
“W-WOI! Kau kenapa biasa aja!”
“Udahlah May, orang itu salah mencari lawan.”
Tobe tertawa dengan keras, dan membuat orang itu benar-benar terpancing emosinya. Orang itu mulai memperkenalkan dirinya dan mulai menunjuk Tobe dan Maylene yang duduk dekat dengan Han.
“My name is Alan Campbell, owner of ‘The Red Devils’ Football Club. I have 52% of shares in the club. I want to bet with you. If I win the game, I will take 2 of your friends and your $ 100,000.”
Arti singkatnya, Alan Campbell ingin Han untuk menjual kedua temannya kepadanya jika Han kalah. Wajah menantangnya itu disambut oleh Han yang berbicara dengan santai saat meladeni Alan Campbell. Dia menunjuk telunjuknya kepada Alan dan menantang balik.
“Very well, but if I win the game, give me your 52% stocks, all of your assets, and your money inside your bank. Fair enough?”
Artinya adalah, jika Han memenangkan permainannya maka Han mendapatkan 52% saham kepemilikan tim sepak bola ‘The Red Devils’, seluruh aset dan uangnya. Mengapa Alan bertaruh seperti itu? Karena Alan menilai kedua teman Han itu sangat berharga.
“Well, because human is valuable and I am also a Human Rights Defender. I will accept your deal.”
Maylene yang merasa dirinya dijual oleh Han itu merengek dan memegang kedua bahu dari Han lalu menggoyangkan badan Han.
“HEY! YANG BENAR AJA! KAMU MAU MENJUALKU MAKSUDNYA APA?! PAPAKU AJA GA PERNAH SEKALI-SEKALI MEMILIKI WACANA UNTUK MENJUALKU! OTAKMU DIMANA SEKARANG! WOI HAN!”
Maylene itu lama-lama menangis, dan Han melepaskan kedua tangan Maylene. Wajahnya yang berubah ekspresi itu hanya tersenyum dan menatap tajam ke arah Maylene. Tobe pun merinding ketika melihat Han dengan ekspresi seperti itu. Dia seperti melihat jika Han akan memenangkan judi ini.
“Hoho, kamu tidak mempercayaiku? Lihatlah aja nanti.”
Han membuka tas-nya, Alan juga membuka tas-nya dan mengeluarkan kertas kontrak perjanjian.
Surat Han berisi:
“Jika saya, Han, kalah dalam perjudian ini. Maka uang sebesar $ 100,000 ditambah dengan kedua temanku yang bernama Maylene dan Tobe akan dijual kepada Tuan Alan di atas kontrak ini.”
Sedangkan surat Alan berisi:
__ADS_1
“Jika saya, Alan, Campbell, kalah dalam perjudian ini. Maka uang sebesar $ 50,000, seluruh aset saya di negara bagian Claudifornia, dan 52% kepemilikan saham atas klub sepak bola ‘The Red Devils’ akan diserahkan kepada Han di atas kontrak ini.”
Mereka berdua saling menanda tangan-kan surat kontrak itu dan disaksikan oleh 2,000 pengunjung Casino itu. Mereka semua menepuk tangan mereka dan sangat meriah sekali suasana disana.
“GILA! ANAK REMAJA BERANI BERJUDI DENGAN PEMILIK ‘THE RED DEVILS’. SEMANGAT BOCAH! SEMOGA GA JADI BAHAN TERTAWAAN.”
“AYO TUAN CAMPBELL! BANTU KAMI MENGEMBALIKAN UANG YANG DIRENGGUT BOCAH BIADAB ITU!”
“AYO! KITA BUKA BANDAR! BOCAH ITU KITA KASIH VOOR 1:300! JIKA KALIAN BERTARUH $1 PADA SI BOCAH, MAKA KALIAN AKAN MENDAPATKAN $300!”
Di sisi lain meja Pai Gow Poker itu, terdapat kerumunan yang mulai menaruh uang taruhannya. Kotak dari Tuan Campbell terisi penuh, namun hanya satu orang yang bertaruh pada Han, yaitu sahabatnya sendiri, Tobe. Wajahnya yang santai itu mulai memprovokasi orang-orang di sekitar Tobe dengan nada yang sinis dan tersenyum.
