Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 2, Chapter 10: Han's Past, Part 1


__ADS_3

2 tahun yang lalu, di Sekolah Menengah Atas. Han yang menginjak kelas 2 SMA itu melihat ke halaman sekolah dan memandang semua hal yang ada di sekolah ini sangat indah. Lalu tiba-tiba Naoto datang dan melihat Han, dia menunjuk ke lapangan basket yang ada di depan mereka dan dengan nada yang cukup berani dia bersumpah.


“Oi Han! Kau pegang ucapanku ini, dalam 1 tahun kita akan memenangkan semua lomba basket yang ada di kota ini!”


Han yang melihat Naoto itu mulai tertawa sendiri, dia melihat Naoto yang berbicara seperti itu.


“Naoto, kamu tidak bisa merangkai kata-kata yang lebih baik kah? Kata-katamu itu menggelikan kau tau!”


“Ayolah, aku mau bertindak keren.”


“Tapi, aku yakin kita bisa memenangkan banyak turnamen dalam waktu 1 tahun ini.”


Mereka berdua akhirnya tetap tertawa, karena masa SMA ini akan menjadi menyenangkan. Karena kata orang-orang, masa SMA adalah masa terindah bagi semua siswa yang menjalani kehidupan sekolah. Rata-rata, di masa SMA adalah saat dimana siswa SMA mendapatkan pacar.


Han di kelas juga termasuk anak yang sangat pintar, dia tidak pernah mendapatkan nilai yang jelek ketika menghadapi ujian. Dia tidak pernah mengecewakan guru-guru yang mengajarinya, bahkan ada guru yang sampai membencinya karena dia memiliki pengetahuan yang melebihi gurunya. Han bertindak sebagai guru untuk teman-temannya dalam pelajaran Ekonomi Bisnis.


Han selalu dicurangi oleh guru Ekonomi Bisnis, karena gurunya tidak dapat membantah apa yang telah ditulis oleh Han di kertas ulangannya. Dia selalu menyiasati bagaimana Han mendapatkan jelek. Mulai dari tidak mengesahkan jawaban hingga menyalahkan semua jawaban Han.


Pada saat Ujian Akhir Semester, guru Ekonomi Bisnis itu pergi ke Han dan membisik kepadanya, tanpa menggunakan pengumuman resmi dia membisik Han yang sedang makan bersama Naoto, Tobe, dan Ryuu yang berada di lorong kelas. Han yang mengetahui motif buruk itu menjawabnya dengan santai.


“Han, kamu remidi Ujian Ekonomi Bisnis.”


“Oh, begitukah?”


Keesokan harinya, Han memberikan gugatan kepada wakil kepala sekolahnya di depan umum, berhubungan pada saat itu adalah festival olahraga di sekolahnya. Setelah Ujian Akhir, selalu ada festival olahraga yang diadakan oleh anggota Dewan Sekolah. Han pergi menyusup ke depan panggung dan memegang microphone yang berada di depan panggung itu. Dia mulai menyuarakan orasinya bentuk protes di depan umum, yang mengakibatkan jatuhnya harga diri seorang guru.


“Mister! Saya tidak terima nilai saya digelapkan oleh Guru Ekonomi Bisnis! Saya minta berkas yang dikatakan rahasia itu! Umbarkan ke publik sekarang juga!”

__ADS_1


Semua murid yang mendengarkan itu bingung, termasuk guru-guru yang ada di tempat itu. Lalu wakil kepala sekolah itu datang dan menghampiri guru Ekonomi Bisnis itu, dia meminta guru itu membawa dokumennya dan diperiksa ulang.


“Kamu bawakan berkasnya, kita cek di sini. Apakah kamu keberatan?”


Guru Ekonomi Bisnis itu sedikit ketakutan, Han yang menatapnya dengan wajah yang sungguh menantang itu membuatnya tidak dapat menolak perintah wakil kepala sekolah.


“I-Iya Mister, saya a-akan mengambilkannya.”


Guru Ekonomi Bisnis itu pergi mengambil berkas itu dengan wajah yang sangat ketakutan dan gestur badan yang terlihat seperti orang yang sudah menyerah. Setelah wakil kepala sekolah itu meminta guru itu pergi, dia pergi ke atas panggung dan bertanya kepada Han.


“Han, apa yang terjadi sebenarnya? Satu lagi, sepertinya kamu cukup kelewatan kalau kamu mengumbar seperti ini.”


