
Di sebuah café dekat stasiun itu, terdapat dua orang yang sangat tergila-gila oleh takdir baik. Iya, itu adalah Chen dan Tobe yang sedang berbincang-bincang tentang takdir.
“Sebenarnya, sebenarnya, sebenarnya, kamu memang tidak cocok dengan perempuan itu. Dari sisi manapun, menurut takdir yang diberitakan oleh Astrologi dan tarot! Kamu harus mencari perempuan yang tanggal lahirnya jatuh di bintang Sagitarius! Kelak, kelak, kelak, kelak, kelak kau akan merasakan kebahagiaan!”
“BEGITUKAH GURU! SAYA SANGAT TERSENTUH DENGAN SARAN GURU!”
Ketika mereka berempat jalan-jalan, Han bertanya kepada Maylene tentang dirinya yang berada di Lions Pore. Han tidak menyangka kalau Maylene akan pergi ke Lions Pore. Wajahnya yang terlihat bingung itu membuat Maylene kembali ke dirinya yang sebelumnya.
“Hey, kamu kenapa bisa disini?”
“Kamu mengusirku lagi?! Ini sudah keberapa kalinya kamu berbuat buruk ke aku! Aku ini perempuan, kamu itu harus menghargaiku! Sanjunglah aku!”
“Siapa yang mengusirmu coba. Dasar perempuan manja!”
Jun yang mendengarkan percakapan mereka berdua itu bertanya kepada Ryuu.
“Oi, apakah mereka berdua akan baik-baik aja?”
“Kayaknya ga. Aku baru tau kalau Han udah pernah pergi bersama Maylene. Benar kan May?”
Maylene yang ditanya seperti itu oleh Ryuu pun menjawabnya dengan wajah yang bahagia dan nada yang penuh dengan godaan. Wajah itu membuat Han begitu sebal terhadap perempuan ini.
“Oh, iya! Kita udah pernah pergi ber-ken-can di ‘Perfect House’. Kalian tidak tau?”
“WOI! CUKUP! KITA TIDAK BERKENCAN SAMA SEKALI! AKU TIDAK TEGA MENGUSIRMU DARI RUMAH, KAU TAU!”
Ryuu dan Jun itu bingung, siapa yang ingin mereka percaya. Apakah Han atau Maylene? Tapi nada dan emosi dari Han begitu kelihatan siapa yang jujur dan siapa yang bohong, walaupun Maylene memang pergi berdua bersama Han saat itu.
“Aku lebih percaya sama Han.”
“Aku juga.”
Maylene pun kembali melihat ke arah depan dan sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh Maylene. Tobe adalah orang yang dilihat oleh Maylene saat itu bersama manusia berjubah yang bernama Chen.
Wajah Maylene tiba-tiba marah dan melihat Jun dan Ryuu yang awalnya berbohong kepada Maylene sebelumnya. Jun dan Ryuu yang melihat Maylene itu begitu ketakutan, mereka berdua merinding dan tidak dapat berkata-kata.
“Hey! Kenapa ada Tobe disitu! Kalian membohongiku!”
“Ti-Tidak be-begi-.”
“Kita tidak sengaja bertemu dengannya tadi di bandara.”
Han yang membela kedua temannya itu meredakan suasana hati Maylene. Maylene yang mendengarkan Han itu hanya menghembuskan nafas dengan lega dan melihat Han dengan mata yang sipit. Di sisi lain, Han selalu menampilkan wajah yang sabar.
“Benarkah? Kamu tidak membohongiku?”
“Tidak, aku serius.”
“Oh, begitu. Ya udah. Kalian mau bertemu dengannya? Aku tidak keberatan juga ketemu dengannya.”
Mereka berempat akhirnya masuk ke dalam café yang ditempati oleh Tobe dan Chen. Ryuu yang melihat mereka berdua sedang berbicara dengan akrab itu memperkenalkan Chen kepada Maylene dari kejauhan.
“Jadi May, itu manusia yang memakai jubah namanya Chen.”
“Chen? Apakah orang itu adalah orang yang Han ceritakan pada saat kita bertemu sama Yoru?”
“Iya, benar sekali. Dia it-.”
Han langsung memotong perkataan Ryuu yang ingin melanjutkan kata-katanya dengan nada yang sedikit tertawa. Dia melihat Maylene dengan wajah yang kasihan, namun Han juga ingin tertawa pada saat itu.
“Itu yang membuat Tobe memutuskanmu lewat telpon.”
“HA!!!!!!!!!!!!!!!”
Maylene yang terkejut itu berteriak dengan keras dengan tangannya yang memegang kepalanya. Semua orang yang mendengar teriakan Maylene itu kaget, tapi tidak untuk Tobe dan Chen yang sedang berbicara panjang mengenai takdir baik.
