
“HALOOOOOOO HAN!!!!!!”
Seseorang menampar kepala Han yang masih tertidur itu. Seketika Han langsung bangun karena kaget, siapa yang memukul kepalanya? Bagaimana mereka tau Han ada disana?
“Mika, kau brengsek!”
Long dan Wang yang telat itu menyusul ke arah Mika. Han yang lagi marah kepada mereka bertiga itu menanyakan apa yang terjadi.
“Woi, kalian bertiga! Aku harusnya menjemput kalian dari jam 5 kan? INI SUDAH JAM 9 DAN KALIAN BARU SAMPAI! APA-APAAN KALIAN BERTIGA INI!”
Mereka bertiga itu menjelaskan apa yang terjadi pada mereka bertiga kepada Han dengan nada yang sedikit bercanda, dan semua itu dimulai dari Long.
“Kau tau Han? Kita sebenarnya… salah beli tiket! Kita harusnya membeli tiket yang pulang jam 5, namun sayangnya maksud dari jam 5 itu adalah berangkatnya pesawat kita.”
“Yah, sebenarnya kita juga punya banyak waktu untuk belanja oleh-oleh buat kalian ini, benar begitu kan Wang?”
“Tapi apa kita sudah teralu jahat kepada Han, kita tidak mengabari Han sebelum kita berangkat?”
“HAHAHAHAHAHAHA!”
“Oi, kalian brengsek! Kalian bertiga hanya bercanda kan! Kenapa kalian tidak mengabariku tadi!”
Han yang sedang sebal itu mulai mengangkat tangannya ke atas, namun ada syal yang masih berada di tangannya. Mika, Wang, dan Long sendiri juga tidak tahu darimana syal itu.
“Huh? Syal? Syal milik siapa ini?”
“Tidak tau.”
Han melihat mejanya, ada 2 mangkok yang ada di mejanya. Benar-benar aneh bagi mereka berempat. Han pun bertanya kepada Mika yang pertama kali sampai di restoran dimana Han tidur.
“Kalian serius baru sampai?”
“Iya, kami baru saja sampai.”
“Barang-barangku tidak tercuri juga.”
Han melihat kertas pembayarannya, dia melihat ada tulisan itu dan bertanya kepada mereka bertiga lagi.
“Oi, kalian bertiga. Kalian tidak mengerjaiku kan? Apaan tulisan ini? Menyedihkan? Jangan bercanda kalian!”
“Kita baru sampai bodoh! Tanya Mika sama Wang sana! Baru 5 menit yang lalu mendarat juga!”
Han langsung mencari pelayan restoran itu, dia pun memanggil dan juga memesan teh hangat untuk teman-temannya.
“Pak, teh hangat 3.”
“Oke, kami proses dulu.”
“Ngomong-ngomong Pak, apakah ada yang duduk di meja ini selain saya?”
“Ada, dia perempuan, tidak teralu tinggi namun juga tidak teralu pendek, kulitnya putih, dan rambutnya pendek seleher. Kenapa Pak?”
Han langsung pucat, matanya mendadak putih dan kedua tangannya menutup telinganya. Dia merinding dan membuat ketiga temannya bingung seketika. Wang yang melihat reaksi Han itu bertanya kepada teman-temannya.
“A-A-Apakah itu Ha-.”
“Sudah! Jangan ucapkan namanya!”
“Biarkan dia begini dulu, nanti dia akan sedikit rileks.”
__ADS_1
Teh yang mereka pesan itu sudah datang, dan Han pun sudah ditenangkan oleh teman-temannya.
Sesaat mereka sedang istirahat di restoran itu, Mika mengatakan kepada Han bahwa setelah ini ada reuni Sekolah Menengah Atas, khususnya hanya kelas mereka saja.
“Oh, ya Han, sebenarnya 2 hari lagi ada reuni kelas kita. Temanya adalah ‘Christmas Dinner’.”
Jelas Han tidak tau, karena handphonenya
“O-Oh begitu yaa. B-Baguslah kalau begitu.”
Akhirnya setelah minum disana, mereka berempat pun pergi ke rumah mereka masing-masing setelah diantarkan oleh Han.
…
Keesokan harinya, Tobe mengajak teman-teman sekolahnya untuk berkumpul, Tobe menelpon ketiga temannya itu yang baru saja pulang dari luar negeri.
“Ayo Long, kita pergi!”
“Kalau Han pergi, aku pergi!”
Tobe menelpon teman keduanya, yaitu Wang.
“Ayo Wang, kita pergi.”
“Kalau Han pergi, aku pergi.”
Tobe pun yang sudah dibuat jengkel oleh kedua temannya, Dia lalu menelpon Mika, dengan nada yang sedikit marah dia menelponnya.
“Mika, ayo pergi!”
“Kal-.”
“Kalau Han pergi, aku pergi. Itu yang kau mau bilang kan?!”