Han yang kesal pun mulai mengajak wakil kepala sekolah itu berdebat. Naoto, Ryuu, dan Tobe lalu menyusul ke panggung untuk bertemu dengan wakil kepala sekolah itu.


“Kelewatan? Apakah seseorang yang telah dicurangi selama satu semester penuh harus berlapang dada atas kecurangan itu? Jangan bercanda, Mister!”


“Mister, Han mengajari kami tentang Ekonomi Bisnis. Guru itu tidak dapat mengajar kita. Dia hanya duduk malas-malasan dan memberikan informasi yang menyesatkan, tidak sesuai buku. Ketika kita semua mendapatkan nilai bagus, hanya dia yang mendapatkan dibawah standart kelulusan. Apakah bapak tidak merasa curiga?”


“Mister, dengan segala hormat, guru itu sendiri juga menuduh kami mau melakukan gerakan kudeta untuk melengserkan guru itu.”


Naoto yang hanya berdiam dan mengangguk dengan semua argument yang dilontarkan Han, Ryuu, dan Tobe membuat wakil kepala sekolah itu heran. Beliau bertanya kepada mereka berempat setelah respon dari mereka bertiga.


“Sekarang, bukannya kalian sudah melakukan kudeta?”


Naoto yang hanya diam disana pun dipaksa oleh mereka bertiga untuk menjawab pertanyaan wakil kepala sekolah itu.


“Ayo Naoto! Jawab! Bergunalah sedikit kalau kamu maju!”

__ADS_1


Naoto akhirnya menjawab pertanyaan wakil kepala sekolah itu dengan nada yang sangat tegas dia berbicara kepada wakil kepala sekolah itu.


“Mister, ini bukanlah kudeta. Namun kita sekarang melakukan demonstrasi, tapi hanya kita berempat saja.”


Ryuu yang mendengarkan perkataan Naoto itu mulai memukul punggung Naoto dengan ekspresi yang cukup kecewa dengan Naoto.


“WOI! KAU JANGAN MEMPERKERUH SUASANA! BILANG SAJA KITA SEDANG MENGAJUKAN PROTES!”


Akhirnya guru Ekonomi Bisnis itu sampai ke lapangan dan mulai membukakan dokumen rahasaia itu. Wakil kepala sekolah itu berhenti dan melihat jawaban Han dan membandingkan dengan siswa yang mendapatkan nilai sempurna. Wakil kepala sekolah itu menatap dengan penuh intimidasi kepada guru itu dan mulai membuka mulut.


“Jawaban ini kan sama saja sebenarnya. Pantas saja kamu dipermalukan mereka di depan publik. Ini benar-benar penggelapan yang luar biasa.”


“Mi-Mister! Tapi Han melakukan tindakan curang! Han memberikan jawaban kepada 1 kelas pada saat itu!”


Han yang mulai murka melihat ucapan gurunya itu mulai membalas dengan nada yang penuh sarkasme. Teman-teman Han yang melihat itu hanya menatap guru Ekonomi Bisnis dengan wajah yang cukup menyedihkan.


“Oh, aku? Memberikan jawaban? Apakah ada buuuuktiii? Beranikah anda membongkar kamera pengawas? Kamera pengawas selalu menyimpan bukti kok.”


“Oh, guru yang menyedihkan.”


Guru Ekonomi Bisnis itu mulai terpojokkan, wajahnya sudah pucat dan dia tidak dapat berkata-kata lagi. Wakil kepala sekolah itu menghampiri guru itu dengan penuh senyuman yang cukup mengintimidasi.


“Pantas saja anda tidak dihargai oleh murid-muridmu. Anda sudah bertindak curang, menuduh, bahkan menggelapkan nilai. Oh! Apa pilihan yang harus saya berikan kepadamu? Saya akan memberikan dua pilihan. Pertama, yaitu anda pergi ke sekolah yang berada di Yayasan yang sama namun bukanlah sekolah yang satu level dengan sekolah ini atau yang kedua, anda akan dipecat per hari ini secara tidak hormat? Sekolah ini adalah sekolah yang presitgius dan menolak dengan keras yang namanya kecurangan! Silahkan anda pilih.”


Guru itu cukup ketakutan, dengan nada yang cukup pelan dan ditonton oleh seisi sekolah dengan muka yang cukup menjijikan, menurutnya ini sudah layaknya sebuah penghinaan.


“S-Saya akan mengambil opsi pertam-.”

__ADS_1


__ADS_2