu kalau ada mobil di depan.”
“Kamu ga salah dari segi manapun, itu memang mobilnya yang sedang ugal. Jangan menyalahkan dirimu terus, tidak ada yang menyalahkan dirimu kok.”
Han yang tangannya sedang diperban pun merasakan perbanan halus dari Yoru. Dia pun merenungkan, jika Leonne saat itu memerban seperti Yoru.
“Kalau si singa itu bisa memerban sehalus ini, aku ga mungkin ke rumah sakit. Memang perempuan itu, beda dari yang lain.”
Yoru pun sudah selesai memerban tangannya, Han yang melihat Yoru itu pun tersenyum. Yoru yang melihat Han pun sudah lebih percaya diri, tidak seperti pada awal-awal mereka berdua bertemu.
“Terima kasih, Yoru!”
“Mm, tidak apa-apa.”
Lalu mereka berdua melihat meja ping-pong di depan, Yoru mengajak Han untuk bermain ping-pong. Yoru yang bersemangat menantang Han bermain ping-pong, suatu langkah yang salah telah diambil oleh Yoru.
“Kamu yakin?”
Maylene pun tiba-tiba datang dan menghampiri Han, dia mulai mengatakan tentang Yoru selama di kampusnya.
“Han, kamu tahu Yoru itu juara satu di kampusnya dalam bermain ping-pong. Kamu siap-siap kalah!”
Han yang mendengar Yoru dan Maylene pun menyombongkan dirinya. Dengan mata yang tertutup dia mengucapkan beberapa halangan yang akan dia lakukan kepada Yoru.
“Hmm, begitu. Kalau itu statusnya, aku hanya pakai tangan kiriku dan tidak akan melakukan smash. Bagaimana?”
Yoru yang mendengarkan halangan Han itu semakin menjadi-jadi dan siap menantang Han.
“Ayo! 11 poin dan yang dapat 2 dulu dia yang menang!”
“You’re on!”
Mereka akhirnya bermain ping-pong, Han yang memiliki halangan itu tetap bermain seserius mungkin. Mata Han yang begitu fokus dengan gerakan bola itu membuat Yoru kewalahan. Han selalu memelintir bola yang dia beri dan dia tangkap membuat Yoru tidak memiliki taktik yang dapat menembus pertahanan dan dia juga tidak dapat membendung serangan Han. Bola yang dipelintir oleh Han juga memiliki rotasi yang sangat kuat, sehingga bola selalu keluar dari meja atau mengenai net meja. Setelah 10 menit bermain, skor akhir di set pertama adalah
__ADS_1
11-0
Yoru bertanya kepada Han, mengapa dia bisa sekuat itu walau dia sudah memberikan halangan-halangan kepada Yoru. Mata Yoru yang sedikit intens membuat Han harus menjawab pertanyaan dari Yoru.
“Kamu kenapa kok bisa sekuat ini?! Padahal kamu sudah tidak melakukan smash maupun memakai tangan kananmu!”
“Dengar Yoru, ketika kamu masih ada di SMA apakah kamu pernah mendengar julukan ‘The Lefty Swordsman’ saat kamu bermain game ini? Itu julukan menyebar luas di kalangan pemain ping-pong di turnamen ping-pong saat SMA.”
“Pernah… sebentar, apa itu...”
Yoru tiba-tiba merasa terintimidasi dengan apa yang dikatakan oleh Han. Dia pernah mengetahui tentang julukan itu saat dia duduk di bangku SMA. Dia pernah mendengar julukan itu, dan dia meyakini bahwa dia adalah pemain ping-pong yang cukup kuat dan disegani di seluruh sekolah saat itu.
“Iya! Itu aku! HAHAHAHAHA!”
Maylene yang mendengar itu tiba-tiba menggugat Han. Dia merasa bahwa Yoru dicurangi. Maylene menaikkan nada suaranya dan mulai untuk mengomeli Han.
“Hey! Ini curang! Kamu memakai tangan terkuatmu untuk menghabisi seorang perempuan! Dimana sisi kejantananmu?! Kamu tidak seperti yang aku tau di pegunungan itu!”
Han yang terpancing itu, menantang Maylene dan Yoru. Dia ingin bertanya kepada mereka apakah mereka mau Han menggunakan tangan kanannya atau tidak. Dia menghembuskan nafas dan mulai bertanya.
“Kalau begitu, semua kondisi yang ada dan aku pakai tangan kanan. Bagaimana?”
Maylene yang tidak berpikir panjang pun mengiyakan tantangan itu.
“Lakukan dengan tangan sakitmu itu!”
Set pertama yang diselesaikan hanya dalam waktu 10 menit pun berkurang menjadi 4 menit. Skor pun tetap sama 11-0, Yoru yang mengeluh kepada Maylene dengan nada yang sedikit mengeluh.
“Ayolah May, kamu menantang pemain pro itu sebuah kesalahan besar. Kamu tau dia dijuluki seperti itu karena dia melihat lawannya di final tangannya sedang pincang. Dia dengan baik hati mengikuti apa yang lawannya lakukan. Kalau dia tidak mengikuti itu, tidak mungkin ada julukan seperti itu. Tangan terkuatnya itu ya tetap tangan kananya. Dasar kau May! Kan aku juga yang main.”
Maylene pun terlihat murung dan muka yang sedikit bersalah. Han menghampiri Maylene dan mengatakan hal yang positif kepadanya.
“Ayolah May, ini kan cuma main. Yoru aja tidak apa-apa kok.”
Maylene yang melihat Yoru yang tersenyum pun melegakan perasaannya. Dia meminta maaf kepada Han dan Yoru setelah itu.
“Han, Yoru… aku minta maaf…”
“Tidak apa-apa lah, itu normal-normal saja. Kita tidak ada yang marah kepadamu juga kok.”
Mereka akhirnya melanjutkan untuk menikmati di Sports Center sampai siang. Ketika sudah sampai siang, Han mengajak mereka berdua untuk pergi makan di Guanghui Mall. Mereka pun akhirnya pergi ke Guanghui Mall karena jaraknya cukup dekat.
__ADS_1
Ketika sampai ke Guanghui Mall, Han sadar kalau yang dia ajak sekarang bukanlah Jun. Jadi mau tidak mau, dia harus mengeluarkan uang cukup banyak.
“Aku pergi dengan dua perempuan, aku tidak mungkin melakukan hal yang pernah aku lakukan kepada Jun. Kalau aku sampai melakukan hal itu, aku akan dicap sebagai laki-laki yang tidak menghargai perempuan. Aku mau tidak mau harus mengeluarkan uang banyak!”