Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 3, Chapter 20; Ready, Steady, Launch, Part 1


__ADS_3

Ketika mereka berdua sudah sampai ke atas kapal, Han meminta semua teman-temannya untuk berada di posisi yang bagus, terutama di posisi pemanah dan pemungut. Crossbow itu sendiri memiliki kecepatan menembak sekitar 80 km per jam, jadi kecepatan anak panah yang ditembakkan itu begitu cepat dan mempermudah cara bermain.


“Siapkan posis-… tunggu sebentar. Ada yang menarik disini.”


“Apa itu Han?”


Han yang melihat dengan wajah yang penuh dengan senyum licik itu melihat jerami mainan di kapal itu. Jerami mainan yang juga memiliki rompi dan menyerupai manusia dan senjata mainan pistol yang begitu mengancam orang banyak. Han tertawa melihat itu dan memerintahkan semua teman-temannya mulai dari pemanah, pemungut, dan nahkoda untuk ke arah Han.


“Teman-teman yang ada di kapal, aku ingin mengubah strategi sedikit aja. Kita pasang ini di kapal kita dan hadapkan ke kapal kedua.”


“Siap!”


Lalu Maylene yang melihat Han dengan wajah yang bingung itu bertanya kepada Han, apa yang Han inginkan saat ini.


“Han, rencanamu apa memangnya?”


“Apakah kamu tidak pernah menonton Red Cliff atau bagaimana? Ini orang-orang jerami digunakan untuk memungut panah dari lawan.”


Maylene tiba-tiba jengkel dan merasa dirinya hanya dimanfaatkan oleh Han, namun Han membalas dengan wajah yang begitu ramah terhadap Maylene. Han mengerti kelemahan Maylene adalah tawaran uang yang besar.


“Maksudmu, kamu mau membiarkanku untuk memungut panah? Aku ini anak orang, bukan pembantumu!”


“T-Tapi kau kan sudah bilang kalau kau akan menjadi partnerku… percayalah, uang $ 100 akan datang dan kita buat makan. Oke?”


Ketika mereka berdua sedang berbicara, ada beberapa orang yang berhasil membawa jerami itu ke atas kapal dan menaruhnya layaknya posisi berperang. Mereka sendiri tertawa melihat rencana Han yang menggunakan jerami sebagai perangkap untuk lawan.


“Hahahahaha! Apakah jerami ini akan bisa menolong kita?”


“Kita dari prajurit yang memiliki kebanggaan menjadi prajurit yang tergantung oleh jerami. Gimana ini Han?”


Han yang mendengarkan keluh kesah mereka hanya tertawa dan ikut meletakkan jerami itu. Benar-benar pertarungan yang licik untuk tim Han, mereka harus membuang harga diri mereka untuk mencapai kemenangan.


“Kebanggan? Hormat? Apa itu? Kamu tau permainan ini terinspirasi darimana kah?”


Han dengan tertawa liciknya itu meminta semua orang yang ada di kapal untuk bersembunyi di ruangan nahkoda dengan wajah yang sedikit tertawa terbahak-bahak itu.


“HAHAHAHA, ayo kita ke belakang semua. Kita biarkan si ‘anak-anak kecil’ mendapatkan panahnya.”


Emi dan Ray yang tanggap itu langsung pergi menuju ke arah ruangan nahkoda bersama teman-temannya.


“Iya Han! ayo kita lakukan!”


Ini sama seperti apa yang telah dilakukan oleh Zhuge Liang dulu, ketika dia ditantang oleh Kerajaan Wu untuk mengumpulkan 100,000 anak panah dalam waktu 7 hari. Namun Zhuge Liang menolak itu dan mengatakan bahwa

__ADS_1


“Aku hanya butuh 3 hari saja.”


Namun situasi di sini berbeda, karena anak panah hanya dibatasi dengan 100 peluru per kapal. Sehingga, jika rencana Han sukses di kapal, maka di kapalnya dia akan mendapatkan 300 anak panah.


Pertandingan itu dimulai, tiba-tiba asap kabut pun dikeluarkan sehingga visi dari kedual lawan itu benar-benar buram. Ray yang melihat itu bertanya kepada Han karena Han saat itu semakin tertawa terbahak-bahak.


