Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 2: The Fateful Night, Part 2


__ADS_3

Keesokan harinya, mereka berlima pun berkumpul di WacDonul. Jun yang melihat mereka berempat hanya membawa tas tapi tidak membawa mobilnya membuatnya heran dan mulai bertanya.


“Ano sa (Bahasa Jepang, imbuhan), kalian kesini tapi ga bawa mobil? Maksudnya kalian apa?”


Akhirnya mereka berempat pun membalas bergiliran, dimulai dari Han, lalu Ryuu dan disusul oleh Leonne. Posisi terakhir untuk membalas Jun adalah Alex.


“Aku percaya sama kamu kalau kamu yang akan menyetirkan kita.”


“Aku ga mau bawa mobil ke pegunungan.”


“Aku perempuan. Problem?’


“Well, I live in apartment, and you know if it’s impossible for you to bring your car from Germany?”


Leonne pun kaget karena Alex bisa paham dengan apa yang dikatakan Jun. Leonne berpikir bahwa Alex tidak akan belajar Bahasa yang sama.


“Alex, since when you learn to speak?”


Alex pun yang merasa terhina dengan perkataan Leonne, mulai menjawab.


“Come on Sis, at least I have stayed at this country for a month.”


Mereka berempat pun menoleh kepada Leonne dengan tatapan yang sinis. Leonne yang merasa dirinya ditatapi pun bertanya-tanya dan berteriak secara intens.


“KENAPA KALIAN MENATAPKU???? APA SALAHKU?? HEYY??”


Setelah itu, mereka berempat masuk ke mobil dari Jun dan memulai perjalanan menuju pegunungan. Waktu tempuh hanya satu jam setengah.


Di tengah-tengah perjalanan, Leonne membuka iPud miliknya dan mulai menonton seri anime. Jun pun yang mendengar suara yang tidak asing dari iPud Leonne, dia pun yang sedang menyetir hampir kehilangan fokusnya.


* MUDA MUDA MUDA MUDA MUDA! *


Jun pun bereaksi, dia pun mencoba menoleh ke belakang dengan tatapan yang sangat besar.


“Kau nonton JoJo?”


Leonne yang kaget pun tidak berusaha menutup-nutupi dirinya dan mengatakan bahwa dia adalah perempuan yang bangga karena dia menonton seri anime tersebut.


“Oh iya jelas, JoJo itu bagus! Kapan lagi ada anime yang sangat maskulin dan jantan seperti itu?”


Jun, yang sudah menonton JoJo sampai season terbarunya pun tidak ingin mengecewakan temannya itu. Dia hanya mengiyakan dan mengeluarkan keringat dingin.


“Oh iyaa… JoJo karakternya hmm… Jantan semua kok.”


Ryuu yang berada di depan kursi menasihati Jun agar fokus menyetir.


“Oi, kau bawa 5 nyawa sekarang.”

__ADS_1


Jun pun lemas, dan dia mengatakan


“Iyaa…”


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, mereka akhirnya sampai di Highlands Farmers, konon katanya ini adalah perternakan modern pertama di negara ini yang terinspirasi dari perternakan-perternakan modern dari luar negeri. Leonne pun yang sangat bersemangat masuk ke dalam loket, namun dia tidak tahu loketnya dimana. Akhirnya, Han yang mengantri untuk mereka berempat. Akhirnya Han sudah masuk ke loket pembelian tiket.


“5 tiket, harganya berapa?”


“10 dolar.”


Akhirnya mereka mendapatkan tiketnya, dan Leonne berpencar sendiri karena sangat antusias untuk melihat…


Domba


Iya, domba. Kalian tidak salah membaca. Domba-domba di Highlands Farmers sangatlah lucu, apalagi di mata perempuan.


Ketika Alex menemani Leonne yang berpencar, Han dan Ryuu sedang duduk-duduk di tempat peristirahatan. Jun yang mengambilkan es krim untuk mereka berdua pun menyusul Han dan Ryuu. Ketika mereka melihat-lihat sekelilingnya, mata mereka bertiga tertuju pada suatu obyek. Han, yang memulai pembicaraan mulai bingung.


“Ryuu, itu kandang ayam bukan?”


Ryuu pun menoleh ke arah itu, dan dia juga mengatakan


“Itu kandang ayam.”


Jun yang juga melihat hal yang sama, mulai menanyakan sesuatu.


Mereka bertiga menatap orang yang duduk di kandang ayam tersebut dengan tatapan yang datar, matanya pun kosong sampai Leonne dan Alex datang. Leonne pun bertanya apa yang mereka lakukan.


