Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 3, Chapter 20; Ready, Steady, Launch, Part 2


__ADS_3

Han juga memerintahkan seluruh teman-temannya untuk bersiap membidik, sedangkan dia tidak bersiap terlebih dahulu.


“Teman-temanku! Siap bidik mereka ketika kabut sudah selesai!”


Semua teman-teman di pasukan Han pun siap di posisi mereka masing-masing, mata mereka begitu tajam dan menunggu kabut itu habis dari medan pertempuran.


Kabut itu sudah pudar dan tidak ada kabut lagi yang mengganggu mereka semua. Kamado dan Miyuki yang sudah merayakan kemenangan mereka di kapal itu tiba-tiba membeku dan tidak dapat berkata-kata ketika melihat Han dan Maylene yang masih memungut jerami itu.


Han yang melihat mereka kaget itu pun menyapa mereka dengan wajah yang konyol dan menatap mereka dengan bodoh.


“Oh, halo semua. Hari yang baik bukan?”


Kamado yang pertama bereaksi itu bersama semua teman-temannya ingin menembakkan anak panah mereka. Kamado memerintahkan mereka semua untuk menembak crossbow mereka.


“TEMBAK!!!!!”


Namun tidak ada peluru yang tertembak, mereka pun melihat kaptennya dengan wajah yang putus asa.


“Kapten, anak panahnya…”


“Anak panahnya tadi kan sudah dipakai.”


Kamado menunduk dan memarahi mereka semua dengan nada yang penuh dengan emosi. Kamado tidak sadar bahwa dia sudah dipermainkan oleh Han selama berada di asap kabut.


“JANGAN BERCANDA! KALIAN SEMUA BODOH ATAU APA! AKU MAU KALIAN MENEMBAKKAN ANAK PANAHNYA! SEKARANG!”


Namun emosi Kamado tidak dapat diterima oleh semua teman-temannya. Akhirnya, teman-teman mereka pun turun dan keluar dari arena bermain.


“Ahh, Kapten bodoh! Dia punya mata atau tidak sih? Jelas-jelas kita tidak punya anak panah lagi.”


“Menyerah saja lah, tidak ada gunanya bertarung disini. Andai kaptenku sepintar kapten kapal pertama.”


Kamado yang begitu putus asa hanya berlutut dan meminta Han untuk menembak dirinya. Dia sudah tidak memiliki rekan dan mengangkat kedua tangannya dan membentuk gestur menyerah.


“A-A-Aku menyerah! Tolong tembak diriku.”


Han yang melihat Kamado menyerah itu meminta Emi untuk mengambil crossbow-nya dengan wajah yang begitu tenang.


“Emi, crossbow.”


Emi pun mengambil crossbow dan memberikannya kepada Han. Lalu Han mengucapkan beberapa kata sebelum Han menembakannya.


“Aku bukan Naruto atau Asta yang bisa mengurungkan niatku untuk menembakmu. Jadi, ucapkan selamat tinggal kepada uang $ 100.”


“Iy-.”


Anak panah itu sudah ditembakkan Han ke arah rompi Kamado sebelum Kamado menyelesaikan kata-katanya. Maylene pun marah terhadap Han karena Han tidak menunggu kata-kata wasiat dari Kamado. Matanya yang disipitkan itu pun mulai membual kepada Han yang tidak berperasaan untuk menembak Kamado.


“Hey, kamu harusnya mendengarkan dia dulu kenapa?”


Han lalu memasang wajah bercanda kepada Maylene yang sebal itu. Dia lalu tertawa di depan Maylene dan mengatakan alasannya yang logis.


“Buat apa coba? Kan dia yang minta.”


Tiba-tiba, di daerah timur dari kapal pertama, ada seseorang yang berteriak kencang terhadap kapal pertama. Siapa lagi kalau bukan kapten mereka, Miyuki.


“HAAAA???? CECE???!!!!!!!”


“MIYU?!!!!!!”


