Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 2, Chapter 14: It's Painful!, Part 3


__ADS_3

Mereka lalu berdoa di dalam pagoda itu, dan mereka keluar dari pagoda itu. Haruki yang mengintai itu sudah masuk ke dalam bus dan menyisahkan 1 tempat kursi di sebelahnya.


Han dan Maylene ingin pergi ke tempat berikutnya, yaitu museum vas keramik. Mereka menaiki bus itu dan sudah tidak ada tempat yang tersisa disitu, hanya ada tempat dari Haruki dan satu orang yang tidak dikenal. Han yang melihat Haruki dengan penyamarannya itu berhasil mengelabui Han.


Secara singkat, Han tidak menyadari bahwa itu Haruki!


Haruki sudah menepukkan kursi yang berada di sebelahnya itu, namun Han melihat Haruki yang akan duduk di sebelah laki-laki lain yang tidak dikenal.


“M-May, kau duduk disana aja, aku duduk disini.”


“Hmm, okay.”


Maylene akhirnya duduk di sebelah Haruki, dan Haruki hanya terkejut kosong di dalam hatinya. Dia pucat di dalam karena dia duduk dengan perempuan yang dibilangnya bodoh itu.


“EKKKK! KENAPA! KENAPA! KENAPA! KENAPA AKU HARUS DUDUK SAMA DI BODOH INI!”


Maylene melihat Haruki yang menyamar itu berbicara dengan cukup canggung. Karena baru pertama kali ini Maylene duduk bersebelahan dengan orang yang dikatakannya sebagai ‘orang aneh’ secara penampilan. Maylene pun berggumam dalam hatinya juga.


“K-Kenapa aku duduk dengan ninja disini? Aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya.”


“P-Permisi. Aku duduk disini ya.”


Lalu Haruki hanya menganggukkan kepalanya dan Maylene duduk dengan Haruki.


Setibanya mereka berdua melihat-lihat museum keramik vas itu. Museum itu sangat megah dan sangat terang, banyak sekali vas-vas keramik dari mancanegara dan koleksinya sangat banyak.


Haruki yang masuk ke dalamnya juga semakin panas hatinya melihat mereka berdua itu yang jalan-jalan melihat-lihat vas bunga.


“H-Han. apakah kamu pernah mengajak Yoru jalan-jalan seperti ini?”


“Tidak pernah.”


“Dan dia meng-klaim kamu sebagai pacarnya? Kapan hubungan kalian akan berkembang?”


“Entahlah.”


Mereka pun pergi jalan-jalan mengelilingi museum itu, layaknya seperti orang yang berpacaran di mata orang banyak. Namun sebenarnya tidak seperti itu, mereka sedang…


“Woi! Jauh sedikit dari aku kenapa?”


“Aku tidak mau jatuh lagi! Kau harus jaga aku! apakah kamu laki-laki atau brengsek?!”


“Perempuan ini!”


Haruki pun yang masih menguntit itu hanya melihat mereka dari kejauhan. Haruki sangat iri kepada Maylene yang jalan-jalan bersama Han. Haruki pun memegang dadanya, ke arah jantung, lalu meneteskan air matanya.


“Aku tak tau mengapa? Tapi melihat mereka berdua membuat hatiku teriris! Apakah aku masih memiliki perasaan kepadanya? Perasaan apa ini?!”


Haruki yang menangis itu sudah berhenti menguntit mereka berdua, akhirnya Han dan Maylene pun pulang ke rumah dan melewati baik toko oleh-oleh maupun restoran Michelin bintang 3 itu.


“K-Kenapa kau melewatkan restoran itu?!”


Maylene itu mengomel kepada Han di mobil, dia masih tidak terima karena Han tidak mengajak Maylene makan ke tempat itu. Han yang melihat Maylene makan pun hanya menjawab santai kepada Maylene dengan wajah yang sinis.

__ADS_1


“Yoru aja belum tentu aku ajak kesitu, apalagi kamu.”


“H-Han!!!! Jahatnya kamu!”


Tiba-tiba, ada telpon masuk ke handphone dari Han. Han melihat telpon itu berasal dari Yoru. Han mengangkat telpon itu dan ada suara yang tak asing di telinga mereka berdua.


“HALO!!!! KALIAN BERDUA BAGAIMANA?!”


“Yoru, kamu sudah sampai di Lound Doun?”


“Sudah Han, kamu hari ini jangan nempel-nempel Maylene ya! Walaupun aku sendiri yang memintanya untuk pergi denganmu hari ini.”


“Tenang-tenang, aku tidak mendekati May sama sekali kok.”


“Beneran?!”


“Yor! Tadi Han memegang tanganku pas aku terjatuh. Itu sangat romantis.”


Tiba-tiba, Yoru pun terpancing emosinya dan mulai mengomeli Han dari sana.


“Oi, kau aku tinggal 1 hari aja udah berbuat macam-macam. Apakah semua perempuan itu asal menarik kamu ambil?!”


“Tidak begitu Yoru, astaga! Itu Maylene Cuma mancing kamu! Aku tadi-.”


“Aku dijatuhkan, Yor. Itu yang sebenarnya terjadi.”


Yoru menyela Han tiba-tiba, dan Yoru pun menutup telponnya.


