Guzen No Ai/Accidental Love

Guzen No Ai/Accidental Love
Volume 1, Chapter 4: Results, Part 2


__ADS_3

Ketika giliran Han untuk membuat rekening, petugas bank itu langsung menyambutnya dengan sidik jari untuk keamanan rekening bank.


“Silahkan Pak untuk sidik jarinya. Ini sidik jarinya tidak dapat berfungsi kalau iblis yang sedang menempelkan jarinya.”


Han dengan nada sarkasnya pun membalas ucapan pegawai bank tersebut sambil menutup matanya dan tangannya menempel kepada alat sidik jari tersebut.


“Oya? Teknologi baru apa lagi ini? Dunia sudah semakin maju yaa. Aku penasaran dengan hasilnya, fufufu.”


Han melakukan sidik jarinya, dan hasilnya pun tangannya tersidik. Semua orang yang meliriknya dengan ketakutan pada awal-awal, akhirnya lega semua karena Han adalah manusia. Lalu Han menoleh kepada mereka semua dan mulai memprovokasi mereka.


“OHHHH, jadi kalian pikir aku ini iblis yaa? Kasihan sekali kalian CUMA menonton video jatuh itu, klarifikasinya tapi ga ditonton yaa?”


Petugas bank tersebut meminta maaf kepada Han karena menganggapnya sebagai bukan manusia. Hanya dalam waktu 8 menit semua administrasi itu dibereskan, lebih cepat daripada tempat-tempat lainnya. Han juga meminta kartu kredit, dan langsung diurus seketika atas permintaan maaf pihak bank.


Han yang dibawa ke tempat tunggu oleh pihak bank, tempat tersebut adalah tempat duduk yang selalu digunakan oleh orang-orang yang punya uang. Tiba-tiba ada orang yang sedang memakai jas menghampiri Han, yang saat itu memakai baju yang ada bekas sobekan di lengannya, celana pendek, dan sandal.


“Permisi Tuan Han, maafkan atas ketidaknyamanan yang terjadi di bank ini. Saya sebagai manager di bank ini ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas perilaku kami kepada anda.”


“Oh, tidak apa-apa, yang penting sekarang adalah mereka tidak memandangku sebagai iblis lagi.”


Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak atas kesalahpahaman itu. Manager bank itu bertanya kepada Han apa yang terjadi sebenarnya di video itu. Karena manager bank itu adalah kenalan dari Papa Han juga, tidak heran mereka tidak canggung sama sekali.


“Sebenarnya apa yang terjadi?”


“Oh itu, aku kelihatan ada perempuan yang mau ditabrak mobil terus aku dorong dia. Kita berdua jatuh ke jurang gitu, hampir ada beberapa jam baru ada petugas penyelamatan.”


“Terus?”


“Ya perempuannya dibawa oleh petugasnya. Aku diselamatkan teman-temanku yang ada disana.”


“Kenapa kok bisa begitu?”


“Yaa gimana lagi, mereka bilang 3 orang petugas penyelamat hanya bisa membawa 1 orang. Setidak-tidaknya aku ya harusnya ikut sama mereka juga kan. Aku malah ditarik sama teman-temanku pakai tali, ini ada bekas lukanya di kepalaku.”


“Perempuannya cantik tidak?”


“Cantik betul sih, susah cari cewek yang secantik dia juga. Langka itu.”

__ADS_1


“NAH, ITU ARTINYA MEREKA JUGA MAU ITU. NGAPAIN LAKI-LAKI DISELAMATKAN KALAU ADA PEREMPUAN? AKU KALAU JADI PETUGASNYA YA AKU SELAMATKAN DULU YANG PEREMPUAN. DI LUAR AJA BILANGNYA MENYELAMATKAN, DI OTAKNYA UDAH BEDA CERITA ITU.”


“Benar juga anda!”


Han dan manager bank itu ketawa lagi, membuat orang yang duduk disana merasa risih. Tetapi mereka juga tau kalau orang yang ada disitu bukanlah orang sembarangan. Tidak lama kemudian, kartu kredit itu keluar juga dan manager itu bertanya kepada Han mengenai kartu kredit tersebut.


“Kamu mau buat apa kartu kredit itu?”


“Beli handphone.”


“Terus?”


“Aku minta kartunya diblokir.”


Manager itu pun tidak habis pikir, mulutnya terbuka lebar dan matanya menciut. Dia lalu ingin menjelaskan bahwa Han bisa membeli tiket pesawat dengan harga yang ‘lebih murah’, dapat belanja di luar negeri, dan makan-makan di semua restoran.


“Han, itu Black Card. Anda tahu Black Card? Dengan Black Card, kamu bisa kemana-mana! Beli tiket pesawat murah! Bisa bebas gesek dimana-mana! Apakah anda masih mempertimbangkan untuk memblokirnya?”


Han yang sudah tau akal-akalan bank pun membalas.


