Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 2, Chapter 13: It Wasn't My Fault!, Part 1


__ADS_3

2 jam sebelum Han dan Yoru bersenang-senang di malam Natal…


“Haruki! Kau sudah kelewatan! Sebenci-bencinya kamu terhadapnya, kamu jangan sampai mengancam orang lain.”


Tobe yang melihat Haruki dengan wajah penuh amarah itu membuat Haruki semakin tersenyum. Haruki sudah seperti seorang psikopat yang tidak segan-segan siap membunuh siapapun yang ada disana, termasuk kedua temannya yang memprovokasi Haruki.


“Ha? Memang aku peduli sama dia? Jangan berbicara seperti kau mengetahui semuanya! Aku membencinya! Aku ingin menghapusnya dari dunia ini!”


“Kau sudah kelewata-!”


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk tangannya dengan keras, dengan wajah yang tersenyum dia berusaha menenangkan semuanya yang sedang tegang itu. Ruangan khusus mereka yang berada di hotel itu benar-benar dingin seperti es yang membeku di bawah suhu -10℃, hubungan yang sangat tegang di antara Haruki dengan ketiga teman Han itu dibubarkan olehnya.


“Ayo-ayo, saatnya malam ini ktia bercerita dengan bebas tentang apa yang kita lakukan. Lupakan kejadian-kejadian sebelumnya. Benarkah begitu, teman-teman?”


Akhirnya semuanya sudah tidak tegang dan suasana kembali santai, orang itu adalah Mika yang menenangkan semuanya dan mereka kembali menyantap makanan yang telah mereka ambil.


“Aku mencurigaimu, kenapa kamu bisa di grup kita.”


Ryuu yang menatap Mika dengan tajam dengan wajah yang sangat serius membuat Mika hanya tersenyum saja. Mika tidak terintimidasi oleh Ryuu sama sekali dan hanya membalas dengan beberapa ucapan.


“Kita sedang senang-senang, tidak baik mencurigai sesama kita. Ini kan Natal, tolong hargai hari ini, Ryuu.”


Ryuu hanya membalik lagi dan makan hidangannya. Sebenarnya, Mika dan Ryuu memiliki hubungan yang sangat buruk, bahkan melebihi anjing dan kucing ketika mereka bertengkar. Ryuu sangat mencurigai ketiga teman grupnya, yaitu Wang, Long, dan Mika. Salah satu dari mereka mungkin ada yang memperalat Han, karena semuanya tiba-tiba menjadi teman Han di kelas 3 sebelum mereka lulus.



“Namaku Mika, wakil ketua dewan sekolah. Salam kenal dengan kalian. Aku teman baru Han dan aku mendukung Han saat ini.”


Itulah apa yang dikatakan Mika pada saat dia pertama kali bertemu Ryuu dan Tobe. Perekenalan inilah adalah cikal bakal sebuah grup yang ada sampai sekarang, Wang dan Long yang kebetulan berada di kelas Mika itu pun masuk ke kelompok itu. Sebuah kelompok yang tidak teralu terkenal di sekolahnya, namun kelompok itu sangat terkenal di depan guru-guru karena kelompok itu juga menjadi bahan pembicaraan guru-guru. Bukan secara negatif, namun positif.


Han di tahun terakhir SMA tetap saja mendapatkan surat-surat hujatan dari banyak orang walau semua pekara sudah selesai. Mr. Kibe sudah dipecat, pembubaran pemilihan tim untuk Kejuaraan Nasional, dan Barou sudah tidak ada di tim lagi karena dia sudah lulus sebelum menginjak tahun ketiga dari angkatan Han.


Haruki di sisi lain sebenarnya juga sudah berhenti mendapatkan tulisan-tulisan terror saat itu, karena Haruki sudah membenci Han dan sudah dipublikasi pula oleh tim-tim jurnalis. Sebuah event yang sangat membingungkan di SMA Han berada.


Di sisi lain, Han yang masih saja berharap Haruki akan berubah itu merenung saja di dalam kelas.


“Apakah Haruki akan kembali ke dirinya yang dulu? Aku saat ini seperti tidak bertemu dengan Haruki. Ini salah, ini bukanlah Haruki.”


Nagi yang baru saja pindah sekolah itu langsung ditempatkan di kelas Han, Han yang melihat itu hanya terlihat lemas dan masih tidak percaya bahwa Nagi pindah ke kelasnya. Nagi di sisi lain hanya tersenyum menyapa Han.


“Halo, Han! Sepertinya kita satu kelas saat ini.”


“Na-Nagi… kau kenapa bisa di kelas ini?”


