
Ketika Han pergi bersama Maylene ke pulau ‘Gao Xing’, Jun dan Ryuu pergi ke Pirchard melalui kereta. Ryuu yang berbicara bersama Jun ketika berada di dalam kereta dengan wajah yang biasa.
“Jun. ini pertama kalinya kamu pergi ke Lions Pore?”
“Sepertinya begitu, ini pertama kalinya aku pergi kesini setelah 6 tahun.”
“Oh, begitu. Mangkanya kamu dibully sama Han di bandara kemarin. Hahahahaha!”
“Kalo kelas bisnis sih itu baru pertama kalinya, kau gimana?”
Jun yang bertanya dengan nada yang tinggi itu membuat Ryuu membuka memori lamanya ketika Han pergi bersama Tobe dan Naoto untuk pertama kalinya, saat itu merupakan kejadian yang sama seperti apa yang dialami oleh Jun. kejadian lama itu dialami oleh Ryuu ketika mereka masih SMA kelas 2, sebelum Han benar-benar dihabisi oleh seisi sekolahnya.
“Woi! Kita harus pergi ke gerbang lima! Waktunya telat nanti.”
Ryuu yang saat itu begitu terburu-buru pun ingin berlari dan mengejar gerbang yang ada di depan matanya, namun Naoto memperingatinya dengan nada yang menegur Jun.
“Jun, jangan terburu-buru! Sabar dulu!”
Namun Han langsung memegang pundak Naoto dan menggelengkan kepalanya dengan mata yang tertutup.
“Sudah, biarkan aja dia pergi. Kita kerjai dia aja hari ini.”
“Han, kau brengsek, tapi ini lucu sih! HAHAHAHAHA!”
Tobe yang tertawa melihat aksi Ryuu yang pergi ke gerbang itu dengan sendirinya begitu panik, dan mereka bertiga masuk lewat lift yang ada di Lounge pesawat itu. Ryuu di sisi lain yang berhasil masuk lewat jalur bisnis pun sampai di pesawat dan melihat mereka bertiga yang tertawa melihat Ryuu.
“HAHAHAHAHAHAHA!”
“K-Kenapa kalian tertawa!”
Ryuu yang sebal ditertawakan itu membuat Naoto berdiri dan kembali menertawakan Ryuu lebih keras lagi. Han dan Tobe memalingkan wajah mereka karena mereka tidak dapat menahan tawa ketika melihat Ryuu yang bingung itu.
“HAHAHAHAHAHA! Ryuu, sebenarnya kamu ikut kita aja. Kenapa kamu memutuskan untuk pergi sendiri. Aku mau memberitahu-mu tentang itu, namun mereka berdua tetap aja melarangku karena itu lucu. Maafkan aku, Ryuu!”
__ADS_1
“Ya ampun, yaa mau bagaimana lagi?”
…
“Yaa, seperti itu aku dulu dikerjai oleh mereka. Mangkanya aku sekarang paham posisimu dan tidak mentertawakanmu.”
“Tapi kau mentertawakanku.”
Jun yang melihat Ryuu dengan tatapan sinis-nya benar-benar membuat Ryuu terdiam sejenak sebelum kereta api datang.
Ketika kereta api itu datang, mereka masuk ke dalam kereta yang ramai itu dan pergi ke arah Pirchard. Pirchard adalah distrik di Lions Pore yang memiliki banyak Mall yang berada di situ, dan Mall tersebut adalah Mall-Mall yang selalu dikunjungi oleh orang-orang kaya dari Eiyuu.
Karena stasiun MRT Pirchard berada di dalam Mall, mereka langsung mendapatkan akses untuk masuk ke Mall itu. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam Mall dan jalan-jalan di sana.
“Jun, kamu mau beli apa disini?”
“Aku mau beli es krim roti yang ada di luar itu.”
“HA?”
Ryuu melihat antrian itu yang panjang, karena harga sendiri tidak mengurangi minat orang-orang terutama turis untuk membeli roti itu. Mulutnya yang terbuka itu tidak dapat menutup ekspresinya karena keramaian itu, namun Jun tetap berada di hati yang gembira karena Jun dapat memesan es krim itu.
