Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 2, Chapter 11: It Shouldn't be Me!, Part 2


__ADS_3

"AHHHHH!!!! SAKIT!!! SAKIT!!!! KAKIKU!!! KAKIKU PATAH MENJADI DUA!!!! Oh... tidak... a-aku kehi-lang-an kesa-da-ran..."


Nagi yang berteriak itu tiba-tiba tertunduk lemas, dia pingsan ketika dia sedang dibawa oleh petugas medis di dalam stadion itu.


Di sisi lain, seisi stadion itu mulai ketakutan dan diam seribu kata. Namun tidak untuk keluarga besar Lin, terutama Mama Han yang terus memaki-maki teman-teman Nagi yang sedang tertawa dengan licik.


“KALIAN! KALIAN BIADAB! KALIAN MENYAKITI TEMAN KALIAN SENDIRI?! APAKAH JIWA KALIAN SEHAT?!”


Lalu pendukung sekolah Nagi tiba-tiba mengambil batu yang telah disediakan teman-temannya dan melemparkan batu itu ke arah Mama Han. Batu itu berakselerasi dengan cepat dan menghantam keras ke arah badan Mama Han. Mama Han tiba-tiba tidak sadarkan diri setelah mengenai lemparan batu itu, seisi keluarga Lin pun kaget dengan ketakutan! Tidak terkeuali Papa Han yang berhasil menangkap foto orang yang melemparkan batu itu. Mama Han langsung dilarikan ke rumah sakit, bersama dengan Nagi, seluruh keluarga Lin pun pergi menyusul dan mengabaikan hasil pertandingan itu.


Han yang melihat Mamanya dianiaya oleh orang-orang yang berada di sekolah Nagi itu semakin pucat. Semangat bermainnya sudah tiada dan Han tidak dapat mendengarkan suara lagi.


Pendukung tim basket sekolah Han yang berada di tribun tidak menyadari, hanya Ryuu yang menyadari itu. Ryuu lalu pergi menyusul keluarga Lin yang menuju ke rumah sakit. Haruki bahkan tidak mengetahui apapun yang sedang terjadi.


Naoto yang tidak melihat seluruh kejadian itu karena dia sedang minum itu melihat Han yang berlutut dengan wajah pucat, dia mulai meneriakkan nama Han.


“HAN! HAN! HAN!”


Pertandingan akhirnya dilanjutkan, Han yang men-dribble bola itu tiba-tiba tatapannya kosong, dia sudah tidak dapat men-dribble bola membuat lawan mudah mencetak poin. Tiba-tiba dia tersungkur di lapangan dengan berlutut, wajahnya melihat ke atas dan mengindikasikan bahwa Han sebenarnya…


Sudah menyerah.


Hati Han sudah tidak ada disana lagi.


Skor sementara adalah 42-9, dan babak kedua sudah selesai. Kedua tim itu bergegas menuju ruang ganti, Han yang terlihat lesu itu membuat teman-temannya terlihat jengkel. Mereka semua menghiraukan Han yang lesu mulai berbicara satu sama lain. Ketika Mr. Kibe memberikan instruksi, Han tidak dapat mendengarkan suaranya, tubuhnya panas bergemetar, namun semua panca indranya sudah menjadi gelap.


“Han?”


“Han?! Kau dengar kan Han?! Han!!!!!!”

__ADS_1


Han sangat ketakutan di ruang ganti, dan dia tidak dapat bergerak dari tempat itu setelah dia melihat semua yang terjadi. Dia mulai mengacak-acak rambutnya dan sudah seperti orang yang terkena kejiwaan yang cukup serius.


“TCH. YA SUDAH! KAMI TIDAK BUTUH KAU LAGI!”


Barou yang melihat dengan wajah yang jijik kepada Han yang berada di kondisi yang mengenaskan itu mulai meninggalkannya bersama rekan-rekannya. Walaupun dari awal Barou dan teman-temannya tidak pernah berguna di pertandingan, namun mereka mau terlihat keren di mata pendukung sekolah mereka.


Ketika babak ketiga dimulai, Naoto diprovokasi oleh salah satu pemain yang menjaganya. Naoto yang mendengarkan itu semua pun juga terlihat marah terhadap orang yang memprovokasinya dengan nada hinaan.


“Hmm, informasi itu sungguhlah berguna. Cara mengalahkan sekolahmu adalah menghancurkan mental Han dan mencederai sepupunya sendiri! Ini adalah cara terbaik. HAHAHAHAHA!”


“Apa yang kalian lakukan kepada Nagi!”


Tiba-tiba, ekspresi orang itu mulai sangat kejam dan dia tersenyum. Nada bicaranya sudah tidak ada toleransi lagi, aura kekejian dimana-mana dan Naoto sendiri menyadari itu.


