
Yuki yang merentangkan tangannya itu membuat burung hantu itu berhenti dan memijakkan kakinya pada tangan Yuki.
“Moku, udah lama aku tidak melihatmu.”
Maylene hanya bingung melihat burung hantu itu yang mendarat dengan sempurna dan mengelus-eluskan kepalanya di kepala Yuki. Dia bingung, apakah selera peliharaan keluarga Han ini sungguh aneh dan tidak lazim di mata orang banyak.
“Keluarga ini, kenapa mereka tidak memelihara anjing atau kucing aja.”
Lalu Han turun ke bawah dan melihat Maylene yang membawa Akaichi sekarang. Akaichi sudah menggoyangkan tubuhnya namun Maylene tidak ingin melepaskannya.
“May.”
“Iya Han? kenapa?”
“Itu pandanya…”
“Pandanya lucu!”
“Lepaskan, dia mau makan itu.”
Mata Maylene tiba-tiba putih, wajahnya pucat, lalu dia melepaskan panda itu ke taman. Setibanya di taman itu, Akaichi langsung menggigit bamboo yang ada.
“Oh, pandanya beringas sekali kalo melihat bamboo.”
“Iya, begitulah. Ayo pergi, May!”
“Ko, aku pinjam mobil. Koko pakai mobil satunya aja.”
Yuki tiba-tiba keluar rumah dan membawa mobil Han pergi jauh. Terpaksa Han mengambil mobil yang ada di garasi, dan terlihat mobil yang lebih mahal daripada mobil yang selalu dipakai Han. Maylene yang melihat banyaknya mobil Han itu menggodanya untuk menjadikan dirinya pacar dari Han.
“Hannnn, aku mau jadi pacarmu, kamu mau ga?”
“Kau mata rekening ya? Padahal rumah ya sama-sama besar.”
“Ayolah, aku cuma bercanda. Apalagi, kalo aku yang menjadi pacarmu, pasti ada orang di sana yang siap menerjangku.”
“Oh, begitu?”
Akhirnya Han mengambil kunci mobilnya, mobil yang ada di garasi itu adalah BMW 520i berwarna putih. Mobil itu benar-benar masih baru dan tidak pernah dipakai keluar sama sekali. Ini pertama kalinya Han memakai mobil itu, karena Han selalu memakai mobilnya yang sekarang dipakai adiknya itu.
“Naiklah”
Maylene akhirnya naik mobil itu, dia duduk di kursi yang sangat nyaman dan AC yang dingin. Han mengecangkan sabuk pengamannya dan siap keluar dari rumah. Ketika Han mengeluarkan mobilnya, terdapat suara yang sangat nyaring.
__ADS_1
Bagian belakang kiri mobil Han rupanya bergesekan dengan pintu garasi, sehingga ada beret di situ, hanya saja tidak panjang. Maylene tiba-tiba keluar dan melihat itu bersama Han, dia tiba-tiba mengelus beret mobil itu dan melihat Han dengan sinis.
“Mobil baru sudah beret.”
“Belum terbiasa. Ayo, masuk, aku ga mau buang-buang waktu.”
Han akhirnya kembali ke mobil bersama Maylene. Mereka akhirnya pergi dari rumah Han.
Sesaat mereka ada di jalan, Maylene tiba-tiba bercerita kepada Han dengan wajah dan nada yang cukup tenang. Tangannya memegang pahanya dan menundukkan kepalanya.
“S-S-Sebenarnya, Yoru memintaku ke rumahmu tadi. Dia khawatir-.”
“Kenapa? Aku bunuh diri tiba-tiba? Begitu?”
Han yang menjawab Maylene dengan wajah yang cukup bercanda itu membuat Maylene tertawa. Tangannya memegang pipinya untuk menutup wajahnya.
“HAHAHAHA, ya enggak lah. Tapi ngomong-ngomong apakah kalian sudah pacaran?”
“Belum, kenapa memangnya?”
“Yoru mengatakan seperti itu ke aku kemarin.”
“Kita belum pacaran.”
“Oh begitu, ya sudah. Hahahaha.”
Karena anak-anaknya malas membangun rumah disitu, mereka tidak ingin membayar arsitek ataupun menggambar dari kertas. Namun mereka membuat apartment sendiri.
“Sungguh konyol kan keluarga ini. Mereka punya tanah yang besar, tapi mereka memilih apartment dan tinggal disitu.”
“Sudahlah May, mengkritik mereka itu tidak baik. Mereka sendiri tidak dapat mendengarkan kita.”
