Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 7: Pre-Reunion, Part 1


__ADS_3

Libur tengah semester pun telah usai, dengan serangkaian kejadian yang tidak pernah diharapkan oleh Han pada saat itu membuatnya menjadi bahan tertawaan teman-temannya yang berada di kampus itu.


“Gimana rasanya hidup kembali Han.”


“Han, gimana rasanya bertemu dewi langit?”


Hal-hal seperti itu membuatnya sangat tertekan, dia ingin pulang di hari pertamanya masuk selepas liburan kemarin. Tiba-tiba, ada seorang dosen masuk. Beliau adalah dosen yang sangat tinggi dan sangat stylish. Beliau selalu menggunakan sandal dan celana pendek saat ke kelas, dan karena gaya berpakaian beliau membuat 1 kampus berani memakai celana pendek dan sandal.


Beliau tiba-tiba melihat Han yang sedang pucat karena dia dibully seisi kelasnya membuat beliau menghampirinya, melihat Han dan bertanya sesuatu kepada Han.


“Han, kamu iblis atau manusia yang ada disini?”


“Ayolah Mr. Tsu! Mister jangan bully saya juga…”


Beliau adalah Mr. Tsu, dosen terbaik dalam dunia pertambangan di negara Asia dan merupakan suatu kehormatan bagi setiap murid untuk masuk ke kampus itu. Walaupun beliau adalah dosen yang paling terkemuka dan paling dikenal, namun ada satu sisi lain yang belum tentu diketahui oleh banyak orang.


“Jadi, sebelum kita memulai pelajaran, akan lebih baik jika saya mengatakan beberapa hal. Yang pertama, jika anda melamar anak perempuan saya, saya tidak minta kalian dapat GPA berapa! Yang saya akan tanyakan kepada kalian adalah ‘kamu bisa kerja atau tidak!’”


Han yang duduk bersebelahan dengan Jun dan Ryuu itu hanya menoleh terhadap sesama mereka. Mereka mulai sedikit tertawa dengan apa yang diucapkan oleh Mr. Tsu itu.


“Jadi, kita ga perlu dapat GPA tinggi kan?”


“Sepertinya begitu. Toh gurunya sendiri yang bilang seperti itu. Gimana Ryuu menurutmu?”


“Oh, aku tidak teralu mempedulikan itu sih. Aku kalau melamar anaknya sekarang bisa-bisa saja.”


Ketika Ryuu mengatakan seperti itu, semua kelas menoleh kepadanya, termasuk Mr. Tsu yang tiba-tiba matanya tegang mendengarkannya. Beliau pun pergi menuju Ryuu dan bertanya dengan nada yang penasaran.


“Penghasilanmu berapa memangnya dalam 1 bulan?”


“Yaa, sekitar $ 2000 ada sih. Mungkin bisa nambah lagi.”


Jun yang berada di samping Ryuu pun membalas ucapan Ryuu. Jun dengan ekspresi yang sungguh tegang itu pun mulai mengomeli Ryuu dengan berbagai macam omelan.


“Woi Ryuu, ga sepantasnya kau berbicara seperti itu! Kau jangan umbar kalau kau bisa memenuhi ekspetasi Mr. Tsu, karena Mr. Tsu akan-.”


Mr. Tsu pun membalas Ryuu dengan tertawa. Beliau semakin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ryuu yang penuh konfidensi itu.


“Ryuu, saya bangga kalau kamu bisa mencari uang di usia yang cukup muda. Cukup sebagai informasi saja, anak saya laki-laki.”


Leonne yang melihat dari jauh itu juga tertawa dengan terbahak-bahak. Dia tidak menyangka bahwa Ryuu akan dibodohi seperti ini oleh Mr. Tsu.


“AHAHAHAHAHA, Ryuu bodoh. Kamu ga paham Mr. Tsu suka mengerjai murid-muridnya.”


Ryuu yang mendengar Leonne berkata seperti itu pun membalas ucapannya dengan nada yang cuek.


“Daripada kamu sampai sekarang masih jomblo.”


“H-Hey, kamu kan juga jomblo Ryuu!!!”


Mr. Tsu pun mencela mereka berdua, dengan nada yang masih tertawa itu membalas mereka berdua dengan kebijaksanaan yang sangat tinggi.


“Kalau anak saya perempuan, mungkin kamu bisa masuk pertimbangan.”


“Oke-oke, sebagai informasi saja, kalian akan melalui Ujian Akhir Semester pada 2 bulan yang mendatang. Ingat, nilai tidak menentukan masa depan kalian, tapi kalian harus tetap belajar karena nilaimu menentukan kamu bisa sekolah ‘disana’ atau tidak.”


Han yang berada di kelas itu hanya terdiam saja, namun dalam hatinya dia tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha, makan tuh asuransi. Kamu asuransi aja butuh korban buat memancing orang, sekarang kena pancing kau, bodoh.”

