
Jun langsung menarik tangan Han dengan keras dan berlari membawanya ke mobil, Tas Koper milik Han juga sudah siap di meja makan, namun Han tidak menyadarinya dari awal dan tas itu diambil oleh Ryuu. Mereka segera membawa Han ke mobil dan mengurungnya sebelum berpamitan.
“Tante, kita pamit dulu yaa.”
“Iya Ryuu, Hati-hati yaa.”
Han yang di mobil itu berteriak kencang ke arah Mama Han, dia terkejut dan sedikit jengkel dengan Mama Han yang tidak melaporkan kejadian ini kepada Han sebelumnya.
“MA! YANG BENAR MA! CEPAT KEMBALIKAN AKU MA! APA YANG MAMA RENCANAKAN! MA! MA! MAAAA!!!!”
Mereka bertiga masuk ke mobil itu dan mobil itu melaju dengan kencang keluar dari rumah.
…
“WOI! APA YANG KALIAN RENCANAKAN! BRENGSEK! CEPAT CERITAKAN!”
Han terus mengomel kepada ketiga temannya itu, namun mereka tidak mau menjawab secara rinci apa yang mereka rencanakan. Di dalam perjalanan itu yang sepi, Tobe pun akhirnya menjawab omelan Han yang selalu dilontarkan selama mereka di mobil.
“Apa kau bodoh? Kamu kan orang yang berlogika kan Han? Pakai matamu sana dan baca tiketnya!”
Han akhirnya membaca tiket itu dan dia melihat bahwa mereka ingin pergi ke
‘Lions Pore’
Han pun pucat dan lemas ketika membaca itu. Pada saat Han sudah lemas, Jun akhirnya bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya kepada Han yang lemas itu dengan wajah yang datar.
“Sebenarnya, kita bosan di rumah. Mangkanya kita mau pergi ke Lions Pore.”
Han yang lemas itu tiba-tiba bangkit dan bertanya kepada Jun dan kedua teman lainnya itu.
“Bukannya itu pemborosan dana? Apa kamu tau, berlibur ke Lions Pore itu bisa menghabiskan dana yang cukup banyak?”
Tobe yang ada disana hanya berbicara di dalam hati dengan ujaran penuh kemurkaan di hatinya.
“Dasar munafik! Munafik! Munafik! Munafik! Munafik! Munafik! Nanti lihat saja, siapa yang paling boros diantara kita!”
Mereka bertiga pun terdiam dan hanya melanjutkan perjalanan ke bandara.
Setelah sampai di bandara itu, Ryuu memarkirkan mobilnya di bandara.
“Ryuu, apakah kamu tau kalo menginapkan mobil di bandara itu parkirnya mahal?”
Hal ini yang membuat Han bingung pada awalnya, karena setiap 1 hari, biaya parkir di bandara adalah $ 10. Ryuu di sisi lain menurut Han sangat tidak perhitungan karena jika mereka pergi selama 5 hari, maka biaya parkirnya bisa mencapai $ 50! Tapi Ryuu sangat tenang sekali karena dia seperti orang yang sangat masa bodoh dan tetap menunggu di depan lobby bandara.
__ADS_1
“Ha? Bayar? Buat apa bayar?”
“T-Tapi, kita kan mau terbang habis ini.”
Jun sangat takut bahwa mereka tidak dapat naik pesawat nanti karena waktu yang cukup telat. Tiba-tiba ada mobil yang pergi menghampiri mereka bertiga dan ada seseorang yang memakai jas hitam turun. Orang itu pergi menghampiri Ryuu dan mengulurkan tangannya kepada Ryuu.
“Mr. Shinigami. Kunci mobilnya mana.”
“Oh, ini, terima kasih.”
“Saya pamit dulu ya.”
Mereka bertiga pun hanya membuka mulutnya dengan tatapan kosong, mereka juga tidak menduga bahwa Ryuu akan menggunakan nepotisme untuk tujuan pribadinya.
Tobe pun bertanya dengan nada yang sangat heran kepada Ryuu yang memberikan kunci mobilnya kepada agen itu.
“W-W-Woi, i-ini kan nepotisme.”
“Kenapa kamu terkejut temanku? Ini kan sudah biasa dilakukan.”
