
Mr. Tsu pun berbicara akhirnya di depan dan bertanya kepada Miko dengan wajah yang serius dan tajam.
“Miko, Han, kapan kalian membuka nilai kalian?”
Mereka berdua menjawab di tanggal yang sama, karena saat itu juga mereka berdua berada di villa untuk merayakan tahun baru. Dengan wajah yang sedikit penasaran, mereka menjawab pertanyaan Mr. Tsu itu.
“31 Desember, Mister…”
Lalu Mr. Tsu menghembuskan nafasnya dan menutup matanya. Tangannya yang berada di papan tulis itu benar-benar membuatnya terlihat seperti orang tua yang kelelahan.
“Kalian berdua, kenapa tidak check di tanggal 1 Januari? Saya update nilai itu khusus kalian berdua. Tapi yang lain tetap yaa, nilai kalian nol.”
Seisi kelas hanya terdiam sejenak dan menjawab Mr. Tsu dengan lemas.
“I-Iya…”
Han di sisi lain juga memeriksa nilainya di website kuliahnya, dan benar saja GPA-nya naik 0.1 dari sebelumnya. Nilainya sekarang adalah 3.34, dan itu membuat Han sedikit tersenyum dan memotret GPA-nya dan mengirimkan foto itu kepada Miko. Han juga menulis pesan dan ingin bertanya kepada Miko berapa nilainya sekarang.
“Hey, nilaimu berapa sekarang?”
Miko yang melihat pesan dari Han itu melihat Han dan tersenyum kepada Han yang melihat Mr. Tsu dengan wajah yang serius. Miko pun membalas pesan Han, lalu menutup handphone-nya.
“3.8!”
Mr. Tsu hanya berdiri di depan dengan gagah, dia mulai mengatakan beberapa kata sebelum menutup kelasnya. Karena kelas itu hanya permulaan saja, maka kelas itu hanya 10 menit saja.
“Kalian ingat ya, kuliah semakin kesini makin susah! Bersiap-siaplah, kalian semua!”
Namun seisi kelas hanya melihatnya dengan wajah yang menyedihkan, karena mereka semua tau jika Mr. Tsu akan mengerjai mereka semua.
Tidak terkecuali Jun dan Ryuu yang melihat Mr. Tsu dengan menapat sedih terhadap Mr. Tsu.
“Yahh, kita juga tau kalau kita dikerjai lagi oleh anda, Mister.”
Mr. Tsu pun pergi meninggalkan kelasnya dan kelas mereka telah selesai. Saatnya mereka semua pulang karena tidak ada guru lagi yang datang di kelasnya.
Han, Jun, dan Ryuu selesai berkemas-kemas dan siap keluar dari kelasnya. Namun di luar kelas mereka banyak orang yang melihat sebuah pemandangan yang tidak biasa. Ada seorang perempuan yang memakai bando kuning dengan memakai seraqgam sekolah dan rok sepanjang lututnya. Perempuan itu terlihat seperti menunggu seseorang saat ini, namun penampilannya benar-benar memancing perhatian.
Jun yang melihat perempuan itu jelas kenal dengannya, wajah Jun yang awalnya biasa-biasa saja tiba-tiba sedikit ketakutan dan berlari ke dalam kelas.
“Oh, itu Jun kah tadi?”
Maylene yang bertanya seperti itu dengan wajah yang heran pun membalikkan pandangannya lagi ke arah handphone-nya. Dia mencolokkan headphone-nya dan mulai bernyanyi sendiri di depan teman-teman Han yang berada di depan melihat Maylene.
“Meskipun ku berharap sekali dan kedua kalinya
Ada hal yang tak bisa ku ubah
Meskipun ku berharap ketiga dan keempat kalinya
Hal itu hanya membuat diriku semakin menyedihkan
Tolong buatlah perasaanku ini tertidur.”
(Negai, Sumika)
…
“WOI HAN!!!!!!!!!! BAHAYA! BAHAYA!”
Jun yang berlari menuju Han yang sedang bersama Ryuu, Miko, dan Leonne di dalam itu tiba-tiba berhenti bermain sejenak. Mereka berempat bingung dengan Jun saat ini, mengapa dia berteriak dengan kencang dan ketakutan. Miko merasa Jun sudah mengganggu mereka bermain, dia mulai mengomeli Jun yang ada disana.
“Jun, berisik! Kita lagi main ini, bisa kau kecilkan suaramu?”
__ADS_1
Namun Han berdiri, dia bertanya kepada Jun yang ketakutan itu. Dengan wajah yang datar dia bertanya dan memegang pundak dari Jun.
“Wahai temanku, kamu bukan impostor kan?”