Maylene akhirnya jalan bersama Han, dan banyak orang yang melihat mereka berdua dan iri. Mengapa orang seperti Han bisa berkencan dengan perempuan seperti Maylene.
“Beruntungnya laki-laki itu, bisa berpacaran dengan perempuan kelas atas.”
“Aku juga mau berpacaran dengan perempuan seperti itu.”
Ketika mereka berjalan menuju resepsionis untuk membeli tiket, tiba-tiba Haruki pun ada dan melihat kedua orang itu bersama. Haruki sangat kaget, karena Han terlihat seperti punya seorang pacar, walau sebenarnya tidak.
“H-H-HA??!!! S-S-Sejak kapan dia punya pacar?!”
Haruki pun menguntit mereka berdua sampai ke resepsionis. Lalu Haruki membeli kain untuk diikatkan pada mulutnya. Dia tidak ingin penyamarannya terlihat oleh Han maupun Maylene.
__ADS_1
“Hmmph! Sepertinya penyamaranku sukses! Si bodoh itu tidak akan dapat mengenalku jika aku seperti ini.”
Tiket itu adalah tiket untuk mengelilingi satu kompleks ‘Perfect House’. Apakah ‘Perfect House’ hanya 3 hektar? Hanya rumahnya saja itu! Rupanya masih banyak bangunan-bangunan yang berada di kompleks ‘Perfect House’! Jika ditotal secara keseluruhan, tempat itu ada 10 hektar! Masih ada kuil, tempat oleh-oleh, restoran dengan bintang 3, dan ada tempat koleksi vas-vas keramik. Mereka berdua mengunjungi semuanya dengan menaiki bus, dan Haruki menguntit mereka berdua.
“May, kita kemana dulu?”
“Hmm, kan mau tahun baru ini. Mending kita ke kuil dulu aja deh.”
“Ya… aku ikut kamu aja Han.”
Haruki yang mendengarkan mereka berdua dari belakang itu hanya berggumam sendiri di belakang. Dia tidak suka melihat Han dengan perempuan lain yang begitu akrab.
“K-K-K-Kau ngapain disitu! Itu, itu, itu, itu, itu harusnya posisiku! Dasar perempuan sok imut! Kau pikir kau lebih imut dariku?!”
Haruki tiba-tiba tersenyum jahat dan mengeluarkan pisau lipat yang selalu dia bawa di tas-nya itu. Namun ada seseorang yang melihat tingkah laku Haruki itu dan bertanya kepada Haruki dengan wajah yang sedikit ketakutan.
“No-Nona, apakah kau tak apa-apa?”
Namun suara itu tidak dapat didengar oleh Haruki sama sekali.
Setelah 2 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai ke kuil dan mulai melihat-lihat kuil itu. Kuil itu sangat besar, penuh dengan lampion-lampion kecil dan sebuah pagoda yang membentang ke langit.
“Han! Han! Ayo cepat pergi!”
“Sabar May! Kau akan jatuh lho!”
Ketika Maylene menaiki tangga itu, tiba-tiba dia terpeleset dan dia terjatuh. Han yang berada di belakang Maylene itu melihatnya terjatuh, tiba-tiba memegang tangan Maylene dan menariknya sehingga dia jatuh ke lantai.
“Kan sudah kubilang. Berhati-hatilah.”
Maylene yang diperlakukan seperti itu pun marah-marah kepada Han. Wajahnya memerah dan mulai berteriak-teriak kepada Han yang memperlakukannya seperti itu.
“HEY! KAU TIDAK BISA MEMPERLAKUKANKU DENGAN BAIK ATAU BAGAIMANA?! AKU INI ANAK ORANG KAYA!”
“Kan sudah kubilang untuk hati-hati. Masih bagus aku menggeretmu ke lantai daripada kamu jatuh dan ujung tangga itu mengenai tulang belakangmu. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku! Lagipula, kalau si ‘Shinigami’ ada disini, ceritanya akan berbeda, kau tau?!”
“Ha? Siapa si ‘Shinigami’? Emang dia seberbahaya itu?!”
“Dia adalah orang yang paling berbahaya kalau ada orang yang sedang terkena kecelakaan. Jadi aku tidak ingin kamu buta gara-gara kepeleset, kau tau?!”
Han mengulurkan tangannya kepada Maylene dan Maylene meraih tangannya. Dia lalu naik ke pagoda itu bersama Han. Di sisi lain, Haruki rupanya menyaksikan itu semua dan jengkel melihat perempuan itu.
“Bodohnya perempuan itu! Coba kalau itu aku, aku tidak mungkin jatuh konyol seperti itu!”
__ADS_1