
Setelah pulang dari Universitas, Maylene mengajak Yoru untuk pergi ke café dekat sekolahnya.
“Nee, kamu mau ke café?”
“Boleh-boleh.”
Mereka akhirnya masuk ke café, dan Yoru bertanya kepada Maylene. Ini pertama kalinya Maylene dan Yoru pergi bersama, Maylene tidak merasa canggung sama sekali ketika Yoru bertanya, malah Maylene yang menggoda Yoru.
“Ga biasa kamu mengajakku ke café. Kita mau bahas apa disini?”
“Ayolah Yor… Aku disini mau tanya sama kamu. Kamu tadi memalingkan wajahmu ketika aku bertanya kepadamu tentang ja-ket itu.”
Wajah Maylene sudah tersenyum-senyum membuat Yoru semakin memerah. Yoru tiba-tiba mengatakan kepada Maylene, seolah-olah ingin mengubah topik pembicaraan.
“A-A-Ayolah May, aku sendiri ga tau kamu bilang apa. Mending kita bahas tentang apa yang terjadi pada liburan kita.”
“Kalau aku mengenalkanmu pada orang itu, kamu bagaimana?”
Yoru, yang awal-awalnya ingin mengubah topik pembahasannya tiba-tiba matanya menunjukkan ekspresi ambisius dan menatap Maylene dengan tajam.
“Kenalkan aku sama laki-laki itu kalau kamu kenal dia!”
Maylene yang melihat Yoru dengan ekspresi itu pun bertanya.
“Kamu diselamatkan kan sama dia?”
“Iya”
“Kamu dikasih jaketnya kan?”
“Iya”
“Kamu bertanya kenapa dia menyelamatkanmu kan?”
“Iya”
“Terus kenapa kamu tidak tanya namanya?”
Yoru yang mendengar Maylene berkata seperti itu, tiba-tiba ekspresinya seperti orang yang jatuh dari tebing. Maylene yang melihat Yoru seperti itu pun mencoba untuk menenangkan Maylene.
“Dengar Yoru, harusnya kamu tanya namanya. Belum tentu kamu bertemu dengannya lagi.”
Yoru membalas Maylene dengan nada yang optimis, seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengannya yang sebelumnya sedang jatuh.
“Aku percaya dewa langit akan mempertemukan kita. Lambat atau cepat kita akan bertemu. Tapi May, kamu kenal tidak sama orang itu?”
“Oh, aku kenal, dia teman dari pacarku dan kita berdua sempat mengenalkan diri kami masing-masing. Tapi jangan berharap aku akan memberikan namanya kepadamu. Itu sesuatu yang harus kamu tanyakan sendiri. Kan kamu yang mau kenal dengannya.”
Maylene yang menutup matanya dengan tenang sambil meminum apa yang telah dia pesan membuat Yoru semakin ambisius. Yoru ingin mengenal orang yang pernah menyelamatkannya, dia ingin lebih dekat dengan orang itu.
Tiba-tiba ada pengumuman dari kelasnya bahwa kelas untuk hari esok ditiadakan, dikarenakan gurunya malas mengajar karena masih ingin liburan. Yoru dan Maylene yang melihat pesan itu tiba-tiba bergembira karena kelas libur.
“Yes! Kelas libur! Akhirnya, kapan lagi dosen itu kasih libur ke kita?”
“Mangkanya itu, dosen satu itu kalau sudah kasih tugas itu jawaban harus cari internet dalam-dalam lagi.”
Maylene yang sadar kalau besok libur bertanya kepada Yoru. Dengan nada yang cukup senang, dikarenakan juga libur mengatakan kepada Yoru.
__ADS_1
“Yoru, besok kamu kosong juga kan?”
“I-Iya, kenapa memangnya.”
“Ayo ke WacDonul. Aku sudah lama ga kesana.”
“Boleh-boleh, aku juga mau kesana.. cuma Papaku ga pernah membolehkanku kesana kalau ga ada teman.”
“Oke kalau gitu, jam 9 kita ke WacDonul.”
…
Pada saat perjalanan, Han yang berada di mobil sedang merenung. Dia masih tidak habis pikir kalau Maylene mengajaknya untuk berkencan, walaupun sebenarnya tidak mengajaknya kencan.
“Yang benar ini Maylene mengajakku kencan! Tobe, aku minta maaf. Aku tidak ada niatan untuk menikungmu, tapi siapa laki-laki yang tidak mau pergi bersamanya.”
Ketika Han sudah sampai di WacDonalds, dia keluar dari mobilnya dan sudah berkespetasi tinggi bahwa Maylene menunggunya di depan pintu. Namun, Maylene juga bersama Yoru baru saja sampai di WacDonalds. Maylene yang melihat Han pun langsung menyapa Han dengan nada yang bahagia.
“Halo. Kamu datang juga rupanya..”
“Maylene…. Ke-ke-kenapa ada Yoru disini???”
“Oh, kau kenal si Yoru. Tapi kamu kan tidak pernah mengenalkan namamu ke Yoru.”
Yoru yang awalnya malu-malu memalingkan wajahnya pun menanyakan nama dari Han. Suaranya yang lembut dan pelan itu masih dapat terdengar oleh Han.
“Kau, namamu siapa?? Tak adil rasanya kalau kamu tahu namaku tapi aku tidak mengenalmu.”