“BUKAN BODOH! KAU TAU, DI DEPAN KAU SUDAH DITUNGGU SAMA PEREMPUAN BERBANDO KUNING! SI PENGACAU DATANG KE KAMPUS!”
Han dan Ryuu pun membeku sejenak.
Mereka tidak habis pikir.
Mengapa Maylene berada di kampusnya, dan apa niat Maylene?
Han dan Ryuu pun berteriak di dalam kelas dengan histeris. Leonne pun menghentikan game-nya dan berusaha menenangkan Han yang berteriak dengan kencang. Han menjambak rambutnya sendiri dengan keras, Ryuu pun sedikit paranoid dengan berjongkok dan menutup kedua telinganya. Mereka benar-benar takut dengan penampakan Maylene saat ini.
“TIDAK MUNGKIN! TIDAK MUNGKIN! KENAPA PEREMPUAN ITU DI SEKOLAH KITA! INI BELUM JADWALNYA, BODOH!”
“H-Han, ceritakan kepadaku. Ada apa memangnya? Kenapa… Ryuu juga ketakutan?”
“Ahh, aku tidak mau menemuinya. Perempuan jahat yang berada di depan itu benar-benar membuatku takut. Han, pergilah ke luar.”
…
Ada memori saat di Lions Pore mengapa Ryuu begitu takut bertemu dengan Maylene saat ini.
Pada saat mereka berempat makan malam di Takashimaya Mall, mereka memilih makanan ala Prancis.
“Aku mau makan di ‘le passionné’!”
Sebenarnya bukan mereka yang memilih, namun Maylene itu sendiri. Mengapa? Karena Maylene sendiri adalah langganan restoran itu sejak umur 8 tahun.
Karena mereka laki-laki, mereka sadar diri bahwa mereka tidak dapat melawan perintah perempuan. Mereka mengiyakan ajakan Maylene dan pergi ke ‘le passionné’, sebuah tempat makan yang begitu mewah dan penuh dengan perhiasan-perhiasan. Ryuu yang melihat segala kemewahan itu hanya menatap restoran itu dengan kosong dan berkata kepada Jun yang juga kosong.
“Oi, ini masakan mahal! Uang berapa yang bakal keluar!”
“Ikuti aja kata Maylene. Perempuan selalu menang disini.”
“Brengsek! Makanan apa ini!”
“BLEHHHHHH!”
Ryuu pun muntah, muntahan itu begitu banyak berserakan di lantai restoran itu. Han yang melihat Ryuu muntah itu juga ikut muntah dan mereka berdua izin untuk kembali ke hotel lebih dulu.
Sesaat di hotel, Ryuu menyadari bahwa dia kehilangan 3-kilogram karena muntah. Ryuu pun mengajak Han makan di mall yang berada di hotel untuk mengembalikkan nafsu makannya itu.
“Aku takut sama perempuan itu! Asli! Aku bisa mati muda! Kenapa Han tidak apa-apa ketika menghadapi perempuan itu?!”
Ryuu berpikir, saat ini hanya Han sendiri yang bisa menjinakkan Maylene yang beringas itu.
…
Han langsung berlari ke arah luar kelas, ketika Maylene masih bernyanyi dan menarik perhatian kepada semua orang yang melihat Maylene bernyanyi. Maylene benar-benar seperti seorang idol yang tampil gratis di depan semua teman-teman Han.
Maylene yang melihat Han tiba-tiba menurunkan headphone-nya, dia berteriak dengan penuh kegembiraan dan melambaikan tangannya ke arah Han.
“HAN!!!!!!!!!! AYO KITA PER-.”
“WOI BODOOOOOOOH!!!!! KAU KENAPA ADA DI SINI! KAU BENAR-BENAR MEMANCING PERHATIAN MEREKA SEMUA! AKU ANTAR KAU PULANG! CEPAT PULANG!”
Han benar-benar berteriak dengan kencang ke arah Maylene, dia benar-benar tidak habis pikir Maylene ada di kampusnya sekarang. Matanya benar-benar mengekspresikan kemarahan namun juga penuh dengan candaan, tangannya yang menunjuk ke arah Maylene dengan rasa kaget yang tinggi benar-benar membuat Maylene mengerutkan wajahnya. Dia memalingkan wajahnya dan bertindak seperti ratu yang sedang direndahkan oleh prajuritnya.
“Mouu, aku sudah baik kesini. Kita kan ada-.”
“Ada apa ini? Eh ada si Lene! Kau ngapain disini?”
Leonne dan Miko juga ikut keluar karena Han yang tiba-tiba keluar, dan sepertinya Leonne mengenal Maylene. Leonne tiba-tiba berlari ke arah Maylene dan menghampirinya dengan sukacita.
