Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 2, Chapter 13: It Wasn't My Fault!, Part 2


__ADS_3

Ryuu dan ketiga temannya kembali ke ruangan itu, dan Nagi pergi keluar untuk mencoba menelpon Han. Ketika Nagi sedang perjalanan keluar, dia melihat General Manager yang sedang menegur ke arah petugas resepsionis itu.


“Pak, mau anda apa sekarang? Saya kan sudah dipecat.”


“Anda, anda tidak jadi dipecat!”


“Kenapa begitu?”


“Tuan Han mengampunimu, jadi berbahagialah!”


Nagi yang melihat percakapan itu hanya terkejut saja, dia menghiraukan kedua orang itu dan mulai menelpon Han. Han yang saat itu bersama Yoru tiba-tiba digganggu pada saat mereka berdua di karaoke.


“Han, apa yang kamu perintahkan ke Ryuu! Kau pikir pacarku ini pacar sewaan?!”


“Bukan begitu Nagi, kau tau tas pacarmu itu dihabisi oleh Akaichi?”


“Ngomong-ngomong dia hari ini tidak membawa tas. T-Tunggu! Yui ke rumahmu?!”


“I-Iya, mengapa?”


“Aduh, bodohnya perempuan itu. Kenapa dia membawa tas hijau juga! Aku sudah memberitahunya bahwa barang berwarna hijau sangat berbahaya kalau berada di rumahmu.”


“Yaa, begitulah pacarmu itu. Kadang sedikit terlihat bodoh, aku menitipkan Ryuu kartuku untuk membelikannya tas baru dan bebas dia minta apa.”


“Kenapa kau tidak memberikanku saja kartunya?”


“Aku menolak! Kau akan memeras uangku nanti! Oke, aku mau pulang dulu. Aku tutup.”


Han yang berada di karaoke itu membuat Yoru sedikit bingung. Yoru tiba-tiba cemburut kepada Han karena Han mengatakan pacar, pacar, dan pacar.


“Han! Siapa yang tadi kau telpon?!”


“Oh, itu sepupuku kok. Yang kakinya patah itu, dia satu sekolah sama aku habis kejadian itu.”


“Terus kenapa ngomong masalah pacar? Jangan-jangan kau sudah…”


“Aku belum punya pacar!”


Ketika mendengar itu, Yoru tiba-tiba membentak Han di karaoke. Wajahnya sudah memerah dan sisi tsundere-nya terlihat lagi, dia ingin sekali berpacaran dengan Han saat ini.


“KALO BEGITU JADIKAN AKU PACARMU!”


“Hah? Sejak kapan kau jadi possesif seperti ini?”


Akhirnya malam itu sungguh canggung untuk mereka berdua dan mereka berdua memutuskan untuk pulang saja dari karaoke.


Nagi pun kembali ke ruang makan yang sudah tenang itu, dia pergi mencari Yui dan mengatakan kepada Yui untuk pergi bersama Ryuu dengan wajah yang sedikit kesal sebenarnya. Dia memegang pundak Yui dan berbisik kepadanya.


“Yui.”


“I-Iya?”


“Malam ini, pergilah dengan Ryuu. Jangan pedulikan aku?”


“K-K-Kau menjualku ke Ryuu??!!! Kejamnya! Kamu ini pacarku atau penjual budak?!”


“Sudah tenanglah, kamu ikut Ryuu nanti yaa. Ga akan menyesal kamu.”


Yui pun matanya kosong, dan Haruki sudah tidak berada di tempat reuni itu bersama Naoto. Mereka semua sebenarnya sudah selesai berada di sana, namun karena Nagi baru saja sampai, mereka semua mulai bercerita tentang masa-masa SMA mereka.

__ADS_1



Sementara itu, di dekat lobby hotel…


“Haruki! Sebenarnya apa yang terjadi padamu!”