“HA?????!!!!!!! Oi, Jun, sepertinya kamu harus mengantri ini!”
“Sepertinya begitu, kamu mau?”
“Yaa boleh, satu aja. Kamu mau titip apa di dalam Mall?”
Jun tidak melupakan tujuan awalnya, dia ingin membeli sebuah kaset game yang begitu terkenal di tahun ini. Game yang mendapatkan rating 10 dari 10, game yang begitu seru dan penuh dengan aksi. Game yang mengulik sisi gelap dan kehidupan sehari-hari mafia.
“Aku titip game Yakuza 5, ‘aku mau bernyanyi untukmu’.”
Jun yang begitu menjiwai game itu membuat Ryuu sedikit jijik melihat Jun yang mengatakan seperti itu. Ryuu dengan mata yang disipitkannya itu hanya melihat Jun dan mengatakan dengan nada yang sinis terhadapnya.
__ADS_1
“Aku tidak mau mendengarkan nyanyianmu!”
Lalu Ryuu pergi dan mencari game yang diinginkan Jun itu, yaitu ‘Yakuza 5’ di dalam Mall. Mall yang dikunjungi Ryuu sekarang adalah Takashimaya Mall, Mall yang memiliki luas sekitar 2 hektar dan 4 gedung itu saling menghubungkan satu gedung ke gedung yang lain.
Karena Mall itu cukup besar, Ryuu sendiri bingung dimanakah dia harus membeli kaset game ‘Yakuza 5’ itu. Dengan wajah yang sedikit menggerutu, dia berjalan dengan mengenggamkan tangannya dan berjalan cepat
“Jun brengsek!!!! Dimana aku harus membeli kaset itu. Sebentar lagi, Sebentar lagi! Sebentar lagi! Sebentar Lagi!”
Jun yang berlari ke arah lantai dua itu tiba-tiba melihat ke arah kiri dan melihat kaset game ‘Yakuza 5’ yang tertampang di salah satu toko game yang cukup besar. Ryuu yang akhirnya cukup lega itu menghembuskan nafasnya dan membeli game itu.
“Yahhh…. Aku akhirnya menemukan game itu!”
Ryuu pun masuk ke dalam ruangan kaset itu melihat handphone-nya dan menunjukkan jam 1 siang.
“Saatnya! Saatnya! Aku harus keluar!”
Ryuu yang sudah masuk untuk membeli game ‘Yakuza 5’ itu tiba-tiba pergi dan berlari ke luar Mall. Ryuu tidak ingin melewatkan jam prediksi yang dia sudah buat selama ini, persiapan yang dia lakukan saat mereka di Eiyuu.
“Ayo! Ayo! Ayo! Aku yakin ada tabrakan setelah ini!”
Jun yang masih berada di luar itu baru saja memesan es krim roti yang dia beli.
“Nak, beli berapa?”
“Dua.”
Pada saat Jun sedang mengambil es krim roti-nya dia melihat di depan ada mobil sedan berwarna merah dengan logo kambing yang melaju kencang di Pirchard Road dan mobil itu sedang balapan dengan mobil sedan kuning yang berlogo sapi. Kecepatan mobil mereka kira-kira berada di jarum 200 km/jam, dan mereka melewati Pirchard Road yang saat itu sepi dengan kendaraan.
“Wow, sangat mengulas memori sekali kenangan ini.”
Jun jelas mengingat kejadian sebelum-sebelumnya, dimana dia dan Han melihat mobil yang ugal berhasil menabrakkan dua mobil yang tidak bersalah.
Tiba-tiba, kedua mobil itu saling berdempetan satu sama lain karena tidak mau mengalah, percikan api pun muncul dari mobil itu dan kedua mobil itu tertabrak. Kedua mobil itu berputar dan terjungkal sejauh 20-meter dari tempat mereka balapan.
__ADS_1