__ADS_1


Kelas itu telah selesai, Jun mulai bertanya-tanya kepada Han karena dia tidak sengaja dapat masuk ke dalam grup mereka. Dalam arti, grup mereka mendadak terbentuk karena apa yang terjadi di Table Games itu.


“Han, kamu sejak kapan bisa mendapatkan 2 perempuan sekaligus? Kenapa kau bisa sesakti itu? Aku iri padamu. Kamu selalu bilang kalau kamu jomblo, tapi sekalinya kamu dapat kenapa bisa dua perempuan cantik pula.”


“Ha??? Kau pikir aku pacaran sama mereka? Kita juga baru aja ketemu. Jangan menyimpulkan yang aneh-aneh.”


Tapi sebenarnya, inilah isi hati Han.


“Aku tidak keberatan juga sih kalau aku bisa mendapatkan keduanya. Kamu iri kan Jun?”


Dan 2 bulan itu telah berlalu dengan kehidupan kampus yang cukup normal bagi mereka. Sesampainya di bulan Desember, dimana Ujian akhir itu dilaksanakan sudah mencapai hari terakhir, namun....


“AHHH, PELAJARAN APA-APAAN INI?!”


“Han, tenangkanlah dirimu. Kita juga mengalami hal yang sama.”


Jun yang menoleh kepada Han, berbisik kepadanya dengan tangan yang bergemetar membaca soal ujian.


“H-Han, kita belajar Kimia Dasar bukan hanya untuk dikerjai sama Mr. Tsu kan.”


“ORAAAA!!!!!!!!! WHAT’S WRONG WITH THIS QUESTION?!!!!!!”


Han seketika kaget melihat Alex yang berteriak secara tiba-tiba, dia tidak menyangka ada rasa frustasi yang begitu besar di ujian itu. Bagaimana tidak frustasi? Ujian mereka yang diberikan Mr. Tsu adalah ujian yang sangat tidak masuk di akal dan hanya konglomerat emas saja yang dapat menjawab pertanyaan ini. Soalnya hanya satu saja, jawaban hanya dalam 4 digit, dan nilai akhir adalah 100 jika benar dan 0 jika salah.


Pertanyaan yang terlampir di kertas itu adalah:


"Jika Emas memiliki massa atom sebesar 196.967 gram/molekul, berapakah harga emas per 1-gram pada hari ini?"


Han yang menatap lagi soal itu sedang merenung tentang pertanyaan itu.


“Kalau aku adalah Direktur Utama Tambang Emas, mungkin aku bisa menjawab itu. Tapi aku kan masih anak kuliahan! Aku harus menebak, daripada aku tidak menjawab pun bisa mendapatkan nilai 0.”


Keluarga Lin diketahui memiliki salah satu Perusahaan Tambang Mineral terbesar di negaranya dan banyak toko-toko emas menjadi pelanggan dari perusahaannya.


“Harusnya kalau menurut toko-toko emas itu, harganya di kisaran $ 69. Ya sudah, aku harus yakin dengan jawaban itu.”


Akhirnya Han menjawab angka $ 69. Ketika dia mengumpulkan jawabannya, dia dilirik oleh Mr. Tsu dan Mr. Tsu mulai mentertawakan Han. Han yang bingung dengan reaksi Mr. Tsu itu menanyakan alasan mengapa Mr. Tsu tertawa. Nadanya pun sangat sopan dan halus.


“M-Mister, kenapa Mister tertawa?”


“HAHAHAHAHA, Han, jawabanmu… jawabanmu harusnya bisa benar. Sayang, jawaban yang kamu tulis hanya terpaut 3 detik sebelum harga baru muncul. Kamu kasihan sekali! Nilaimu NOL. Sayang sekali Han, sayang sekali.”


Han yang kaget dengan jawaban Mr. Tsu itu mulai berteriak frustasi. Dia lalu keluar dari kelas dengan rasa frustasinya yang mendalam.


“KENAPA??? KENAPA WAKTU 3 DETIK ITU SANGAT KRUSIAL!”


Tidak hanya Han saja yang mendapatkan 0, tapi seisi kelas mendapatkan 0 karena waktu pengumpulan mereka sangat berpengaruh pada harga pasar emas itu. Walaupun angkanya terpaut dengan angka 0.01 saja, tetap saja itu membuat seisi kelas mendapatkan 0.


Setelah Ujian Akhir Semester itu selesai, Han ditelpon oleh temannya Wang. Han yang berada di rumah, dengan beban pikirannya itu sedang mengurus panda merahnya itu mendapatkan panggilan di handphonenya.


“Han! Aku besok ke Eiyuu! Ujianku juga sudah selesai!”


“Terus? Kamu minta aku yang jemput gitu?”