Iya, Maylene sebelumnya pernah mengatakan bahwa dia memiliki adik yang dia tinggal saat di Pirchard karena Maylene kehilangan kuncinya. Kebetulan saja, mereka berdua dipertemukan di danau itu.


“Kau kenal orang itu May?”


Ekspresi Maylene yang kaget itu membuat Han bertanya kepadanya dengan wajah yang begitu polosnya. Di saat mereka ingin menngembalikan jerami itu, Maylene berkata dengan nada yang sedikit gugup.

__ADS_1


“H-Han, itu a-a-adikku. O-Orang yang aku ti-tinggal kemarin di ho-hotel.”


“Oh begitu, salam kenal. Namaku Han.”


Han yang melihat adiknya itu melambaikan tangannya, namun respon dari Miyuki sekarang begitu tidak enak. Miyuki merasa bahwa Han telah mencuri Maylene dari tempat dimana Maylene jalan-jalan. Telinga Miyuki sudah tertutup untuk mendengarkan kebenaran, sehingga sekarang hanya ada rasa penuh dengan amarah. Miyuki menunjuk Han yang saat ini bersama Maylene dari atas kapalnya, dan air mata juga keluar dari matanya untuk menunjukkan rasa sayang untuk kakak perempuannya itu.


“KAU! KAU! KAU! KAU! KAU! APA YANG KAU LAKUKAN KEMARIN?! KAU MENCULIK CECEKU KAN!! JAWAB AKU, ORANG MESUM!”


Han tiba-tiba kebingungan ketika mendengar itu, karena dia tidak merasa dia menculik Maylene kemarin. Di saat semua teman-teman Han menghabisi teman-teman Miyuki di kapalnya karena mereka semua tidak berdaya, Hanya Han sendiri yang mulutnya terbuka penuh dengan kebingungan merespon adik dari Maylene yang murka itu.


“Dengarkan aku, kemarin Cece-mu yang lalai ini kehilangan kuncinya! Dia pergi ke tempatku untuk menginap, apakah itu ada masalah untukmu?!”


Maylene yang mendengarkan Han yang ingin menjelaskan situasi kemarin kepada Miyuki itu tiba-tiba memukul pundaknya ketika Han mengatakan seperti itu dengan wajah yang marah.


Iya, Maylene mendadak menjadi dirinya yang semula. Bukan seperti perempuan yang manis seperti sebelum-sebelumnya.


“WOI! JANGAN BIKIN DIA SALAH PAHAM! Gini, Miyu. cece kemarin kehilangan kunci kamar cece. Jadi cece dipinjamkan kamar sama pacar cece yang ada di sebelah ini biar cece dapat ti-.”


“WOI! Kamu bikin masalah ini semakin runyam May! Pemilihan kata-katamu jauh lebih buruk daripada aku!”


Ketika kedua orang itu sedang berdebat, Miyuki di sisi kapal satunya menggertakkan giginya dan mulai murka terhadap Han yang menjelaskan seperti itu. Matanya begitu tajam bagai pisau buah dan aura amarah itu terpancar dari dirinya.


“DASAR OTAK MESUM!!!!!!!!! KAU SUDAH BERBUAT APA TERHADAP CECEKU!!!! KAU TIDAK AKAN KUAMPU-.”


Tiba-tiba, Han menembakkan crossbow-nya dan mengenai rompi dari Miyuki di bagian dada kirinya. Han dengan ekspresi yang begitu datar itu melihat Miyuki yang marah-marah sendiri membuatnya lebih gampang untuk menembakkan anak panah itu.


“Yak kena, kamu keluar dari kapal ya sekarang. Aku tidak melakukan apa-apa ke cecemu! Kita beda kamar, tolong pahami kita ya.”


Maylene yang melihat Han itu hanya membeku dan kebingungan. Dia tidak menduga Han akan melakukan cara yang begitu kotornya untuk memenangkan pertarungan di kapal. Han yang ditanya seperti itu dari Maylene hanya menjawab dengan nada yang kecil dan merasa bersalah atas itu.


