Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 6: Fate Seeker Messed Up, Part 3


__ADS_3

“A-a-a-a-a-aku berhasil. Aku sekarang bahagia. Orang Pintar! Aku merasa bahagia sekarang! Apa perasaan ini?! Bagaimana caramu menjelaskan ini!”


Chen yang mendengar ucapan Tobe itu, menjawab dengan nada yang santai. Matanya sedikit menjauh dari muka Tobe dan menjelaskan fenomena kebahagiaan itu.


“Dengarkan aku, wahai pengikutku. Kamu harus memahami ketika kamu memutuskan orang untuk kebahagiaan, kamu harus mengorbankan yang busuk. Ketika terdapat sebuah perhitungan yang tidak dapat kamu ubah, kamu harus mencari perhitungan baru. Inilah kebaikan takdir, semoga takdir baik menyertaimu selalu!”


Ryuu yang dari awal sudah sangat tegang dan ketakutan, mulai bertanya kepada Han mengenai Pembawa Takdir tersebut.


“Apakah dia serius dapat membawakan takdir baik?”


Han yang melihat Tobe bertingkah laku seperti itu, sudah kehabisan kata-kata dan menjelaskan sesuatu ke Ryuu.


“Kamu tau, aku pernah diberkati seperti itu. Hasilnya? Satu kota menganggapku iblis, mungkin sampai sekarang.”


Wajah Han yang sudah pucat itu, pergi dari tempat Stormcup Coffee dengan menutup mukanya. Ryuu pun menyusulnya dengan wajah yang masih pucat karena setelah melihat Chen yang menampakkan dirinya dengan sangat mengerikan itu. Mereka berdua meninggalkan Tobe dengan Chen berdua disana.


Di sisi lain, Maylene tiba-tiba menangis histeris dan wajahnya penuh dengan air mata. Dia menelpon Yoru dengan harapan Yoru akan mendengarkannya. Ketika Yoru mendengarkannya, hanya suara tangisan dari Maylene. Suaranya tiba-tiba serak, sehingga Yoru sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada Maylene.


“M-M-May, kamu kenapa menangis. Tenang, tenang, aku mendengarkanmu kok.”


“A-a-a-aku ti-ti-tiba-ti-ti-tiba diputuskan Be-Be-Tobe t-t-tanpa s-se-sebab.”


Yoru pun paham, apa yang harus dilakukan


Mengajak pergi Han, dan memintanya untuk menjelaskan semuanya.



Setelah Han dan Ryuu pergi dari Stormcup Coffee, mereka sebenarnya ingin pulang karena pengalaman yang cukup traumatik itu. Ryuu tidak pernah menduga ada orang yang seperti itu dan berani untuk menunjukkan aibnya. Wajahnya yang masih pucat itu pun menanyakkan ke Han, mengapa dia bisa bersikap cukup santai ketika dia melihat Chen.


“K-kau kenapa bi-bisa t-tahan de-dengan-nya?”


“Ryuu, aku di dalam hati sendiri ju-ju-juga ke-ketakutan sebenarnya. A-aku ha-hanya pakai to-topeng ta-tadi.”


Tangan Han yang memegang setir itu juga bergemetar, matanya melotot tajam, dan giginya bergetar. Dia bisa menunjukkan sifat aslinya jika dia tidak berada di tempat umum. Mereka berdua sedang ketakutan saat perjalanan pulang, berharap Chen tidak akan menemui mereka lagi.


“Mau pulang?”


“Iya, pulang aja.”


Tiba-tiba ada telpon dari handphone Han, Ryuu yang melihat itu bertanya kepada Han. Dia mulai curiga karena selama ini Han tidak pernah bercerita apa-apa kepada Ryuu. Nadanya yang masih lemas itu tetap terdengar di telinga Han yang masih ketakutan.


“Yoru, siapa Yoru ini?”


Han yang mendengar Ryuu itu langsung mengangkat telpon dari Yoru, berhubung mobil saat ini sudah canggih dimana mobil dan handphone bisa terhubung. Han menyentuh layar mobilnya itu dan menghiraukan Ryuu.


“Ha-ha-halo Yoru, k-kenapa tiba-tiba ka-kamu nelpon?”


