
“BENAR! BUAT APA SAYA DISINI!”
Maylene dan Han tiba-tiba menodong Jun dengan gestur ‘diam’, lalu dilanjutkan oleh Tobe yang juga ikut-ikutan memberikan gestur ‘diam’.
“Shhh, tenang!”
Papa Han yang melihat Jun itu hanya tersenyum dan meminta Jun untuk bersabar sedikit, dengan mata yang tertutup itu mulai mengatakan kepada Jun, bahwa banyak ilmu yang bisa dia tangkap selama di ruangan ini.
“Jun, bersabar sedikit ya. Om akan mengajari kalian semua, tentang dunia bisnis!”
“I-Iya Om, maafkan saya.”
Jun pun lemas dan duduk kembali. Papa Han lalu menoleh ke arah Papa Maylene dan Papa Tobe. Tiba-tiba, Papa Han mengeluarkan surat kontrak dan bolpen ke arah mereka berdua.
“Karena anak kalian hampir dijual, sebagai permintaan maaf saya, kalian akan saya berikan saham klub ini secara gratis! Masing-masing mendapatkan jatah 12% dan saya akan memegang 14% karena anak saya yang memenangkan perjudian itu.”
Papa Maylene begitu senang melihat tawaran kontrak dari Papa Han. Papa Maylene menanda-tangani surat itu dan menyerahkannya kepada Papa Han. Dengan wajah yang gembira, Papa Maylene menjabat tangan Papa Han dengan penuh sukacita di hatinya.
“Tuan Lin! Anda sungguh rendah hati, dan ini sebuah kehormatan bagi saya untuk bertemu dengan anda! Saya masih belajar bagaimana menjadi pebisnis yang sesukses anda!”
“Jangan mengatakan seperti itu, Tuan Wu. Anda sendiri juga sukses di industri elektronik! Merek Caodui milik anda ini benar-benar kelas atas dan futuristik! Jangan merendah terus Tuan Wu!”
Ketika Papa Han melemparkan pujian itu, Han mulai bertanya kepada Maylene yang begitu bahagia itu dengan wajah yang bingung di ujung kanan tepi ruangan.
“May, handphone-mu apa?”
“CaoDui X40, merek yang belum rilis di seluruh dunia. Kenapa?”
Han yang melihat Maylene itu dengan wajah yang kecut dan merenung terhadap dirinya sendiri.
“Dasar perempuan satu ini! Kenapa kau begitu materialistik! Kau udah punya uang, brengsek!”
…
Lalu Papa Tobe yang juga bahagia itu menanda-tangani surat itu, tapi pertanyaannya hanya satu. Kemanakah sisa 14% itu?
“Saya sungguh berterima kasih kepada anda, Tuan Lin! Ini adalah ketiga kalinya anda memberikan saham kepemilikan secara gratis kepada saya! Namun, pertanyaan saya hanya 1. Dimanakah 14% sisanya?”
Papa Han tiba-tiba tersenyum, lalu dia membuka televisi yang ada di ruang meeting itu. Televisi itu sungguh besar dan terdapat kamera yang merekam seisi ruangan itu.
Suara panggilan video tiba-tiba sudah diterima, dan Pangeran Salomo muncul di televisi. Dengan wajah yang sedikit lebih muda daripada ketiga Pria yang duduk itu menyambut ketiga orang itu dengan wajah yang bahagia.
“Selamat Pagi, Tuan-Tuan yang berada di Lions Pore yaa saat ini.”
Percakapan ini hanya antar dua pihak, yaitu Papa Han dan Pangeran Salomo. Papa Maylene dan Papa Tobe hanya menonton video call dari mereka berdua.
“Selamat pagi, Pangeran Salomo! Terima kasih telah mengangkat telpon dari kami!”
“Oh, tidak masalah. Apakah Tuan Lin ingin mengatakan bahwa kiriman Emas akan datang ke negara saya sebentar lagi?”
“Kalau itu sudah diproses, Pangeran Salomo. Namun hari ini kita akan berbicara sesuatu yang lebih penting.”