“H-Han, kamu kenapa saat ini? Kenapa kamu tertawa seperti orang gila?”


“HAHAHAHAHAHAHA! Tunggu habis ini Ray! Kita akan saksikan hujan panah!”


Maylene tiba-tiba memegang tangan Han, lalu dia mengatakan dengan wajah yang penuh kepercayaan diri untuk membuat teman-temannya rileks.


“Tenang, Han saat ini lagi tidak sehat kok.”


“O-Oh, begitu?”



Kondisi di kapal kedua, pemimpin dari kapal kedua yang bernama Miyuki melihat kapal pertama yang memiliki 4 prajurit yang siap menembakkan pelurunya.


“Kapten, apakah kita siap untuk menembak?”


“Lancarkan tembakan! Habisi mereka!”


Kondisi yang sama di kapal ketiga, dimana kapten mereka yang bernama Kamado itu memiliki pendekatan strategi yang berbeda dari kapal pertama dan kapal kedua.


“Ingat, kita akan menghabisi panah di titik terlemah lawan. Lalu kita akan bertarung di jalur darat! Kita akan memaksimalkan kekuatan tempur kita di daratan!”


Itu yang dipikirkan oleh Kamado, dan ketika kapal Han itu memancing mereka semua untuk menembak.


“TEMBAK KE KAPAL PERTAMA!”


Setelah mereka selesai menembakkan anak panah mereka, baik Miyuki dan Kamado merayakan kemenangan mereka di atas kapal dan bersuka cita.


“Ayo semua! Kita rayakan kemenangan kita di laut!”


“Ini sudah berakhir! Kita akan duduk santai disini.”



Anak panah itu menghujani ke arah kapal pertama, sehingga jika ditotal mungkin ada 170 anak panah yang berserakan di kapal Han saat ini.


“Lihat kan, kita berhasil! Kita punya panah banyak sekarang.”

__ADS_1


Maylene yang mendengarkan Han berbicara itu kagum dengan strategi Han saat ini. Namun ada telpon dari Sen yang berada di daerah hutan.


“Han! Han! kau dengar aku?”


“Iya, Sen, aku dengar kamu. Bagaimana kondisinya?”


“Kita berhasil menculik 3 pasukan dari Kapal 2 dan 1 pasukan dari Kapal 3. Mereka semua sudah tereliminasi.”


“Baiklah kalau begitu. Mungkin 3 menit lagi kita ber-6 bisa turun dari kapal dan menyergap mereka.”


Han yang melaporkan itu kepada Sen membuat Sen dan seluruh pasukan daratan itu bingung. Mereka benar-benar tidak mengetahui situasi yang terjadi di kapal saat ini.


“HA!!!!! Maksudmu apa Han?!”


“Iya kita akan turun sebentar lagi. Tunggu aja. Kita mau membereskan ‘tumbal’.”


Han dan semua orang keluar dari ruangan nahkoda dan mengambil jerami-jerami itu, sedangkan Emi berserta tim-nya memungut anak panah.


“Han, ini ada 170 anak panah yang bersarang di kapal ini.”


“Bagus! Bagus! Simpan 70 anak panah buat nanti.”


“Nanti?”


“Iya, kita akan membantu perang di daratan!”


Han yang tersenyum itu membuat Emi berusaha untuk mengumpulkan anak panah itu. Maylene, di sisi lain mengangkat perisai untuk Han karena Maylene takut jika mereka masih memiliki anak panah tersisa. Han yang melihat Maylene itu hanya tersenyum dan memberikannya semangat. Maylene di sisi lain juga tersenyum, dan ini bukan seperti Maylene yang biasanya. Hanya kali ini, Maylene akan bertindak manis kepada Han karena tujuannya.


Makan gratis.


“May.”


“Kenapa?”


“Kita akan menang, tenang saja.”


“Hmm, aku percaya sama kamu. Di permainan apapun, aku yakin kamu tidak akan kalah!”


Han hanya memalingkan wajahnya dengan wajah yang tersenyum dan memungut jerami itu bersama Maylene.


 


 

__ADS_1


__ADS_2