
Keesokan harinya, saat sore hari, di rumah Han sangat ramai dengan orang-orang. Banyak tukang-tukang yang datang dan mulai mendekorasi rumah Han, banyak dekorasi-dekorasi yang bernuasana merah-merah mulai dari lampion, ikan koi hiasan, ornament petasan, patung-patung zodiac, maupun patung Dewi Langit yang terpampang di depan rumah Han.
Sebuah keramaian yang tidak dapat dihindari oleh keluarga Han, karena Festival Lunar adalah segalanya dan acara itu adalah acara tahunan mereka.
Masakan-masakan pun berdatangan, chef-chef handal pun disewa dan datang masuk ke dalam dapur maupun stan-stan yang sudah disediakan oleh Papa Han maupun Kakek Han. Mereka berdua sudah berada di depan rumah untuk menyambut dan mengatur mereka semua.
“WOI! KALAU KALIAN MENGACAU SATU, KALIAN SEMUA TIDAK ADA YANG KUBAYAR!”
Kakek Han yang berteriak itu walau sudah berumur 70 tahun tetap menjadi orang yang paling bersemangat jika itu menyangkut dengan Festival Lunar. Walau Papa Han juga ikut mengawasinya, namun Papa Han tidak teralu ikut campur secara personal kepada mereka semua karena Papa Han seharusnya berada di kantor.
“Aku harusnya di kantor, aku lupa kalau hari ini Festival Lunar!”
…
Papa Han benar-benar lupa kalau hari ini adalah hari Festival, sehingga sebelum Papa Han mengurus itu Papa Han dijemput paksa oleh Kakek Han. Kakek Han sendiri yang menjemputnya di kantor sebelumnya. Kakek Han yang masuk ke kantor Papa Han itu mulai menegurnya dengan suara yang agak keras.
“Woi Zhang! Kau lupa hari ini hari apa?!”
“Hari apa? Kan hari biasa.”
“BUKAN! HARI INI FESTIVAL! SEKARANG AYO SAMA PAPA KE RUMAHMU! PAPA SUDAH PANGGIL ORANG!”
“Oh ya! Hari ini Festival! Pa, ayo ke rumah!”
…
Papa Han sendiri beruntung sekali karena uangnya sudah disiapkan di rumahnya oleh Mama Han. Jadi Papa Han tidak perlu pergi ke bank ataupun mengambil uang di kantor-nya lagi untuk mengambil uang lebih.
Di sisi lain, Han yang memakai ham baju merah berlengan panjang rapi dan celana panjang slim fit hitam itu sudah bersiap-siap untuk menghadiri acara Festival Lunar dari keluarga Sun. Keberadaan Han di rumah Sun benar-benar penting, karena keberadaannya bernilai $ 3,000,000. Namun jelas itu bukan
“Yosh, aku udah siap-siap menghadiri acara keluarganya Yo-.”
“Kamu mau kemana?”
“Gek!!!!”
__ADS_1
Han yang bergumam saat mengikat tali sepatunya itu dilihat oleh Papa Han yang sedang melihat Han sudah berdandan rapi, padahal acara dari keluarga Han sendiri dimulai dari jam enam dan sekarang masih jam empat sore.
“O-Oh, Pa, aku mau… menagih hutang!”
Han yang mengatakan seperti itu dengan gugup dan matanya yang melihat Papa Han secara pucat itu membuat Papa Han menepuk pundak Han dari depan. Dengan nasihat yang aneh, Papa Han berhasil terhasut oleh Han.
“Anakku, jangan banyak dihutangi orang lain dan jangan banyak menghutang ke orang lain. Kalau ada yang tidak mau membayar, relakan saja. Sebagai manusia kita harus mengampuni orang yang berhutang. Oke?”
Han yang mendengarkan nasihat Papanya itu hanya bergumam sebal. Tatapannya yang menyedihkan itu melihat Papanya yang menasihatinya.
“Pa, satu aku mau pergi bertemu Yoru karena dia yang memintanya sendiri. Kedua, aku hadir disana bisa melunasi hutang Tuan Sun kepada Papa sebesar $ 3,000,000. Ketiga, Papa sendiri stress ketika dihutangi segitu banyaknya sebelum aku diculik ke Lions Pore.”