Yoru yang di Lound Doun itu benar-benar kesepian disana. Dia ingin Han menemaninya di telponnya, namun Han tidak kunjung mengabari karena Han tidak mengetahui waktu di Lound Doun.


Di sisi lain, Han dan Maylene pun berdebat panjang. Han terlihat kesal dengan ucapan Maylene itu, nadanya dinaikkan dan wajahnya cukup emosi terhadap Maylene.


“Kan! Gara-gara kamu ini May! Dia marah sekarang! Aku harus bagaimana ini?!”


“T-Tenanglah Han, aku cuma bercanda.”


“Kau bilang bercanda?! Sekarang keluar dari mobil ini!”


“Kenapa Han?! Jangan biarkan aku keluar!”


“AKU CUMA BERCANDA!”


“Tapi kau terlihat marah. Mouuu!”


Mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Setibanya Han sampai di rumah, Han langsung berlari menuju ke kamar dan menelpon Yoru. Han mengerti bahwa Yoru saat ini sangat kesepian dan membutuhkan teman di sana.


“Yoru! Yoru! Yoru! Maafkan aku! Aku, Aku, Aku, Aku, Aku tidak memahamimu selama ini!”


Tiba-tiba, telpon itu diangkat dan Han langsung mendengarkan suara perempuan yang selalu dia ingin dengar selama ini. Suara perempuan itu mengeluarkan nada yang cukup lega dan berbicara seperti perempuan biasa.


“Akhirnya kau menelponku juga.”


“Yoru! Maafkan aku! Aku tidak mau kau membenciku!”

__ADS_1


“I-Iya, aku tidak membencimu sama sekali. Bagaimana caraku membencimu?”


“Kamu tadi menulis seperti itu? Ha?”


“Oh itu, aku sebenarnya sudah menulis ‘aku bercanda’. Tapi karena aku tadi langsung naik pesawat, sepertinya itu tidak terkirim.”


“WHA-?!”


“Maafkan aku, Hahahaha. Memang kau ini sungguh bodoh.”


Yoru yang tertawa itu mendengarkan Han kebingungan tiba-tiba membuat Han bertanya kepada Yoru. Nadanya kebingungan dan benar-benar seperti orang yang ingin tahu apa yang dilakukan Yoru sekarang.


“Yoru, jam berapa sekarang disana?”


“Oh, disini jam 9 pagi. Aku mau pergi keliling sih cari makan. Kenapa? Kamu mau titip?”


“Aku titip baju bola bagaimana?”


“Hmm, b-bukan berarti aku me-menolaknya! Jangan salah tangkap! Terus, kamu mau baju apa?”


“Aku mau baju ‘The Red Devils’, ukuran Medium. Nanti aku bayar kalau kamu udah pulang.”


“O-Oh begitu, kamu bayar aku p-pakai apa?”


“PENGGUNAAN KALIMAT YOR! PENGGUNAAN KALIMAT!!! JANGAN MEMBUATKU SEOLAH-OLAH AKU MEMBELIMU!”


Han tertawa mendengarkan penggunaan kalimat dari Yoru itu, Yoru yang mendengar tertawa Han dari telpon itu hanya marah sebal. Yoru membalas Han lagi dengan ucapan-ucapannya itu.


“H-Hey! Jangan salah tangkap! Aku bilang kamu mau bayar itu pakai apa?”


Han langsung berakal tinggi di saat ini, walau Yoru adalah orang yang baik disukainya maupun menyukainya, tetapi kalau urusan uang, Han mengesampingkan perasaannya. Han selalu berpikir bahwa uang saat ini sedang tinggi harganya. Harga Poundsterling dengan Dollar terpaut 0.32 (yang berarti 1 Poundsterling adalah 1.32 Dollar).


“Semisal harga baju itu adalah 74.15 Poundsterling, maka aku harus membayar itu dengan harga 98 Dollar. Aku harus mempermainkan harga! Aku tunggu kurs 1 Dollar sama dengan 1 Poundsterling!”


Tapi ketika dia berpikir seperti itu, suara hatinya tiba-tiba keluar begitu saja.


“Han, itu kan orang yang kamu suka. Janganlah kau mempermainkan harga seperti itu. Kenapa kamu memanfaatkan hati perempuan itu?”


Tapi Han sudah mutlak dengan keputusannya!


“AKU AKAN MEMPERMAINKAN HARGA!”


Han terlihat brengsek disini, tapi sebenarnya dia sangat mengingat apa yang menjadi pedoman hidupnya. Menurut buku ‘Art of War’ dari Sun Tzu, melakukan pengamatan di situasi tertentu adalah kunci kemenangan yang mutlak.


Apa yang akan dilakukan Han adalah, menunggu harga Dollar dan Poundsterling menjadi rasio 1:1, jadi Han menunggu harga dollar itu sama dengan harga poundsterling.


“B-Baik, aku bayar nanti dengan menggunakan Dollar. Bagaimana Yor?”


“Hmm, baiklah. Oh Han, aku mau pergi ini. Nanti aku telpon lagi yaa. Bye-bye.”


“Hati-hati.”


Akhirnya Han menutup telpon itu, dan Han melanjutkan aktivitasnya bersama keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2