Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 3, Chapter 18; The Three Summit, Part 1


__ADS_3

Ketika Han ingin ke kamarnya untuk tidur, tiba-tiba handphone-nya bergetar di dalam kantong celananya. Han langsung mengambil handphone-nya dan memeriksa handphone-nya. Pada saat itu juga, Maylene dan Tobe yang berada di belakang Han karena kamar mereka berdampingan. Maylene bertanya kepada Han dengan wajah yang cukup bingung.


“Han? Siapa yang nelpon malam-malam ini?”


“Ini masih jam 10 di Eiyuu, jadi tidak bisa dibilang malam juga.”


“Kamu belum jawab pertanyaanku.”


Han yang melihat handphone-nya tiba-tiba bergemetar, wajahnya memucat dan tatapan matanya kosong. Han sedikit takut saat ini karena yang menelpon adalah


“Papa?”


Maylene yang bertanya itu kepada Han dengan mengintipkan matanya ke arah handphone milik Han. Tobe tiba-tiba menarik Maylene dan memintanya dengan tegas untuk menjauh dari Han terlebih dahulu.


“May, lebih baik kita pergi dulu. Jangan dekat-dekat.”


“Kenapa?! Kamu mau Han sendirian?! Kamu temannya bukan!”


“Bukan begitu May! Ini pasti berhubungan dengan apa yang terjadi di casino tadi!”


“Oh, begitu.”


Han akhirnya mengangkat telpon itu dan Papa Han mulai berbicara dengan nada yang rendah dan elegan. Tiba-tiba suaranya sangat dalam itu menusuk telinga Han di telpon, yang membuat Han semakin ketakutan dan merinding.


“Anakku.”


“I-I-I-Iya Pa?”


Maylene yang melihat Han yang merinding itu tiba-tiba bertanya kepada Tobe, apa yang terjadi dengan Han saat ini. Maylene tidak tahan melihat Han yang ketakutan, karena Maylene tidak suka melihat seseorang yang ketakutan di depannya.


“Han apakah baik-baik aja?”


“May, kejadian ini selalu terjadi setiap tahun. Tapi yang ini sepertinya lebih heboh. Tenang aja.”


“B-Baiklah.”


Melanjutkan telpon dari Papa Han, Papa Han bertanya kepada Han apa yang terjadi di casino pada malam itu.


“Kamu tadi menang apa?”


Han pun menjawab dengan lemas tentang apa yang dia menangkan tadi di casino itu.


“$ 110,000. Pa.”


“Oh bukan, maksud Papa yang ‘satunya’.”


“Oh, 52% itu?”


Papa Han tiba-tiba berubah ekspresi, wajahnya tiba-tiba senang dan membuat Han lega. Dia mulai memuji Han tentang pencapaiannya di casino itu dengan nada bicara yang bahagia.


“Wahahahaha! Papa bangga sama kamu! Walau kamu masih jomblo, tapi kamu bisa mencari uang sebanyak itu dalam 1 malam! Papa heran, kenapa perempuan-perempuan itu tidak mau sama kamu!”


“T-Terima kasih Pa.”


“Tapi, siapa yang kamu jadikan alat taruhan? Tobe? Ryuu? Atau Naoto?”

__ADS_1


Maylene dan Tobe yang mendengarkan itu tiba-tiba ketawa dari kejauhan dengan terbahak-bahak. Tangan mereka berdua terlipat dan diposisikan di dada mereka masing-masing itu mulai menggoyangkan tubuhnya karena mereka tidak mampu menahan tawa mereka.


“HAHAHAHAHAHAHAHAHA! AYO HAN BILANG SIAPA!”


“AHAHAHAHAHA! BILANG AJA KAMU KALI INI MAU MENJUAL SEORANG PEREMPUAN!”


Han yang merasa terganggu oleh suara mereka berdua itu pun membalas mereka dengan wajah yang sedikit sebal. Han membuat gestur ‘diam’ kepada mereka berdua.


“Shhh! Diam! Ada orang tidur di sebelah ini!”


Papa Han yang berhasil mendengarkan suara mereka berdua itu tiba-tiba mengubah nadanya kembali. Nadanya yang terdengar marah itu mulai bertanya lagi kepada Han dengan berteriak.


“ANAK IDIOT!!!!! KAMU MAU MENJUAL SEORANG PEREMPUAN DI CASINO?!!!!!!!”


“B-Bukan seperti itu Pa!”


“Sama Tobe juga kan?! Papa belikan tiket buat Papa dan Mama-nya si Tobe. Sekarang kamu minta passport-nya Papa dan Mama-nya perempuan yang kamu mau jual itu! CEPAT ATAU PAPA CORET DARI KARTU KELUARGA!”


“I-Iya Pa.”


“10 menit kamu laporan ke Papa ya! Kamu kalau ga laporan, Pa-”


“IYA IYA! AKU LAPOR HABIS INI!”


