Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 3, Chapter 19; Training, Part 3


__ADS_3

Sekai Studio adalah wahana bermain untuk anak-anak hingga dewasa dan tempat itu memiliki luas sebesar 120 hektar, yang berarti hampir 70% dari luas pulau itu. Tempat itu sendiri terbagi menjadi 5 zona, yaitu ‘Zona Mesopotamia’, ‘Zona 3 Kerajaan’, ‘Zona Modern’, ‘Zona Masa Depan’, dan ‘Zona Perhutanan’.


Mereka akhirnya pergi berkeliling Sekai Studio itu. Pertama-tama mereka pergi ke ‘Zona Kota Modern’, dimana tempat itu benar-benar layaknya seperti kota yang penuh dengan lampu dan keramaian, banyak Lampu taman dimana-mana dan toko-toko yang buka disana. Banyak toko oleh-oleh disana, dan Maylene benar-benar suka dengan tempat itu.


“Han, aku mau pergi ke tempat itu.”


“Saat pulang aja! Kita nonton opera sabun dulu!”


Mereka akhirnya pergi menonton opera sabun, di sebuah gedung teater yang sangat besar. Gedung itu dapat memuat 200 penonton dari 5 sisi, dan banyak orang yang masuk ke dalam bersama Han dan Maylene.


“Hey, tempatnya ramai juga yaa. Aku tidak menyangka bahwa tempat ini akan seramai ini.”


“Yaa bagaimana juga May, tempat ini banyak mengangkat drama-drama dan selalu diganti setiap harinya. Bagaimana tidak memberikan rasa penasaran terhadap pengunjung.”


Mereka berdua yang berbicara begitu tenang akhirnya duduk di tempat paling atas, tempat yang dekat juga dengan pintu keluar. Maylene tiba-tiba bertanya kepada Han, apa isi cerita dari drama ini dengan wajah yang penasaran.


“Han, hari ini drama-nya tentang apa?”


“Hmm, seorang manusia-monster yang mencari cara untuk mendapatkan hati seorang putri. Mungkin sih, aku bacanya tadi begitu. Hora, dramanya dimulai.”


Han yang menjawab begitu tenang karena drama itu akan dimulai. Lampu teater sudah padam dan menyisahkan lampu di panggung.



Cerita drama itu dimulai dari seorang yang begitu depresi karena cintanya ditolak oleh teman masa kecilnya di hutan karena teman masa kecilnya itu ingin diambil oleh raja untuk menjadi selirnya.


“To-Tolong! Jangan ambil teman kecilku! Di-Dia begitu berharga!”


Orang itu yang menjadi tokoh utama begitu menangisi kepergian teman masa kecilnya yang dicuri. Dia berlutut dan mengeluarkan air matanya ketika teman masa kecilnya sudah diambil oleh prajurit kerajaan.


“Wow, acting yang sungguh luar biasa.”


“---"


Maylene yang terkesima dengan cara bersandiwara orang itu benar-benar seperti drama yang menusuk hati. Han, di sisi lain hanya fokus menonton tanpa reaksi terlebih dahulu.


Ketika orang itu sedang depresi, tiba-tiba ada penyihir yang menggunakan jubah berwarna ungu dan merah. Penyihir itu menghampiri orang yang depresi itu dan membawakan kitab.


Iya, kitab, dan Han merasakan sesuatu yang mencurigakan. Dia keringat dingin dan memegang tangannya di lututnya.


“Tunggu sebentar! Tunggu! Tunggu! Tunggu! Kenapa ada buku keramat itu! Sepertinya orang itu-.”


“Ahh, takdir yang tidak baik untukmu! Takdir baik! Takdir baik! TAKDIR BAIK! Anda harus mencari jalan bagaimana untuk mendapatkan teman masa kecilmu! Kau harus berjuang! Hadapi kutukan yang akan kuberikan! Kutukan cinta! Kutukan keluarga! Kutukan peliharaan! Kutukan persahabatan! Kutukan dari dewa! Kutukan! Kutukan! Kutukan! KUTUKAN!”


Han langsung berdiri, wajahnya benar-benar tegang dan matanya melotot ke arah panggung. Dia baru sadar bahwa orang itu adalah


“CHENNNN!!!!!!!! KENAPA KAU IKUT BERSANDIWARA!!!!”

__ADS_1


Itu adalah teriakan di dalam hatinya, teriakan yang murni karena Han begitu kaget melihat Chen yang ikut bersandiwara itu. Maylene juga sama, dia berkeringat dingin dengan senyuman yang begitu mengerikan melihat ke arah panggung itu.


“Kenapa! Kenapa! Kenapa! Kenapa! Kenapa Han! Kenapa orang itu ada di panggung?!”


“Aku tidak tau! Aku tidak mau melihat ini!”



Setelah itu, cerita tetap berlanjut, orang yang begitu depresi itu terkutuk menjadi setengah monster.


“Sekarang aku kuat! Aku akan membantai kerajaan dan mengambil alih kerajaan itu!”


Ucap dari manusia setengah monster itu yang begitu haus dengan darah dan mata yang penuh dengan kebencian.


Akhirnya, manusia setengah monster itu sudah sampai di istana dan mencari raja yang ingin menikahi teman masa kecilnya di lantai atas. Ketika manusia setengah monster itu mengetahui tentang kejadian itu, dia mulai membantai seluruh personel kerajaan. Mulai dari prajurit hingga tukang masak kerajaan.


“BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH! BUNUH!”


Teriakan itu dilontarkan oleh manusia setengah monster itu, dia benar-benar bau. Namun karena ini hanyalah drama, bau itu adalah bau tinta berwarna merah dan bau yang sungguh menyengat itu berhasil terhirup oleh penonton-penonton dan membuat mereka sedikit mabuk. Namun tidak dengan Han dan Maylene, karena kedua orang itu sangat terbiasa oleh bau-bau menyengat.