“Oh, tidak, aku pulang sama Long dan Mika. Yaa… ka-ka-kalau bisa… jemput kita besok bagaimana?”


“Minta orang tua kalian masing-masing lah, sejak kapan menjemput kalian menjadi tanggung jawabku?”


“Ayolah Han! Orang tua kita ini lagi kerja! Ya sudah kalau ga mau.”

__ADS_1


“Aku cuma bercanda kok, kamu pulang jam?”


“5 Sore, di Terminal 3.”


“Oke.”


Han langsung mengajak Ryuu untuk pergi ke Bandara Udara, namun


“Aku menolak!”


“Ha??? Kenapa kamu menolak?!”


“Aku, aku mau main game.”


“Ya sudah! Sana main game, aku tidak peduli juga.”


Keesokan harinya, Han yang seorang diri itu pergi ke bandara jam 5 sore, dia memutuskan untuk menunggu di tempat duduk lobby itu sampai mereka datang. Pesawatnya sebenarnya Air Yumeno, hanya saja…


“Ini kenapa Air Yumeno banyak sekali, harusnya aku tanya mereka pakai pesawat yang mana.”


Satu jam telah berlalu, tidak ada kabar dari mereka. Han yang capek menunggu itu mulai bermain handphone-nya itu. Dia bermain selama satu jam sampai baterainya habis, karena dia biasanya tidak mengisi baterai handphonenya selain saat dia tidur.


“Oh, sialan, aku tidak bawa charger-ku.”


Sekarang sudah jam 7 malam, Han mencari makan di restoran yang ada di bandara itu. Harga makanan disana pun mencapai $ 10. Han mau tidak mau harus membayar makanan itu, dia melihat menunya yang ada di restoran bandara itu semuanya harus pakai kartu kredit agar mendapatkan promo gratis.


“Kenapa harus pakai kartu kredit semua ini. Disini makanan mahal-mahal pula, lebih baik aku tidak makan daripada bayar mahal … tapi kalau aku tidak makan aku akan kelaparan. Ya sudah aku makan saja!”


Han melihat menu itu, terdapat Yoro Curry yang harganya $ 10. Mungkin hanya makanan itu yang cocok dengannya karena makanan lainnya mengandung rasa pedas, dimana Han tidak dapat makan makanan pedas.


“Pak, Yoro Curry 1!”


Han duduk di bangku restoran itu, tanpa adanya hiburan. 10 menit berlalu, dia akhirnya makan disana. Dia berpikir dengan terheran-heran, lidahnya pun terasa hambar mengingat teman-temannya tidak kunjung datang selama 2 jam.


“Mereka ini dimana sih? Apa mereka salah pesan tiket atau ada kecelakaan? Ahh sudahlah.”


Setelah dia makan, dia tiba-tiba tertidur di restoran bandara itu. Dia sungguh kelelahan di bandara itu menunggu teman-temannya yang tidak kunjung datang. Pegawai restoran itu tidak berani mengusirnya juga karena dia juga pelanggan. Raut wajahnya sungguh kelelahan.


Tiba-tiba, ada sosok perempuan yang menghampiri tempat duduk Han. Panjang rambutnya hanya sampai leher, tingginya juga sedang, jaket wol, dan syal yang menyelimuti lehernya. Dia yang melihat Han tertidur pun menghampiri tempat duduknya tanpa membangunkan Han.


“Pak, 1 ‘Dan Zai Noodles.’”


Perempuan itu duduk di depannya Han, dia melihat Han yang sedang tertidur kelelahan itu dengan mata yang sedikit kesal. Perempuan itu merenungkan siapa yang sedang ditunggu Han.


“A-Apakah kamu menungguku? Aku tidak memberitahu apa-apa tentang kepulanganku. Aku sudah tidak mau dengannya lagi. Ahh, betapa menyedihkannya dirimu Han.”


Perempuan itu mengeluarkan bolpen yang berada di tasnya dan menuliskan sepatah kata di kertas pembayaran Han yang berada di meja makannya.


“哀れな”


Yang berarti menyedihkan (Awarenai, dari Bahasa Jepang).


Perempuan itu masih merenung di depannya, lalu dia bergumam sendiri di depan Han yang sedang tertidur itu.


“Hey, apakah kau menderita selama ini? Apakah kau membenciku atas semua yang pernah aku lakukan saat di sekolah? Apakah kau tidak terima dengan perilakuku dulu?”


Dia lalu pergi dari meja Han, memberikan syal yang dia pakai ke tangan Han. Dia lalu berpamitan dengan Han yang masih tidur itu.


“Kamu bisa sakit kalau kamu tidak bangun-bangun, bodoh.”

__ADS_1


Perempuan itu meninggalkan bandara itu, dengan senyuman yang sangat dingin terlihat di pintu keluar bandara itu.


__ADS_2