Jun melihat ke arah Han dengan wajah yang penuh dengan amarah. Han hanya tersenyum untuk membohongi Jun di sana.
“Oi, Papa kau ini pemilik tambang emas?”
“Ti-Tidak juga kok Jun.”
Tiba-tiba Tobe mencela Han, dia menjelaskan secara rinci tentang keluarga Lin dengan wajah yang datar.
“Jun, keluarga Han itu punya perusahaan seluruh jenis tambang terbe-.”
“WOI TOBE! STOP! STOP! STOP! STOP! KAU JANGAN BERLEBIHAN!”
Han yang menyela Tobe itu membuat Jun melihatnya penuh dengan amarah. Dia menyinggung Han yang sampai saat ini selalu merengek kepadanya karena tidak mendapatkan wanita sama sekali.
“Han, kenapa kau merengek kepadaku di saat kau bisa mendapatkan segalanya di dunia ini! Mati saja kau, biadab!”
Han pun kembali ke posisinya dan sedikit ketakutan terhadap Jun. Han pada saat ini tidak ingin melihat Jun sama sekali karena Jun begitu marah terhadap Han.
“Aku, Aku, Aku takut sama Jun. Dewi, salah apa aku hari ini?”
…
__ADS_1
Kembali lagi dengan video call mereka berdua, Papa Han dengan nada serius-nya bertanya kepada Pangeran Salomo.
“Pangeran, anda punya uang berapa saat ini?”
“Uang saya lebih-lebih saat ini. Mengapa?”
“Kau bisa tidak beli saham ‘The Red Devils’ sebesar 14% dari saya?”
“Bisa-bisa saja jika anda memang berniat untuk menjual. Saya sebenarnya tidak cocok dengan Tuan Campbell. Dia benar-benar kotor! Saya ingin menemui anak anda sekarang juga! Rasa terima kasih saya begitu besar kepadanya!”
Tiba-tiba, Papa Han memanggil Han dan Han masuk ke dalam kamera yang ditayangkan di ruang pertemuan itu. Han begitu gugup karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan pangeran sebuah negara.
“H-Halo, Pangeran Salomo.”
“Ini anak kau, Tuan Lin? Oke, mulai sekarang kamu akan kupanggil dengan ‘Nak Han’. Saya, sebagai putra mahkota sekaligus pemilik saham dari ‘The Red Devils’ ingin berterima kasih kepadamu sebesar-besarnya karena telah mengambil saham dari Alan si pelit itu! Saya memiliki proyek yang sangat besar untuk klub ini, namun si Alan brengsek itu tidak menginginkan itu. Saya akan berjanji akan menjaga dan membesarkan klub yang kamu dukung! Peganglah janjiku ini, Nak Han.”
Han yang mendapatkan permohonan langsung dari Pangeran Salomo itu mengiyakan mandat yang diberikan. Han meminta kepada Papa-nya untuk langsung menjual saham sisanya dengan wajah yang penuh kepercayaan diri.
“Pa, jual sahamnya! Aku percaya kepadanya.”
“Kamu tidak perlu meminta Papa untuk menjualnya, Papa sudah menjualnya.”
“Ha??”
Han yang bingung itu ditertawakan oleh Pangeran Salomo dari video. Han pun sedikit sebal dengan Papa-nya yang sebenarnya sudah menjual sahamnya, namun menunggu video call itu untuk kesepakatan.
“Hahahahaha, nak Han, kau lucu! Saya sudah menjalin kesepakatan dengan Papa-mu! Kita video ini hanya untuk menunjukkan bukti bahwa surat penjualan ini sudah sah saja.”
“Seperti itu Han.”
“Ya udah, aku kembali duduk aja.”
Han yang sebal itu kembali duduk, dan pertemuan itu sebenarnya sudah selesai. Pangeran Salomo pun mengucapkan selamat tinggal kepada mereka dan mulai menutup videonya.
“Terima kasih, Tuan-Tuan atas pertemuan bisnis yang menguntungkan ini. Saya sangat bersyukur dapat bertemu dengan kalian walau hanya dari video. Sampai jumpa”
“Terima kasih Pangeran Salomo atas waktunya.”
