Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 3, Chapter 16; Deadlock, Part 2


__ADS_3

Han yang mendengarkan Chen itu langsung mengecutkan raut wajahnya, dia tidak suka melihat orang itu mulai menggunakan takdir untuk menutupi dosanya.


Han sudah menggenggam telapak tangannya hingga berdarah, seluruh giginya ditekankan satu sama lain, wajahnya penuh amarah, dan tatapan yang tajam itu melihat Chen yang berteriak-teriak itu.


“KAU TIDAK DIBERKATI OLEH TAK-.”


“DIAM! KAU PENCARI TAKDIR BAIK YANG SAMPAH! SAMPAH! SAMPAH! SAMPAH! JANGAN PAKAI TAKDIR UNTUK MENYENANGKAN DIRIMU! DASAR BRENGSEK! APAKAH KAU PUNYA HATI! BERILAH ORANG INI MAKAN!”


Han lalu mengambil tas-nya dan melihat buku yang dulu pernah diberikan oleh Chen kepada Han saat Han bersama Yoru di kereta bawah tanah. Buku itu adalah ‘Angel of Presence’, dan Han menatap buku itu terus menerus.


‘Angel of Presence’, buku yang ditulis oleh Chen menceritakan tentang orang yang mengalami keputus asa-an dalam kehidupannya dan ingin mengakhiri hidupnya. Tapi di saat dia ingin mengakhiri hidupnya, dia ditahan oleh seseorang yang tak dikenal itu untuk berpikir kembali apakah dia ingin mengakhiri hidupnya atau tidak. Orang itu menemukan jalan takdir baru setelah pertemuannya dengan seseorang itu.


“Kamu tau, buku ini aku baca setiap malam saat aku mengalami kejadian yang buruk pada saat itu. Aku mengalami ketenangan hati setelah itu, tetapi kamu berubah menjadi orang yang tidak berperasaan terhadap orang lain! Berikanlah dia uang, dia butuh makan!”


Ryuu yang melihat Han itu hanya memegang pundaknya dan tersenyum dengan bodoh. Dia mulai mengolok-olok Han dengan sindiran-sindiran.


“Han, kau tidak punya ‘Talking Jutsu’ yang bisa merubah hati seseorang. Kamu bukan karakter berambut kuning itu. Sadar diri!”


Chen tiba-tiba meneteskan air matanya, dia begitu terharu dengan apa yang dilakukan Han saat itu.


“OTAK-KU BERGETARRR!!!! ITU SUNGGUH BUKU YANG INDAH KAN!”


Han yang melihat Chen meneteskan air matanya yang penuh haru itu bertanya dengan baik-baik, apakah Chen mau memberikan uangnya terhadap orang yang tidak mampu itu.


“Chen, berikanlah uangmu kepadanya. Takdir baik akan selalu bersamamu.”


“Tidak, terima kasih. Dia cukup dengan uang segitu.”


“HA??!!!!!!”


Han dan Ryuu yang bereaksi itu tidak dapat menutup kekecewaannya terhadap Chen. Mereka benar-benar murka dengan apa yang dilakukan oleh Chen selama ini. Akhirnya Han mengambil pulpen yang berada di tas-nya, dia ingin menulis sumpah serapah di dalam buku itu.


Ryuu yang melihat itu tiba-tiba memegang lengan Han dan berusaha untuk menghentikannya. Han yang marah itu tiba-tiba berteriak kepada Ryuu, memintanya untuk melepaskan tangannya.


“Ryuu! Lepaskan!”


“Han, ingat. Kamu bukan karakter utama di anime yang mati tragis berulang kali, dan Chen itu bukan karakter antagonis yang mati ketika kamu menuliskan kata-kata di halaman kosong.”


“Memang kamu benar, tapi aku mau menulis sumpah serapah di buku ini.”


“Oke kalau begitu, aku lepaskan.”

__ADS_1


Ryuu akhirnya melepaskan tangan Han. ketika Han hendak menulis sesuatu di buku itu, Chen tiba-tiba menutup wajahnya dengan tangan kirinya dan berteriak dengan kencang histeris.


“KIIIIIIIIII!!!!!!!!”


Chen langsung bersujud di depan Han, dia tidak ingin bukunya ternodai oleh tulisan-tulisan yang tidak baik karena buku itu akan menghancurkan reputasinya jika ada orang lain yang mengetahui sumpah serapah dari Han.


“AMPUNI AKU! AMPUNI AKU! AMPUNI AKU! AMBILAH UANGNYA, TAPI JANGAN CORET BUKU ITU!”


‘Oke, baiklah.”


