
Han yang baru saja pulang dari latihan ‘kencan’ itu sudah sampai di rumahnya. Waktu sudah menunjuk arah jam enam, namun hari itu belum gelap sama sekali. Han yang melihat langit kota-nya itu pun merenung kebingungan.
“Aneh, hari ini belum gelap aja. Kenapa yaa?”
Han akhirnya sudah sampai di rumahnya, dia masuk ke rumahnya dengan cukup lelah. Ketika Han sudah sampai di rumahnya, dia mulai memarkir mobilnya. Tapi, ada sesuatu yang aneh.
Mobil sedan Toyota mewah itu berada di depan rumah Han, mobil yang gagah dan berwarna putih itu parkir di tempat Han parkir biasanya. Mobil itu tidak asing di mata Han sebenarnya, tapi biasanya mobil itu tidak pernah parkir di tempatnya Han.
Han yang kebingungan itu bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa mobil dari Miko parkir di depan rumahnya. Dengan wajah yang aneh itu dia menatap pintu rumahnya.
“Itu mobilnya Miko. Kenapa ada di depan rumahku?”
Han akhirnya masuk ke rumahnya, dia melihat Miko yang menyambutnya di rumahnya dengan ekspresi yang senang.
“Halo Han! Selamat datang!”
Han yang melihat Miko menyambut pun terlihat bingung. Bagaimana Han tidak bingung? Miko adalah tamunya Han, mengapa Han yang menjadi tamu dari Miko.
“Ini kan rumahku…”
“Walaupun rumahmu, aku kan dianggap keluarga sendiri, kan?”
Miko yang menutup matanya dan tersenyum itu dihiraukan oleh Han. Han pergi menuju ke ruang tamunya dan menaruh tas-nya, dia lalu duduk di sofa dengan wajah yang kelelahan. Miko yang melihat Han ke sofa-nya tiba-tiba ikut pergi ke sofa-nya dan duduk di sebelahnya.
Wajahnya mengerut dan terlihat cukup sebal itu melihat Han yang menghiraukannya, namun Han mengambil 2 bat ping-pong yang berada di bawah sofa-nya itu.
“Ja-hatnya kamu menghirau-.”
“Miko, ayo main.”
Han yang tersenyum itu membuat Miko sedikit senang, dia mengambil bat ping-pong itu tanpa memikirkan apa-apa lagi. Dia benar-benar senang melihat Han yang menawarinya bat ping-pong itu. Namun ketika Miko sudah sampai di meja ping-pong itu, ekspresinya berubah tiba-tiba. Miko benar-benar tidak mau dibully Han saat bermain ping-pong.
“Hey, jangan bully aku main ping-pong. Oke?!”
Han yang mendengarkan itu hanya membalasnya dengan suara yang bahagia ketika melihat Miko yang memohon kepadanya itu, wajah seriusnya benar-benar seperti orang yang tidak akan memberikan ampun.
“Hoho, kamu kalo udah disini berarti aku tidak akan bermain dengan bercanda. Aku tidak mengenal kesetaraan gender kalo ranahnya olahraga.”
Miko yang melihat Han serius itu pun sedikit takut bermain, tapi dia masih mau bermain dengan Han walaupun dia akan kalah dengan telak.
Pada saat mereka bermain, Miko tiba-tiba bertanya kepada Han dengan kepala yang ditekuk ke kiri dengan wajah yang penasaran pada saat Miko ingin melakukan serve bola.
“Han, apa hubunganmu dengan perempuan itu?”
Han yang mendengarkan pertanyaan Miko itu tiba-tiba gagal fokus, dia menurunkan kedua tangannya dan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Han benar-benar ingin menceritakan kepada Miko, apa hubungannya kepada Maylene. Suaranya yang datar dan pelan itu mulai menceritakan kepada Miko, apa hubungan antara mereka berdua saat ini.
“Hubunganku dengan perempuan yang tadi menyusup ke sekolah hanya sebatas ‘kontrak’.”
__ADS_1
Miko yang dibuat bingung oleh Ryuu di kelas dan Han di rumahnya benar-benar pusing sekarang, Kepalanya benar-benar seperti air panas yang mendidih dan dia menaruh bat dan bola-nya di atas meja dan mulai menekukkan kedua tangannya di dadanya. Matanya menatap tajam Han saat ini membuat Han sedikit takut, namun suaranya bukan suara yang jahat sehingga Han tidak memiliki rasa cemas seperti saat berhadapan dengan Yoru maupun dengan Haruki.
“Ryuu bilang hanya sewa-an, kamu bilang hanya kontrak! Yang benar yang mana? Aku bingung.”
Han yang ditanya seperti itu pun urung bermain ping-pong dan mengajak Miko pergi ke halaman rumahnya yang benar-benar indah saat malam hari. Mereka berdua duduk bersebelahan dan Han mulai bercerita kepada Miko apa yang sudah terjadi selama ini dengan tanpa ekspresi. Wajahnya datar seperti orang yang benar-benar bercerita secara objektif.
“Jadi, dia itu ‘dipinjam’ oleh Papa untuk mengisi peran ‘pacar’ untuk besok. Papa-nya perempuan itu pun setuju dengan Papa-ku dan besok dia akan memerankan diri sebagai ‘pacar-ku’. Menyedihkan bukan?”
