
“Hey, Han apa bersikap aneh sekali hari ini?”
“Aku rasa begitu, ini sudah satu tahun Han bersikap seperti ini. Apalagi jika bertemu dengan Haruki, sifatnya seperti manusia yang ketakutan.”
Haruki yang mendengar mereka berdua menyebutkan namanya mulai menyela mereka berdua. Nada bicaranya yang awalnya cukup bahagia itu tiba-tiba membalik menjadi nada seorang pembunuh yang sangat dingin seketika dia mulai mengucapkan nama ‘Han’.
“Ayolah, kenapa harus menyebut namaku seolah-olah aku bersalah? Apakah kamu lebih percaya kepada Han?”
Tobe dan Long yang tiba-tiba ketakutan itu mulai diam. Terutama Tobe, karena Tobe selama ini bersama Han dan dia mencoba untuk menghibur Han dari masa lalu itu.
Di sisi luar ruangan itu, Han bersama Naoto dan Ryuu itu mulai berbicara. Naoto mulai menyemangati Han karena tekanan yang luar biasa di dalam ruangan itu.
“Ayolah Han! Ini sebenarnya saatnya kita bahagia. Ayo, tegakkan kepalamu.”
Ryuu yang melihat Han itu mulai menggengam tangannya dan meletakkan tangannya itu ke jantung Han.
“Hoi, ingatlah. Asuransiku tidak akan bisa membayar hati yang rusak. Seberapa rusak saat ini, kalau kamu sampai ke rumah sakit kejiwaan, asuransiku tidak akan menanggungnya! Kamu harus memikirkan bagaimana kamu bisa melalui hari ini!”
Han yang melihat kedua temannya itu tidak jadi tertunduk untuk saat itu, Han mulai tersenyum dan matanya berkaca-kaca mendengar ucapan penyemangatan mereka.
“Terima kasih, wahai temanku. Walaupun aku merasa apa yang kalian ucapkan itu garing.”
Naoto membalikkan ucapan Han, dia dengan wajah yang sipit dan menatap Han.
“Ucapan terima kasihmu jauh lebih garing, bodoh!”
Mereka bertiga akhirnya tertawa untuk melepaskan tensi di dalam ruangan itu. Pada saat mereka mengambil makanan, kondisi yang sungguh pelik terjadi di dalam ruangan itu.
“Haruki! Kau harus memprovokasi Han lebih sakit lagi! Dia itu takut denganmu!”
__ADS_1
“Benar itu Haruki! Apakah kamu menerima Han seperti itu saja?”
Kedua teman perempuan Haruki itu terus memanas-manasi Haruki, mereka berdua terlihat menikmati penderitaan Han pada saat reuni itu. Di saat mereka memprovokasi Haruki, Yui pun menyela mereka bertiga dengan nada yang polos.
“A-Ano, apakah kalian tidak bisa berhenti memprovokasi Han? Dia terlihat menderita lho.”
Haruki langsung memalingkan wajahnya kepada Yui, dengan tatapan yang cukup menyeramkan dan menggengam pisau itu mulai menakut-nakuti Yui. Pisau itu disejajarkan ke leher Haruki dan tatapan penuh kebencian itu diperlihatkan kepada Yui. Yui tiba-tiba membeku dan tidak percaya atas apa yang diucapkan Haruki.
“Oh, apakah kamu pacarnya sekarang?! Kamu sungguh menyedihkan jika bersamanya! Hatimu teralu baik atau bagaimana? Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan jika kamu terus menyebut namanya.”
Mika langsung menyela mereka berdua, dia dengan nada yang sangat santai pun mendamaikan suasana Haruki dan Yui.
“Ayolah, santai kalian berdua. Kalian berdua tidak mau merusak reuni ini kan?”
“Hmm, kamu benar juga. Maafkan aku, Yui.”
Yui sendiri sudah menggigil dan wajahnya sangat ketakutan. Dia bahkan tidak dapat memegang sumpit. Ketika Han, Ryuu, dan Naoto kembali ke ruangan itu, mereka melihat Yui yang cukup lemas dan sumpitnya terjatuh. Han langsung berlari dengan piringnya yang dia bawa di tangan kirinyadan tangan kanannya memegang kursi Yui yang mukanya sangat ketakutan itu. Dia tidak dapat mengatakan kata-kata, dia sangat ketakutan ketika melihat Haruki, dan Yui tidak dapat melihat sosok Haruki yang dia kenal dulu.