Ryuu mengambil uang itu yang berada di kotak dan memberikannya kepada orang yang kesusahan itu. Ketika Ryuu mau memberikannya uang itu kepada orang itu, dia mengelak dan menentang pemberian Ryuu.


“SAYA TIDAK MAU MENERIMA UANG HASIL RAMPASAN! SAYA INI MEMILIKI HARGA DIRI!”


“Pak! Dia sendiri yang memberikannya.”


“Oh, oke begitu. Terima kasih, anak muda.”


Orang itu pergi dan bahagia. Ketika orang itu sudah pergi, Tobe datang dan bertemu dengan Chen. Dia sangat bahagia karena telah bertemu dengan ‘gurunya’ itu.


“GURU! Saya telah lama mencari anda! Saya sangat bahagia!”


“Kamu siapa?”


“WOI! AKU TOBE! TOBE! ORANG YANG KAU TEMUI DI STORMCUP COFFEE!”


“Oh, kau orang itu. Selamat datang, wahai muridku.”


Han dan Ryuu tiba-tiba pergi dari tempat itu, karena mereka sudah memprediksi sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh mereka akan terjadi.


“Han, kita pergi aja. Aku takut kalau dua orang ini ada.”


“Ayo, kita makan aja.”


Tobe pergi mengajak Chen untuk makan, dan mereka berdua juga kembali ke tempat makannya bersama Jun.


“Jun! Kenapa kau tidak ikut kita tadi?”


“Buat apa? Disini itu menikmati liburan, bukan mencari konflik.”


Mereka akhirnya makan kembali di tempat itu. Namun seseorang yang tidak terduga juga muncul di depan mereka. Seorang perempuan yang rambutnya panjang dengan bando pink, tas kecil di bahu kanannya, menggunakan kaos pink, dan rok pendek berwarna kuning itu menghampiri mereka bertiga secara tiba-tiba.

__ADS_1


“A re re!!!! Siapa yang aku temui sekarang ini?!”


Han yang melihat ke arah perempuan itu kaget, karena dia tidak menduga bahwa ini kedua kalinya dia bertemu dengan perempuan itu secara berturut-turut.


“M-M-M-Maylene!!!!”


“Oh, halo Han! Udah lama kita ga ketemu kan?”


“Lama darimana! Kau baru aja menyusup ke rumahku!”


Ryuu dan Jun kaget ketika mendengarkan apa yang dikatakan Han, raut wajahnya sangat terkejut dan tidak bisa berkata-kata.


“Me-Me-Menyusup??? May, kamu pa-pa-pacaran sama Han sekarang?”


“Ara, Ryuu, aku tidak mungkin aku pacaran sama laki-laki seperti Han.”


“Tapi kau kan pacaran sama Tobe dulu…”


“Jun! Jangan mengatakan itu!”


Ryuu yang memperingatkan itu kepada Jun tiba-tiba membuat perasaan Maylene berubah drastic ketika mendengarkan nama orang itu. Suaranya yang turun drastis dan matanya yang penuh dengan kebencian itu menatap Jun yang sedang makan.


“Ha? Aku tidak mau mengakuinya! Siapa si bodoh itu?”


“Udah May, tenang! Lupakan, lupakan, lupakan!”


Han yang menghibur Maylene itu dengan wajah yang santai membuat Maylene kembali ke suasana hati yang sebelumnya. Maylene yang bahagia itu tiba-tiba duduk di kursi kosong yang seharusnya milik Tobe. Maylene mulai bertanya dengan wajah yang tersenyum ke arah mereka bertiga.


“Kalian bertiga kah?”


“Umm, beremp-.”


Ketika Jun mau menjawab itu, tiba-tiba Ryuu menutup mulut Jun dan dia yang mengambil alih pembicaraan itu. Keringat dingin keluar dari dahi kepalanya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang ditutupi oleh mereka berdua.


“Ohh, i-iya, ki-kitta bertiga aja kok yang per-pergi ke sini!”


“Ohh, begitu kah?”


Maylene yang masih tersenyum-senyum itu membuat kedua orang yang semakin ketakutan, karena mereka sangat khawatir kalau mereka berbohong di depan Maylene.


Ketika mereka sudah selesai makan, mereka berempat akhirnya jalan-jalan mengelilingi distrik itu, suasana malam yang penuh dengan lampion ditambah dengan keramaian orang-orang yang berada di sana. Banyak keluarga yang makan disana juga, namun tidak untuk satu tempat…

__ADS_1


“Guru! Apakah takdir akan mendapatkanku pacar yang pas?”


“Tenang, tenang, tenang, tenang, tenang, semua jodoh sudah diatur oleh takdir baik!”


__ADS_2