Nagi lalu duduk di sebelah Yui, yang kebetulan satu kelas dengan Han juga. Dari situlah Nagi mendapatkan pacar di hari pertama dan hari-hari mulanya Han dibully oleh satu keluarga. Kehidupan Nagi dan Han sangatlah kontradiktif di masa-masa SMA.



Satu jam setelah mereka makan-makan, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan itu. Dia dengan wajah yang sedikit kecapekan dan berkeringat itu. Semua teman-temannya melihat dia dengan wajah yang sangat tidak biasa.

__ADS_1


“H-Hey, apa aku telat? Maafkan aku, mobilku ketabrak pohon tadi, Hehehe.”


“O-oh oke, kau sudah telat. Sungguh telat.”


Yui yang melihat Nagi dengan kondisi seperti itu mendatanginya dan mengkhawatirkannya. Nagi tiba-tiba juga bertanya dimanakah sepupunya itu sekarang karena Han sudah pergi meninggalkan ruangan itu satu jam yang lalu.


“N-Nagi, apakah kau baik-baik saja?”


“Iya, aku tak apa-apa kok. Oh ya, Han dimana sekarang?”


Naoto yang mendengar Nagi itu tiba-tiba melirik Haruki, dia menunjuknya dan seolah-olah melempar semua kesalahan itu ke arah Haruki.


“Oh, sepupumu kan? Tanya saja ke perempuan itu, cara dia mengusirnya bagaimana.”


Nagi yang melihat Haruki yang masih santai itu tiba-tiba bergumam dengan sedikit keras, dia masih ingat bagaimana Haruki memperlakukan sepupunya saat Nagi baru saja masuk ke sekolahnya.


“Lagi dan lagi? Haruki, kita kan sudah dewasa. Kenapa kamu masih saja mengganggu hidupnya? Biarkan dia hidup tenang bagaimana.”


Haruki yang sebenarnya sudah tenang tiba-tiba melirik Nagi dengan tajam, nadanya kembali ke semula dimana saat Han dan Haruki bertengkar sebelumnya.


“Oh, anak baru berani menasihatiku? Kenal posisimu, anak baru!”


Nagi yang merasa terintimidasi itu hanya melihat Yui yang sedang ketakutan. Lalu Nagi bertanya lagi dengan nada yang sedikit jengkel.


“Haru, apa yang sudah kamu lakukan kepada Yui dan Han?!”


Tiba-tiba, Wang, Ryuu, dan Long menyela Nagi yang bertanya itu ke arah Haruki dengan nada yang santai, seolah-olah mereka ingin mengganti topik pembicaraan.


“Aku mau pergi ke toilet.”


“Aku masih lapar, aku mau ambil makanan lagi. Nagi, mau ikut?”


Nagi akhirnya dibawa pergi oleh Long untuk mencari makanan. Ketika mereka berada di luar, Long menceritakan semua yang terjadi sebelumnya dan meminta Nagi untuk berhenti bertanya kepada Haruki lagi.


“Nagi, jangan bertanya-tanya lagi kepada Haruki tentang sepupumu. Sebenarnya tadi pacarmu di-intimidasi oleh Haruki karena Yui membelanya, lalu Han pergi dan entah sekarang dimana.”


“Begitukah? Aku merasa bersalah sama sepupuku sendiri, apa karena aku dia sangat menderita di masa-masa SMA-nya. Seandainya pertandingan itu tidak ada, maka Han tidak mungkin mendapatkan kebencian yang sangat besar dari seisi sekolahnya, terutama Haruki.”


“Oh, sepertinya harapanmu itu sia-sia. Han akan selalu dibenci walaupun tidak ada pertandingan itu!”


Nagi dan Long yang mendengarkan itu tiba-tiba terkejut, mereka melihat ke belakang dan melihat Tobe yang mengatakan seperti itu. Nagi yang tidak terima tiba-tiba menerjang Tobe dengan penuh amarah.


“WOI! Kau ini juga dekat dengan keluarga Lin! Apakah kamu senang melihat teman dekatmu itu dibenci oleh seisi sekolah! Dimanakah perasaanmu!”


Tobe yang mendengarkan Nagi itu hanya membalas dengan nada yang sedikit santai. Tobe menjelaskan itu kepada temannya sekaligus menginjak-injaknya dengan dugaan-dugaannya.


Mama Tobe adalah teman dekat dari Papa Han maupun Papa Nagi, sehingga mereka memiliki hubungan pertemanan. Namun Han tidak mengetahui bahwa Mama Tobe adalah teman dari Papa Han karena tidak pernah hadir saat reuni.