__ADS_1
“Woi May! Ini restoran orang! Kau jangan asal teriak, bodoh!”
“T-Tapi! Aku tidak menyangka orang aneh itu yang membuatku putus dengannya! Aku tidak mengerti jalan pikirnya!”
Han yang memperingati Maylene itu ditonton oleh Jun dan Ryuu. Mereka berdua tidak ingin ikut campur, melihat dari lobby café dan berbicara satu sama lain dengan wajah yang santai.
“Hey, mau terjun, Jun?”
“Saya menolak. Kamu?”
“Sama.”
Maylene pun maju ke arah tempat duduk Chen dan Tobe dengan suara kaki yang begitu kencang dan amarah yang luar biasa dipancarkan oleh Maylene. Han yang dibelakang Maylene memintanya untuk menenangkan dirinya di café itu.
“Hey, kita ga mau buat drama netorare kan di café ini? Tenangkan dirimu May!”
“BODOH AMAT! AKU AKAN MENERJANG MANUSIA ANEH ITU!”
Maylene akhirnya sudah sampai di tempat duduk Chen dan Tobe berada. Dia lalu menggebrakkan meja makan mereka berdua dan berteriak dengan penuh emosi.
“KAU! KAU! KAU! KAU! KAU SI USKUP TAKDIR BODOH KAN! BERANINYA KAU MEMBODOHI ORANG ITU!”
“Oi May, tenang, tenang. Kamu jangan berteriak seperti itu.”
“DIAM KAU, MANTAN BODOH!”
“I-Iya Madam.”
Han yang menyaksikan drama itu memegang pundak Maylene dan memintanya untuk tenang.
“H-Hey! Tenanglah May! Kita kan ada di café orang. Banyak orang akan tergganggu. Pikirkan baik-baik.”
“KAU MAU MEMBELA USKUP TAKDIR ITU?!”
Chen yang melihat Maylene dengan penuh amarah itu tiba-tiba senang. Dia mulai melakukan ‘tradisi’ yang dia selalu lakukan, yaitu menggunakan logat yang aneh dan menunjukkan gestur tangan ‘lima’ terbalik. Dia mulai menggoyangkan tangannya kepada Maylene dan terlihat bahagia.
“LIHAT, LIHAT, LIHAT, LIHAT, LIHAT, LIHATTT! BETAPA MENARIKNYA KAMU! INI SUNGGUH, SUNGGUH, SUNGGUH TAKDIR BAIK MEMPERTEMUKANKU DENGAN PEREMPUAN INI! BENAR KAN TOBE!”
“Itu perempuan yang aku maksud dulu, Chen!”
“KAMU JANGAN MERUSAK HUBUNGAN KITA! SIAPA KAMU MEMANGNYA!”
Ketika Maylene ingin memukul meja lagi, Han dengan sigap memegang tangan kanan Maylene dan menahannya. Han yang pada awalnya tidak ingin ikut campur dengan urusan ini akhirnya terseret juga karena emosi Maylene yang begitu meluap-luap.
“May, tenanglah. Jangan ganggu orang-orang lagi.”
“TAPI… TAPI… TAPI… ORANG INI SUDAH MERUSAK HUBUNGAN KITA! APA KAU MAU MELARANGKU?”
“Bukan begitu May! Kita ini… di tempat umum.”
Han yang masih teguh dengan pikiran logisnya berhasil menahan Maylene sebelum bertindak lebih lanjut. Maylene menurunkan tangannya dan melipat kedua tangannya di dadanya.
Chen di sisi lain mulai mengatakan perkataan-perkataan yang begitu menyakitkan di telinga Maylene dengan ramalan-ramalan takdir baiknya itu.
“Kamu Pisces kan? Kamu tau, Pisces itu tidak ditakdirkan dengan Gemini! Kalau kamu masih tidak mau mempercayainya, lihatlah Tobe.”
Ketika Chen setelah berbicara normal, dia mulai mengangkat kedua tangannya dan mukanya melihat ke langit-langit café itu. Suaranya mulai begitu menakutkan, Han yang mendengar itu pun terbangkitkan dengan rasa trauma sebelumnya.
“Sekarang dia bahagia, bahagia, bahagia, bahagia, bahagia, bahagia, BAHAGIA!!!! Sejujurnya, dia tidak membutuhkanmu untuk bahagia! Dasar wanita! Pergilah dan enyahlah!”