“Han, aku tidak tau kalo kamu bisa menjadi licik untuk saat ini.”


“Yaa, maafkan diriku. Nanti kamu jelaskan ke adikmu bagaimana?”


“I-I-Iya. Aku akan menjelaskannya nanti.”


Ketika masalah di kapal sudah selesai, ini adalah saat yang tepat untuk tim Han turun ke jalur darat untuk mendominasi pertarungan. Karena panah dari tim Han sekarang lebih dari cukup, mereka yakin mereka dapat mendominasi pertarungan di daratan.


“May, Emi, ikut aku! Kita akan turun ke daratan. Ray, kamu jaga kapal ini!”


“Baik!”


Han dengan nada yang begitu tegas itu membuat Maylene dan Emi turun ke daratan. Namun panggilan dari Sen membuat mereka bertiga berhenti sementara.


“Teman-teman, tidak ada orang yang pergi ke hutan lagi. Berwaspadalah!”


“Iya, kamu jaga tempatmu aja. Aku jaga tempatku, aku baru keluar dari kapal saat ini.”


Ketika mereka bertiga ingin menyentuh daratan, Han melihat kedua tim bertarung di depannya, Skenario 7 orang melawan 9 orang itu terlihat di depan mata Han yang juga terlihat bingung dengan strategi mereka itu.


“AKU INCAR KEPALA KAPTEN KAPAL PERTAMA!”


“TIDAK! AKU YANG AKAN MENGINCARNYA! BERTARUNG DI HUTAN ITU SANGAT SUSAH!”


Kedua tim itu yang ribut membuat Han, Maylene, dan Emi kebingungan. Emi hanya bertanya dengan Han yang begitu tenang dan tersenyum melihat mereka bertarung sendiri itu dengan lucunya.


“Han, apa yang kita lakukan saat ini?”


“Hmm, kamu telpon Sen untuk membawa teman-temannya yang di daratan untuk kemari. Ini akan selesai dalam waktu 2 menit. Kalian berdua duduklah.”


Emi dan Maylene mulai duduk menonton tingkah laku kedua tim yang saling berperang satu sama lain dengan wajah penuh kebingungan. Karena kebingungan itu, Emi meminta Sen untuk pergi ke dekat kapal untuk membantu Han yang ingin mempersiapkan senjatanya sebelum bermain itu.


“Sen, cepat kemari bersama teman-teman! Han butuh pertolongan.”


“Baik! 3 menit lagi kita akan sampai. Kita sudah membereskan masalah kita di hutan dan tidak ada gangguan lagi.”

__ADS_1


 


 


 


 


Di sisi lain Han sudah menyiapkan anak panah dan 2 crossbow-nya, dia mulai menembakkan masing-masing 8 anak panah dari crossbow dan menghabisi hampir seluruh lawannya.


*Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu\, Piu*


“Oh, terlihat gampang, mereka semua sudah tereliminasi dari medan perang.”


Han yang begitu santainya mengatakan beberapa kata dan membuat 15 orang keluar dari tempat bermain itu sekaligus karena mereka saling baku hantam juga di dalam medan pertempuran. Dua perempuan itu yang melihat aksi Han begitu kagum, mata mereka berbinar-binar dan Emi juga bertanya kepada Maylene tentang Han dengan nada yang histeris. Maylene yang membalas itu pun meneriaki Emi dengan wajah yang sebal dan menutup kedua matanya.


“Dia pacarmu kan! DIA PACARMU KAN! Aku begitu iri denganmu yang punya pacar seperti dia!”


“SUDAH KUBILANG, DIA BUKAN PACARKU!”


Pembicaraan di situ benar-benar mirip seperti ‘girls talk’, namun tempat dan waktunya tidak tepat untuk melakukan itu.Dari semua korban penembakkan Han, ada 1 orang yang berhasil menghindari panah Han, dia mulai tertawa ketika melihat Han yang begitu licik untuk memenangkan pertarungan itu. Dia merasa bahwa Han adalah orang yang pintar sekaligus licik saat ini, dan salah satu musuh yang paling berbahaya di tempat permainan itu.