Akhirnya video itu ditutup, dan pertemuan itu sudah selesai. Semua anak-anak remaja akhirnya menghembuskan nafas kelegaannya karena teralu capek untuk mengikuti pertemuan bisnis itu.
“Akhirnya, aku jalan-jalan ke luar! Ayo mau kemana kita?”
“Hmm, ke pulau sebelah?”
Jun yang menghembuskan kelegaan itu di awal, lalu diikuti oleh Maylene dan Ryuu itu membuat suasaa kembali normal.
Namun, ketika Papa Maylene menghadap Papa Han, tiba-tiba dia sujud syukur kepadanya dengan nada yang memohon kepadanya.
“Tuan Lin! Saya sangat berterima kasih karena anda telah memberikan saham yang bernilai tinggi ini! Ini sebuah kehormatan, apakah ada yang bisa saya lakukan untuk membalas budi anda?!”
Papa Han dan seluruh anak-anak remaja yang berada di sana itu bingung. Maylene pergi ke arah Papa-nya dan memegang pundaknya, menyuruhnya untuk berdiri dengan suara yang memohon kepada Papa-nya sendiri.
“Papa! Jangan merendahkan diri Papa di depan orang lain! Papa tidak semestinya melakukan itu!”
Papa Han yang melihat ketulusan hati dari Papa Maylene pun memintanya berdiri, lalu dia mengatakan permintaannya kepada Papa Maylene.
“Tuan Wu, bangunlah! Saya menghormati ketulusan hati anda, namun tidak seperti ini juga. Saya sebenarnya ada permintaan buat anda, namun tidak berat-berat amat.”
Papa Maylene bangun dari lantai, dia lalu bertanya kepada Papa Han tentang permintaannya dengan wajah penuh dengan semangat yang tinggi.
“Apa itu, Tuan Lin? Saham perusahaan saya? Aset-aset saya? Peliharaan saya? Saya akan berikan kepada anda! Ini adalah suatu kehormatan bagi saya untuk bertemu dengan anda!”
“Tolong Tuan Wu, jangan berlebihan. Saya tidak sekejam itu dengan orang tua teman anak saya. Namun permintaan saya hanya satu. Sebentar lagi kan Festival Lunar, saya boleh tidak ‘meminjam’ Maylene?”
Papa Maylene dan Maylene pun bingung pada awalnya, wajahnya menunjukkan orang yang benar-benar tidak paham petunjuk sama sekali. Maylene tiba-tiba bertanya kepada Papa Han, apa maksudnya dari ucapan Papa Han itu.
“A-Aku? Om mau pinjam buat apa?”
Papa Han hanya tersenyum ramah melihat Maylene yang bingung itu, lalu dia menghembuskan nafasnya dan mengatakan kalimat-kalimat yang baik-baik kepada Maylene.
“Iya, Om mau pinjam. Jadilah ‘pacar’ dari Han untuk Festival Lunar. Cuma 1 hari aja kok. Tolonglah, Om tidak mau liat Han dibully lagi nanti.”
“HAAAAA??!!!!!!!!”
__ADS_1
Maylene yang terkejut itu tiba-tiba mengomel seperti biasanya di depan Papa Han. Maylene meninggikan nadanya dan wajahnya memerah, dia tidak ingin menjadi pacarnya Han karena apa yang terjadi di ‘Perfect House’.
“OM! AKU TIDAK BISA SAMA HAN! AKU TIDAK BISA BERSAMAN-.”
Han langsung menggunakan kedua tangannya dan mulai menutup mulut Maylene agar dia tidak dapat berbicara lagi.
“Mmm! Mmm! Mmm!”
Yang diartikan berbunyi seperti ini:
“LEPASKAN! HAN SIALAN! CEPAT LEPAS!”
Wajahnya yang tersenyum itu menasihati Papa-nya sendiri agar tidak bertindak gegabah untuk Han
“Pa, sepertinya itu harus Papa dari Maylene yang mengiyakan atau tidak. Bagaimana Om?”