Han yang jengkel itu tiba-tiba menutup telpon-nya dan pergi berjalan menuju Maylene. Han menatap Maylene dengan tajam dan tanpa ekspresi di awalnya. Maylene yang ketakutan melihat ekspresi Han hanya lemas dan malu-malu. Maylene memalingkan wajahnya, mukanya memerah, dan mulai menggosokan kedua tangannya.


“H-Han, aku tidak ada perasaan kepadamu. T-T-Tapi jangan sedekat ini ju-juga.”


“May! Tolong! Bilang ke Papa dan Mama-mu untuk ke Lions Pore! Papaku minta nomor passport kedua orang tuamu! Tolong!”


Maylene yang awalnya malu-malu itu berubah ekspresi. Dia bertanya dengan wajah yang cukup heran.


“Ha?! Buat apa! Kau penguntit! Tidak akan kuberikan dalam waktu 1000 tahun!”


“Tolonglah! Aku memohon kepadamu!”


Maylene yang bersikap layaknya tuan putri itu di depan Han yang sudah memohon-mohon layaknya seorang penjilat di depannya. Melihat kedua orang itu sudah seperti orang yang tidak memiliki rumah dan makan yang memohon-mohon di depan istana kerajaan.


“May, berikan saja!”


Tobe yang menggelak itu membuat Maylene semakin jengkel terhadapnya.


“HA! JANGAN IKUT CAMPUR!”


“Bukan seperti itu! Papa Han akan memesankan tiket bisnis buat keluargamu, lalu keluargamu akan di-inapkan di ‘Three Trees Yacht Bay’, Hotel yang kamu tempati saat ini. Apalagi Han juga meminjamkanmu kamarnya. Tenang aja, Papa dan Mama-mu akan suka.”


Maylene tiba-tiba wajahnya berbinar-binar ketika Tobe menjelaskan itu kepada Maylene, raut wajahnya tiba-tiba senang dan terlihat manis di depan Han yang memohon.


“Han, berikanlah aku waktu sebentar. Aku mau telpon kedua orang tua yaa. Kamu… kamu… kamu tidak keberatan kan?”


“Tolong!”


Maylene akhirnya menelpon kepada Papa Maylene saat itu juga.


“May! Kamu dimana? Adikmu kamu tinggal di hotel! Kamu sudah gila?!”

__ADS_1


Papa Maylene yang jengkel terhadap Maylene itu pun dibalas oleh Maylene dengan nada yang gembira.


“Pa, May kehilangan kunci tadi! Tapi Pa, bisa tidak Papa fotokan passport-nya Papa dan Mama? Ini temanku butuh Papa dan Mama di Lions Pore besok. Bagaimana?”


“Temanmu?”


“Iya, Han namanya.”


Papa Maylene juga terkejut mendengarkan itu. Papa Maylene berteriak dengan kencang dan histeris karena Papa Maylene sendiri juga membaca berita yang baru saja keluar itu.


“HA?! Kau berteman dengan pemegang saham ‘The Red Devils’?! Kamu tanya sekarang nama marganya apa! Cepat!”


Maylene mengulurkan telpon-nya dari telinganya, dia bertanya kepada Han dengan wajah yang bingung karena reaksi Papa Maylene yang begitu histeris itu.


“H-Han, nama belakangmu apa?”


“Lin”


Maylene langsung menelpon Papa Maylene lagi dan memberitahukan nama marga dari Han.


“Lin, Pa.”


“SIAP! PAPA BESOK KE LIONS PORE!!! ORANG PENTING TIDAK BOLEH DILEWATKAN!”


“Ha?”


Maylene yang kebingungan dengan reaksi Papa-nya sendiri pun menutup telponnya dan memberikan nomor passport-nya kepada Han.


“Ini Han, nomornya.”


“Terima kasih May!”


“Kenapa Papaku bisa histeris ketika menyebutkan namamu? Apa ada yang salah?”


“Hmm, aku sendiri tidak tau.”


Malam itu juga, Papa Han sudah membelikan tiket untuk orang tua Maylene maupun Tobe. Di sisi lain, Han, Tobe, dan Maylene pergi ke kamar mereka masing-masing.


Namun terdapat masalah di kamar Han dan Tobe.


“Han.”


“Aku tau.”


Uang $ 200,000 itu berhamburan di seluruh kamar mereka. Uang yang mereka dapatkan saat di casino itu tidak dapat dibendung lagi di dalam tas dan sekarang sudah membeludak. Uang itu berceceran di ranjang, meja, hingga lantai kamar mereka berdua.


“Kau mau gimana? Bersihkan?”


“Aku malas. Tidur aja. Biarkan kondisi seperti ini.”


“Baiklah.”


Han yang sangat tidak peduli dengan isi kamar hotelnya itu menginjak uang-uang yang berserakan di kamar itu. Hasilnya, kedua orang itu tidur dengan uang dimana-mana.


 

__ADS_1


 


__ADS_2