Naoto yang membentak Haruki di lobby itu membuat Haruki ketakutan, tidak seperti Haruki yang berada di dalam ruangan makan itu. Naoto sudah melakukan sebuah tindakan yang cukup cerdas, dia membawa Haruki keluar dari zona nyaman-nya dan bertanya kepadanya di tempat dimana tidak ada teman-temannya.


“A-A-Aku tidak mengerti ma-maksudmu.”


“Kamu jangan bercanda! Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini! Kamu tiba-tiba mulai membenci Han walaupun dia menyelamatkanmu dari berandalan-berandalan itu, kamu sudah seperti putri tirani sekarang! Aku tidak akan buka mata jika Han benar-benar membencimu!”


Haruki yang tiba-tiba teringat itu meneteskan air matanya.  Memang sebenarnya dia tidak membenci Han sama sekali, entah perasaan apa yang membuat Haruki sekarang ini menangis.


“Itu bukan kesalahanku! ITU BUKAN KESALAHANKU! ITU… ITU… ITU BUKAN KESALAHANKU! AKU TERPAKSA MELAKUKAN INI!”


Naoto yang melihat Haruki menangis itu tetap tidak percaya kepadanya, dia tetap memandang Haruki rendah karena dia tidak tau bahwa Haruki bisa saja bermain-main dengan perasaannya.


“Jangan bercanda! Kamu hanya mengeluarkan air mata hanya untuk membujukku? Tolonglah! Kau benar-benar-.”


“ITU BENERAN BRENGSEK! AKU TIDAK MEMBENCINYA SEBENARNYA! AKU TERPAKSA!”


Haruki yang terus menangis itu diberikan tisu oleh Naoto. Dia mulai menenangkan Haruki yang emosinya meluap-luap itu.


“Te-Tenanglah Haruki, ayo kita ke tempat yang agak sepi, okay?”


Mereka akhirnya pergi ke tempat yang sedikit sepi, Naoto meminta Haruki untuk menceritakan semuanya dengan wajah yang sedikit santai ke arah Haruki yang wajahnya memang tidak seperti seorang psikopat lagi. Naoto benar-benar melihat Haruki yang dulu, Haruki yang selalu bersama Han di SMA.


“Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kamu? Ceritakan ke aku.”


“Aku terpaksa melakukan ini semua. Aku tidak tau kalau dia selama ini tersiksa dengan penderitaan itu, aku juga memberikannya syal saat dia ketiduran di bandara.”


“A-A-Ada. Tapi sebenarnya aku tidak akan melakukan hal seperti ini ji-jika ki-kita tidak bereuni.”


“HA? KAU PIKIR INI ACARA SETTINGAN?!”


“Aku se-sebenarnya mau minta ma-maaf dan ingin mengulanginya dari awal, bu-bukan, dari nol.”


Naoto yang mendengarkan tiba-tiba teringat akan suatu momen di sebuah anime. Namun Naoto paham bahwa kedua temannya, Ryuu dan Han lebih paham dengan anime daripada dirinya.


“Ok… apakah kamu mau menceritakanku dari awal?”


“Aku masih ta-takut untuk menceritakan itu. Ma-Maafkan a-aku”


Wajah Haruki begitu merinding, wajahnya pucat dan matanya putih kosong. Naoto yang melihat itu mengajak Haruki kembali ke ruangan makan itu, namun semua orang sudah tidak ada.


“Maafkan aku, Naoto. Aku tidak bisa menceritakanmu tentang apa yang terjadi.”


Naoto yang mendengarkan Haruki dengan nada yang sedih itu akhirnya mengiyakan permintaan Haruki. Naoto tiba-tiba pergi dari ruangan itu dan mengatakan pesan terakhirnya kepada Haruki dengan nada yang cukup tidak enak didengar.


“Dengarkan aku, Haru. Alasanku menghancurkan piring itu adalah aku tidak terima kamu menghina masa-masa SMA kita. Sebaiknya kamu menjaga perkataanmu lain kali.”


“I-Iya, ma-maafkan aku. Jangan bilang apa-apa ke Han.”