“Kalian sedang ngapain?”


Alex yang mulai mencoba berbahasa yang sama dengan mereka, pun mengatakan.


“Ap-a ka-u t-ak li-hat o-ra-ng-u i-tu?”


Leonne pun kehabisan kata-kata, dia pun memutuskan untuk mengajak mereka semua untuk pergi ke hotel saja.


Mereka pun sampai di hotel, dan mereka memesan kamar yang pas untuk mereka berlima. Jun yang mencoba untuk memberikan jalan tengah pun berkata.


“Ayolah, apa kita bisa putuskan di ruangan mana?”


Leonne pun juga menyahuti Jun, dia berteriak-teriak karena dia merasa tidak aman.


“AKU GA MAU SATU KAMAR SAMA KALIAN 4 LAKI-LAKI! BERIKAN AKU KEBEBASAN!”


Lalu petugas hotel tersebut menawarkan solusi yang tepat untuk mereka berlima.


“Maaf, sebenarnya ada cottage. Harganya $ 100 untuk 2 malam. Bagaimana?”

__ADS_1


Han pun tanpa berbicara, mengeluarkan uangnya dan memberikan uang tersebut pada petugas hotel tersebut.


“Kuncinya, tolong.”


Ryuu yang kaget dengan kejantanan Han, mulai bingung dan menanyakan apa yang terjadi.


“Wow Han, kau jantan sekali.”


“Kita harus bertindak professional di luar.”


Sebenarnya, inilah isi hati Han yang membuat dia sedikit berbicara dan meminta kunci tersebut. Dengan nada yang sedikit mudah didengar, dia mengatakan hal ini selama teman-temannya ribut.


“Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak mau ini terjadi. Maafkan aku, teman perempuanku ribut di lobby. Maafkan aku, teman buleku ini yang memaksakan untuk menyewa 2 kamar. Maafkan aku, wahai tamu hotel.”


Mereka akhirnya berisitirahat dulu, karena perjalanan dari kota asal ke pegunungan sangatlah jauh. Akhirnya waktu pun sudah malam, dan mereka berlima jalan-jalan ke bawah hotel tersebut. Ada warung emperan yang sangat banyak. Mereka berlima pun pergi ke tempat itu dan duduk.


Han dan Ryuu yang sedang memesan makanan, tidak sengaja melihat Tobe dan pacarnya juga ada disana dan menunggu makan. Tobe pun kaget ketika Han dan Ryuu memanggil mereka.


“Tobe????”


“Lho, kalian berdua juga disini? Oh ya, ini pacarku. Kenalkan namanya Maylene.”


Lalu pacarnya pun mengenalkan dirinya, dengan nada yang halus dan sopan.


“Salam kenal, namaku Maylene.”


Han dan Ryuu yang terkesima dengan sikap dari pacarnya Tobe pun berbicara dalam hatinya.


“Dia sungguh anggun. Kenapa dia bisa bersama orang seperti Tobe.”


Akhirnya mereka berpisah, Han dan Ryuu kembali ke kelompok mereka dan menjelaskan bahwa mereka bertemu dengan temannya. Dikarenakan Han lupa membawa dompetnya, dia kembali ke cottage yang dia sewa bersama teman-temannya.


Di sebrang tempat duduk dari kelompok Han, ada 3 perempuan dan salah satu dari mereka sangat cantik. Mereka bertiga juga memesan makanan di emperan tersebut, namun mereka tidak memesan minumannya dan memutuskan untuk membeli minuman tersebut di minimarket yang berada di depan jalan raya. Untuk mencapai minimarket tersebut, pembeli harus menyebrang jalan tersebut.


“Yoruu, kamu bisa beli teh gelas di minimarket?”


“Heh, kenapa aku??”


Teman lainnya pun menyela perempuan itu dan menguatkan argumennya untuk membuat perempuan itu membeli minuman yang mereka pesan.


“Kamu kan lagi berdiri, sekalian saja.”


“Ya sudah, mau gimana lagi?”


Han, dia juga membawa jaket karena kedinginan sedang berjalan melewati gerbang hotel tersebut sedang melihat perempuan yang sedang menyebrang, kira-kira jaraknya hanya 5-meter dari perempuan tersebut. Perempuan itu yang tidak melihat jalan di sampingnya dikarenakan dia sudah merasa bahwa dia berada di posisi yang aman. Tiba-tiba saja ada mobil yang berlaju kencang di pegunungan itu, dia tidak menahan rem dan menuju ke arah perempuan tersebut.


Bersambung ke Part 3

__ADS_1


__ADS_2