
Sebenarnya, kata-kata tidak apa-apa yang diucapkan Maylene tidak berarti dia tidak apa-apa. Dia berada di masalah yang cukup besar, jam itu sudah malam sekali dan Maylene sebenarnya pergi bersama adiknya. Adiknya sekarang sudah tidur nyenyak di hotel, dan kunci kamar hotel hanya ada dua kartu.
Iya, hanya dua kartu. Itu adalah ketentuan di seluruh hotel di dunia. Jika anda mau kartu lebih, maka anda harus membayar kartu lagi dan 1 kartu ekstra lagi tidak murah!
Wajah Maylene sangat gelisah, dia membongkar tas-nya dan kantongnya di dekat kereta yang baru saja dia naiki. Kartunya sudah tidak ada, artinya dia tidak dapat masuk ke kamarnya di hotel itu.
“Aku kehilangan kartuku! Dimana kartuku! Dimana? Dimana? Dimana? Dimana?”
Kereta itu akhirnya pergi dan Han yang ada di dalamnya meninggalkan Maylene. Maylene pun berpikir dengan keras apa yang akan dia lakukan.
Apakah Maylene akan menyewa kamar lain?
Apakah Maylene tidur di jalanan?
“TIDAK! TIDAK! TIDAK! AKU TIDAK MAU TIDUR DI JALANAN! Putri anggun sepertiku tidak boleh tidur di jalan!”
Maylene akhirnya mengingat sesuatu, perkataan dari laki-laki yang baru saja bersamanya 2 menit yang lalu.
“Bay Park.”
“Oh ya! Aku harus ke Bay Park! Siapa tau dia akan membantuku!”
Maylene selalu positif jika itu mengenai Han, tapi Maylene tidak memiliki niatan busuk untuk memanfaatkan Han atau apapun itu. Maylene hanya…
Ingin tidur layak
“Kereta berikutnya akan datang 1 menit lagi. Aku akan menyusulnya!”
Maylene dengan wajah yang penuh determinasi itu menunggu kereta berikutnya. Ketika kereta berikutnya datang, Maylene langsung berlari dan menaiki kereta itu.
Beruntungnya lagi, Maylene berada di jalur yang tepat. Kereta itu akan sampai di Bay Park dalam waktu 10 menit, namun Maylene khawatir lagi.
“Hotelnya dimana!!! Aku lupa bertanya kepadanya!”
Dalam perjalanannya, kereta itu berhenti di stasiun terbesar Lions Pore, stasiun yang menghubungkan dengan Mall terbesar di Lions Pore dan stasiun yang paling ramai karena menghubugkan 3 jalur sekaligus. Maylene yang sudah lama menunggu itu tiba-tiba duduk di kursi yang tersedia.
Namun, wajah Maylene yang kelelahan itu tiba-tiba kaget dan penuh dengan amarah. Dia tidak ingin menganggap itu sebagai kenyataan, karena orang yang dia temui adalah
“TOBE?!!!!! Kenapa dia ada disini!”
Itu adalah isi hati Maylene ketika melihat Tobe yang dengan santai masuk ke dalam kereta itu. Tobe yang baru masuk tiba-tiba melihat Maylene yang ada di depannya dengan sangat canggung.
“M-M-Maylene?!!!”
__ADS_1
Pertemuan itu sangat tidak diinginkan oleh Maylene, namun Tobe sudah menguatkan hatinya sejak berada di café.
…
“Aku harus meminta maaf kepada Maylene!”
“A-Apakah kau mencintainya lagi? Mencintai! Mencintai! Mencintai! Mencintai! Mencintainya adalah hal yang tidak akan membuatmu ke ma-.”
“Diam! Aku tau aku tidak akan dapat kembali lagi dengannya, tapi setelah dia berteriak seperti itu, itu adalah isi hatinya yang dia pendam!”
Tobe yang berdebat dengan Chen di dalam café setelah Maylene melemparkan bando yang dia pakai sebelumnya membuat Tobe sedikit tersadar akan kesalahannya. Tobe mengambil bando yang dilemparkan Maylene sebelumnya dan melihat bando itu.
“KAU! KAU! KAU! KAU! KAU! KAU! KAU MENGAMBIL BANDO PEREMPUAN ITU! KENAPA! KENAPA! KENAPA! KENAPA! KENAPAA!!!!”
Chen yang memegang kepalanya dengan menggunakan kedua tangannya benar-benar kebingungan dengan sikap Tobe. Tobe yang melihat Chen itu menunjukkan fokus yang luar biasa dan mengatakan kata-kata yang cukup bijak.
“Kalau tidak ada yang mengembalikan, sayang aja kalo dibuang.”
“Hmm, benar juga.”
