
Di pagi yang cerah kota Eiyuu, semua hal terlihat begitu baik-baik saja, tidak ada yang aneh dari kota itu. Burung-burung masih berkicau dan matahari terbit dari ufuk timur.
Namun, terlihat seorang perempuan yang semakin kebingungan atas hidupnya di pagi hari. Selama empat hari berturut-turut, dia tampak menangis.
Menangis tersedu-sedu, wajahnya yang begitu merah, dan hati yang hancur. Perempuan itu sudah tidak dapat menemukan dirinya lagi saat ini, dosa-dosa masa lalu yang selalu menghantui dirinya.
Dia tidak ingin melepaskan laki-laki yang begitu tulus mencintainya, namun semua itu harus habis ditelan oleh kegelapan yang berasal dari dirinya. Yaitu keputusasaan. Keputusasaan atas kepercayaan, keputusasaan atas kenangan, keputusasaan atas baik dan buruk, keputusasaan atas cinta, dan keputusasaan atas hidupnya.
Hatinya yang begitu sesak itu membuatnya memegang hati-nya dengan kedua tangannya, dia meletakkan lengan kirinya di atas matanya yang meneteskan air mata itu. Benar-benar pagi yang buruk untuk perempuan yang bernama Haruki.
“Mengapa aku harus menjalani ini terus ketika aku melihatnya? Terasa sakit! Sakit yang berasal dari perasaan, sakit yang berasal dari logika, sakit yang berasal dari cinta, sakit, sakit, sakit, sakit! Semua ini terasa sesak! Aku ingin berteriak! Aku sudah tidak tahan! Aku, Aku, Aku, Aku ingin seseorang datang menyelamatkanku!”
Haruki yang begitu putus asa menangis di atas ranjangnya dengan posisi yang sedang tertidur. Bagaimana tidak? Dia melihat dengan matanya sendiri ketika Han pergi bersama Maylene yang begitu anggun itu dan terlihat akrab, padahal sebenarnya juga tidak.
“Aku ingin merasakan itu! Aku ingin merasakan rasa cinta! Hanya dia! Hanya dia! Hanya senyumannya yang begitu tulus! Itu semua hilang! Hilang karena diriku!”
Haruki menggigit bantalnya dengan keras, rasa gigitannya seperti anjing bulldog yang ingin mengoyakkan daging yang diberikan tuannya.
Haruki benar-benar sedang kacau, dia selalu sendiri dari awal sampai sekarang. Benar-benar perempuan yang berjuang sendiri karena karmanya, dia yang di tengah kehidupan sekolahnya sudah mendapatkan teman laki-laki yang begitu baik, begitu ramah, begitu perhatian terhadapnya langsung hangus dalam waktu sekejap.
“Aku, Aku, Aku, Aku tidak ingin melakukan hal itu di reuni! Itu adalah hal tergila yang aku pernah lakukan selama ini! Aku benar-benar dibenci olehnya saat ini, padahal aku tidak ingin dibenci! Cukup! Cukup! Cukup! Cukup! Aku tidak tahan! Aku ingin menceritakannya apa yang sebenarnya terjadi!”
Haruki yang tiba-tiba berteriak dengan kencang itu benar-benar meneriakkan isi hatinya. Dia sudah hancur berkeping-keping saat ini, tidak ada yang dapat menolong dirinya karena Han yang sudah meninggalkan dirinya jauh-jauh saat ini.
Lalu, suara samar-samar ternginang di kepalanya, suara yang hangat itu membisikkan ke telinganya. Suara yang pernah diucapkan tiga tahun yang lalu, saat mereka berdua mulai menjadi teman dekat.
“Apapun masalahmu, tidak masalah kan untuk bercerita? Berceritalah kepadaku kalau kamu benar-benar terpukul, aku ingin menjadi samsak tinju luapan hatimu selama ini, karena aku adalah temanmu!”
“Iya, aku ta-tapi tidak akan bi-bisa melakukannya!”
Haruki yang mengingat suara itu hanya menggerutu dan menangis lagi. Dia sudah tidak memiliki seorang teman yang sangat mempercayainya. Banyak temannya hanya memanfaatkan dirinya, karena jabatannya yang begitu tinggi di sekolah saat itu dan dia adalah murid nomor satu di dalam akademis.
…
“Mister, saya ingin keluar dari Dewan Sekolah!”
__ADS_1
Dua tahun yang lalu, saat Haruki berada di kelas 3. Wajahnya yang begitu depresi itu dapat dipahami oleh Wakil Kepala Sekolah yang sedang duduk dan meminum teh. Berita bahwa Han yang dikucilkan seisi sekolah sudah menyebar luas bahkan sampai guru-guru pun mengetahui masalah itu.
Haruki hanya berharap, jika dia keluar dari jabatan ketua, maka semuanya akan berakhir. Tidak akan ada masalah lagi, Haruki dapat bercerita bebas kepada Han bahwa semua itu adalah kebalikan yang dia pernah ucapkan sebelum-sebelumnya.
“Yakin kah kamu? Mister tidak keberatan untuk mencopotmu dari ketua dewan sekolah jika kamu tidak keberatan.”
“Aku tidak kebe-.”
“SAYA KEBERATAN!”
Tiba-tiba, ada seseorang yang datang masuk ke dalam kantor wakil kepala sekolah dengan tidak sopan. Wajahnya yang begitu santai itu menggebrak pintu kantor itu dan memancing Haruki untuk memikirkan baik-baik tentang keputusannya dengan wajah dan suara yang datar.