Sang agen pun menjawab kepada mereka bertiga yang bingung itu dengan wajah yang datar.
“Mr. Shinigami satu-satunya orang yang boleh memakai mobil perusahaan dan memakainya secara pribadi oleh Manager. Manager sangat suka sekali dengan kinjera dari Mr. Shinigami karena selalu memberikan kontribusi besar untuk perusahaan.”
“Jadi itu mobilnya perusahaan?”
“Iya, kenapa.”
“Aku pikir itu mobil perusahaan Papamu.”
“Mana boleh aku bawa mobil perusahaan Papaku. Orang aku bawa mobil perusahaan itu dikira aku nyuri mobil orang kok.”
“Oh, jiwa yang malang.”
“Se-enggaknya aku tidak pernah dicap meninggal sama kedua orang tua-ku.”
“Gwakkkk!!!”
Han langsung tersedak dan pucat, dia sangat mengingat kejadian mengerikan itu dan membuat semua orang yang ada di kota itu menganggap Han sebagai iblis untuk beberapa bulan.
“Woi, kita bakal telat kalo kalian tetap disitu!”
Kedua temannya sudah masuk ke lobby bandara dengan cepat. Han dan Ryuu menyusul mereka dengan berlari cepat menuju ke tempat check-in.
__ADS_1
Tempat check in itu sangat ramai! Banyak orang yang ingin pergi ke luar negeri juga karena pada saat ini adalah saatnya berlibur ke luar negeri. Tobe dan Jun juga merasa putus asa karena antrian itu sepanjang orang-orang yang mengantri untuk membeli boba di mall.
“Wah, gimana ini Han! Kita bisa-bisa telat berangkat ini.”
“Jun, kayaknya Han sama Ryuu tidak disini. Kamu coba cari mereka.”
“BRENGSEK!!!!!!! KALIAN NIAT PERGI ATAU TIDAK?!”
Jun dan Tobe pun berlari mencari Han dan Ryuu, namun mereka berdua tidak ditemui di sudut-sudut bandara selama 10 menit. Jun pun kesal akhirnya, dia membuka handphone-nya dan mulai menelpon Han. Hanya dalam waktu 10 detik, Han menjawab telpon dari Jun. Jun yang emosi hanya marah-marah kepada Han di dalam telpon, suhu tubuhnya memanas, dan nadanya sangat kencang di dalam telpon.
“WOI HAN! KAU DIMANA?! KAU NIAT PERGI TIDAK?!!!”
“Kenapa kamu marah-marah Jun? Kita sudah di Lounge, lah kalian dimana?”
“Ha? Di Lounge? Kok bisa?”
“Baca tiketnya bodoh!”
Jun menutup telponnya dan berbicara kepada Tobe masalah tiket itu. Mengapa Han meminta mereka untuk membaca tiket pesawat itu, apakah ada sebab di balik tiket itu?
“Tobe, tiketnya apa tulisannya?”
“Business Class, Entry Gate Business Class Lionheart Airlines.”
Jun melihat gerbangnya itu terbuka dengan lebar dan berada di depan matanya. Gerbang itu sepi, tidak seperti gerbang-gerbang umum karena gerbang itu khusus kelas bisnis. Tobe yang melihat gerbang itu pun langsung masuk bersama dengan Jun.
“Permisi Pak, disini langsung diuruskan imigrasi dan bagasinya, setelah proses ini silahkan ke Lounge.”
“Oh, terima kasih Pak.”
Mereka akhirnya masuk dan menaiki escalator khusus untuk ke Lounge. Ketika mereka berada di eskalator, Jun ingin bertanya kepada Tobe mengapa Han sangat menolak untuk pergi ke Lions Spore. Wajahnya yang bingung itu melihat Tobe, namun Tobe sudah menduga apa yang ingin ditanyakan oleh Jun.
“Kenapa? kamu mau bertanya kenapa Han ga mau ke Lions Pore kah?”
“Kamu bisa memprediksi apa yang aku ingin tanyakan. Kau mentalist kah?”
“Hmm, kenapa Han tidak mau ke Lions Pore? Kamu nanti lihat sendiri kenapa. Tapi di dalam hatinya yang terdalam, dia sangat menantikan untuk pergi kesana.”
“Oh ya? Aku baru tau itu.”
__ADS_1