“Han, ini khusus anda. Sebagai permintaan maaf kami pihak bank dan kami tidak ingin merusak relasi kami dengan keluarga anda, jadi anda dibebaskan iuran, tidak dikenakan biaya bunga, semua biaya bunga akan kami ambil selama 1 tahun penuh. Ketika itu sudah tahun kedua, kartu tersebut serahkan kepada Tuan Zhang. Nanti saya sendiri saja yang bilang kepadanya.”


“Oh, oke kalau gitu, tetap aku blokir di tahun kedua.”


Han yang sudah selesai dengan urusan di bank, pergi ke Xingxi Mall untuk membeli handphone. Dia langsung mencari handphone bermerek Caodui, handphone yang tidak lama barusan keluar di kotanya. Hanphone itu sudah memiliki spesifikasi yang sangat berkelas, namun handphone itu tidak banyak yang beli karena handphone itu mahal dan memiliki cicilan bunga sebesar 10%. Han yang melihat-lihat ke tokonya pun bertanya kepada kepada penjual handphone itu.


Namun sebelum Han bertanya lebih jauh, dia mengambil foto dirinya sendiri dengan menggunakan handphone yang ada di toko itu, dan menunjukkan itu kepada penjual handphone itu kalau dia bukan iblis.


“Pak, saya bukan iblis. Percayalah pada saya.”


Namun petugas itu heran, dia bertanya kepada Han yang mencoba untuk meyakinkan penjual itu.


“Maaf Pak, anda sehat?”


Han kaget, karena dia akhirnya merasa beruntung ada orang yang tidak tau mengenai video itu. Lalu penjual handphone itu mulai promosi tentang handphonenya.


“Pak, jadi begini. Ini handphone sudah paling canggih di zaman ini. Dengan harga $ 900, sudah ada RAM 16 Gigabyte, Kamera 72 Megapixel dan ada kamera yang bisa diperbesar sebanyak 50 kali tanpa pecah, Processor Long 845 quad-chip, lalu layar yang sangat tajam dan tidak merusak mata.”

__ADS_1


Han yang tergiur pun bertanya dengan metode pembayaran. Dengan santainya dia sudah yakin bahwa aka nada cicilan, tapi cicilan tersebut sudah ditalangi oleh pihak bank.


“Jadi, kalau saya bayar dengan kartu ini akan kena biaya berapa?”


Penjual itu matanya langsung berbinar-binar, seumur hidupnya dia tidak pernah lihat pembeli yang menggunakan Black Card. Tiba-tiba penjual itu menjadi gagah dan menawarkan bonus-bonus yang akan didapatkan oleh Han jika dia membeli handphone itu.


“Pak, anda kalau beli handphone ini akan dapat merchandise dari Caodui, lalu masih mendapatkan Speaker yang sangat bagus, earphone yang sudah wireless, dan wireless charger yang memiliki daya sebesar 40-Watt sehingga anda hanya butuh 30 menit untuk mengisi baterai handphone anda!”


“Pak, saya tanya harganya bagaimana! Saya tidak mau buang-buang waktu disini!”


Akhirnya penjual itu menjelaskan harga perincian handphone itu.


“Anda kalau menggunakan Black Card itu, biaya akhirnya kira-kira bisa sampai $ 1,170 dengan cicilan yang tersedia hanya untuk 3 bulan.


Han langsung mengingat tentang ucapan manager bank tadi


“BEBBBAAASSSS BBBUUUUNNNGGGAAA!”


Han langsung menggesek kartunya ke mesin EDC, lalu mengisi pin dan opsi cicilan. Reflek yang secepat itu membuat penjual itu takjub. Matanya mengeluarkan air mata, tiba-tiba dia bersujud syukur di depan Han.


“BAPAK! TERIMA KASIH! TERIMA KASIH! TERIMA KASIH! INI PERTAMA KALINYA HANDPHONE SERI INI TERJUAL! SAYA BISA MENJAMIN KUALITASNYA KEPADA BAPAK! INI KARTU GARANSI SELAMA 2 TAHUN!”


Han yang kaget tiba-tiba menyuruhnya untuk berdiri dan memintanya untuk mengusap matanya.


“Pak, berdirilah Pak. Mengapa anda sangat histeris seperti ini? Kan saya hanya beli handphone.”


Penjual itu tidak mau berdiri, dia tetap bersujud sambil menangis.


“PAK! KALAU HARI INI SAYA TIDAK BISA MENJUAL HANDPHONE INI, SAYA BISA DIPECAT BOS SAYA! INI SUDAH 1 MINGGU SEJAK HANDPHONE INI KELUAR, NAMUN TIDAK ADA YANG MAU BELI. BOS KAMI MENGANCAM AKAN MEMECAT KITA SEMUA KALAU TIDAK TERJUAL SAMPAI HARI INI!”


Han yang bingung dengan pernyataannya, membawa barangnya dan keluar. Sebelum dia keluar, dia berpesan kepada penjual itu.


“Pak penjual, bilanglah ini kepada bos anda, ‘Kalau kasih bunga itu jangan ngawur!’”


 


 

__ADS_1


__ADS_2