Yoru yang sedang berada di kamarnya, berbicara dengan Han dengan nada yang sangat kecil. Karena nada yang kecil itu membuat Han tidak dapat mendengarnya, ditambah dengan kondisinya yang sedang ketakutan.


“A-a-ayo per-pergi.”


“Haa? Apa?”


Yoru langsung menaikkan nada berbicaranya, dia tiba-tiba merasa sebal dan mulai menunjukkan sisi tsundere-nya itu.


“Pokoknya kita pergi sekarang! Kita ketemu di Table Game di daerah tengah. Kau paham?!”


“I-Iya… aku mengerti.”


Yoru menutup telponnya dan membawa Maylene pergi dengan paksa. Mereka berdua langsung ke stasiun terdekat.


“May! Ayo kita keluar!”


“K-ke-kenapa tiba-tiba Yor?”


“Udah kamu ikut aja! Ga usah komplain!”


Di sisi lain, Han yang sudah lega itu ditanya kembali oleh Ryuu. Dia masih bingung dengan suara perempuan itu yang menelpon Han. Han langsung membalas Ryuu, walau dia masih pucat pada awalnya.


“Oi, Yoru itu siapa brengsek!”


“O-oh, dia teman baruku. Kita baru bertemu belakangan ini.”


“Oh, bukan pacar barumu?”


“Bukan, kita baru ketemu kemarin. Kenapa kau bisa menyimpulkan dia pacarku? Kau nanti lihat aja dia seperti apa.”


“Aku ga punya pilihan lagi sekarang, aku ikut kamu juga kan.”

__ADS_1


“Ya kalau kamu tidak penasaran dengannya, kamu turun aja dari sini aku ga keberatan.”


Suasana pun mulai cair di mobil Han saat itu, mereka sudah tidak ketakutan seperti di awal-awal tadi.


Setibanya di Table Game, mereka melihat Yoru dan Maylene yang berada di ruangan khusus. Ruangan itu hanya menyediakan bantal duduk dan meja, tidak ada kursi sama sekali dan mejanya sendiri tidaklah tinggi juga. Han kaget melihat Maylene yang pipinya sangat merah dan matanya masih berkaca-kaca. Yoru yang melihat itu juga sedang terlihat sebal menatap Han. Ryuu yang melihat situasi itu juga merasa tegang.


“Ini padahal hanya 2 perempuan dan 1 laki-laki, kenapa aku yang tegang. Sebentar, itu Maylene kan? Sudah 3 hari terakhir aku bertemu dengannya.”


Han yang duduk dengan santainya, melihat Yoru yang lagi sebal itu mulai menanyakan beberapa hal.


“Yoru, kenapa Maylene disini? Kenapa dia menangis?”


Sebenarnya, Han sendiri sudah tau masalahnya dimana dan dia mulai merenungkan sebelum dia berbicara. Tidak mungkin dia langsung berbicara dengan santainya.


“Oh, tadi ada Pembawa Takdir. Dia menyarankan Tobe untuk memutuskanmu sepihak dan dia bahagia sekarang. TIDAK! TIDAK! HAN! BERPIKIRLAH DENGAN JERNIH DAN SEHAT! DI DEPANMU ADA PEREMPUAN YANG CANTIK SEDANG MENANGIS, TEMANNYA YANG SEHARUSNYA LEBIH CANTIK SAAT INI SEDANG SEBAL DENGAN APA YANG TERJADI!”


Yoru yang melirik Ryuu, dengan tatapan tajamnya yang penuh intimidasi membuat Ryuu cukup gugup. Ryuu mengalami ketakutan yang sama kembali ketika dia bertemu dengan Chen.


“Siapa laki-laki yang ada di sebelahmu? Pacarmu?”


Han mulai bingung dengan Yoru itu mulai menjelaskan kepadanya, dia menghembuskan nafas dari stress yang dia alami sebelumnya.


“Ayolah, dia sahabatku. Sejak kapan aku menyimpang? Aku masih normal.”


Tiba-tiba saja Yoru yang ekspresinya sangat dingin itu berubah menjadi sangat ramah. Ryuu yang melihat perubahan ekspresi dari Yoru pun tidak membuatnya tetap ketakutan.


“Halo, aku Yoru!”


“O-o-oh, s-sal-salam ke-kenal. A-Aku Ryuu.”