“Ya setidaknya jika aku kalah, aku dijual. Tapi kalau aku menang, aku dapat seluruh uang kalian! Jika aku bertaruh $ 300, maka aku akan kembali dengan uang $ 90,000. Kalian bodoh atau apa?”
“WOI BOCAH! JANGAN TERALU PERCAYA DIRI!”
“SAYA TUNGGU KAMU DIJUAL!”
“Pa-Pa, Ma-Ma, a-aku di-dijual o-oleh te-teman baru-ku. Ji-jika a-aku ka-kalah… ma-maafkan Maylene ka-karena su-sudah hi-hidup di keluarga! Maafkan, maafkan, maafkan, maafkan, maafkan May kalau kita terakhir kali bertemu minggu lalu.”
Akhirnya bandar itu membuka kartu dek kartu baru, dan tidak ada bekas bahwa kartu itu pernah dibongkar atau tidak.
“Tuan-tuan, kartunya masih baru ya.”
“Iya, lanjutkan saja!”
Bandar itu membagikan kartunya kepada kedua peserta itu. Tuan Campbell meraih kartunya dan merasa gembira atas 7 kartunya itu. Dia melirik tajam ke Han dengan wajah yang penuh kepercayaan diri bahwa dia akan menang.
“Tiga kartu ‘9’, Dua kartu ‘6’, dua kartu ‘Jack’. Aku akan memasangkan Jack di kartu lemah dan Full House di kartu kuat. Sekarang, apa yang si bocah laku-KAN???!”
Tuan Campbell terkejut dengan reaksi Han, karena Han tidak membuka kartunya sama sekali! Semua penonton itu mulai menghujat Han karena Han benar-benar meremehkan taruhan besar itu.
__ADS_1
“WOI BODOH! BUKA KARTUMU! APA KAU MENYERAH?!”
“KAU BERCANDA?! APA KAU YAKIN DENGAN KARTU TERTUTUP?! SEMOGA KAU GA JADI BAHAN LELUCON DISINI!”
Maylene pun semakin merinding, dia tiba-tiba berlutut dan pasrah dengan hasil akhirnya nanti. Namun Tobe sekali lagi tetap santai dan percaya diri, dia lalu melihat Maylene yang pasrah dan berbicara kepadanya.
“May, jangan menyerah. Aku yakin Han pasti menang!”
“KENAPA?! SI BODOH ITU BAHKAN GA MEMBUKA KARTUNYA! GIMANA DIA BISA MENANG!”
“Gampang, karena aku sudah tau kartunya dan posisinya. Han menang mutlak!”
Namun karena yang berbicara itu adalah Tobe, Maylene tidak mau percaya. Tuan Campbell yang tersulut emosinya pun menyoraki Han dengan nada penuh hinaan.
“Bocah, aku tau kamu menyerah! Tapi taruhan tetaplah taruhan!”
Han tiba-tiba mengeluarkan gestur ‘tutup mulut’ terhadap Tuan Campbell yang sombong itu. Matanya pun tertutup dan dia memberikan senyuman terhadap Tuan Campbell, kaki kirinya pun dia angkat dengan gestur berdebat.
“Saya hargai anda, pemilik Klub Bola ‘The Red Devils’. Tapi akan kukatakan sekali lagi, bahwa hari ini adalah hari terakhir anda memiliki klub itu.”
“B-Brengsek! Jangan sombong kau bocah!”
Han menyodorkan kontraknya di atas meja terlebih dahulu, lalu dia meletakkan kedua kartu paling kanan di meja untuk ditempatkan di posisi ‘kartu lemah’ dan 5 kartu sisanya ditempatkan di posisi ‘kartu kuat’.
‘Bocah! Aku sudah muak dengan sikap belagumu! Sekarang buka kartumu!”
Tuan Campbell itu menyodorkan kontraknya, lalu membuka paksa kartu Han yang berada di ‘kartu lemah’nya itu. Tuan Campbell kaget melihat kartu dari Han itu.
__ADS_1