
Yoru tiba-tiba mengajak Han dan Maylene untuk pergi ke restoran Jepang. Yoru sendiri belum pernah mencobanya, tapi menurut orang-orang yang pernah kesana, restoran itu sangat enak.
“Ayo Han, May, kita ke restoran Jepang itu!”
“Ayo!”
Tapi dalam hati Han, lubuk hatinya yang paling dalam dia tidak rela untuk makan disitu.
“Uangku habis sekejab kalau begini terus! Tapi ini dua perempuan yang sedang bersamaku! Aku tidak boleh mengirit! Aku! Aku! AKU HARUS ROYAL!”
Yoru dan Maylene pun membuka menunya dan memesan bento yang cukup mahal, harganya hanya $ 6. Han yang mendengar mereka hanya memesan bento membuatnya hanya memesan ramen yang harganya hanya $ 4. Mereka berdua pun bingung dengan Han yang memesan ramen.
“Han, ramen disini kurang direkomendasikan sih…”
Yoru yang mengatakan seperti itu membuat Han tetap optimis, dia yakin bahwa ramen itu bisa enak.
“Tenang, aku yakin ramen disini enak kok.”
Setelah mereka mendapatkan makanannya, Han mencoba ramen itu. Ramen itu sungguh jauh kurang dari rasa ramen pada umumnya. Han mengambil kecap asin dan meminta penyedap jamur dari pelayannya.
“Pak, saya minta penyedap jamur.”
“Iya, baik.”
Han yang memesan itu membuat mereka berdua bingung. Selama hidup mereka, mereka tidak pernah melihat orang memesan penyedap di restoran manapun. Maylene pun memulai menanyakan hal itu.
“H-Han, kau pesan penyedap jamur? Kau gila atau bagaimana?”
“May, tenanglah. Kan aku sudah bilang kalau ramen disini rasanya kurang.”
Han yang mendengar mereka berdebat pun mengatakan, bahwa lidahnya dapat merasakan kurangnya rasa di ramen itu. Tiba-tiba penyedap jamurnya sudah datang, dan Han menabur semuanya ke dalam ramen itu dengan kecap asin dalam skala yang cukup.
“Tenanglah kalian berdua, ini masakan hanya kurang di rasanya. Semua teksturnya sudah pas, sehingga orang-orang tidak merekomendasikan ramen-nya. Silahkan coba ramen-nya!”
Han langsung membagikan mangkoknya kepada Yoru dan Maylene. Ketika mereka mencobanya, mata mereka pun berbinar-binar dengan kesenangan mereka.
“Hmm, enak! Kamu kok bisa tahu ini?”
“Aku suka yang asin-asin aja sih… aku ga tahu kalau kalian bilangnya pas.”
Ekspetasi Maylene pun turun, mereka hanya berpikir bahwa Han adalah maniak masakan asin. Nada mereka langsung merendah dan menatapnya dengan tatapan yang tajam.
“Ohh begitu, Han maniak masakan asin. Aku ga mau di umur 50 sudah kena gagal jantung.”
“May bukan begitu, aduh. Gimana aku jelaskannya yaa.”
Yoru langsung menyela Maylene, dia mengatakan bahwa ini sudah pas sebenarnya.
“Ini enak sih… rasanya pas kok.”
“YORUUU!!!!!!”
Han tiba-tiba berterima kasih kepada Yoru karena sudah membelanya, wajahnya pun bahagia membuat Yoru akhirnya senang. Tiba-tiba Han berbicara kepada Yoru.
“Yoru, sebenarnya…”
“A-a-a-a-a-a-a-apa??”
Hati Yoru sudah berdetak kencang, dia sudah merasa bahwa Han akan menembaknya. Dia belum siap untuk menerima pernyataan cinta. Wajahnya memerah dan sedikit malu-malu memalingkan wajahnya. Han tiba-tiba mengatakan sesuatu yang tidak dia duga.
“Aku punya jepit rambutmu yang rusak itu.”
Wajah Yoru tiba-tiba datar, dan Maylene mulai mengomel lagi kepada Han.
__ADS_1
“Oh, begitu.”
“HAN KAU BODOH!”
“Aku salah apa coba?!”