“Kamu terbiasa dengan bau ini?”


“Iya, tiap Papa pulang kerja, bau badan Papa selalu memiliki bau yang menyengat dan makan bersamanya sudah menjadi hal yang biasa. Kamu?”


“Serupa tapi tak sama.”


Han dan Maylene yang bertanya satu sama lain itu juga melanjutkan menonton drama itu.


“HAHAHAHAHA! Apa kau! Kau sudah membantai seisi istana, namun apakah kau berani membantaiku juga? Aku ini ra-.”


“AHHHHHHHHH”


Seluruh penonton pun berteriak histeris, karena manusia setengah monster itu berhasil membunuh raja di depan teman masa kecilnya.


“BUNUH! BUNUH! BUNUH! AKAN KULAKUKAN HANYA UNTUK MENYELAMATKAN TEMANKU! TEMAN YANG KUCINTAI! AKU TIDAK AKAN MELEPASKANNYA, DASAR RAJA MESUM!”


Raja itu terbunuh, dan berlumuran oleh tinta di sekeliling tubuhnya. Akhirnya manusia monster itu menggandeng dan memeluk erat teman masa kecilnya yang memakai gaun pernikahan.


“Ahh, Sophia! Aku begitu merindukanmu! Aku! Aku! Aku! Aku! Aku begitu mencintaimu! Aku ingin menjadi pelindungmu, dari rasa suka maupun duka! Aku mau menjadi pedang yang menebas kemalangan hatimu! Sophia! Aku tidak akan melepaskanmu!”


Namun nahas, nasib perempuan itu mati karena pelukan dari manusia setengah monster itu tanpa berbicara apa-apa. Pelukannya yang begitu kuat membuat teman masa kecilnya tidak dapat bernafas sama sekali, tinta pun keluar dari tubuhnya dan mulutnya. Manusia setengah monster yang melihat itu berteriak dan menangis.


“AHHHH!!!!! TIDAK! TIDAK! TIDAK! TIDAK SEHARUSNYA BEGINI! AKU! AKU! AKU! AKU! AKU GAGAL MENYELAMATKAN TEMAN MASA KECILKU!”


Di balik layar, terdapat penyihir yang diperankan oleh Chen itu datang dengan membawa kitab dan melihat manusia yang dia kutuk itu tersungkur di lantai.


“Oh, takdir tidak berkata demikian untukmu, rupanya?”

__ADS_1


“Bunuhlah aku!”


“Ha? Setelah kau membantai orang banyak di istana, inilah permintaan yang kau minta dariku?”


“Iya, aku sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi. BUNUHLAH AKU! BUNUHLAH AKU! BUNUHLAH AKU! DI NERAKA ATAU DI SURGA, AKU AKAN BERTEMU DENGANNYA LAGI WALAU ITU AKAN TERJADI SELAMA 2000 TAHUN LAMANYA, AKU TUNGGU!”


Dengan nada yang begitu stress, dia memohon kepada penyihir itu untuk mengakhiri hidupnya. Chen, yang melihat aksi itu mengabulkan permintaannya.


“Baiklah kalau begitu, akan kuakhiri hidupmu!”


Dengan mengjentikkan jarinya, manusia setengah monster itu meninggal di depan Chen dan Chen mengambil tahta sebagai raja baru di negara itu.


“A-Aku sedih!!! Ini adalah cerita romantis yang begitu memukul hati. Aku kasihan oleh manusia itu! Kenapa dia harus begitu.”


Maylene yang menangis melihat Han itu membuat Han mengambilkan tisu dari kantongnya dan mengusapkan tisu itu ke arah Maylene.


“Namanya aja drama. Lihat, aku tidak menangis.”


“T-Tapi, siapa yang mengizinkanmu untuk mengusap air mataku?”


Maylene yang nangis tersedu-sedu itu berubah ekspresi terhadap Han dan merampas tisu itu.


“T-Tapi kita kan berlatih untuk bersandiwara kan?”


Han yang mengucapkan itu dengan kesal terhadap Maylene membuat Maylene tertawa di tempat duduknya.


“Hahahaha! Aku sampai lu-.”


Tiba-tiba, dari belakang layar, di saat sekian banyak orang yang sedang menangis itu karena drama yang disajikan, terdapat 4 sekuriti yang masuk dan menerjang Chen. Petugas itu beregu dan mulai memukul Chen dengan tongkat polisi yang terbuat dari gabus.


“WOI PENYUSUP! KITA BAWA KAU KELUAR!”


“P-Pak! Maafkan saya! Maafkan saya!”


Chen yang dipukul itu tiba-tiba dibawa keluar dari panggung, dan cerita pun selesai.


Seketika penonton bingung, ketika mereka pada awalnya menangis karena drama itu terdiam. Mereka sekarang bingung apakah mereka harus tertawa atau menangis. Hal itu juga berlaku pada Maylene yang melihat Han dengan tatapan kosong dan mulai bertanya kepadanya.


“Han, apakah itu termasuk plot cerita atau bukan?”


“Aku sendiri tidak tau.”


Han juga bingung dengan akhir cerita itu, karena jika memang Chen menerjang masuk maka Chen benar-benar punya nyali. Namun jika akhir cerita itu memang seperti itu, maka


“Itu plot twist yang luar biasa, menurutku.”


Han yang berkata dalam hati itu tiba-tiba mengajak Maylene untuk keluar dari teater itu dan mereka akhirnya keluar karena mereka tidak ingin bertemu dengan Chen di sana.

__ADS_1


 


 


__ADS_2