Tapi sebenarnya di dalam hati-nya, Han. Suara hati yang penuh dengan kekesalan itu dipendam oleh Han.
“Aku juga tidak mau sama perempuan ini! Ini perempuan suka asal bicara, mata duitan, belum lagi suka cari gara-gara di tempat umum! Pa, lihat perempuan itu yang benar kenapa! Perempuan seperti ini Papa pilih buat aku, Papa bercanda atau bagaimana!”
Namun Papa Maylene hanya tersenyum melihat Han dan Maylene yang ‘terlihat akrab’ itu disana. Dia lalu mengatakan kepada Papa Han dengan wajah yang ceria.
“Kalau hanya itu tebusannya, saya sangat bahagia, Tuan Lin. Lihatlah anak kita, sungguh akrab kan. Kalau mereka berpacaran disini juga tidak apa-apa kok.”
Han yang mendengarkan Papa Maylene itu hanya berbicara lemas di depannya.
“O-Oh begitu Om? Tapi kita hanya sebatas teman saja kok. Tidak ada perasaan diantara kita.”
Yang sebenarnya di dalam hati Han adalah:
“Kita berdua bisa dibunuh Yoru kalau Yoru tau ini! Sialan! Sialan! Sialan! Sialan! Sialan! Sialan! May, maafkan aku. Walau aku tidak suka denganmu, tapi perkataan Papaku tidak dapat dibantah!”
“Mmmm!!!!!”
Maylene yang kesal itu sebenarnya ingin mengatakan kekesalannya terhadap orang tua-nya.
“Papa bahkan menjadikan putrimu sebagai alat sewaan! Yang benar Pa!!”
Wajah Papa Han yang tersenyum itu akhirnya menyepakati kesepakatan antara Papa Han dan Papa Maylene.
“Baiklah kalau begitu, Maylene, Om tunggu kamu di Festival Lunar yaa. Ayo kita cari restoran untuk makan bersama. Anak-anak kita biar pergi sendiri.”
Mereka bertiga akhirnya meninggalkan ruangan itu, menyisahkan kelima anak-anak yang masih tinggal di ruangan pertemuan itu. Han akhirnya melepaskan tangannya dari mulut Maylene. Maylene mulai mengomel ke arah Han dan mulai marah-marah sendiri di depan keempat temannya itu.
“BWAHHHH!!!! HAN! KAU GILA?! BIARKAN AKU BERBICARA! BIARKAN! AKU TIDAK MAU JADI ‘PACAR’MU! KAU TAU!”
“Maafkan aku, May! Tapi ucapannya Papaku tidak bisa dibantah!”
Han yang meminta maaf itu membungkukkan tubuhnya ke arah Maylene. Namun Jun dan Ryuu menyela Maylene sebelum Maylene memberontak.
“Yes, Han, kau udah dapat pacar kan. Baguslah!”
“Aku mendoakanmu, Han!”
Han pun membuka mulutnya dan tidak dapat berkata-kata. Tobe di sisi lain hanya melihat Maylene yang marah-marah itu dan menasihati Maylene.
“Kalian!!!!!!! Akan ku-.”
“May, tidak ada salahnya kamu bersama Han juga kok. Kan ini hanya menjaga Han biar tidak dibully aja di keluarganya.”
Mereka bertiga akhirnya pergi keluar terlebih dahulu, hanya mesyisakan Maylene dan Han di dalam ruang pertemuan itu.
…
“Gimana Yoru? Apakah dia perlu tau ini?”
Maylene yang bertanya dengan Han dengan wajah yang sedikit pucat itu benar-benar putus asa dengan kejadian sebelumnya. Namun Han membalas Maylene dengan nada yang tegas.
“Jangan kamu beritau! Ini kan hanya untuk 1 hari aja, setelah itu kan tidak. Maafkan aku udah menyeretmu di masalah saudara-saudaraku.”
Han yang tersenyum itu membuat Maylene sedikit malu. Dia memalingkan wajahnya dan tersenyum melihat Han.
“Yaa, hanya sekali aja juga tidak masalah kan!”
__ADS_1