“Haruki, kamu harus memikirkan keputusanmu! Benar begitu kan wakil kepala sekolah?!”
Wakil kepala sekolah itu hanya terpaksa menuruti pancingan dari [????], lalu wakil kepala sekolah hanya mengambil teh-nya lagi dan menasihati Haruki yang benar-benar kacau suasananya.
“Haruki, perhatikan teh ini. Teh ini kan masih hangat, itu sama seperti isi pikiranmu yang masih bimbang. Nanti jika teh ini sudah dingin, dan sama seperti isi kepalamu, baru kamu bilang kepada saya ya.”
Namun [????] datang mendekati Haruki yang sedang duduk dan membisikkan sebuah kalimat yang benar-benar dingin, suara yang menusuk baik telinga ataupun hatinya saat ini.
“Jangan berani-berani pergi dari jabatanmu ya. Jika kamu keluar, situasimu akan semakin kacau. Kamu akan dibenci oleh orang banyak di se-ko-lah.”
“Han, maafkan saya. Aku tidak dapat menceritakan hal ini kepadamu. Haruki saat ini, butuh pertolonganmu. Semoga kamu sadar.”
…
Haruki yang masih menangis itu tiba-tiba melihat telponnya dan mengingat beberapa kata yang berasal dari Naoto. Suara yang begitu dingin pada saat mereka berada di tempat reuni, di saat Haruki dibentak oleh Naoto karena apa yang Haruki lakukan kepada Han.
“Ok… apakah kamu mau menceritakanku dari awal?”
Haruki yang terpikirkan itu ingin menguatkan hatinya, dia ingin menelpon Naoto saat ini. Tangannya sudah berada di depan handphone-nya dan tinggal mengetik kepada Naoto,
“AKU TIDAK BISA! AKU TIDAK BISA MELAKUKANNYA!”
Tangan Haruki benar-benar membeku saat ingin mengetik nama dari Naoto. Haruki benar-benar tidak sanggup untuk melakukan itu, matanya sekarang kosong dan tidak dapat berkata-kata lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba, muncul isi pesan dari seseorang yang ingin mengajaknya pergi ke Xingxi Mall.
“Hey, kosong”
Begitulah tulisan yang ada di dalam handphone dari Haruki. Haruki pun membalas ajakan orang itu dan bersiap-siap untuk pergi.
…
“Apakah kita bisa mengakhiri ini? Aku sudah capek dengan permainan ini.”
Haruki yang menatap seseorang dengan wajah yang begitu tajam dan dingin itu dimunculkan olehnya. Haruki jelas-jelas sudah capek dengan semua ini. Namun, orang itu hanya menjawab Haruki dengan meminum kopi-nya dengan santai, kakinya diangkat satu di atas pahanya dan tangannya dilipat di badannya.
“Aku tidak berharap kamu akan memberitahukan kepada orang-orang tentang ini, Haru. Apakah kamu sadar, jika kamu mengatakan, maka-.”
“Cukup! Aku memohon kepadamu! Aku tidak ingin dia membenciku!”
Haruki yang berteriak itu dengan mata yang tertutup benar-benar mendalami perasaannya. Namun orang itu benar-benar mengesampingkan perasaan dari Haruki, dia hanya peduli satu hal.
Menghancurkan Han
“Kamu mau membocorkannya atau kehilangan teman-temanmu? Aku memberikanmu pilihan, Putri Tirani.”
Haruki semakin terdesak dan matanya penuh dengan air mata saat ini. Selama ini, Haruki tidak memiliki teman sama sekali karena julukan yang entah darimana itu dibuat oleh siapa. Namun setelah dia mengkhianati Han, dia memiliki teman-teman baru yang bersamanya.
Namun, apakah teman-temannya itu benar-benar temannya? Apakah teman-temannya itu setulus Han selama ini? Haruki benar-benar tidak merasakan tentang pertemanan itu.
“Apa yang kamu inginkan?! Apakah kita bisa menyudahi ini?!”
*BRAK*
Tiba-tiba, orang itu membentak Haruki yang berteriak dengan histeris itu memohon kepadanya. Dia memukul meja makan mereka berdua dan tatapannya yang tajam menatap Haruki. Mata yang dingin itu seperti mata yang dia terima selama di masa-masa SMA sebelum dia bertemu dengan Han.
“Apa! Kamu tidak bisa melakukannya?! Aku orang yang menaikkan reputasimu! Aku orang yang membuatmu memiliki teman di SMA, apakah ini caramu untuk berterima kasih kepadaku?! Kamu memiliki perasaan terhadapnya dan kamu berpura-pura membencinya?! Kamu kenapa tidak membelah hatinya menjadi dua saat dia reuni? Kamu memiliki banyak kesempatan yang ada, namun kamu tidak,tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak melakukannya! Kamu benar-benar masih mencintainya kan! Mengapa kamu tidak bisa menyayat hatinya?! Dia masih memikirkanmu! Dia tidak bisa lepas darimu dan kamu harusnya sadar! Permainkan dia! Benci dia! Siksa dia! Sampai dia tidak memiliki apa-apa di hidup! Apa kamu tidak bisa melakukannya? Aku ke-.”
“DIA UDAH BERSAMA PEREMPUAN LAIN!”
__ADS_1