
Melanjutkan tamasya-nya, Han dan Maylene melanjutkan perjalanan berikutnya, yaitu ‘Zona Tiga Kerajaan’. Zona itu adalah zona dimana tempat itu memiliki danau yang sangat luas dan berarsitektur Tiongkok. Terdapat kapal-kapal besar yang bertarung di kapal dengan hujan panah dari ketiga kapal yang bertanding di danau itu.
“Hmm, sepertinya seru itu.”
Han yang terpacu adrenalinnya membuat Maylene begitu ketakutan melihat Han yang begitu semangat. Dia pergi menghampiri Han yang ingin ke loket permainan dan bermain dengan 20 orang. Han yang bersama Maylene itu masuk ke dalam kapal dan bermain melawan 40 orang lainnya yang masuk ke dalam 2 kapal. Permainan ini dinamakan ‘Tie the Ship’ atau ‘Mengikat Kapal’. Permainan ini terinspirasi dari kejadian ‘Red Cliff’ yang juga bagian dari cerita dari ‘Tiga Kerajaan’.
Permainan ini sungguh mudah, ada 2 orang yang mengendalikan kapal, 4 orang yang mengisi amunisi panah, dan 4 orang yang menembakkan panah menggunakan crossbow. Sementara 10 orang lainnya berada di jalur darat dan bertarung dengan menggunakan pedang mainan atau tombak. Panah itu menggunakan karet dan disediakan pelindung yang berupa rompi dan panah yang tertembakkan itu begitu lengket dengan rompi.
Peraturannya mudah, ketiga kapal itu diberikan zona berlayar, tugas seorang nahkoda adalah menjaga stabilitas kapal karena sewaktu-waktu air akan bergoyang.
Tugas dari pengisi amunisi adalah untuk mengisi peluru dari penembak yang berada di kapal dan melindungi penembak, dan tugas penembak adalah menghindar dari tembakan dua sisi dan menembak.
Sedangkan yang di jalur darat, pertarungan layaknya seperti pertarungan film aksi, namun para penyerang dibatasi oleh cara penyerangan mereka. Mereka tidak boleh mengenai kepala lawan, karena target untuk menghabisi lawan berada di rompi mereka. Pertarungan besar ini berlangsung selama 2 jam, karena 30 menit adalah waktu yang teralu singkat untuk menyelesaikan permainan ini.
Pemenang dari permainan ini akan mendapatkan $ 100 untuk setiap orang, hal itu yang membuat permainan ini begitu ramai.
Han yang bergitu tertantang oleh permainan ini dengan senyuman yang begitu menakutkan pun mulai memegang bahu dari Maylene. Matanya penuh dengan intimidasi dan membuat Maylene takut seketika, mata yang sama ketika Han bermain ping-pong melawan Yoru.
“Menarik, sungguh menarik! Ayo May! Kita main permainan ini!”
‘H-Huh??!!!!!”
Setelah diberikan arahan oleh petugas selama 10 menit, mereka semua bersiap ke dalam 1 kapal. Han yang ditunjuk sebagai pemimpin dari tim itu mulai mengarahkan strateginya dengan wajah yang tersenyum dan seperti orang yang ingin secepatnya terjun ke dalam medan perang.
“Jadi, strateginya begini. 10 orang yang berada di kapal, kita akan tekan kekuatan kapal kedua, lalu kita baru menyerang kapal ketiga dengan hujan panah. Kita akan memakai panah secara effisien untuk kapal kedua, karena jarak pandang yang begitu dekat. Untuk para Nahkoda, silahkan periksa kapal ketiga dari kejauhan dan laporkan itu kepada pemanah. Kita akan menang! Untuk para penyerang di daratan, gunakan perangkap hutan untuk mengalahkan mereka yang datang. Jadilah tak terlihat di medan! Ketika masalah sudah beres, lihatlah sekitar dan bantu mereka yang masih membutuhkan pertolongan.”
Ketika Han menjelaskan strategi itu kepada mereka semua, ada satu orang asing yang bertanya kepada Maylene karena Maylene terlihat begitu dekat dengan Han. Maylene yang ditanya tiba-tiba wajahnya memerah dan malu.
“Hey, apa dia pacarmu? Begitu semangat dan pintarnya pacarmu itu ya. Aku sendiri tidak akan berbicara lantang seperti itu bahkan di depan pacarku. Perkenalkan namaku Sen.”
“P-P-Pacar?? Aku bukan pacarnya! Tapi dia selalu seperti ini ketika permainan adrenalin diadakan.”