“Oh, kami mematahkan kakinya. Bersiaplah untuk tidak mencetak poin lagi. HAHAHAHAHA!”


Setelah diprovokasi, Naoto tidak dapat bermain dengan baik lagi, semua tembakannya tidak mengenai sasaran dan berulang kali dia membuang bola ke arah lawan.


Skor yang bermula dari 42-7 tiba-tiba terbalap menjadi 42-30 di babak ketiga, tim Han tidak dapat mencetak poin sama sekali! Mental satu tim sudah hancur lebur, tidak adanya Han di dalam tim itu benar-benar merusak mereka.


Pada akhirnya, sekolah Nagi dapat memenangkan pertandingan di babak terakhir, dengan skor yang sangat tipis. Tim Han tidak dapat mencetak satu poin pun selama dua babak itu!


42-43.


“HAHAHAHA, SEKOLAH LAWAK!”


“GIMANA RASANYA KENA COMEBACK?! MAKAN ITU COMEBACK!”


Di tribun penonton, semua orang mentertawakan tim Han yang berhasil unggul jauh di awal namun terbalap begitu mudahnya. Haruki yang berada di tribun itu tiba-tiba menutup telinganya karena tawa penuh penghinaan itu berkumandang di segala arah.

__ADS_1


“TIDAK! TIDAK! TIDAK! TIDAK! AKU TAK MAU MENDENGARKAN INI SEMUA!”


Semua murid di sekolah Han itu pergi meninggalkan tribun, lalu Haruki berlari mencari Han ke ruang ganti.


Mereka semua yang kembali ke ruang ganti itu melemparkan seluruh rasa frustasinya di depan Han yang bahkan tidak bergerak dari tempat itu. Semua teman-temannya mulai menyerang Han dengan melemparkan botol plastik minuman mereka dan menyerang Han.


“DASAR KAU BODOH! KARENA KAU KITA SEMUA KALAH!”


“BEBAN! KAU JANGAN SOMBONG MENINGGALKAN LAPANGAN KARENA YAKIN MENANG!”


Bahkan Barou tiba-tiba melempar botol keras ke arah kepala Han, dengan tatapan penuh kebencian dan ekspresi kekesalan yang luar biasa dimuntahkan olehnya.


“AKU TAK PEDULI KAU PEMAIN HEBAT ATAU BAGAIMANA! KAU IDIOT?! MENINGGALKAN SATU TIM HANYA UNTUK DUDUK SANTAI DISINI! SIAPA KAMU?! PEMAIN TERBAIK SEPANJANG MASA?! SAMPAH!”


Han yang menerima lemparan botol bertubi-tubi sudah tidak dapat merasakan rasa sakit fisik dari mereka. Han tidak dapat mendengar caci maki mereka, merasakan hantaman botol-botol dari mereka, bahkan dia tidak dapat melihat ruang ganti itu dengan jelas. Mr. Kibe yang mengutarakan kekecewaannya kepada Han mulai mengucapkan beberapa kata yang cukup menyakiti perasaan Han yang sedang kacau itu.


“Buat apa kamu disini? Saya tidak membutuhkanmu, pemain yang tidak dapat berdiri! Enyahlah dari sini!”


Han yang mendengarkan kata-kata itu tiba-tiba berdiri, meremas pundak Mr. Kibe dan membisikkan kata-kata yang tidak dapat dia ucapkan sebelum-sebelumnya, matanya yang masih gelap itu menatap satu tim dan Mr. Kibe.


“Beban? Bodoh? Tidak berguna? Kalian semua sampah! Apakah kalian bisa mencetak 1 poin saja? Dan kau pelatih bodoh, miskin taktik, mungkin hari ini adalah hari terakhirmu menjabat sebagai pelatihku! Selamat tinggal.”


Han melepaskan tangannya dari Mr. Kibe dengan penuh gaya dorongan yang membuat Mr. Kibe terhantam di tembok ruang ganti, teman-temannya mulai menghina-hina Han dengan verbal, dan Mr. Kibe membeku begitu saja ketika mendengarkan ucapan Han yang merendahkan dirinya.


Naoto di sisi lain menyusul Han yang sudah meninggalkan ruang ganti itu, dia juga meninggalkan teman-temannya yang masih kesal dengan hasil akhir pertandingan final tadi. Di depan ruang ganti, terdapat Haruki yang menunggu Han dengan penuh khawatir. Matanya itu meneteskan air mata dan wajahnya sangat sedih pun mulai berbicara sendiri


“Han, apakah kau baik-baik saja?”


Tiba-tiba, ada pemain yang memprovokasi Naoto di tengah pertandingan itu melihat Haruki dan mulai menggoda Haruki dan memegang pundak dari Haruki. Haruki mulai ketakutan, kakinya tidak dapat bergerak, dan matanya mulai putih memucat.

__ADS_1


__ADS_2