Namun Han pun tersenyum dan pergi menuju ke arah mobilnya. Saat dia berjalan menuju ke mobilnya, dia melihat banyak kaleng air soda yang sudah siap di depan rumahnya.
“Air Soda???”
Ada firasat yang aneh dari Han, dia merasa bahwa setiap festival selalu ada permainan untuk setiap pasangan. Namun karena Han selalu sendirian, dia tidak pernah bermain dan selalu menonton di luar.
Han lalu menuliskan pesan ke Maylene, dia mengambil handphone-nya dan memperingati Maylene yang akan menjadi ‘pacar’ dari Han.
Han yang sudah menulis pesan itu mulai menyetir mobilnya dan pergi ke rumah Yoru saat ini.
…
Sesampainya di rumah Yoru, Han yang keluar dari mobilnya benar-benar ditunggu oleh Yoru. Namun Yoru terlihat jengkel kepada Han, dan ini adalah Yoru yang dikenal oleh Han. Dengan wajah yang terlihat konyol dan tatapannya yang tajam melihat Yoru itu dia mulai mengatakan beberapa kepada Yoru.
“Ahh, si Tsundere sudah menungguku di depan.”
“Apa? Kamu tidak suka?”
Yoru secara pakaian benar-benar manis, namun ekspresinya tidak. Dia benar-benar ingin dipuji pakaiannya terlebih dahulu oleh Han, karena Yoru hari ini memakai Chinese Dress berwarna merah di sisi kiri dan emas di sisi kanan-nya dengan motif awan dan bunga yang menghiasi baju Yoru.
Han yang melihat Yoru itu pun tertawa tiba-tiba, dia tidak menyangka Yoru akan berdandan secantik ini. Han merasa inferior saat ini dan mukanya terlihat merah ketika melihat Yoru.
“HAHAHAHAHA, Yor, kamu terlihat cantik! Pakaian itu cocok denganmu!”
__ADS_1
Yoru yang dipuji itu tiba-tiba memalingkan wajahnya dan mengatakan dengan malu-malu.
“B-Bodoh! Aku ha-harus memakai baju ini.”
Namun sebenarnya Yoru cukup bahagia ketika dia dipuji seperti itu.
“Oh ya, ayo masuk ke rumahku!”
“Hmm.”
Yoru mengajak Han untuk masuk ke rumahnya, dan di dalam rumah itu benar-benar ramai dengan pengunjung. Banyak dari mereka adalah relatif dekat Yoru, yaitu keluarga dalamnya dan orang pertama yang menyambut Han di luar adalah
“Halo nak! Selamat datang di acara Festival Lunar keluarga Sun! Saya, Qing Sun akan sangat senang jika anda menghadiri dalam waktu satu jam saja, karena keluarga anda lebih penting kan?”
Suara yang ramah tapi dalam itu didengar oleh Han setelah Yoru membuka pintunya. Suara itu berasal dari Papa Yoru yang sudah menunggu Han dari tadi, walaupun perjanjiannya Han akan datang pada jam lima sore. Karena ingin menghargai keluarga Yoru, dia datang lebih awal dan dia sudah sampai pada pukul setengah lima sore.
Yoru yang tersenyum itu benar-benar membuat saudara-saudaranya sedikit penasaran dengan Han yang berdiri di sebelah Yoru.
“Yor, siapa dia?”
“Yor, apa dia pacarmu?”
“Yor, kenapa kamu mengundang orang yang tidak dikenal?”
Han yang mendengar ucapan saudara-saudaranya Yoru itu hanya melihat ke arah Yoru dengan wajah yang panik. Dia ingin Yoru memperkenalkan Han kepada saudara-saudaranya, namun ketika Yoru melihat Han, dia sudah mengatakan beberapa kata yang bahkan tidak perlu disebutkan. Dengan gestur wajah yang tersenyum sebal itu, Han sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan Yoru.
“Perkenalkan dirimu sebagai pacarku, bodoh?”
Han yang membisik itu kepada Yoru itu membuat Yoru menganggukkan kepalanya. Han lalu menghembuskan nafasnya dan dia memperkenalkan dirinya dengan keras.
“Namaku Han, aku adalah pacar dari Yoru.”
__ADS_1