Maylene tiba-tiba melepaskan bando yang dia pakai sebelumnya, dan dia melemparkan bando dengan keras itu ke arah Chen yang sudah menghinanya di café. Han merasakan aura-aura yang sangat panas dari Maylene, dan sepertinya Maylene yang saat ini tidak dapat ditenangkan oleh siapapun. Maylene berbicara dengan nada yang sangat dingin dan sedikit menangis di depan Tobe dan Chen.
“Brengsek! Jaga mulutmu!”
“Kau, Kau, Kau, Kau, Kau menyakitiku! TAKDIR BAIK TIDAK AKAN BERSAMAMU! TERKUTUKLAH KAMU!”
__ADS_1
“KAMU YANG TERKUTUK! JANGAN PAKAI NAMA TAKDIR JIKA KAMU BERSALAH, SAMPAH!”
Han yang melihat Maylene menangis itu memegang pundaknya dan mengajaknya keluar dari café itu. Han dengan wajah yang begitu bersahabat melihat Maylene dan berbicara dengan halus.
“May, ayo keluar aja. Kamu jangan bersedih, aku tidak mau melihat orang lain menangis di depanku.”
“AKU MAU PULANG!”
Sebenarnya, ini yang ada di dalam hati Han.
“WOI! KAMU UDAH KELEWATAN! MEMBANTING MEJA? MELEMPARKAN BANDO? KAU PAKAI OTAK TIDAK! INI CAFÉ ADA YANG BAWA ANAK DAN MEREKA DENGAN POLOSNYA MELIHAT DRAMA ANAK-ANAK REMAJA INI! MEREKA BISA PUBERTAS DINI, BODOH! GA PERLU LIHAT SERIAL DRAMA, LIHAT KAMU SAJA MEREKA BISA MEMPRAKTEKANNYA DI SEKOLAH BESOK! UDAH AYO PERGI AJA DARI SINI!”
Maylene akhirnya pergi dari situ dengan berjalan cepat dan mengusap air matanya. Ryuu dan Jun yang melihat drama itu hanya bertanya kepada Maylene yang pergi menuju pintu keluar itu dengan santai.
“Lho, dramanya sudah selesai?”
“Ce, dramanya kurang panjang.”
“Diamlah, bodoh!”
“Aduh, dinginnya May hari ini.”
“Ya karena kamu Ryuu.
Maylene akhirnya keluar dari café itu, dan Han ingin menyusul Maylene yang menangis itu. Sebelum Han pergi, Tobe bertanya kepada Han dengan wajah yang sangat biasa.
Apakah Han merencanakan ini semua atau tidak?
“Han, kamu merencanakan ini?”
“Tidak, kita benar-benar kebetulan lewat. Lagipula, kamu setelah mendengarkannya amarah May, harusnya kamu tau kalau kamu sedang dibodohi oleh Chen. Itu adalah isi hati Maylene yang dia pendam selama 4 bulan terakhir. Sebaiknya kamu minta maaf kepadanya, walaupun tidak akan bisa kembali seperti semula. Aku akan mengantarkannya dulu, nanti kamu antarkan mereka berdua ke kamar.”
“Baiklah, terima kasih atas jawaban jujurmu. Memang ini salahku, aku tidak mempercayainya dari minggu-minggu kita berpacaran.”
Chen yang melihat itu pun marah atas perlakuan Maylene terhadapnya. Dia sangat tidak terima diperlakukan seperti itu.
“PEREMPUAN JAHAT! PEREMPUAN JAHAT! SEMOGA TAKDIR TIDAK BERSAMAMU!”
“Kamu yang tidak disertai takdir baik! Sejak kamu menjahili orang yang kesusahan itu!”
“Gwakk!!!! Beraninya kau menentang Takdir! Kemarilah! Akan kuberikan arahan takdir baik yang benar!”
Han akhirnya pergi dan melambaikan tangannya dari belakang, dia lalu pergi menuju arah Maylene yang begitu kesepian di dekat stasiun MRT. Han yang melihat Maylene masih menangis itu tiba-tiba diberikan tisu oleh Han.
“Nih, tisu. Usap wajahmu itu.”
“T-T-Terima kasih. Rupanya kamu orang yang baik ya. Pantas Yoru memilihmu.”
“Dia belum jadi pacarku juga, dan aku meragukan kalau dia melihatku sebagai laki-laki yang bisa menjaganya.”
Maylene tiba-tiba tertawa mendengarkan jawaban Han itu. Mereka akhirnya turun ke stasiun MRT.
“May, hotelmu dimana?”
“Pirchard. Kamu?”
“Bay park. Hmm, kita jauh juga yaa.”
“Begitu rupanya. Oh, ya Han.”
“Apa?”
“Mmm, tak apa-apa.”
Akhirnya mereka berdua berpisah di kereta. Sekarang saatnya Han untuk pergi ke hotelnya.
__ADS_1