Setelah mereka selesai makan, waktu sudah menunjukkan sore menuju malam. Yoru mengajak Han untuk pergi ke suatu tempat yang dekat dari Mall itu. Maylene pun ikut dengan mereka akhirnya, karena Maylene tidak mau pergi sendiri.
“Han, kamu tau ga disini ada Pasar Malam?”
“Apa? Pasar Malam?”
“Iya, pasar malam. Benar-benar mirip kayak di Singapura begitu.”
Maylene yang menyela tiba-tiba ketika mendengar nama pasar malam pun meminta untuk ikut lagi. Wajahnya yang memerah dengan memohon-mohon ingin ikut pergi.
“Aku juga mau ikut!!!”
Akhirnya mereka bertiga pergi ke pasar malam. Rumah Maylene dan Yoru yang berada di dekat daerah itu membuat Han bertanya kepada mereka.
“Jangan-jangan, rumah kalian dekat di sini?”
“Iya, memang. Jadi habis kita dari pasar malam itu, antarkan kita berdua pulang ya!”
“Terus kenapa ketemuannya di WacDonul tadi itu?”
Yoru yang sudah tidak malu-malu lagi, dia sekarang duduk di sebelahnya Han pun mengatakan bahwa sebenarnya ada kereta cepat di kota ini, hanya orang sedikit saja yang tahu karena sebenarnya kereta itu masih dalam tahap uji coba.
“Han, sebenarnya ada kereta cepat di bawah kita. Cuma karena lagi proyek tahapan aja, tidak dibuka untuk umum.”
“HA!!! ADA KERETA CEPAT DI KOTA INI?! KAMU TAU ITU DARIMANA YORU!”
“Dari Papaku…”
“Han, jangan pernah masuk ke stasiun kereta bawah tanah ini. Ada 21 Stasiun disini dan kalau kamu sampai masuk ke tempat itu, kamu akan diburu oleh orang banyak.”
“Kenapa Pa aku tidak boleh?”
“Statusmu kan masih iblis, bukan manusia.”
Akhirnya mereka sampai ke pasar malam itu, Pasarnya sudah terang dan sangat indah. Banyak lampion-lampion yang menghiasi langit-langit pasar malam itu dan ada banyak tempat bermain untuk anak-anak. Berbagai stan pun ada disitu, sehingga opsi makanan disitu cukup banyak.
Ketika Maylene pergi sendiri, Han mengajak Yoru pergi berdua.
“Yoru, sini. Ayo kita pergi berdua aja.”
Yoru matanya berbinar-binar dan sambil tersenyum pun mengiyakan Han.
“Ayo!”
Han yang pergi berdua dengan Yoru, berkeliling di pasar malam itu, tiba-tiba melihat stan jepit rambut. Han yang melihat stan jepit rambut itu tiba-tiba pergi meninggalkan Yoru dan menuju kesana. Han mencari jepit bulan itu dan segera membelinya tanpa tanya harga. Setelah dia berhasil membeli itu, Han pergi ke arah Yoru, dia langsung memegang tangannya dan menaruh jepit rambut itu kepada Yoru.
“Ini buatmu, jepit rambutmu kan rusak di pegunungan waktu itu.”
“T-t-t-terima kasih…”
Yoru yang wajahnya memerah, mengenakkan jepitnya itu di rambutnya dan tersenyum lebar. Tiba-tiba Yoru mengeluarkan handphonenya dan meminta orang lain untuk memotret mereka berdua. Han yang sebelumnya tidak pernah foto bersama perempuan akhirnya mendapatkan kesempatannya. Mereka berdua terlihat tersenyum berdua di bawah lampion-lampion yang bagus itu. Mereka berdua bertukar kontak dan Instugrum, yang menurut Yoru adalah sebuah kemajuan untuknya. Yoru pun tersenyum dengan apa yang dilakukan Han seharian penuh tadi.
Maylene pun akhirnya datang dan bertanya kepada Han dengan nada yang sedikit panik.
“Oi Han, kamu kemana aja daritadi?! Aku mencarimu daritadi. Apa jangan-jangan??”
“Maylene, jangan berpikir yang aneh-aneh! Aku tidak mengajaknya ke bar atau kemana. Kita cuma jalan-jalan saja.”