“Han, kamu besok kosong ga?”
“Aku ada reuni sekolahan, kamu ga ada ta?”
“Ga ada sih, kalau siang kita pergi gimana? B-Besok kan Natal.”
“Boleh.”
“Yay! Kita memang mau kemana?”
“Ada restoran yang aku mau coba, gimana?”
‘Mmm, Mmm, boleh. Jam 12 berarti!”
Yoru sudah menutup telponnya, dan Han melihat handphonenya penuh dengan panggilan tidak terjawab. Han lalu menelpon Tobe karena dia merasa tidak enak.
“H-Halo Be. Kenapa?”
“AYO PERGI! MEREKA BERTIGA GA MAU PERGI KALAU KAMU GA JEMPUT MEREKA!”
“Ya, kamu yang jemput mereka aja lah. Mereka itu maunya dijemput, bukan karena mereka mau ada aku. Udah sana jemput kalau mau pergi, aku mau menghemat.”
Tobe langsung menutup telponnya dan dia benar-benar kesal dengan teman-temannya. Dia lalu menelpon ketiga temannya sekaligus di grup.
“WOI! KITA PERGI! AKU YANG JEMPUT!”
__ADS_1
“AYO!”
Tobe yang mendengar jawaban secepat itu dari ketiga temannya membuatnya heran.
“Kenapa mereka bisa memutuskan secepat ini? Gila benar mereka, mereka cuma butuh supir saja sebenarnya!”
Han yang sudah selesai dengan Tobe, menelpon Yoru kembali.
“Han!!!!”
“Yoru, kita pergi hari ini saja!”
“Aku juga mau mengatakan seperti itu tadi.”
Han cukup kaget mendengar jawaban Yoru, dia lalu memutuskan untuk bersiap-siap dan pergi.
“Kamu tunggu di stasiunmu yaa sekarang juga. Stasiunmu dimana?”
“Chinatown.”
Han menutup telponnya dan pergi dari rumahnya, dia pergi ke stasiun kereta ‘Dhorma’, yang merupakan stasiun terdekat dan terbesar di kota itu. Tempat stasiun itu hanya 20-meter dari gerbang rumah Han. Sesampainya di dalam stasiun, tidak ada orang sama sekali karena seperti yang diketahui sebelumnya bahwa yang mengetahui stasiun kereta itu hanyalah orang-orang yang ikut andil dalam proyek pembangungan kereta.
“Wow, sepinya. Aku ga membayangkan Yoru sudah biasa naik kereta dengan seorang diri.”
Hanya dalam waktu 3 menit, dia sudah masuk ke kereta dan keretanya sangat megah dan luas, tersedia beberapa tempat duduk yang ada disana, dan kereta itu dapat melaju dengan kecepatan 230 km/jam.
10 menit telah berlalu, Yoru yang nampaknya menunggu Han di lobby stasiun itu sedang duduk manis. Dia memakai bobble hat bewarna kuning dengan kaos merah dan rok berwarna hijau. Yoru benar-benar terlihat seperti pohon natal dan membuat Han tertawa terbahak-bahak saat dia melihat Yoru di dalam kereta.
Han lalu turun, dan Yoru terlihat kesal dengan Han karena pakaiannya terlihat rapi, tidak seperti biasanya. Han memakai kemeja merah dan celana panjang hitam. Dia melihat Han dengan tatapan yang sedikit mencurigakan.
“Kenapa kamu terlihat rapi?”
“Yaa... Hahahahha, setidaknya aku tidak terlihat seperti Pohon Natal berjalan.
“Kejamnya, aku cuma berpakaian seperti ini di depanmu, kau tau?”
Suara Yoru yang pelan itu didengar oleh Han, lalu Han menggodanya kembali.
“Haa? Apa? Aku tidak dengar.”
‘D-Diamlah, bodoh! Ayo kita pergi sekarang!”
Han yang melihat reaksi Yoru itu membuatnya berkata dalam hatinya.
“Yahh, sisi tsundere-nya keluar lagi.”
Mereka akhirnya masuk ke dalam kereta itu, dan Yoru menanyakan dimana mereka akan berhenti untuk pergi. Yoru yang duduk di sebelah Han itu menoleh kepada Han, membuat Han tidak mempedulikannya untuk saat itu.
“Hey, kita berhenti dimana nanti?”
“Stasiun Konoha.”
“Konoha? Kau pikir Naruto? Ini kehidupan nyata Han. Ya ampun.”
“Aku serius. Lihat ini.”
“HA????????”
Memang ada stasiun Konoha, stasiun itu terletak di daerah tengah kota. Di stasiun itu terdapat restoran yang sangat terkenal karena cukup artistik dari segi eksterior dan interiornya, makanannya sendiri sangat memuaskan. Ketika mereka berdua keluar dari stasiun itu, tepat di depan stasiun itu adalah tempat yang dimaksud Han.
__ADS_1