Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 2, Chapter 11: It Shouldn't be Me!, Part 3


__ADS_3

“Oh, perempuan manis. Sini bersamaku! Ayo kita pergi ke suatu tempat.”


Haruki yang ketakutan itu tiba-tiba bergumam sendiri. Laki-laki itu menunjukkan ekspresi yang cukup bejat dan ingin membawa Haruki pergi.


“SE-SE-SELAMATKAN AKU!!!”


Han yang berpaspasan itu tiba-tiba meremas lengan laki-laki itu, membuang tangannya dari pundak Haruki, dan menatapnya dengan tajam. Han yang mengingat orang itu mulai memberikan nada-nada penuh ancaman, Naoto yang di sisi lain hanya melihat itu tidak dapat berjalan lagi.


“Lepaskan tanganmu, brengsek! Kau sudah menyakiti Nagi, sampah! Pertemuan berikutnya, kita akan bertemu di penjara dan kamu yang ada di balik jeruji itu!”


“Brengsek!!!!”


Orang itu memukul tangan Han dengan penuh emosi dan pergi dari tempat itu. Han yang masih kosong itu hanya melihat Haruki yang ketakutan itu, tiba-tiba dia membalikkan kepalanya dan berjalan ke arah luar arena itu. Haruki yang melihat Han yang sangat mengerikan pun memegang kedua tangannya dengan wajah yang sedih, Haruki mulai meneteskan air mata.


Naoto yang masih mengikuti Han itu pergi menguntit Han dan sampailah di rumah sakit. Han yang sudah duluan di ruang perawatan Mama Han dan Nagi itu duduk sedih, dia meneteskan air matanya dan menangis. Keluarga Lin sudah pergi terlebih dahulu karena operasi berjalan sukses dan Mama Han sudah baik-baik saja.


“Mama, Nagi, maafkan aku! Aku, aku, aku, aku, aku, aku, aku tidak dapat melindungi kalian! Egoku juga menghancurkan timku sendiri! Apa yang harus aku lakukan! Aku putus asa!”


Naoto yang sudah sampai di depan ruang perawatan Nagi dan Mama Han itu melihat Ryuu yang berdiri di dekat pintu ruangan itu. Ryuu mulai berbicara kepada Naoto apa saja yang terjadi di lapangan tadi.


“Naoto, lebih baik kamu tidak masuk ke ruangan ini terlebih dahulu. Kamu tidak akan dapat memahami perasaan Han, mengapa dia meninggalkan tim ini, mengapa dia meninggalkanmu tadi di lapangan!”


“Ryuu, mengapa? Apa yang terjadi pada Han tadi?”


“Ketika dia melihat cedera horror dari saudaranya itu, tidak lama setelah itu Mama Han dianiaya oleh supporter lawan dengan batu dan mengenai badannya. Di babak kedua, keluarga besar Han sudah pergi ke rumah sakit untuk merawat kedua orang itu.”


Saat Ryuu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Naoto tiba-tiba emosi. Wajahnya penuh dengan amarah, kedua tangannya digenggamkan, dan giginya sendiri terbuka lebar.


“Kejinya! Brengsek! Aku tidak akan mengampuninya! Akan kubunuh mereka semua! Terus bagaimana kondisi sekarang?”


“Keluarga Han sudah dalam proses pemulihan, Nagi sudah selesai dioperasi dan Mama Han sudah bernafas dengan normal. Papa Han dan Papa Nagi saat ini mengurus laporan untuk menangkap orang-orang yang mengancam Nagi dan Mama Han, sedangkan Mama Nagi mengurus kepindahan Nagi ke sekolah kita.”


“Syukurlah.”

__ADS_1


Naoto yang bernafas lega itu setelah mendengarkan ucapan Ryuu itu mulai menenangkan hatinya. Tiba-tiba, Ryuu pun mengatakan isi hatinya kepada Naoto dengan nada yang penuh optimis.


“Aku, aku tidak ingin melihat orang-orang kesakitan! Melihat orang-orang yang tersakiti saat ini membuat diriku sedih! Aku, aku akan menjadi agen asuransi! Aku ingin menyelamatkan banyak nyawa orang sebelum mereka berada di bahaya!”


Naoto hanya tersenyum saja, tiba-tiba Naoto masuk ke ruang perawatan itu dan melihat Han yang lagi menangis. Han yang melihat Naoto dan Ryuu itu mulai melihatnya dengan ekspresi yang sedih. Naoto menghampiri Han dan mulai bertanya kepadanya tentang pertandingan tadi.


“Han, jadi ini yang terjadi sebenarnya? Mengapa aku bodoh, aku tidak bertanya kepadamu! Aku harusnya memahami apa yang terjadi padamu!”


Han yang melihat Naoto itu hanya melihatnya dengan wajah yang sedih, dia mengusap air matanya dan membalasnya.


“Walaupun kamu bertanya, mungkin aku tidak akan membalasmu.”


“Han, kita keluar saja dari tim basket!”