Akhirnya tensi yang ada disitu pun mulai lentur, tetapi Maylene masih saja menangis. Ryuu yang menyapa Maylene itu tidak dianggap oleh Maylene karena dia masih larut dalam emosi.


“H-H-Halo Maylene, se-senang bertemu k-kembali.”


“Kenapa dia menghiraukanku… aku berusaha bersikap baik padahal. Aku juga tau permasalahannya dimana ini.”


Yoru yang mendengar Ryuu menyapa Maylene itu mulai bertanya kepada Ryuu.


“Kamu kenal dia?”


“I-Iya. Kita pernah bertemu di pegunungan 3 hari yang la-lalu.”


Han yang masih melihat Maylene itu mulai bertanya kepada Maylene. Dia mengambil tisu dan memberikannya kepada May. Dia tidak mungkin mengusapnya karena Yoru ada disana, dan Yoru dapat bertindak sangat mengerikan jika Han melakukan itu.


“May, usap air matamu pakai ini. Kamu mengapa bisa menangis seperti ini.”


Yoru yang sedang melihat Han, mulai menanyakan pertanyaan dengan nada yang sangat mengintimidasi lagi. Dia mengambil alat tes, yaitu alat tes kebohongan yang ada di tempat itu. Jika orang itu berbohong, maka dia akan tersetrum seketika. Yoru mengulurkan tangannya dan memakaikan alat itu di tangan Han. Han yang melihat tingkah laku Yoru pun merasa terganggu. Dia mulai bertanya kepada Yoru, apakah dia tidak dapat mempercayainya atau tidak.


“Ne, Yoru, kamu tidak mempercayaiku? Aku orang yang tidak bisa bohong, kau tau?”


“Hmm, aku hanya mengantisipasi ‘kebohongan putih’ yang bakal kamu ucapkan. Ingat, semua yang kamu ucapkan harus nyata adanya!”


“Kamu tidak akan percaya, tapi aku tidak akan bohong, kau tau!”


Yoru mulai menanyakan pertanyaan kepada Han, sambil menatap alat deteksi kebohongan itu.


“Kamu memberitahu Tobe tentang kemarin?”


“Tidak”


Alatnya tidak menyetrum Han.


“Apa kamu mengetahui apa yang terjadi saat ini?”


“Aku tau.”


Alatnya masih tidak menyetrum Han. Yoru yang mulai jengkel pun semakin membara, dia ingin menanyakan Han secara rinci tentang apa yang terjadi di hari ini.


“Ceritakan apa yang terjadi tadi! Sekarang juga!”


“Tadi, kita ada di Stormcup Coffee. Tobe bimbang apa dia ingin memutuskan Maylene atau tidak. Kita berdua sudah berusaha membuatnya untuk berpikir ulang, tapi-.”


Ryuu yang masih ketakutan mulai berteriak kepada Han, dia tidak ingin mendengarkan nama orang itu lagi.


“JANGAN SEBUT NAMANYA! JANGAN! JANGAN! JANGAN! JANGAN! JANGAN! JANGAN!”


“P-P-P-P-Pen-Pen.”


Yoru yang mulai sebal dengan Ryuu yang berteriak itu mulai membentaknya.

__ADS_1


“Diam kau!!!!!! Jangan potong Han bicara.”


“Y-Yes, Ma’am…”


“Pencari takdir baik, d-dia tiba-tiba datang dan me-memaksa To-Tobe untuk menjawab pe-pertanyaanya. B-bulan kelahiran Maylene dan Tobe, d-dia hitung itu se-semua dan mengeluarkan kartu tarot. Se-setelah dia me-mengeluarkan kartu ta-tarot itu, di-dia menyuruh To-Tobe menelpon Maylene.”


“Dan?”


“Me-memintanya un-untuk memutuskannya tanpa pe-penyesalan. Di-Dia se-sekarang ba-bahagia se-setelah me-memutuskan Maylene.”


Ryuu tiba-tiba keluar, dia merasa mual dan dia muntah di toilet tempat itu. Han juga sebenarnya mual dan mau meraih kantong plastik yang ada di depan Yoru. Yoru yang melihat gestur Han pun akhirnya bersikap lembut dan memberikan kantong plastic itu.


“Nih, kamu mual juga Han??”


“Terima kasih.”