Naoto hanya pergi meninggalkan Haruki, dan Haruki duduk disana menangis.



Yui saat ini bersama Ryuu di mobil, mereka sekarang hendak pergi ke Xingxi Mall untuk membelikan Yui tas baru, namun

__ADS_1


“Ryuu! Aku akan membantumu!”


“Pertama-tama, kau kenapa ada di sini!”


Seperti yang diketahui, Nagi menyusup mobil Ryuu untuk pergi bersamanya.


“Ryuu, aku masih sayang dengan uangnya saudaraku. Karena itu aku ikut ke mall sekarang!”


“Sayang? Memang ada apa? Kau sungguh penuh dengan kedengkian!”


Yui yang melihat mereka berdua berdebat itu hanya diam saja dan tertawa. Ryuu dan Nagi yang melihat Yui tertawa saat itu mulai kebingungan.


“Dia kenapa, Nagi?”


“Kau lihat saja nanti.”


Mereka akhirnya sudah sampai di Xingxi Mall, dan pergi ke tempat tas yang paling mewah. Tempat itu sungguh gemerlap, penuh dengan lampu-lampu dan hanya orang-orang kaya yang berada di situ.


“Wah, aku sangat suka ada di sini. Nagi! Kau pintar sekali memilih tempat.”


Nagi hanya tersenyum, dan Ryuu melihat sambil menunggu Yui memilih tas yang diinginkannya. Setelah 20 menit menunggu, Yui akhirnya memilih tas. Tas itu memiliki emas 24 karat di bagian pegangannya dan berlian di seluruh bodi tas itu, ditambah dengan bahan dasarnya adalah kulit dari Blue Malayan Coral Snake. Tas itu sangatlah mewah dan indah, namun harga sendiri juga tidak berbohong, harga dari tas itu adalah


$ 50,000


Mengapa tas itu sungguh mahal? Karena tas ini diperlukan 4 ahli penangkap ular untuk membunuhnya dan salah satu petugas itu sudah meninggal karena tergigit oleh bisa ular itu. Jadi, sebenarnya harga tas itu adalah $ 20,000. Karena petugas itu meninggal sehingga biaya asuransinya adalah $ 30,000.


Ketika Yui ingin membeli ta situ, tiba-tiba Nagi menghentikan Yui sebelum Yui semakin menjadi-jadi dengan wajah yang tersenyum jahat.


“Yui, sebelum kamu bertindak lebih jauh, kamu tau harga tas itu berapa kan?”


Yui tiba-tiba berkeringat dingin dan tersenyum ketakutan.


“Iyaa…. Har-harganya murah kok.”


“MURAH KEPALA KAU! ITU HARGANYA $ 50,000!”


“T-Tapi kan H-Han bilang bebas mau tas apa…”


“Han mungkin akan mengizinkanmu, namun tidak dengan diriku. Udah sana! Ambil tas ini aja kamu!”


Ryuu yang menghampiri Nagi pun bertanya kepadanya dengan wajah yang datar.


“Jadi, ini alasanmu untuk ikut?”


“Seperti itu, temanku.”


Pada akhirnya, Yui hanya membeli tas yang harganya $ 50. Yui pun menangis histeris saat mereka semua pulang di mobil Ryuu. Nagi pun mengomeli Yui yang terus menangis itu.


“KAN, KAN KATANYA BEBAS! KENAPA JADI BEGINI? HEY, JELASKAN!!!”


“Kamu mau membangkrutkan Han? Sadar diri kenapa! Itu uang berapa! Kalau Han melihat tagihannya, bisa meninggal dia! Kau tau itu!”


Ryuu yang menyetir mobil itu hanya merenung saja, apa yang terjadi pada hari ini adalah sungguh memilukan baginya.


“Pertama, kedua mantan pasangan sekolah bertengkar, lalu piring pecah, setelah piring pecah ada pasangan suami-istri yang bertengkar karena tas. Sungguh reuni yang sangat indah.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2