“Bukan begitu Nagi. Maksudku adalah-.”

__ADS_1


“Cukup! Aku akan mengambil alih disini dan menjelaskan itu ke Nagi.”


Ryuu yang baru saja dari toilet itu kembali dan melihat mereka bertiga yang sedang bersitegang itu. Ryuu tiba-tiba bercerita kepada Nagi tentang masalah Han yang sebenarnya terjadi di masa-masa SMA itu.


“Sebenarnya, tidak ada hubungannya dengan pertandingan itu. Mau kakimu hancur atau putus tidak akan mempengaruhi kebencian satu sekolah terhadap Han.”


Long tiba-tiba menyela Ryuu yang menjelaskan dengan ketidak tahu-an yang begitu besar. Long benar-benar memiliki pengetahuan nihil tentang insiden itu dan dampak-dampaknya.


“Kenapa bisa begitu Ryuu? Aku tidak paham sebenarnya apa yang terjadi pada Han.”


Ryuu yang melihat reaksi Long itu hanya menghembuskan nafas dan menjawab Long dengan nada yang cukup santai dan lega.


“Sepertinya, bukan kamu dalangnya. Sekarang menyisahkan dua orang.”


“D-Dalang? Apakah kamu mencurigaiku selama ini?! Kita kan teman!”


“Dalam strategi perang, kamu tidak boleh mempercayai sekutumu 100% maupun musuhmu. Jelas aku mencurigai kamu, karena kamu juga baru-baru aja masuk di kelompok kita.”


“Sebenarnya, aku mencurigai sesuatu dari SMA kita. Aku yakin Haruki sebenarnya ‘terpaksa’ membenci Han, hanya saja aku tidak tau siapa dalang dibalik ini. Awalnya aku mencurigai Barou, kau, Wang, dan Mika karena Barou adalah kapten tim basket dan koneksinya pasti kuat, kau dan Wang adalah orang yang baru saja masuk ke kelompok kita, sedangkan Mika adalah orang yang memiliki jabatan yang cukup tinggi selama di sekolah.”


Nagi tiba-tiba membalas Ryuu yang mengatakan hal seperti itu, karena Nagi sering melihat Mika di setiap acara sekolah dan seringkali menyerahkan dokumen sekolah membuatnya bingung pada awalnya.


“Maksudmu, pekerjaannya adalah pelayan kepala sekolah? Jabatan yang sungguh rendahan, aku bahkan tidak mau menjadi pembantu kepala sekolah!”


“Woi! Dia itu wakil ketua dewan sekolah!”


Tobe tiba-tiba menyela Nagi yang bertanya seperti itu.


“Aku sendiri masih tidak dapat mempercayaimu, Long. Tapi buktikan bahwa omongaku ini salah, apakah kamu bersedia?”


“Aku akan membuktikanmu kalau aku bukanlah dalang di balik ini semua. Lagipula, aku tidak punya jabatan sama sekali di sekolah. Bandingkan dengan Han dan Tobe yang merupakan dua murid yang bahkan ditakuti oleh wakil kepala sekolah, Haruki yang menjadi ketua dewan sekolah, dan masih banyak lagi.”


“Pokoknya aku tetap mencurigaimu!”


“HEHHH?!!!!”


Tobe yang sedikit kesal itu menghembuskan nafas ketika Ryuu dan Long sedang berdebat.


“Ya ampun, aku seperti melihat Black Clover saat ini. Sudahlah, yang penting kita nanti masuk tidak ada perasaan benci sama sekali.”


Lalu Ryuu melihat Nagi dan bertanya kepadanya dengan wajah yang sangat meyakinkan. Nagi yang melihat kepercayaan diri Ryuu itu mulai sedikit merinding, kakinya bergetar dan wajahnya cukup takut.


“Nagi! Aku hari ini mau meminjam Yui!”


Nagi pun terkejut dan wajahnya begitu kebingungan. Dia tidak menduga bahwa Ryuu akan mengatakan seperti itu. Nagi pun mengomel kepada Ryuu seolah-olah dia ingin melindungi pacarnya.


“HA???!!!! Kau pikir Yui ‘Pacar Sewaan’?! Walaupun dia cantik, tapi jangan memandang rendah pacarku kau brengsek!”


“Bu-Bukan seperti itu, Han yang mengatakan itu kepadaku. Hanya malam ini, aku bersumpah tidak melakukan apa-apa terhadapnya. K-Kau percaya aku kan.”

__ADS_1


“Yaa, asal kau antarkan dia pulang bagaimana?”


“Deal!”


__ADS_2