“Perkenalkan, namaku Alder! Aku adalah kapten sesungguhnya dari tim kapal ketiga. Senang bertemu denganmu, orang licik! Aku akan menghabisimu dan menang!”


“Namaku bukan ‘orang licik’, bodoh! Namaku Han! Kapten sesungguhnya dari tim kapal ketiga.”


Mereka berdua yang saling melemparkan kalimat-kalimat provokasi itu tiba-tiba berhenti sejenak. Han yang melihat Sen sudah berada di belakang Alder itu tersenyum. Sen yang melihat Han itu hanya menjalankan tugasnya untuk menjadi seorang Assassin.


Han lalu tertawa melihat gerak gerik Sen yang hampir mirip seperti bebek yang berjalan di atas lumpur, begitu pelannya namun karena pelan itu membuat lawan tidak dapat mengetahui posisi Sen.


“Hahahahaha. Kau? Mau menghabisiku? Bagaimana caranya? Jelaskan ke aku.”


Ketika Han mentertawakan tekad dari Alder, Alder begitu marah dan geram melihat Han. Aura membunuhnya pun keluar, mirip seperti Haruki yang ingin membunuh Han saat itu. Han yang melihat intimidasi dari Alder membuatnya teringat akan sesuatu, namun bukan sesuatu yang positif. Han berbicara itu di dalam hatinya dengan wajah yang serius.


“Aura ini, benar-benar mirip dengan Haruki. Aura membunuhnya begitu tinggi dan tatapan mata yang tajam. Aku tidak mengenal orang ini, namun aku pasti menang!”


“DASAR BRENGSEK!!!! AKU AKAN MENGHABISIMU!”


“UWAHH!!!!! RASAKAN INI!”


Tiba-tiba Sen dari belakang berhasil mengayunkan pedangnya ke arah rompi dari Alder yang ingin menyerang Han yang menurutnya lengah itu. Alder sangat tidak menyangka bahwa dia sudah tamat berada di medan perang itu. Alder yang melihat Sen dari belakang dengan wajah yang tersenyum itu membuatnya sedikit sebal terhadap Han yang berada di depannya dengan tertawa terbahak-bahak.


“HAHAHAHAHAHA! Kau lengah! Harusnya kau sudah sadar jika Han tertawa seperti itu, ada sesuatu yang direncanakan, Alder!”


Tapi tiba-tiba, ekspresinya berubah karena mereka semua sadar bahwa ini hanyalah permainan.


“Da-Da-Dasar kau!!!!!!! Yah, tapi namanya juga permainan ya. Ada yang menang dan ada yang kalah.”


Han yang melihat Alder itu hanya menepuk kedua tangannya dan memberikan kalimat-kalimat yang penuh dengan rasa hormat kepadanya.


“Iya, dan kamu sudah bermain dengan baik. Cuma aku memang lebih pintar bermain permainan ini. Ketahuilah tempat ini namanya ‘Zona Tiga Kerajaan’, bukan ‘Zona Batalion’.”


Alder pun pergi dari arena bermain, dan permainan itu diselesaikan oleh tim Han selama 15 menit. Rekor pertandingan tercepat yang pernah terjadi di arena bermain itu.


Mereka semua berhasil mendapatkan $ 100 dari pihak penyelenggara dari kemenangan itu. Han mengucapkan rasa terima kasih yang besar terhadap mereka, dengan wajah yang tersenyum itu dia membungkukkan badan dan memberikan rasa hormat kepada mereka.


“Terima kasih teman-teman telah bermain bersama kita! Saya tidak akan melupakan keseruan di permainan ini!”


Namun mereka semua juga membungkukan badan mereka


“Kita juga berterima kasih kepadamu, Han! Ini sebuah pertemuan yang luar biasa dan bermain bersamamu!”


Mereka akhirnya berpisah, dan Han melanjutkan berkeliling bersama Maylene.


__ADS_1


 


 


__ADS_2