Tapi Han semakin takut melihat ini, dua perempuan yang sering Han bully rupanya mengenal satu sama lain.
__ADS_1
“Oh, Leo!!!! Aku tidak tau kamu di kampus ini!”
“Kamu ada perlu apa emangnya?”
“Aku menunggumu, bodoh!”
Leonne yang bertanya kepada Maylene itu membuat Maylene menunjuk tangannya ke arah Han yang masih kaget itu. Semua orang yang menyaksikan Maylene menunjuk ke arah Han hanya terkejut. Wajah Maylene yang manis itu benar-benar menyudutkan Han saat ini.
“HAAAAA????? HAN SUDAH PUNYA??”
“Bu-Bukan kok. Dia bukan pacarku! Se-Sejak kapan kita pacaran, be-benar kan?”
Han benar-benar tidak ada pilihan saat ini, tidak ada Jun maupun Ryuu karena mereka berdua tidak ingin bertemu dengan Maylene saat ini. Han begitu bergetar dan menoleh ke arah Miko seperti robot, berharap Miko akan menolongnya.
“Mi-Miko, to-tolonglah aku! Ada perempuan sa-sakit di de-depan-.”
“AKU MINTA MAAF!”
Miko pun menutup matanya dan berteriak, dia terlihat bingung dan berlari ke kelasnya dengan mendorong pintu kelasnya. Han pun membeku di tempatnya saat ini, tidak ada orang yang membelanya dari Maylene. Dia menangis di dalam hati saat ini, karena sepupu terbaiknya sudah meninggalkannya.
“Kenapa hidupku begini yaa.”
Maylene dengan polosnya bertanya kepada Han saat ini, dia sudah bosan menunggu karena Han berdiri membeku disana. Dia terlihat marah dan menarik tangan Han dan membawa Han ke arah Mobilnya.
“Han! Ayo kamu harus bersiap-siap! Kita kan harus ke acara keluargamu!”
Semua orang yang mendengarkan itu bingung, termasuk Leonne yang ada disana. Leonne pun bertanya kepada Maylene yang membawa Han pergi dengan wajah yang sedih.
“Lene, kamu tidak ikut acara kita?”
“Ma-Maafkan aku Leo! Tahun ini sepertinya tidak bisa.”
Leonne pun meneteskan air matanya, namun dia terlihat bahagia karena Han tidak menyedihkan seperti yang dilihatnya sebelum-sebelumnya.
Han di sisi lain menahan Maylene yang liat itu, dia mengatakan dengan wajah yang datar kepada Maylene yang sangat antusias itu.
“Oi, kamu tau kan Festival Lunar baru diadakan lusa? Acara keluargaku itu besok, kau bodoh!”
Maylene pun terdiam sejenak dan tertawa malu di depan Han yang dia tarik dari belakang. Dia mulai berkeringat dan bertanya dengan nada yang tinggi.
“Ja-Jadi, aku kesini buat apa yaa?”
“Ya ga tau lah, salahmu sendiri datang ke kampusku. Sana pulang sendiri naik kereta!”
Ketika Han mengatakan seperti itu, semua orang menatap Han dengan wajah yang sedikit jahat dan mengintimidasi. Ini adalah keuntungan tersendiri untuk Maylene agar dia bisa memohon untuk dipulangkan Han. wajahnya yang begitu percaya diri menoleh ke arah Han yang sudah terlanjur sebal itu.
“Hm-Hm.”
Han pun mengiyakan permintaan Maylene, dia membukakan pintu mobilnya dan pulang bersama Maylene.
…
Di dalam kelas, Miko yang kebingungan ketika melihat Maylene mulai bertanya kepada Ryuu yang sudah tidak takut lagi karena Maylene sudah pergi. Wajahnya yang bingung itu dilihat oleh Ryuu dan menebak dengan santai apa yang ditanya oleh Miko.
“Perempuan itu? Apa hubungannya dengan Han?”
“Iya, hubungannya apa Ryuu?”
Ryuu menghembuskan nafasnya dan tertawa sejenak, dia menjawab pertanyaan Miko dengan jujur dan meminta Miko untuk tidak khawatir.
“Hahahahaha, Miko, itu cuma pacar palsu. Tenang aja, kamu tidak perlu khawatir.”
Namun Miko juga membeku di tempat, karena dia tidak menduga Han akan menyewa pacar untuk Festival Lunar ke depannya. Miko bergemetar dengan raut wajah yang sedikit cemas dengan Han nanti.
“Perempuan seperti itu… apakah Han akan baik-baik saja nanti di Festival Lunar?”
__ADS_1