Tobe akhirnya pergi dari café itu, dengan seorang diri karena Jun dan Ryuu sudah pergi terlebih dulu. Chen pun tetap berada di café itu sambil meminum cappuccino yang ada di mejanya
…
Tobe yang menyerahkan bando itu dengan sedikit memalingkan wajahnya, Tobe sangat malu untuk melihat Maylene, wanita yang dia putuskan dengan sepihak tanpa adanya negosiasi antara kedua pihak.
“LEPASKAN TANGAN KOTORMU!”
Maylene tiba-tiba menampar tangan Tobe dengan keras sehingga bando itu jatuh ke lantai, wajah Maylene memerah dan perasaannya bercampur antara sedih dan marah. Tobe yang diperlakukan seperti itu mengambil lagi bando-nya dan memberikannya lagi kepada Maylene.
“Ini bandomu. Jangan dibuang.”
Sekali lagi, Maylene menampar tangan Tobe. Dia benar-benar jijik melihat Tobe yang melakukan hal seperti itu di depannya. Namun Tobe sekali lagi mengambil lagi bando itu dan menyerahkannya kepada Maylene.
Namun, Maylene menampar tangannya lagi.
“BODOH! BODOH! BODOH! BODOH! SUDAH KUBILANG HENTIKAN!”
Tobe tetap mengambil bando itu, dan adegan itu membuat banyak orang yang melihat mereka berdua memberikan wajah penuh kebosanan.
“Hey, cukup dramanya! Selesaikan di luar kereta kenapa!”
“Aku bosan dengan drama kalian!”
__ADS_1
Maylene yang diperlakukan seperti itu, membuatnya meneteskan air matanya. Tobe sekali lagi memberikan bando itu kepada Maylene. Namun, kali ini Tobe menggunakan pendekatan yang berbeda.
Pendekatan ‘Aku Menyesal Dengan Perbuatanku’.
Tobe menggunakan kata-kata yang jujur dari hatinya, dia dengan wajah yang sabar dan senyuman yang tulus itu mulai mengeluarkan kata-katanya kepada Maylene yang menangis itu.
“Aku minta maaf atas perbuatanku, aku menyakiti hatimu dan aku berbahagia atas hal itu! Namun aku sadar! Aku sadar! Aku sadar! Kalau aku harusnya memperhatikan perasaanmu daripada kebahagiaanku!”
Maylene yang mendengarkan itu mengusap wajahnya dan mengambil bando itu dari Tobe.
“Tapi, jangan berharap kita akan seperti dulu lagi.”
“Aku sudah menduga itu.”
Drama mereka berdua di kereta api disambut dengan riah oleh penonton-penonton dadakan yang ada di kereta itu. Mereka sangat lega bahwa drama itu telah selesai.
“AKHIRNYA! DRAMANYA SELESAI! SUNGGUH ENDING YANG BAGUS!”
“DIMANA SAYA BISA MENYEWA KALIAN! SAYA MAU MEMBUAT FILM DENGAN DRAMA SEPERTI INI!”
Tobe dan Maylene hanya tertunduk dengan lemas, mereka akhirnya saling mengolok-olok. Namun, dinding pemisah mereka berhasil mereka hancurkan dari drama seperti itu.
“Karena kamu itu! Mereka semua menyoraki kita!”
“Ya kamu itu May! Tinggal ambil bando-nya aja kok susah!”
Mereka berdua memalingkan wajah mereka, mereka sangat malu untuk menatap satu sama lain. Situasi yang canggung di kereta itu benar-benar melarutkan emosi mereka seperti garam diaduk di dalam air.
Maylene tidak lupa dengan apa yang ingin dia ketahui dari Han. Maylene bertanya kepada Tobe yang malu-malu itu melihat Maylene. Dengan wajah tertunduk dan nada suara yang kecil, dia bertanya kepada Tobe.
“Han menginap dimana? Aku menduga kalau aku dibohongi oleh Jun dan Ryuu. Kamu bersama mereka kan.”
“Three Trees Yacht.”
Maylene ketika mendengarkan itu tiba-tiba kaget dengan reflek teriakan yang begitu kencang.
“HA?!!! Itu kan hotel terbesar di Lions Pore!”
“Dia punya 3 kamar, dan semuanya dapat tembus, aku berada di kamar yang sama dengan Han. Anggap aja kamu beruntung hari ini.”
“I-Iya…”
Akhirnya mereka sampai di Bay Park, mereka berjalan selama 2 menit ke lobby hotel utama ‘Three Trees Yacht’ Hotel. Hotel itu benar-benar mewah, semua orang yang ada di sana adalah orang yang ber-uang dan ‘terlihat’ kaya. Terdapat Mall juga di sana, namun mereka berdua melihat Han yang sedang turun dengan wajah yang tersenyum dan sebuah ‘briefcase’.
__ADS_1