Hanya Aku Yang Mencinta

Hanya Aku Yang Mencinta
Bab 12


__ADS_3

"Jika kamu tak sudi, kenapa kamu masih menerima perjodohan ini? Jika saja kamu tidak menerimanya, mungkin Abi tidak akan memaksaku untuk menikah dengamu." Ala mengusap pipinya yang telah banjir air mata.


"Mungkin jawabannya sama denganmu. Aku tidak bisa menolak permintaan orang tuaku. Kecuali, kamu yang mengakhirinya sendiri." Syauqi berjalan keluar.


Ala melirik sarapan yang telah ia siapkan tidak disentuh sama sekali. "Uda, kenapa kau tidak memakan makanan yang aku siapkan? Apa kau tahu dos4 membuang makanan? Apa benar kau ini seorang yang tahu ilmu aga—"


"Diam kau! Aku lebih tahu segalanya darimu! Aku tidak memintamu untuk menyiapkan makanan itu untukku! Sekarang, terserah mau kau apakan!" Syauqi melanjutkan langkahnya dan pintu pun ditutup dari luar.


Ala termangu dalam sendu. "Jadi, dia sengaja untuk terus menyakitiku seperti ini agar aku meninggalkannya?"


"Ya Allah ... Apa yang harus aku lakukan. Rasanya sungguh sangat sakit. Aku sudah berjanji dengan Abi di akhir hayatnya, apa aku boleh mengingkarinya?"


*


*


*


Pada Pondok Pesantren milik keluarga Ala, Syauqi sedang diperkenalkan oleh Apak—Adik dari Abi, sebagai pengajar di pondok pesantren ini.


"Mulai hari ini, Ustadz Syauqi akan mengajarkan Alquran dan Hadist kepada kalian semua. Beliau ini adalah suami dari Kak Humaira. Apa kalian tahu Kak Humaira?" tanya Apak.


"Tau Ustadz, kakak cantik dan baik, selalu membawakan kami makanan enak!" ucap salah satu santri.


"Ssstt! Itu rahasia!" ucap santri lain menepuk lengan temannya yang keceplosan.


Santri yang keceplosan tadi menutup mulut dengan tangannya. "Maaf, lupa," ucapnya kikuk.


"Waaahh, subhanallah ... Ustadz tampan sangat cocok menikah dengan Kak Humaira yang cantik. Ustadz sangat beruntung mendapatkan dia. Dia itu baik banget Ustadz." ucap santriwan yang ada di pondok pesantren khusus anak laki-laki itu


'Beruntung? Tak akan lebih beruntung lagi jika Salma yang mendampingiku,' ucapnya di dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu, Ala mondar-mandir melirik jam pada dinding. Yang pasti, kelas pagi ini sudah terlewatkan. Namun, masih ada perkuliahan wajib yang sangat penting usai istirahat siang nanti.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apakah benar, nasib perkuliahanku hanya sampai di sini saja?"


Ponsel Ala bergetar. Dalam layar pipih itu terlihat nama Wawa yang sedang memanggilnya.


"Assalamualaikum, Wa."


" ... "


"Aku, tidak bisa ke kampus, bagaimana dong?"


" ... "


"Aku tidak tahu dia pulang jam berapa, dia itu sungguh sangat menyebalkan, Wa. Terpaksa seharian ini aku tidak bisa mengikuti kuliah. Nanti nilaiku hancur bagaimana?"


" ... "


" .... "


"Baik lah, kamu boleh ke sini. Nanti aku kirim alamat via chat."


*


*


*


Saat sore hari, Wawa datang dengan sebuah paper bag dengan wajah ceria.


"Waah, rumah yang dia siapkan untukmu lumayan juga," ucap Wawa menatap bangunan minimalis tempat Ala tinggal dengan suaminya.

__ADS_1


"Nah, ini! Ini senjata untuk meluluhkan suami dingin." Wawa menyerahkan paperbag yang dibawanya tadi.


"Apa ini?" Ala merogohkan tangannya hendak memeriksa benda yang ada di dalamnya.


"Eits! Jangan sekarang! Nanti malam aja! Dia pasti akan luluh saat melihatmu memakai ini. Bicaralah dengan lemah lembut padanya. Sesungguhnya, kamu sudah memegang dua kelemahan laki-laki jika melakukan saranku itu."


Tak lama berselang Wawa pulang, Ustadz Syauqi suaminya pun masuk menggunakan mobil yang sama dengan kemarin. Ia turun dan menekan tombol kunci otomatis.


"Assalamualaikum." Ia berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari sang istri.


"Walaikumsalam." Ala mengintip, ternyata suaminya telah naik ke lantai atas.


"Uda sudah pulang, apakah aku harus memasak lagi? Aku takut, akan sama seperti tadi pagi dan mubazier." Ala menghela napasnya.


Tetiba, ia teringat dengan benda pemberian sahabatnya tadi. Ala mencoba melihat isi di dalam paper bag itu. Saat dibuka, Ala sungguh terperenjat melihat apa yang ada di dalamnya.


"Tidak! Tidak mungkin aku memakai ini!" Ala melempar benda yang tak lain baju dinas malam para istri, alias lingerie, ke atas kasur.


"Aku tidak berkerudung saja dia protes, apalagi jika memakai ini? Dia akan menganggapku wanita mur4h4n?"


...****************...


Yuhuuu, ada yang baru lagi niii ... Yuuk mampir yuuukk


Judul: Ketulusan Hati Ailee


Author: Merpati_Manis



Jangan lupa diramaikan yaaah ....

__ADS_1


__ADS_2