“Maaf, namaku Han. Salam kenal”
Han yang tersenyum ketika melihat Yoru membuat wajahnya Yoru sangat merah. Maylene yang melihat Yoru yang wajahnya memerah pun mulai menggoda Yoru.
“A-ayolah May, aku tau kok itu.”
Han yang merasa kepanasan di luar mencoba untuk mengajaknya masuk ke WacDonul, mereka berdua pun mengiyakan ajakan Han.
“Ayo masuk, aku ga mau panas-panas disini.”
“Iya.”
Mereka akhirnya masuk dan mulai memesan makanan yang ingin mereka pesan. Tiba-tiba Han dan Maylene mulai berselisih karena sesuatu yang tidak penting.
“Pak, saya pesan Paket Hangat 3. Minumnya Lemon Tea semua.”
“Total harganya $ 8.”
“Han, aku aja yang bayar.”
“Ga! Aku aja yang bayar! Lagipula aku punya kartu.”
“Kartu?”
“Iya, kartu. Kartu muktahkir! Bebas iuran, bebas bunga!”
“AKU AJA YANG BAYAR!”
“ENGGAK! AKU AJA!”
__ADS_1
Yoru bertanya kepada Han yang berada di depannya mengenai kartu muktakhir itu. Dia penasaran kartu seperti apa sampai Han menyebutnya.
“Kartu muktakhir?”
“Oh, iya Yoru, itu kartu yang jarang-jarang dimiliki oleh orang-orang disini. Kartunya harusnya ada di sin-.”
Han tiba-tiba sadar, kartunya itu belum dikembalikan oleh Mama Han sejak kemarin. Han tiba-tiba matanya melotot dan keringat pun kelaur dari kepalanya.
“MA!! KARTUNYA MA!”
Han tiba-tiba meneggakan kepalanya dan membayar semua makanan itu dengan uangnya. Maylene yang menggoda Han dengan nada sinisnya mulai mengatakan sesuatu.
“Hee, kartu muktakhirnya mana? Kamu mau mencoba menjadi jantan di depan kita kan?”
Han yang malu mencoba untuk memalingkan wajahnya dari Maylene. Dia tiba-tiba memanggil Yoru yang berada di belakang dengan nada yang baik-baik saja.
“Yoru, ayo cari tempat duduk.”
“I-i-i-iya.”
Mereka bertiga akhirnya duduk dan mulai banyak bercerita, terutama Maylene yang bisa kenal dengan Yoru. Ketika Maylene mengatakan bahwa mereka berada di satu kelas, Han sangat kaget ketika mendengar itu.
“Kita satu kelas di kampus.”
“HEHHHH??”
Han tiba-tiba menoleh ke arah Yoru, yang sedang mengenakkan jaket yang tidak asing di matanya, jaket yang sudah sobek di lengan kanannya. Ketika mereka berbicara, Yoru pun menyelanya secara tiba-tiba.
“Itu jaketku bukan? Kan sudah rusak kenapa kamu masih pakai?”
“Ja-Jaketnya enak dipakai, kamu tahu, jaketnya ga tebal tapi ga tipis juga. Jadi aku ga mungkin kepanasan dan kedinginan.”
“Han, kamu benar-benar. Kamu bisa megubah gaya berpakaian Yoru. Lihatlah dirimu ini, sudah pakai kaos biasa, celana pendek juga. Kamu pikir kita ke pantai?”
“Ayolah May, jangan kamu hina cara berpakaiannya Yoru. Dia kan bebas mau pakai apa., toh cocok juga sama dia. Lagipula aku punya alasan untuk memakai baju seperti ini.”
“B-Benar itu! Aku bebas berpakaian!”
“T-T-Tapi... maafkan aku.”
Maylene pun menunduk lemas sambil minum Lemon Tea itu tiba-tiba mengganti topik pembicaraannya, dia mulai berbicara tentang itu kepada Yoru. Han yang sedang makan pada awalnya pun tersedak karena mendengarkan Maylene.
“Hey, habis ini kita mau kemana?”
“Kemana? Ke Xingxi Mall gimana?”
“Jangan, pacarku ada di Xingxi Mall. Aku ga mau ketahuan sama dia kalau kita bertiga pergi...”
“A-A-Apa!!! Tobe ada di XingXi Mall? Kamu kenapa memangnya sama dia??! Terus kita berdua tidak jadi kencan?!”
“Oh, dia awalnya mau mengajakku kencan, tapi aku bilang aku lagi pergi sama teman kelasku. Lagipula, siapa yang mengajakmu kencan? Bodoh sekali kau Han.”
Han tiba-tiba murung, karena ekspetasinya dijatuhkan begitu saja oleh Maylene. Tapi Yoru tiba-tiba mengatakan kepada Maylene.
“Ayolah May, kamu sendiri yang buat dia salah paham.”
“Benar juga… tapi dia kan laki-laki. Dia tidak boleh gampang terhasut sama perempuan!”
__ADS_1
Han tiba-tiba menyarankan tempat untuk pergi, tempatnya ada di barat kota dimana Tobe tidak mungkin pergi ke tempat itu.
“Aku ada tempat pergi, dan tidak mungkin diketahui Tobe ataupun temanku.”