“Oh, mengapa seperti itu?”
“Iya, dia sendiri pernah menghabisi teman perempuanku di permainan ping-pong tanpa ampun. Lalu dia juga orang yang berhasil mendapatkan saham ‘The Red Devils’ di casino.”
__ADS_1
“HA?!!!!!!!! Temanmu itu gila! Maniak! Umm, sebentar… dia yang punya ‘The Red Devils’?”
Sen yang bertanya dengan wajah yang kaget dan berteriak membuat semua orang yang awalnya mendengarkan Han tiba-tiba juga ikut kaget karena orang itu baru saja mendengar bahwa Han adalah pemilik klub ‘The Red Devils.”
“Ha?!!! Itu kau orangnya?”
“Kak, foto dengan kita! Ini kehormatan bagi kita untuk bertemu dengan pemilik saham ‘The Red Devils’.
Han yang mendengarkan celotehan orang banyak itu hanya melihat ke arah satu perempuan. Hanya satu, namun matanya benar-benar sebal melihat perempuan itu. Giginya yang digetarkan dan tangan yang digenggamnya begitu kuat hanya bersuara di dalam hati.
“MAYLENE!!!!!!! KAU KAN PEMILIK JUGA SEKARANG BRENGSEK!!!!!!!”
Han bertanya kepada mereka semua, apakah mereka paham dengan strategi yang dijelaskan oleh Han atau tidak.
“Kalian paham dengan strategiku?”
“KITA PAHAM, BOS!”
Han yang merasa sebal dipanggil bos itu hanya mengerutkan matanya dan membalas mereka dengan nada yang datar.
“Aku sekarang bukan bos dari klub itu.”
“Sebenarnya, perempuan yang tertawa itu juga pemilik klub itu.”
“H-HAN!!!!!!!!!!! JANGAN KAU BILANG ITU!”
Maylene yang kesal itu hanya mengeruskan wajahnya dan kesal terhadap Han. Namun, Han hanya tersenyum melihat Maylene yang sebal itu dan berkata dalam hatinya.
“HAHAHAHAHA! Kau sudah menjebakku, sekarang kau yang aku jebak!”
Han lalu mengajak mereka semua untuk foto bersama sebelum memulai permainan dengan wajah yang ramah dan membuat grup Lane sendiri untuk komunikasi melalui telpon.
“Kita akan foto bersama dulu, anggap ini sebagai kenangan. Kita merapat dan bermain dengan kesenangan di hati.”
“YES SIR!”
__ADS_1
Semua peserta yang berada di Tim Han itu berkumpul dan foto bersama, lalu mereka saling berkenalan satu sama lain. Han lalu berbicara kepada tiga orang dan meminta mereka untuk memimpin divisi mereka masing-masing
“Kamu, Sen yaa? Lalu kamu Emi, bukan? Dan kamu Ray?”
“Iya.”
“Oke. Sen, kau pimpin pasukan darat. Emi, kau pimpin pasukan pengumpul panah, dan Ray kau berada di kapal sebagai nahkoda. Mengerti?”
“Siap!”
Mereka bertiga dengan sigap lalu pergi ke daerah mereka masing-masing. Maylene yang masih berada di sebelahnya Han hanya tersenyum dan melihat Han yang seperti jendral itu.
“Kamu bagian apa terus?”
“Aku bagian panah. Kamu pergi ke bagian pengumpul panah ya.”
“Jahatnya, setidaknya jadikan aku pemimpin kenapa.”
Maylene yang merengek itu membuat Han tertawa dan melihat Maylene dengan wajah yang kasihan. Dia menepukkan kedua tangannya dan berkata dengan sinis.
“Hahahaha. Kamu? Pemimpin? Aku memilih mereka karena aku melihat mereka punya bakat dan adrenalin yang sama denganku. Setidaknya, jadilah partnerku untuk kali ini. Bagaimana? Jabatan yang tinggi bukan?”
Maylene yang mendengarkan Han itu hanya tersenyum dan menggunakan tangannya untuk menarik baju Han.
“Yaa, setidaknya kita bisa berlatih menjadi ‘pacar’ di festival Lunar. Begitu kan?”
Han hanya tersenyum dan mengatakan hal yang sama terhadap Maylene.
“Ini adalah permainan yang dapat melatih chemistry kita. Ayo kita menangkan, partner!”
“Iya!”
Sebuah perubahan yang begitu besar untuk Han dan Maylene menanti di depan.
Apakah mereka akan kompak atau tidak di permainan ini?
__ADS_1