__ADS_1
“Oh begitu… Nee Yor, kamu sejak kapan punya itu?”
“Barusan dibelikan Han tadi.”
Maylene pun membisikkan ke arah telinga Yoru, dengan nada yang jahil dan mulai menanyakan perkembangan mereka berdua.
“Hehehe, Yor, gimana kamu sama Han?”
“J-J-Jangan berpikir seperti itu! Kita belum ada apa-apa kok!”
Han yang mendengar seperti itu pun berbicara dalam hatinya.
“Hmm, tipikal-tipikal Tsundere. Bilang saja kamu dikasih jepit rambut sama aku kan selesai.”
Yoru tiba-tiba pergi menuju Han dan melepas jaketnya. Han yang melihat itu tiba-tiba panik. Wajah Yoru sudah memerah karena Maylene tadi langsung menatap Han.
“Oi, oi, oi. Yoru, disini bukan saat yang tepat untuk melepaskan jaketmu! Kita dilihat orang banyak.”
“Maksudmu apa?? Aku mau mengembalikkan jaketmu yang kamu kasih kemarin.”
“Sudahlah, kalau kamu mau pakai jaketnya pakai aja. Itu cocok sama kamu juga kok.”
“Mm, terima kasih, Han.”
Wajahnya yang terlihat bahagia itu membuat Han memalingkan wajahnya. Senyuman yang diperlihatkan Yoru terlihat manis di matanya dan dia tidak pernah melihat senyuman yang semanis itu. Tiba-tiba ada beberapa anak muda yang melihat mereka berteriak karena mereka sedang sendirian, sedangkan Han sedang bersama dua perempuan yang cantik.
“WOI BRENGSEK! KALAU MAU PACARAN JANGAN DI DEPAN KAMI! DASAR PLAYBOY!”
Han yang mendengar itu langsung membawa kedua perempuan itu pergi dari sana dan mencari tempat duduk untuk makan sebelum pulang. Orang-orang yang ada disana masih tidak terima pun masih menyahut lagi dan lagi.
“JANGAN KABUR KAU PLAYBOY! AJARKAN KAMI CARA MENDAPATKAN PEREMPUAN CANTIK SEPERTI MEREKA!”
Han yang melihat mereka yang berteriak itu, membalas mereka dengan beberapa kata. Matanya yang tiba-tiba terlihat dingin membuat mereka semua takut, bahkan Yoru dan Maylene sendiri merasakan aura dingin dari Han. Sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
“Kalau kau mau mencari perempuan seperti mereka, berhentilah bersikap norak seperti itu. Kalian tahu applikasi kencan? Pakai saja itu, Bodoh!!”
Akhirnya mereka bertiga pergi, mencari makan untuk makan malam. Sebuah malam yang panjang sebelum mereka semua pulang.
Han mengantarkan mereka pulang, konon rumah di daerah itu memang layaknya seperti istana. Sesampainya di rumah Maylene, Maylene pun turun dan mereka bertiga akhirnya berpisah.
“Bye-bye Han, Yoru! Terima kasih untuk hari ini.”
“Bye-bye.”
Han dan Yoru akhirnya berdua di mobil, jarak rumah mereka berdua hanya 5 menit. Seketika Han melihat rumah Yoru, Han terkejut. Itu rumah layaknya istana, dan Han berpikir rumah Yoru hanya lebih kecil sedikit dari rumahnya.
“I-i-ini rumahmu Yoru? Megah benar kamu punya rumah!”
“Iya, ini rumahku. “
“Oow, begitu rupanya.”
Yoru pun memberikan senyuman terakhir untuk malam itu di depan Han sebelum membuka pintu mobilnya.
“Bye-bye Han! Nanti kita lanjut di chat aja yaa.”
“Mmm, Iya. Bye-bye.”
Han akhirnya sendiri dan pulang ke rumahnya, dia merenungkan hari ini dia sudah menghabiskan uang sebanyak $ 100 untuk 3 orang saja.
“Aku sudah habis banyak hari ini, gila! Cuma satu hari padahal!”
Tiba-tiba ada bunyi telpon, Han yang sedang menyetir pun melihat telpon itu. Han langsung kaget dan sedikit panik ketika melihat telpon itu.
__ADS_1
Telpon itu berasal dari… Tobe!