Han langsung muntah saat itu. Akhirnya Ryuu yang dari toilet itu kembali dan Maylene juga berhenti menangis. Yoru yang menanyakan lagi, tapi sekarang dia lebih lembut kepada mereka berdua.


“Ngomong-ngomong, siapa sih Pencari Takdir yang kamu bilang itu? Kenapa kalian mual ketika kalian mengucapkan namanya?”


Ryuu membalas Yoru, dia juga mengetahui siapa itu si Pencari Takdir. Ryuu juga sudah menenangkan diri mulai bercerita kepada Yoru.


“Videomu dan Han, kamu tau siapa yang merekamnya?”


“Kau-k-kau jangan bercanda??!”


Yoru tiba-tiba matanya cukup tegang, wajahnya juga pucat dan tangannya bergemetar. Dia tidak menyangka bahwa Pencari Takdir itu yang menyebarkan video mereka berdua itu. Ryuu yang melihat reaksi Yoru pun hanya menganggukan kepalanya.


Han yang melihat Yoru ketakutan itu pun membalas Yoru.


“Kamu tidak apa-apa Yoru selama ini kan? Seenggaknya kamu tidak dipanggil iblis oleh orang umum.”


“K-K-Kamu sudah me-melalui se-semua co-cobaan itu se-selama ini?”


“Ngapain juga kepalaku diperban saat aku ketemu kalian berdua kemarin? Itu semua gara-gara dia.”


Han yang sudah lega ketika dia menceritakan semuanya kepada Yoru mulai mecoba menenangkan Yoru. Yoru selama ini tidak tau apa yang telah dialami Han selama ini. Sebelum dia bertemu dengan Yoru, 2 hari terakhir yang dialami Han begitu suram. Yoru tiba-tiba menangis di depan Han, dia selama ini tidak mempercayai Han ketika dia menceritakan semua yang terjadi tadi.


“Maafkan aku! Maafkan aku! Aku, aku, aku tidak tau apa yang terjadi! Karena aku, kamu tersiksa selama ini!”


“Jangan menangis Yor, karena kamu juga aku sudah dianggap masih hidup disini.”


Han yang mengusap pipi Yoru membuat Ryuu cukup tersinggung. Dia berpikir bahwa Han sudah menjilat ludahnya sendiri.


“Brengsek kau, kamu membawaku kesini hanya untuk memamerkan kemesraanmu dengan pacarmu?! Kau bejat sekali sahabatku!”


Yoru yang melihat Ryuu dengan tatapan marahnya pun mengatakan dengan tersedu-sedu.


“Kita tidak ada hubungan pacar kok. Menjadi kekasih saja belum. Kita juga baru bertemu 3 kali.”


“3 kali?”


“Iya, pertama di jurang, kedua di Dame Sports Hill, ketiga ya ini.”


Ryuu pun berbicara dalam batin, dia merenung bahwa dia pernah mendoakan Yoru meninggal saat di jurang itu, ditambah Yoru yang memiliki sisi yang cukup sadis di mata Ryuu.


“Sebaiknya aku tidak macam-macam dengannya. Aku tidak boleh memberitahu dia kalau aku pernah mendoakannya mati saat itu. Han, jangan beritahu dia! JANGAN! JANGAN!”


Maylene yang sudah berhenti menangis itu mulai berbicara. Wajahnya tiba-tiba datar dan dia menanyakan kepada mereka berdua.


“Jadi, dia dipengaruhi? Dan dia percaya dengan itu? Terus dia bahagia?”


Han dan Ryuu yang melihat Maylene itu pun membalasnya.


“Iya.”


“Ya sudah kalau gitu, aku juga harus bahagia kalau begitu. Untung hanya 2 minggu.”


Han dan Ryuu yang mendengar ucapan itu menepukkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya. Mereka sendiri sebenarnya pasrah dengan situasi ini, ditambah dengan reaksi Maylene.


Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu ruangan mereka berempat. Dia hanya seorang diri dan ketika dia mendorong pintu tersebut, dia melihat Han, Ryuu, dan dua perempuan cantik.


“Han?? Ryuu???”


Han dan Ryuu yang melihat orang itu pun tiba-tiba kaget dan berteriak.


“HA?????? JUN??????”


Saat itu juga, terbentuknya sebuah grup anak kuliahan.

__ADS_1


__ADS_2