“Apa yang kamu perbuat ke Yui, Haruki?!”
Haruki yang ditanya seperti itu mulai menggelak, dia menjawab dengan nada yang cukup dingin. Ketika dia mulai mengucapkan kata-katanya, suasana menjadi tidak enak, tapi tidak untuk kedua teman Haruki yang sangat menantikan momen ini.
“Oh, kamu bertanya apa yang aku perbuat? Aku hanya menegurnya untuk tidak mengucapkan namamu di depanku. Aku jijik mendengarkannya! AKU JIJIK! AKU JIJIK! AKU JIJIK! KAMU ADALAH AIB SEKOLAH! AKU BERSYUKUR MENINGGALKANMU! KARENA KAMU, MASA SMA KITA SEMUA BERANTAKAN!!”
Han mulai menunjukkan sifat dinginnya lagi di depan Haruki untuk membela Yui. Saat Ryuu mulai berdiri dari kursinya, tiba-tiba Naoto meninju piring yang dia makan sampai piring itu pecah. Tinjuan keras itu membuat seisi ruangan itu kaget. Walaupun wajah Naoto sedikit emosi, namun dia berbicara cukup tenang di depan mereka semua yang hadir.
“Masa SMA kita bahagia atau tidak itu bukan kamu yang berhak menentukan. Maafkan aku, ada kumbang yang hinggap di piringku.”
__ADS_1
Memang benar, ada kumbang yang berada di piringnya. Tapi piring itu berlumuran darah dari tangan Naoto. Han di sisi lain merobek tisu di meja makan itu dan memerban Naoto yang berdarah itu. Mereka berdua berbicara dengan berbisik, menghindari orang lain mengetahui apa yang mereka katakan.
“Woi, bertindaklah lebih masuk akal lagi. Jangan kau menyakiti dirimu. Tapi, aku terima kasih kamu membelaku tadi. Aku cukup kasihan melihat Yui.”
“Maafkan aku, sahabatku. Aku tadi cukup tidak terima dengan ucapannya.”
Han lalu menghampiri Ryuu, dia menyerahkan Black Card-nya dan memberikan pesan kepada Ryuu.
“Ryuu, antarkan Yui pulang. Tapi sebelum itu belikan dia tas apapun yang dia minta di Xingxi Mall nanti, kalau bensinmu habis, gesek kartunya saja. Pin dari black card ini adalah 151014. Nanti aku tulis di handphonemu kalau kamu lupa, dan jangan biarkan Long, Mika, maupun Wang ikut dengamu.”
“Aku mengerti. Terus kamu mau kemana?”
“Aku tidak ada motivasi lagi setelah melihatnya menyakiti Yui. Aku mau pulang.”
Nadanya yang cukup mengintimidasi Ryuu dan Naoto membuat mereka berdua tidak dapat membantah kemauan Han. Ketika Han mulai keluar, Haruki memancing Han lagi.
“Oh, si pecundang mau kabur dari acara reuni?”
Han tiba-tiba berhenti di depan pintu ruangan itu, lalu dia membalasnya dengan nada penuh kebencian, dia tidak tahan atas perlakuannya kepada Yui.
“Bersenang-senanglah disini, aku tidak ingin satu meja dengan orang yang bahkan ingin mengancam teman perempuannya sendiri. Ancamlah diriku, bencilah diriku, lakukan itu sesuai yang kamu mau. Tapi jangan lakukan itu kepada temanmu sendiri. Aku pergi.”
Akhirnya Han membuka pintu itu dan dia pergi keluar. Setibanya di depan kantor General Manager itu, dia mulai memukul pintu kantor tersebut. Ketika General Manager itu keluar, dia mengeluarkan uang $ 12 yang telah dia tadi ke General Manager itu dengan wajah yang masih sangat mengintimidasi.
“Maafkan saya, temanku memecahkan piring anda tadi. Uangnya saya kembalikan dan tolong jangan pecat orang resepsionis itu.”
“Baik tuan Lin. Terima kasih atas kebaikanmu.”
Han lalu pergi keluar dari hotel itu, dan berpikir ada apa yang sedang dia lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu Han?
__ADS_1