Miko yang melihat Han menatap ke atas langit itu hanya berkaca-kaca, dia benar-benar sedikit senang melihat perkembangan Han yang dulu tidak memiliki pacar sama sekali, namun sekarang dia membawa permpuan ke ruamhnya. Miko menepuk pundak Han dengan tangan kanan-nya dengan gummy smile-nya.
“Se-enggaknya, kamu tidak makan di lantai lagi, kan?”
“Iya juga, kau tidak salah, Miko!”
Han yang tersenyum kembali itu membuat Miko memalingkan wajahnya, karena ini adalah pertama kalinya Miko melihat Han tersenyum lebar setelah 2 tahun lamanya. Han yang melihat reaksi Miko itu tiba-tiba bertanya kepadanya dengan wajah yang penasaran. Matanya melihat ke arah Miko dengan polos.
“Miko, kamu bawa pacarmu ke rumah kah?”
Miko yang mendengarkan itu hanya membalas Han dengan tatapan yang santai. Suaranya yang hangat itu benar-benar menenangkan hati semua orang yang mendengarkan Miko berbicara.
“Iya, dia akan datang. Tapi kamu tidak apa-apa kalo ada dia?”
“Bukannya dia yang harusnya kamu tanya?”
Han yang membalas perkataan Miko dengan menatap sipit ke arah Miko membuatnya tertawa kecil, dengan tangan kanannya yang menggenggam itu diarahkan ke mulutnya dan matanya yang tertutup dia membalas ucapan Han dengan suara yang manis.
“HAHAHAHAHA! Benar kan?”
Mereka tertawa berdua di halaman itu, hingga Akaichi datang dan melompat ke arah Han. Miko akhirnya berdiri dari kursi di halaman itu, dan berjalan menuju pintu keluar.
“Kamu mau pulang?”
“Iya, aku pulang dulu. Mama nanti bisa mencariku dengan khawatir. Aku tidak mau mengkhawatirkan Mama.”
Han yang membukakan pintu rumahnya tiba-tiba berjalan menuju ke arah pintu setir Miko. Miko tiba-tiba terlihat jengkel melihat Han itu, karena Miko seharusnya yang duduk disitu.
“Hey, ini kan mobil-.”
“Aku antarkan kamu pulang!”
“Tapi ini kan mobilku.”
“Kamu perempuan! Aku harus menjagamu!”
Miko tiba-tiba melempar kuncinya kepada Han dan pergi ke arah kursi penumpang.
“Kamu setir mobilnya, oke?”
__ADS_1
“Hmm-mm.”
Han lalu menyetir mobil Miko dan mengantarkannya pulang. Rumah Miko tidak tinggi, namun rumahnya itu benar-benar luas dan terlihat seperti bangunan klasik Tiongkok dengan dua rumah yang tersambung di kiri rumah utama dan dua rumah yang tersambung di sisi kanan rumah utama-nya.
Di depan rumahnya, terdapat kolam ikan koi yang begitu besar dan hutan bamboo yang tidak teralu luas. Biasanya, jika Han pergi bersama keluarganya, Akaichi selalu dititipkan di rumah Miko karena rumah Miko benar-benar menjadi tempat tinggal bagi Akaichi. Rumah itu memiliki lampion-lampion dan bilik-bilik berwarna merah dengan tekstur artistic yang benar-benar kuno, namun terlihat modern di depan.
Sesampainya di rumah Miko, Han melemparkan kuncinya kepada Miko yang berada di sebelah pintu rumahnya saat ini.
“Ora, ini kuncimu.”
“Oi, jangan bilang kamu mau balas dendam?”
Han pun tertawa melihat Miko yang berhasil dia buat sebal itu.
“Hey, kamu mau mampir makan, Han?”
“Terima kasih, tapi aku sudah disiapkan makanan di rumah.”
“Oh, begitu… Baiklah kalo begitu.”
“Aku pulang lewat kereta aja. Bye-bye, Miko.”
“Mmm, terima kasih, Han!”
Lalu Han pergi meninggalkan Miko dan turun ke stasiun dengan berjalan santai. Seperti yang diketahui, rumah Miko berada di ‘Night Market’ dan rumahnya hanya berjarak sejauh 300-meter dari stasiun.
Saat Han sudah pergi, Mama Miko keluar tiba-tiba dan bertanya kepada Miko dimana Han saat ini. Mama Miko sudah menyiapkan makanannya untuk Han.
“Miko! Han dimana?”
“Han udah pulang Ma. Dia bilang tidak mau merepotkan Mama.”
“Yah… begitu rupan-.”
Tiba-tiba, ada laki-laki yang tidak jauh dari situ berlari menuju ke arah rumah Miko. Dia melambaikan tangannya dan berteriak dengan kencang ke arah Miko, teriakan itu membuat Miko takut dan dengan cepat Miko pergi ke arah belakang Mama-nya itu.
“MIKO!!! KELUARGAKU TIDAK ADA DI RUMAH! MEREKA PERGI SEMUA DAN GA ADA MAKANAN DI RUMAH!!!”
Suara itu berasal dari Han.
Miko yang mendengarkan itu tiba-tiba kembali melihatnya dan tersenyum melihat Han yang kembali.
“Sudah kuduga, tidak ada makanan di rumahmu.”
“Ara, Ara. Han, selamat datang!”
Mama Miko yang melihat ke arah Han itu pun mengajak Han masuk ke rumahnya dan makan.
__ADS_1