Han yang melihat Naoto dan Ryuu itu menganggukan kepalanya dan tetap melihat keluarganya.


Tiba-tiba Mama Han dan Nagi terbangun dari ranjang dan melihat Han yang sedih. Mereka berdua mulai menghibur Han dan meminta mereka bertiga pulang.


“Han, Mama tak apa-apa. Kamu pulang aja, besok kan kamu sekolah.”


"Ma-Maafkan aku! MAAFKAN AKU MA! AKU-AKU TERALU LEMAH! AKU TI-TIDAK BISA ME-MENJAGA MAMA! AN-ANDAI AKU YANG MENGAMBIL LEMPARAN ITU, MAMA, MAMA TIDAK A-."


Tangisan yang sungguh kencang itu berasal dari Han, rasa frustasi dan putus asa dari Han tidak akan hilang sekejap. Namun Mama Han tiba-tiba memegang pipi dari Han dan dia tersenyum untuk menghibur Han yang depresi.


"Mama tidak apa-apa kok, jangan khawatir. Pulanglah dan istirahat, oke?


"Hmm. Iya, Ma..."


Han lalu pulang ke rumahnya dan dia pulang ditemani oleh Naoto dan Ryuu. Han benar-benar di kondisi yang sangat putus asa saat ini, namun Naoto menawarkan sesuatu kepada Han dengan suaranya yang pelan itu.


"Han, kamu ga perlu sekolah tidak apa-apa kok."


"Ti-Tidak, aku tetap bersekolah besok."

__ADS_1


Han mengatakan itu dengan suara yang tersedu-sedu itu sambil mengusap mata-nya. Hal ini membuat Ryuu terlihat cemas.


Papa Han berhasil berkerja sama dengan polisi dan menangkap orang yang mencederai Nagi dan Mama Han. Tobe di sisi lain berhasil merekam semua kejadian itu dan viral di internet, membuat pihak Papa Han memiliki bukti yang sangat kuat untuk menggugat orang itu.



Setelah kejadian itu, keesokan harinya Han pergi ke sekolahnya dan tempat pertama yang dia tuju adalah loker sekolahnya. Ketika Han membuka lokernya, loker itu penuh dengan surat-surat sumpah serapah dan tulisan-tulisan keji. Han yang melihat tulisan itu kaget, dia melepaskan tulisan-tulisan yang bersarangkan di lokernya.


“MATI SAJA KAU! DASAR SAMPAH SEKOLAH!”


“DASAR IDIOT!”


Han yang kaget ketakutan itu melihat ke sekelilingnya, Naoto yang berada di situ juga mendapatkan surat yang serupa, begitu juga Ryuu dan Tobe. Mereka berempat yang berada di loker itu hanya bergerumpul dan bertanya satu sama lain.


“Kalian mendapatkan surat ini?”


“Iya, cuma surat ini berasal dari mana?”


Mereka berempat lalu pergi ke kelas. Di sisi lain Haruki terlambat datang ke sekolah, dia lalu bergegas ke lokernya dan Haruki juga mendapatkan surat yang sama. Haruki tiba-tiba berteriak histeris karena selama ini, Haruki tidak pernah mendapatkan tulisan-tulisan yang keji itu. Matanya pucat seketika dan tangannya bergemetar.


“TIDAK! TIDAK! TIDAK!”


Saat mereka berempat sudah sampai di kelas, hanya meja Han yang dipenuhi oleh tulisan yang tidak jauh berbeda dengan surat itu. Meja Han penuh dengan tulisan-tulisan itu, dan hal itu membuat Han cukup stress. Han penuh dengan emosi yang tidak dapat ditunjukkan, ketika dia melihat sekelilingnya, tidak ada orang yang mempedulikannya lagi. Dalam waktu satu hari, teman-temannya sudah menjauhinya. Han bertanya dengan kebingungan kepada mereka semua.


“H-Hey! Kalian tau ini? Jelaskan kepadaku apa ini?”


Teman-temannya memalingkan wajahnya, seolah-olah mereka tidak tau apa-apa. Han yang semakin putus asa itu memukul mejanya sendiri itu sangat frustasi, namun hantaman meja itu tidak dipedulikan oleh orang banyak. Han semakin frustasi, dan membuat Naoto, Ryuu, dan Tobe cukup jengkel melihatnya.


Akhirnya Han keluar dari kelasnya dan melihat Haruki yang tiba-tiba pingsan di koridor kelas. Han tiba-tiba berlari dan berusaha untuk memanggil Haruki yang dalam keadaan tidak sadar.


“Haruki! Haruki!”


Han tidak memiliki pilihan lain, dia akhirnya membawa Haruki ke ruang kesehatan sekolah. Dia duduk disitu sambil menunggu Haruki sadar, Han juga merenung apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


“Apakah semua orang mengkhianatiku? Mengapa hal ini bisa terjadi? Aku, aku, aku tidak tau lagi apa yang harus aku perbuat!”


__ADS_2